
🖤🖤🖤
Mamanya diangkat ke kasur lalu Bi Ris berlarian mengambil minyak kayu putih, sementara Intan berlari ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Selepas itu semua, keduanya sama sama meninggalkan Mama sendiri untuk memberi waktu.
"Bu Ris tahu sesuatu?" tanya Intan kepada wanita umur 40-an itu.
"Tadi, sebelum kamu dateng. Papamu pulang," katanya dengan nada tidak enak.
"Ceritain semua ke Intan Bu," kata Intan dengan tujuan bahwa, apapum yang dikatakan Bu Ris tidak akan menyakiti hatinya. Tentu saja itu adalah sesuatu yang hanya manis di bibir.
"Papa dateng awalnya baik baik aja. Lebih lebih, dia juga akhir akhir ini jarang di rumah. Dia makan siang bareng mamamu, terus tiba tiba dia nyodorin surat, awalnya mama ngira itu apa," Bu Ris menarik napas panjang.
"Terus, papamu bilang, buka suratnya nanti aja. Setelah itu, Ibu naik ke atas buat bersih bersih. Papamu udah berangkat. Waktu dia udah gak di rumah. Mamamu nurut, mama masuk kamar dan kayaknya dia buka surat cerai itu. Ibu gak tau Tan kalo mama jatuh dari kursi roda, waktu itu ibu lagi di atap, benerin antena. Dan baru turun waktu kamu teriak minta tolong. Ibu ceroboh, harusnya gak ninggalin mama sendiri," Bu Ris menunduk dalam, menyesal atas kecerobohanya.
Intan bergerak memeluk Bu Ris, asisten rumah tangga mama setelah mama lumpuh ini benar benar orang yang sabar, mana bisa Intan berteriak marah kepadanya? Bu Ris tidak bersalah sama sekali. "Bu Ris gausah nyalahin diri sendiri. Ini semua udah ada yang ngatur. Oke?"
"Tapi Tan--"
"Bu Ris...., Mending Bu Ris istirahat, nanti kalau mama udah bangun pasti kita bakal butuh tenaga besar buat hibur dia. Oke? Hemat tenaga Bu." Intan mengusap punggung Bu Ris, memberinya senyum hangat sebelum akhirnya Intan permisi masuk ke kamar.
Tentu untuk menghubungi papanya. Jemarinya menekan kontak papanya lantas nada panggilan terdengar beberapa saat.
Suara operator perempuan terdengar di telinga Intan. Ia menghela napas hingga 5 kali panggilan, nomor papanya tidak aktif.
"Ternyata papa nyuekin mama gara gara ini." Intan meletakan hpnya ke meja belajar lalu menyambungkan hpnya pada kabel charger.
Dia tahu beberapa hari terakhir mamanya terlihat pucat, lesu, padahal sebelumnya papanya tidak menunjukan adanya sebuah masalah. Kenapa harus tiba-tiba begini?
Rasanya, Intan ingin segera berlari memeluk seseorang dan menumpahkan masalah ini pada orang itu.
Dia beranjak meraih hp untuk membuka aplikasi Whatssapp dan mencari kontak Mia.
Intan:
•mi
•gue mau ngmng sesuatu ke lo.
Mia🌸:
•dan lo masih butuh gue setelah lo ngusir gue tadi pagi?
Intan tercekat melihat balasan Mia, kenapa cewek itu masih marah padanya?
Intan:
•mi, serius nih.
Mia🌸:
•gue punya perasaan loh Tan. Masih emosi kalo inget tadi.
Intan:
•yaudah maaf.
Gue beneran minta maaf
Mia🌸:
•lo minta maaf cuman gara gara lo butuh gue kan? Lo sekarang ada masalah? Terus lo minta gue bantuin lo? Sorry Tan, guru BK sekolah bakalan nganggur kalo gitu.
Intan:
•Mia, kok lo jadi ginisih?
Gue beneran gak ada niatan
kearah yg lo mksd.
•Mia. Denger cerita gue,
•Mi
•Mia
•P
•P
__ADS_1
Nomornya diblokir oleh Mia. Mendadak ia benar benar pening, ia menggigir bibir lalu mengingat ingat sesuatu.
Bisa jadi Mia baperan hanya karena ia akan segera datang bulan, masa masa pms memang adalah masa cewek seperti itu.
Intan:
•kak, lo sibuk?
•gue butuh bantuan nih eh saran sih.
Pesannya tak kunjung dibaca, membuat Intan memilih menekan tombol panggilan.
"Hallo?" Suara cewek yang sering Intan dengar menjawab telepon.
"Kak Meli? Kak Enggar ada?" Sebisa mungkin Intan berkata dengan sopan meskipun ia sudah emosi dengan Meli yang mengangkat panggilannya.
"Intan, Enggar sekarang nganterin mama gue ke rumah sakit, mama gue tiba tiba sesak napas. Jadi plis nanti Enggar bakal hubungi lo lagi ya?" Meli berkata dalam satu tarikan napas, nadanya terdengar khawatir sekali.
"I-iya kak. Maaf nelpon pas nggak tepat." Intan menggigit bibir bawahnya.
Panggilan terputus setelah Meli dengan nada panik pamit menutup telpon.
Intan menghela napas, semua orang hari ini punya masalah masing masing.
Tidak seharusnya ia membebani mereka dengan meminta pendapat dikala mereka juga punya masalah.
🖤🖤🖤
Hari ini terasa berat, dijauhi Mia bukanlah satu hal yang menyenangkan.
Ditambah dengan Enggar yang tidak masuk akibat menemani Mama Meli yang juga belum sadar akan pingsannya kemarin.
Atau berita dari Bu Ris, yang mengatakan mamanya enggan makan.
"Mau bareng gue pulangnya?" tawar seseorang dari samping.
Intan menoleh dan menemukan Adit menawarkan dengan senyum manisnya. Intan menggeleng lemah, "bukannya gak mau Kak. Gue udah punya cowok, dan gue gak mau entar orang mikir gue cewek murahan dan gampangan yang mau aja di ajakin cowok lain pas pacarnya lagi gak masuk."
Adit terkekeh pelan, "siapa yang bilang gitu?"
"Lo gak pernah tau, dunia gosip cewek itu kejam," jawab Intan sambil melambai kearah Enggar yang datang untuk menjemputnya.
"Oh, udah ada yang jemput," Adit berkata pelan lalu berangsur mundur untuk pulang ke rumahnya.
"Nawarin nebeng."
"Waha, dan lo nolak dan lebih milih gue kan?" Enggar berkata bangga sambil menyerahkan helm pada Intan.
"Ck, gue milih lo soalnya wajah lo melas. Yuk, eh sambil cerita keadaannya mama Kak Meli dong." Intan sudah siap di boncengan lalu memegang pundak Enggar.
"Mama si Meli kena serangan jantung, gara gara ada kabar kalo suaminya selingkuh. Tapi, itu cuman hoax doang, Om Irfan udah jelasin kalo itu semua nggak bener." Enggar berkata dengan legah.
Andai papa juga menkonfirmasi ke mama kalo surat cerai itu bohongan.
"Sekarang udah baikan dong?" tanya Intan mengusir hening.
Enggar menganggukan kepala, "mau langsung pulang?"
"Iya, gue gabisa jengukin dulu. Soalnya mama lagi sakit juga."
"Sakit apa?" tanyanya ikut khawatir.
"Cuman gara gara gamau makan. Terus jatuh dari kursi roda," Intan berkata dengan lemas dan rasa khawatirnya yang tinggi.
"Gue juga mau jengukin mama lo Tan."
Senyum Intan terbit, diantara kacaunya hari. Ia menemukan satu orang yang peduli. Andai sudah halal, Intan tak akan segan memeluk perut Enggar lantas menempelkan kepalanya pada pundak Enggar.
"Iya, gue juga sayang sama lo," kata Enggar tiba tiba.
"Dih, siapa bilang?"
"Tuh, lo tadi senyum senyum sendiri." Enggar meliriknya lewat spion.
"Heh! Benerin spionnya!"
🖤🖤🖤
Papa seolah hilang dari muka bumi selama seminggu terakhir, tidak pulang, tidak ada kabar.
Untungnya, Bu Ris punya cara agar mamanya tetap mau makan dan menjalani hari seperti sebelum surat cerai itu datang.
__ADS_1
"Bu Ris, mama udah beneran gapapa?" tanya Intan sambil membenarkan posisi poninya.
Bu Ris tersenyum, "udah anak muda, jalan jalan sana. Bu Ris bisa ngurus mama kok."
"Yaudah, kalo ada apa apa hubungi Intan ya," Intan mengucap panik lalu menutup pintu dan mengucap salam.
Senyumnya terukir memandang Enggar di dalam mobil. "Hai."
Dan senyumnya pudar perlahan melihat penumpang tambahan yang tak diundang.
Meli di kursi belakang tersenyum, bukan kearah dirinya. Namun kearah punggung Enggar. Entah apa faedahnya.
🖤🖤🖤
Jika ada sepasang kekasih ditambah dengan teman salah satu diantaranya maka orang itulah yang bernasib bak obat nyamuk.
Entah karena memang dunia berputar atau bagaimana, Intan yang harusnya merasa senang kini berakhir seperti obat nyamuk di antara Enggar dan Meli.
Jika ia menunjukan hal ini pada Mia, apakah cewek itu akan berkata hal yang sama seperti minggu lalu?
Mia masih menyebalkan dengan tidak mau buka mulut pada dirinya. Dia masih marah, tentu hal itu juga menyulut emosi Intan seperti dua hari yang lalu.
Mia masih diam tak mau membuka mulut, enggan baginya menyahuti ucapan Intan.
"*Mi, gue juga punya batas sabar kali. Kalo lo kek gini terus gue juga capek. Gue akui gue salah waktu itu, tapi sekarang? Lo bener bener keterlaluan dengan ngga nerima maaf gue." Intan mendengkus sambil membuang muka kearah lain.
"Kenapa lo jadi marah ke gue? Harusnya gue yang marah!" Mia menyentak sebal.
"Kan gue udah minta maaf Mi!"
"Ga iklas!"
"Bodo amat, gue gak ada waktu buat ngurusi cewek ribet kek lo." Intan bangkit sambil berlalu*.
"Tan, mau makan apa?" Enggar menepuk bahunya membuat ia kembali tersadar.
"Di KFC," sahutnya cepat tanpa pikir panjang.
"Oke," Meli menjawab antusias lalu menarik Enggar cepat cepat.
Lihat, betapa menyebalkannya Meli. Yang ditarik hanya Enggar. Sialan bukan?
Enggar menoleh kebelakang lalu mencoba memanggil Intan. Raut wajahnya pasrah akan kelakuan Meli.
🖤🖤🖤
Di bioskop pun sama. Yang menemukan film adalah Meli. Cewek itu ingin nonton film romance sementara Enggar dan Intan sebelumnya sudah sepakat ingin menonton film genre action anak anak.
"Idih, kok nonton film kartun sih? Kek anak anak aja!" Meli mendumel tidak setuju.
"Beberapa orang dewasa bahkan pingin balik ke dunia anak anak. Gak ada salahnya kita lihat kartun. Ini juga karya Disney, gue yakin banyak banget pesan moralnya," Intan menjawab karena rasa dongkolnya sudah mencapai titik ujung.
"Tapi, film romantis ini karya anak negri Intan."
Ini gue beneran kencan sama Kak Enggar? Kok Mak Lampir tetiba nyasar kesini sih!?
Perdebatan itu di menangkan oleh Meli, tentu saja. Enggar mana kuat melihat Meli merengek seperti itu.
Film diputar setelah beberapa iklan tayang di layar bioskop. Enggar duduk diantara dua cewek itu.
Meli, Enggar, Intan. Disingkat Mei.
"Lo ada hutang penjelasan," Intan berkata pelan sebisa mungkin.
Enggar menoleh cepat, "soal Meli yang tiba tiba ikut?"
"Bukan. That kiss," kata Intan sambil menatap tajam kearah Enggar.
Enggar tersenyum jenaka, "iya, banyak kok yang kek begitu di tempat ini."
Intan melotot seketika. Bukan itu yang dia maksud. "Yang lo sama Kak Meli."
"Gak pernah ada kejadian kek gitu Tan. Trust me," kata Enggar sungguh sungguh.
Sebuah tangan menghampit lengan Enggar dari arah lain. Dia menoleh dan mendapati Meli sudah menangis.
Intan mengkerutkan alis, menatap layar bioskop. Memang sih, adegannya cukup menyedihkan, tapi kini ia benar benar ingin membakar bioskop saat pacarnya sedang dipeluk orang lain.
Sialan!
"Gue gak tau kapan kata 'putus' bakal keluar dari mulut gue."
__ADS_1
🖤🖤🖤