
Suasana koridor pagi ini sudah ramai oleh tawa tawa kecil dan meledek. Mereka semua tertawa akibat ulah Enggar yang koar koar sudah jadian dengan Intan kemarin.
"Vi, foto dong sini, pengantin baru nih." Enggar menyapa temanya yang sedang sibuk selfi dengan hp barunya.
Ia melirik Enggar sinis, "Ogah! Kamera gue retak entar," Dia kemudian kembali sibuk dan mengacuhkan Enggar.
Sementara Enggar menyapa orang orang dengan bangga, disebelahnya, Intan menundukan kepala dalam dalam. Ini memalukan.
"Kak! Gausah koar koar bisakan!?" pekik Intan pada Enggar.
Enggar menoleh dengan senyum khasnya, dia lalu menepuk puncak kepala Intan berkali kali. "Apa?"
"Diem! Gausa sok heboh gitu!!" muka Intan sudah merah sekali akibat malu. Ia menaiki anak tangga sambil menghentakkan kaki.
Anya yang kebetulan juga lewat menyapa sambil bertanya, "Kenapa Tan?"
Enggar buru buru merangkul pundak Intan dan tersenyum. "Biasa, Intan malu malu abis jadian sama gue. Makasih ya Nyai, gara gara lo gue––"
"Serius lo jadian!?" Anya buru buru memotong dan bertanya pada Intan.
Intan menghela napas dan mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
Anya menatap Intan prihatin lalu menepuk kening Intan dengan lembut. "Kayanya lo mesti sering sering terapi otak deh Tan. Minimal seminggu sekali lah."
"Loh, emang Intan kenapa Nya?" Enggar kini menepis tangan Anya dan berganti mengelus kening Intan dengan khawatir.
"Dia bisa gila gara gara lo Nggar," Anya menepuk bahu Enggar 2 kali lalu berlalu pergi duluan ke kelas.
"Jangan di dengerin Tan. Nyai emang kadang suka gresek," Enggar merengkuh bahu Intan kuat kuat, seolah jika ia tak melakukan hal itu, Intan akan kabur akibat hasutan Anya barusan.
"Gue ke kelas dulu. Udah sana," Intan mendekat ke pintu kelasnya lalu melambaikan tangan.
Tapi bukanya melakukan hal yang disuruh Intan, cowok itu malah menerobos masuk dan duduk di kursi meja guru. Ia terkekeh melihat wajah sebal Intan saat ini.
Sementara Intan sudah mengutuk Enggar, tiba tiba terbesit rasa menyesal menerima cowok itu kemarin. Di perpustakaan, itu adalah hal yang memalukan.
Setelah duduk di bangkunya, Enggar mendekat dan menatap memohon kepada Mia untuk minggir. Mia awalnya mendengkus lalu menggeleng kuat kuat, sebagai pertanda bahwa ia enggan menuruti.
Tapi Enggar buru buru mengiming-imingi Mia dengan sebuah pajak jadian.
"Yaudah, mana?" Mia tetap duduk sambil mengulurkan tangan.
Enggar dengan cepat mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu. Dan demi menerima benda berwarna ungu tipis itu Mia bangkit.
Intan menutup mukanya sebal. Mia rela menukar bangku dengan selembar uang ungu itu?
Enggar disebelahnya menoel lengannya dengan keras. Intan tak mau mengangkat kepala. Yang ada ia pasti akan menemukan wajah Enggar dengan seringai itu.
"Tan, lo tau?"
"Gak tau dan gak mau tau. Balik sana ke kelas, gue mendadak bosan liat wajah lo!" Intan berkata ketus, ini dampak dari Enggar yang koar koar tentang hubungannya.
Enggar diam, tegang dan merasa sedikit tersentil atas ucapan Intan. Dan diamnya Enggar membuat Intan mengangkat wajah dan menemukan Enggar menatapnya lurus.
"Kak?" sapa Intan takut takut.
Enggar menghela napas, "oke gue pergi dulu."
Bukanya merasa legah atas kepergian Enggar, Intan justru merasa menyesal dan kehilangan.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Intan mengggigit bibirnya, ini bukanlah hal yang bagus. Mencuri waktu di tengah guru yang sedang menjelaskan hanya demi mengirimkan pesan kepada Enggar. Yang memang tak bisa ditepis jika cowok itu adalah pacarnya.
Intan:
•kak
•anu
•gini, gue nggak tau lo knp
tiba2 keluar tadi.
Intan menggigit bibirnya, pesan itu sudah terkirim namun belum dibaca.
Apa iya, Intan akan to the point menanyakan apakah Enggar marah atau tidak.
Intan:
•Gue cuman mau nanya
•apa lo nggak liat jam tangan gue
tadi? Maybe lo pake atau kebawa
di tas lo?
•oke oke gue chat lo soalnya,
mau nanya, emang lo marah ya? gara gara gue tadi ngomong kek gitu?
___
"Pak Tegar keliling, taro hp lo!" Mia berkata dengan tegang.
Secepat mungkin Intan meletakan hp lantas menutupi benda itu dengan buku. "Gue harus apa?"
Intan bingung karena tak tau apa yang tadi di perintahkan oleh Pak Tegar, ia hanya fokus mengetik tadi.
"Pura pura nyatet!" Mia berbisik dengan nada tegang.
Pak Tegar, siapapun tahu. Jika ia tak segan segan menghukum siswa yang main main di jam-nya. Bahkan mengobrol pun dilarang dikelas.
Selepas guru berbadan tegak itu lewat, Intan menghela napas. Ia pura pura mencatat sambil memulai obrolan dengan Mia.
"Jam Pak Tegar kapan habis?"
"Sejam lagi, tapi katanya, bentar lagi dia bakal keluar sekolah buat ikut sama kepala sekolah."
"Sip!" Intan bersyukur dan rasanya ingin melompat dengan gembira.
"Kenapa?" tanya Mia dengan masih pura pura mencatat.
"Gue mau izin ke kamar mandi."
"Hubungannya?"
"Gue bakal lama disana." Intan kini meraih tip-ex. Agar tidak mencurigakan.
"Gila lo? Ngapain?"
"Alibi buat ke Kak Enggar. Gue mau liat dia."
__ADS_1
"Lo udah sinting, mau ngapain lo ke lantai 3 buat keliling."
Intan menghela napas. "Ke lapangan, Kak Enggar jam olahraga hari ini."
Mendengar itu, Mia menghela napas legah. "Seenggaknya lo nggak perlu lewat ke koridor kakel yang euh, sok berkuasa."
Intan terkekeh lantas diam diam memasukan hp ke saku rok. Bangkit. Lalu pura pura izin ke kamar mandi.
🖤🖤🖤
Pelan pelan ia melangkah menuju tangga, melewati koridor kelas 12 dan menuju lapangan.
Intan kali ini dapat menangkap beberapa anak menggunakan kaos olahraga sekolah tengah menggiring bola. Namun, jauh di tepi lapangan, ia bergumam heran melihat kerumunan.
"Ada yang pingsan," Intan menebak, karena beberapa siswi perempuan nampak panik dan menyebut nyebut UKS.
Saat Intan ingin memanfaatkan situasi untuk mencari Enggar, kerumunan tadi terbelah. Lelaki membawa soerang cewek yang rambutnya terurai menjuntai kebawah.
Sang cowok mencoba berjalan cepat menuju UKS, menggendong cewek tadi dengan hati hati. Tapi saat itu ia terpaku.
Enggar.
Enggar tengah membopong tubuh cewek pingsan itu. Intan dapat melihat wajah Panik Enggar sebelum tubuhnya hilang pada dinding ruang UKS.
Juga....
"Meli lagian kenapa ke lapangan sih? Caper ke Enggar?" perempuan itu berucap ilfeel. Dia sekelas dengan Enggar, buktinya ia menggunakan kaos olahraga, sama seperti teman Enggar lainya.
Buru buru Intan menghadap kearah lain agar kakak kelas tadi tidak menyadari siapa dirinya. Bukanya Intan merasa famous.
Tapi, tentu sekali jika teman sekelas Enggar tahu siapa dirinya.
"Kak Meli?" Intan menggigit bibirnya. Selepas kepergian teman Enggar tadi ia menoleh dan diam diam melipir ke jendela UKS.
Sayangnya semua jendela tertutup oleh tirai. Intan menghela napas, apa yang terjadi di dalam sana?
"Bukanya Kak Meli sama Kak Enggar nggak sekelas ya? Ngapain Kak Meli dilapangan?" Intan kembali bergumam, dari arah berlawanan, teman Enggar berjalan mendekat hendak mengunjungi UKS.
Tanpa pikir panjang, ia segera menarik ikat rambutnya dan menutupi muka dengan rambut poni. Syukur, rambut poni Intan panjang, sehingga mukanya tertutup. Dengan langkah cepat, dia memgambil rute panjang untuk kembali ke kelas.
Ia sebisa mungkin mencari jalan aman dimana tak seorang pun––terutama orang yang berhubungan dengan Enggar––bisa mengenalinya.
Namun ditengah jalan cepat, Intan mendadak harus membeku di tempat hanya karena mendengar panggilan khas dari seseorang.
"Mbak!"
Intan patah patah membalik badan dan menemukan guru tua, guru paling senior, serta guru paling tegas––atau mungkin galak––di sekolahnya. Guru itu memincingkan mata memandang Intan.
"I-iya bu?"
"Ini sekolah, bukan mall yang bisa dibuat jalan jalan dengan rambut terurai kamu!"
Telinga Intan berdenging setelah mendengar ucapan pedas guru ini.
"Ma-a-af bu, saya––"
"Gausah banyak alasan," potongnya cepat, "Ikut saya ke ruang BK. Kamu punya 2 kesalahan."
Mata tajam itu menatap Intan dari balik kacamata frame kotak. Seolah, mata tajam itu seperti silet yang menyayat hati dan kulit Intan.
🖤🖤🖤
__ADS_1