MEI

MEI
29. Awal Dari Titik


__ADS_3

🖤🖤🖤


"Kenapa nggak sekolah lagi?" tanya Intan selepas turun dari motor.


Enggar tampak cengengesan di atas motor. "Aduh, gimana ya?"


Intan mendengkus sebal seraya berkata, "Katanya mau niat sekolah. Biar nilainya bagus, kalo nilai lo bagus kan dapet kerjaan gak susah. Kalo udah kerja lo dapet duit, duitnya buat beli mahar nikahan. Gimana sih!?"


Enggar tertawa mendengar celotehan Intan barusan, ia ingat itu isi percakapan di UKS tempo hari. "Kalo lo bawa bawa masa depan gini langsung semangat deh Tan. Nanti gue langsung cari tempat les deh biar ngejar ketertinggalan."


"Besok awas lo tetep gamasuk sekolah. November akhir nanti udah ulangan kak. Udah ya, udah bel." Intan buru buru masuk setelah bel masuk memekakan telinga terdengar nyaring di area sekolah.


🖤🖤🖤


Entahlah, suasana meja itu benar-benar canggung. Intan dan Mia hanya bicara seperlunya untuk menyuarakan pendapat pada tugas kelompok ini.


"Nomer 3 sampe 5 biar gue yang tulis," Mia bicara kembali pada Resty, teman sekelompok mereka.


Intan melirik sekilas ke Mia. "Mana gunting gue?"


"Gatau. Bukan gue yang terakhir pake," jawab Mia cepat sambil mulai menulis jawaban di lembar folio bergaris itu.


"Res, tau gak?"


"Warna apa?" tanya Resty balik.


"Ungu-putih."


"Di pinjem kelompok sebelah keknya." Resty menunjuk meja kelompok sebelah dengan dagunya.


"Dih, siapa yang kasih pinjem?" Intan mendumel pelan.


"Bukan gue." Resty menyahut cepat.


"Gue." Mia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di atas meja.


"Gitu gue nanya tadi pake jawab gatau."


"Gue lupa tadi. Biasa aja kali." Mia menyahut sewot sambil terus menatap folio.


"Ambil sana!" Intan berkata ketus menyuruh Mia.


"Yang butuh siapa?" jawabnya tak kalah ketus lagi. Ia kini meletakan bolpen dan memandang Intan lurus.


"Yang minjemi siapa!? Enak aja lo! Gak ikut punya gunting tapi main ikut ngijini orang buat minjem." Intan mendengkus kuat kuat sambil menggebrak meja, tidak keras tapi cukup untuk menyuarakan kekesalannya.


Mia berdecak sambil memutar bola mata. Ia mengambil gunting lalu membantingnya ke meja membuat gunting itu terseret beberapa senti menjauh.


Mereka berdua masih belum berdamai, entah gengsi atau apapun itu masih melingkupi keduanya.


🖤🖤🖤


Rumah benar benar berbeda setelah kejadian pagi hari tadi. Sedikit canggung, menakutkan, atau menyesakan jika diingat mamanya sampai berkata kata seperti tadi.


Bu Ris menyambut dengan senyum kecil dan langsung menyuruhnya makan. "Ganti terus buruan makan."


"Aku boleh nggak jengukin temen aku?" ijin Intan langsung.


Bu Ris menautkan alisnya. Hendak menjawab namun suara mama Intan langsung menyahut, "jangan kemana mana kamu!"


Intan terlonjak kaget dan menyahut lirih, "Ma...."


"Nggak ada! Jangan keluar kamu. Kamu kebanyakan keluar, pasti kalo kamu keluar main mu sama anak anak nggak bener! Mulai sekarang mama nggak kasih ijin kamu keluar!" Mamanya mendekat sambil menyeret kursi rodanya.


Intan menelan ludah, bersiap melakukan pembelaan, "mama kenapa jadi ginisih? Aku udah bilang kan ma. Ini semua nggak ada hubungannya sama temen temen aku atau Kak Enggar."


"Mama udah nggak percaya! Cepet masuk ke kamar kamu! Terus ganti dan makan. Jangan jadi anak yang membangkang!" Mama berkata tegas lalu menyuruh Bu Ris mengunci pintu luar agar Intan idak bisa kemana mana.


Intan berdecak sebal. Ia menghenatak kaki lalu masuk ke kamarnya. Mama yang kemarin masih bersikap lembut padanya kini benar benar berbeda. Ini terjadi semenjak tadi pagi.


Dan tentu kejadian pagi tadi itu ia lakukan sebagai pembelaan atas sikap tidak adil papanya. Tapi mamanya malah salah paham atas sikapnya.


Kak Enggar


•tan


•gue jmpt d sklh.


•buru gih, mo ujan.


Intan:


•gw uda plg

__ADS_1


•td d jmpt p.yayan. lo buru nepi ke indomaret deh nyari tempat nduh. Mau ujan, ati2 d jalan.


Kak Enggar:


•yah, kk uda plg sih. Gini ini kan mlh rindu :"


Intan:


•pulang lo!


Kak Enggar:


•Meli


Intan:


•knp Kak Meli?


Kak Enggar;


•msh blm siuman sih. Gue k rmh lo ya?


•mau ketemu, lama nggak main


Intan:


•jgn deh


•keadan rmh lg gabagus


•lgi kacau gitu, jgn ya kak. Plis, gue aja yg samperin lo.


Kak Enggar:


•hehehe, uda d jalan.


•nanggung kalo balik.


•uda ya, g baik nyetir sambil hp an.


🖤🖤🖤


Intan langsung buru buru ganti dan makan. Ia menatap khawatir ke pintu ruang tamu sambil terus makan.


"Makan!" Mamanya tiba tiba bersuara keras, Intan langsung terbatuk dan mengambil air minum.


Mata Intan hampir berair hanya karena ucapan tegas itu dengan sorot dingin itu. Selama ini mamanya tidak pernah berkata dengan raut seperti itu apalagi dengan nada semengerikan itu.


"Bu Ris ada tamu. Tolong di bukain."


"Iya bu."


Intan menelan ludahnya kasar, sementara mamanya tetap memperhatikan dirinya terus terusan.


"Temenya Intan bu." Bu Ris datang dengan ekspresi tidak enak terhadap Intan.


"Cowok atau cewek?" Tanya mama.


"Yang cowok."


"Iya Bu Ris, biar aku yang samperin." Intan hendak bangkit namun segera tertahan oleh bentakan maha dahyat dari mama.


"Duduk!"


"Jangan bilang yang aneh aneh ma...." Intan merengek di depan nasinya sendiri.


"Bu Ris, tolong dorongin kursi roda aku bu."


"Ma--"


"Duduk. Makan!"


Intan meneteskan air mata, ia jadi berpikir bahwa kisahnya seperti di film kisah cinta terlarang saja. Konyol memang, tapi mau bagaimana lagi jika memang seperti ini.


Tak lama mama datang bersama Bu Ris. Diam menyelimuti.


Intan mendengar suara motor melaju. Ia buru buru menghabiskan makanan lalu kembali ke kamarnya.


Tak lama hujan terdengar, Intan menggigit bibirnya. Ia memilih menghubungi nomor Enggar dan beruntung langsung dijawab.


"Hallo?" sapa Intan dengan pekikan tertahan, ia takut mamanya memergoki diriya menelpon cowok yang barusan dia usir.


"Hai? Ada apa?" Enggar menyapa ringan di ujung sana.

__ADS_1


"Lo gapapa? Tadi mama bilang apa?"


"Dia bilang lo lagi tidur. Kenapa?"


"Kak, maaf ya soal tadi. Mama bohong."


"Ada apa emang? Ada hubungannya sama yang tadi pagi?"


"Iya..." Intan memainkan ujung selimut lantas menatap ke jendela yang menampilkan tetesan air hujan.


"Mau cerita ke gue? Sesi curhat di hujan itu seru katanya."


"Enggak deh. Enggak dulu, yang jelas gue lagi marahan sama mama." Intan urung mengatakan mengenai perceraian orangtuanya dan juga masalah ia disuruh menjauh dari Enggar.


"Beneran?"


"Yang penting lo gapapa. Eh lo neduh dimana? Ini ujan makin deres." Intan menggigit bibir khawatir.


"Khawatir banget ya?"


"Kalo lo sakit kan malah besok gak masuk. Minggu depan udah ujian akhir kak. Plis gaus aneh aneh."


🖤🖤🖤


Intan bersyukur eskul lukis libur, sehingga ia bisa menggunakan kesempatan ini untuk ke rumah sakit dan mengunjungi Meli.


Kata Enggar, mama Meli baru diberi tahu tadi pagi dan beliau begitu shoock. Setelah 5 hari disembunyikan mama Meli tahu kenyataan menyesakan ini.


"Gue nemenin mama Kak Meli aja deh. Nitip teh anget di kantin rumah sakit ya?"


Enggar mengangguk lantas berlalu pergi.


"Hallo tante. Saya temannya Kak Enggar," Intan menyapa ramah.


Wanita itu membalas sapaan Intan dan membiarkan tangannya dicium oleh Intan.


"Gimana keadaan Kak Meli?"


"Baik, kata dokter otak Meli merespon apa yang telinga dengar, jadi kalau kita sering sering mengajak komunikasi Meli kita bakal tau gimana reaksinya. Dan kemungkinan Meli bisa sadar karena diajak bicara itu bisa saja terjadi."


Intan mengangguk anggukan kepala, dia pernah melihat kasus orang koma yang tersadar akibat sesuatu hal yang sangat diinginkan. Seperti ditemani seseorang, mendengar lagu atau mungkin kejadian aneh yang tidak bisa dijelaskan dalam dunia medis lainya. Mungkin Meli bisa mengalami hal itu.


"Kak Meli pasti bangun kok tante, dia cuman lagi ketiduran aja." Intan memandang tubuh Meli yang tersambung dengan selang infus dan tabung oksigen. Kepala Meli diperban sedemikian rupa.


Mama Meli tersenyum senang. "Makasih ya."


"Temen temennya Kak Meli udah pada kesini?" Intan memutar topik setelah 5 detik sunyi senyap.


"Sejauh ini masih Enggar, Enggar sendiri juga aneh. Gak pernah masuk kesini, cuman nunggu di luar."


Intan diam, apa benar demikian? Intan akan menanyakan langsung kepada yang bersangkutan.


"Tante, saya permisi keluar dulu ya." Intan bangkit lalu keluar ruangan. Ia memilih menunggu di kursi yang berada di luar ruangan untuk bergantian dengan papa Meli.


"Udah selesei jengukinnya?" Enggar berkata sambil menyodorkan pesanan Intan.


"Lo nggak masuk?"


"Enggak."


"Kenapa? Terus lo bolos sekolah itu ngapain aja?" Intan menaikan nada tanyanya.


"Ya disini Intan. Mau kemana?" Enggar menyisir rambutnya dengan jari jari.


"Kenapa nggak duduk di dalem? Nemenin Kak Meli?" Intan kini bertanya kian ngotot.


"Gue...ya gitu."


"Jangan bilang ini gara gara di tam--"


"Iya gara gara itu," potong Enggar cepat. Intan langsung mengusap wajahnya frustasi. Ia menggeleng tidak mengerti.


"Yaampun kak. Lo belum maafin Kak Meli bahkan disaat keadaannya separah sekarang?" Intan berkata gemas, kecewa, marah, sedih. Entah apa yang ia rasakan.


"Gue bakal ngomong ke dia kalo dia udah minta maaf ke lo."


"Bodo amat ah, lo kekanakan. Kak Meli sahabat lo, kenapa jadi lo nggak belain dia sih?" Intan mendumel panjang kemudian, tidak menerima alasan Enggar sedikit pun.


"Intan," potong Enggar disela cerocosan Intan, "dengerin gue. Gue ngelakuin ini bukan karena gue pacar lo, gue gini karena gue sahabat Meli. Gue kecewa sama sikap nggak bener dia tempo hari. Kalaupun bukan lo yang di perlakukan kek gitu sama Meli, kalaupun itu orang lain, gue bakal tetep marah ke Meli, karena dia udah nggak bener dari sikapnya."


Intan diam lalu menggeleng. "Orang sakit gak ber hak dapet hukuman. Kak Meli lagi sakit. Lagi koma kalo lo lupa."


"Makanya itu Intan. Biarin dulu." Enggar tetap bersikukuh.

__ADS_1


"Serah ah, debat sama lo kapan leganya sih."


🖤🖤🖤


__ADS_2