MEI

MEI
30. Terhempas ke Langit Biru


__ADS_3

🖤🖤🖤


Ujian semester selesai dengan cepat. Selama itu pula Meli masih belum sadar dari komanya.


Dan...


Surat cerai sudah di tanda tangani.


Mama Intan dan papanya resmi bercerai di Jumat kemarin.


Papa mendapatkan hak asuh anak setelah pengadilan mempertimbangkan dari berbagai sudut pandang.


Intan sungguh menangis sedih mendengar keputusan itu dari Bu Ris. Ia hanya bisa memeluk Bu Ris sambil membiarkan bulir bulir bening itu kian menetes di pipinya.


"Aku refreshing dulu Bu Ris. Jengukin teman di rumah sakit. Jangan bilangin mama ya?"


Bu Ris mengangguk, ia juga iba terhadap Intan. "Hati-hati."


Keadaan di ruang inap Meli cukup ramai, teman teman Meli datang berkunjung untuk kedua kalinya setelah sebelumnya mereka datang minggu kemarin.


"Mau tahun baru kok sakit sih. Ayo bangun," mereka berbisik pada telinga Meli.


Intan melirik pada Enggar, cowok itu masuk ke ruangan tapi tidak untuk mendekati Meli seperti lainnya.


"Lo sampe kapan gitu ke Meli?" Reyan bertanya sambil menepuk bahunya kuat.


"Dia salah Yan," Enggar berkata keras kepala.


"Dia sakit, seenggaknya sembuhin dia dulu," Reyan berkata mantap.


Intan memilih duduk lalu membiarkan satu per satu teman  Meli berangsur pulang. Cowok itu memilih mengantar mereka hingga parkiran rumah sakit.


Sekembalinya Enggar, dia langsung duduk disampingnya lalu menoel noel pelan pipi Intan. "Hey."


Intan menoleh dengan cepat.


Buru buru Enggar meralat ucapannya. "Hey Tayo. Hey Tayo."


Intan mendesis, "basi tau gak."


"Terus apa yang nggak basi?" Enggar mendekatkan telinganya, meminta jawaban kepada Intan.


Intan berdehem saja, tidak mau meperdulikan Enggar. Ia kini tengah mencoba merakit kata agar Enggar mau memaafkan Meli.


"Gue tau Tan apa yang nggak basi." Enggar menghapit dagu Intan lalu memutarnya agar Intan mau menatap Enggar.


Intan menatap Enggar dalam diam. "Yang nggak basi itu rasa suka gue ke lo."


"Serah lo." Intan melepas cekalan tangan Enggar pada dagunya. "Gue mau ngomong beberapa hal penting sama lo."

__ADS_1


"Apa? Jangan bilang lo ngebet nikah?" Dia menampilkan senyum miringnya.


Intan tidak mau terlalu banyak bicara, maka dari itu dia memilih tidak memperdulikan ucapan receh Enggar. "Gimana kalo kita LDR?"


Senyum Enggar langsung luntur mendengar ucapan Intan. "Lo mau kemana?"


Intan menggigit bibir bagian bawahnya. Resah, semenjak mendengar bahwa hak asuh dirinya adalah jatuh pada papanya Intan sudah bersiap dengan segala kemungkinan kalau dirinya akan pindah ke luar kota.


"Tan?"


Intan langsung menatap Enggar lurus lurus. "Gausah dibahas deh, gimana, kenapa lo masih nggak mau ndeket ke Kak Meli?"


"Gue bakal mau ndeket ke dia kalo dia udah minta maaf sama lo."


Intan tersenyum tipis, kalau begitu kedengarannya, maka Intan berharap Meli tidak meminta maaf pada dirinya, agar Enggar terus mejauhi Meli. Agar Enggar tetap bersama Intan. Dalam dekapan.


Atau jika Intan boleh lebih egois, Meli jangan membuka mata dulu untuk sementara. Agar Intan bisa tetap sedekat ini dengan Enggar, agar dia bisa tetap bersama Enggar, agar dia tidak takut kehilangan Enggar.


"Maksud lo nanya LDR tadi apa Tan?" Enggar memutar kembali topik itu.


Intan diam sejenak, "jangan dibahas dulu. Gue cuma lagi ngaco."


"Tapi––"


Ucapan Enggar terpotong oleh suara langkah kaki yang ramai dari ujung lorong.


Enggar dan Intan bangkit dan buru buru masuk.


Entah, kabar gembira atau kebalikannya. Meli, setelah seminggu lebih koma, kini membuka mata.


🖤🖤🖤


Seluruh kerabat langsung datang setelah mendengar kabar gembira ini. Meli bangun namun masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan kondisinya saat ini. Dia masih belum bisa berkomunikasi seperti sebelumnya.


Ruang inap itu bergantian dimasuki orang. Enggar memilih seperti sebelum sebelumnya. Tetap diluar ruangan, sementara Intan sudah beberapa kali keluar masuk melihat kondisi Meli.


"Lo nggak masuk?" Sebenernya, itu pertanyaan yang sudah dilontarkan Intan sebanyak tiga kali. Dan kini sudah  empat kali ia lontarkan.


"Enggak. Lo aja. Gue diluar." Dan itu merupakan jawaban yang sama seperti 3 kali sebelumnya.


Intan mendesah pelan, lantas memilih duduk kembali disamping Enggar. Enggar tersenyum tipis lantas beralih mengacak rambut Intan pelan. "Capek? Mau makan dulu?"


Intan mengusap perut datarnya yang baru merasakan rasa lapar ketika ditanya Enggar barusan. "Iya, mendadak lapar."


"Ayo ke kantin rumah sakit."


"Lo ikut?"


"Gue manusia biasa Intan, bisa lapar juga." Enggar bangkit berdiri lalu mengajak Intan untuk segera beranjak.

__ADS_1


"Bisa lo cuma lapar doang," Intan mencibir kalimat Enggar tadi sambil merapikan rambutnya.


"Gue juga bisa cinta ke lo kok Tan," tepis Enggar tidak setuju.


"Bulshit bukan?" Intan bertanya sambil tersenyum mengejek.


"Enggak, gue ini selalu berkata apa adanya, " Enggar berkata demikian diikuti gerakan menyisir rambut dengan jemari tangan, sok keren.


"Gue harap demikian," sahut Intan lalu memilih mendekat ke kios penjual minuman dingin. Cuaca siang ini cukup panas.


🖤🖤🖤


Jujur, Intan tidak pernah sempat memikirkan sesuatu secara berlarut larut.


Ia bahkan tidak se stress anak anak broken home pada umumnya. Ketika mereka berlari kearah yang tidak tidak, Intan malah tetap berpikir positif, dan memilih sibuk kearah yang lain.


Menjenguk Meli contohnya, atau refreshing dengan bertemu Enggar yang entah mengapa selalu mengeluarkan kata kata sederhana yang mampu menenangkan pikiran Intan.


Tapi, teori itu kini tidak berlaku. Malam ini, Intan terlarut dalam kesedihan mendalamnya hanya karena mendengar suara mamanya terisak tadi.


Tiba tiba, Intan merasa bersalah. Ia mendekat kearah mamanya, namun wanita itu bersikukuh menolak bentuk kebaikan Intan. Rupanya, mamanya masih marah akan sikap tidak benarnya tempo hari.


Kini Intan termenung diatas kasur, memikirkan segala masalah yang jatuh padanya beberapa hari terakhir.


Dimulai dari keputusan mendadak papanya. Lantas bertengkar dengan Mia, Meli yang terkena musibah.


Atau, pernyataan rasa suka Meli terhadap Enggar. Setelah ini, apa Intan juga akan mendapati  Enggar berlari menjauh darinya?


Mendadak pemikiran buruk terlintas di benak Intan. Apa Enggar akan melepas dirinya? Demi Meli?


"Nggak Tan, buktinya Kak Enggar marah ke Kak Meli gara gara Kak Meli kasar ke lo. Positif thinking! Kak Enggar bener sayang ke lo!" Intan berucap memotivasi dirinya sendiri.


Namun sulit, pemikiran positif itu bubar ketika memori Intan memutar kejadian yang dulu dulu.


Enggar yang perhatian ke Meli, Enggar yang dulu pernah meninggalakan dirinya demi Meli. Enggar yang seolah menatap Meli dengan spesial, Enggar dan Meli.


Perlahan Intan bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa Kak Enggar sebenarnya suka ke Kak Meli?"


"Apa gue cuma pelarian?"


Dan malam itu, seluruh pertanyaan Intan terhempas ke langit biru. Maka Tuhan menjawab lewat sebuah waktu.


Esoknya, sebuah bibir berkata pada Intan yang sebenarnya.


🖤🖤🖤


Me: aduh, bersiaplah.🤦

__ADS_1


__ADS_2