MEI

MEI
6. Apa Hati yang Hujan Butuh Pelarian?


__ADS_3

πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Kedua remaja lelaki itu sama sama memandang jalanan di bawah sana.


Salah satunya memegang gitar lalu memetiknya perlahan. Sementara satunya lagi lebih fokus ke melamun.


"Nggar," panggil Reyan pelan.


"Paan?" Tanpa menoleh Enggar menjawab, ia memandang ke sebrang jalan. Dimana seorang cewek depan rumah mulai menyebrang dan melangkah masuk ke rumahnya. Meli.


"Bener lo suka ke adek kelas itu?" Reyan kini memetik gitar, lalu petikan nada tersebut menghasilkan sebuah lagu. Bukan karanganya tapi Reyan sedang membawakan lagu orang lain, lagunya si Anji.


"Iya, kenapa?" Enggar menyentuh pagar pebatas balkon lalu bangkit, "pinjem korek lo Yan."


Reyan hanya menunjuk ke meja dimana jaketnya tergeletak. Enggar mengambil apa yang ia minta lalu kembali duduk di tempat semula.


Ia mendongak menatap langit yang perlahan berubah warna. "Kenapa emang?"


"Pengecut Nggar, lo belom berani bilang ke Meli?" Tanya Reyan dengan sungguh sungguh.


"Kek lo berani aja nembak si Lia."


"Udah bego. Gue udau bilang ke Lia!"


Enggar menoleh spontan, ia terkejut ada perkembangan dari hubungan antar Reyan dengan si gebetan. "Terus?"


"Simpel, gue di tolak." Enggar terbahak cukup keras, ia lalu menyalakan pematik api untuk membajar ujung rokoknya. Selepas hal itu, asap mulai muncul dan mengepul beberapa saat di udara sebelum benar benar hilang kemudian.


"Terus? Lo gimana sama Meli Nggar, masih mau di gantung aja perasaan lo? Serius ya, alasan lo gak masuk akal bro. Masa lo takut persahabatan lo rusak? Gak lah! Jangan mikir pendek. Pikirin juga perasaan lo itu."


Reyan kembali mengoceh panjang, tentang perasaan Enggar yang terlihat menggebu, tapi dibiarkan saja.


"Terus gue harus meluk Meli, bilang I Love You? Terus bilang Be Mine? Dan Meli jawab Im yours? Beuh, gak se simpel itu Yan. Gue ragu, gue ini cuman sahabatnya, gak lebih. Toh juga disini tugas gue buat nge jaga dia. Bukan sebagai faktor pembahagia dia."


Reyan mendengus kesal. Ia memetik nada asal lalu mulai bernyanyi lagu dadakan ciptaanya sendiri. "Pengecut, pengecut. Ekhm, loser loser loser. Sumpa temen gue loser."


Enggar menggelengkan kepala mendengar lagu temanya, ia menghisap kembali rokok itu sampai decitan pintu kamarnya terdengar, dua detik kemudian suara yang tak asing baginya terdengar.


"Nggar, plis deh. Lo kebiasaan banget nyolong buku tugas gue."


Meli datang, membuat lagu pengecut milik Reyan terhenti. Enggar tanpa menoleh hanya terkekeh lalu kembali menghisap rokoknya.


"Wah ada Meli! Gue ada lagu baru nih Mel." Reyan memetik satu per satu senar sembari memandang Meli.


Meli menaikan sebelah alis, kemudian dia berjalan kearah meja belajar untuk mencari buku yang di curi Enggar. "Oh ya? Apaan? Lagu galau di tolak Lia?"


"Sebenernya pengen, cuman ada lagu terbaru,masih anget baru dapet ide. Based on true story nih."


Meli terkekeh lantas menyahut, "nyanyi aja. Kalo jelek entar gue tinggal dorong lo keluar dari balkon."

__ADS_1


"Gue punya temen,"


Jeng! jeng!


"Pengecut, dia suka sama sahabat sendiri."


Jeng! Jeng!


"Lo musikalisasi puisi apa nyanyi sih kebo?" Komen Enggar dengan mata memincing.


"Dia tak berani bicara, bahkan pada udara." Meli terkekeh pelan, suara Reyan maksa soalnya.


"Ini adalah temanku, yang terpaku pada punggung mu. Tanpa berani menatap matamu."


Jeng! Jeng! Jeng!


Sebelum Reyan sempat melanjutkan lirik lagu absurd selanjutnya, Enggar lebih memilih menarik gitar tersebut. "Gausa di denger Mel. Gue takut entar lo tambah budek."


"Dihhh! Apasih!" Meli melotot kearah Enggar, tapi cowok itu acuh.


"Btw lagunya gimana Mel?" Reyan bertanya seolah tidak pernah mendengar komentar Enggar barusan.


"Udah dibilang jelek Reyan!" Enggar berkata dengan penuh penekanan sambil memegang gitar dan memperbaiki senar yang kendur.


"Ya seperti biasa...." Meli berucap.


Reyan membulatkan mata lalu terkekeh, "thanks!"


Sembari terkekeh karena melihat wajah tersakiti milik Reyan. Enggar meletakan rokok pada tempat putung rokok lalu memetik gitar. Tanganya dengan cepat memetik deretan nada yang menimbulkan suara. Lalu lagu yang terdengar adalah, Ost Heart–My Heart. Lagu yang dinyanyikan oleh Irwansyah dan Acha.


Meli bergumam pelan menyanyikan liriknya. Ia lalu menemukan buku tugasnya.


Enggar menghela napas kala sadar motor hitam milik Raka sudah memarkirkan diri di halaman rumahnya. Si empunya sudah masuk rumah dan dalam perjalanan menuju kamarnya di lantai 2.


Di akhir lagu, Enggar dapat mendengar seseorang membuka pintu. "Weh rame juga disini?"


"Wew, akhirnya lo kesini?" Meli melontarkan senyum tipisnya sembari memandang dari atas sampai bawah.


"Dih, kek gak pernah liat gue aja lo."


"Udah lama kali, kan terakhir ketemu waktu Sd kelas enam geblek. Waktu kelulusan," sambar Meli seraya mengelap dahinya yang tadi sedikit berkeringat.


Enggar menyodorkan gitar tersebut kepada Reyan. Ia bangkit dan mendekat ke dua insan tersebut. "Mau apa?"


"Mau ngajak duel. Anter gue ke Gedung apa tuh? Gedung kesenian Nggar, gue pen kesana nih," pinta cowok itu dengan nada tegas.


"Dih, gue ngerasa lo mulai geser otaknya ye? Cukup pake google map kan bisa." Enggar mendumel lantas menarik tangan Meli agar tubuh cewek itu sedikit jauhan dari Raka.


"Terakhir gue nuruti apa kata Google map. Gue nyasar loh. Ini juga pertama kali gue kesini. Gila aja gue gak tau jalan."

__ADS_1


"Mau ke gedung Seni?" Tanya Meli pelan.


"Anter ya Mel?"


"Gak gak! Gue aja yang anter!" Sela Enggar mendorong dua insan itu agar saling menjauh. "Heh, lo kerjain tugasnya. Biar gue anter Raka."


Tapi Meli malah melotot dan kembali mendekat. "Apasih!"


"Iyanih Nggar, lo juga ada tamu. Tuh, hallo bro?"Reyan mengangkat tangannya lalu melontarkan cengiranya.


"Yan, pulang lo!" Reyan mengernyit lantas mengembangkan hidungnya. "Habis manis, sepah dibuang. Dipikir gue permen karet apa!"


Enggar mendengus, ia menoleh dan menatap binar mata Meli. Ia menangkap binar mata itu lagi.


Mata penuh kekaguman, ketertarikan, hingga mata penuh pengharapan. Ia menemukan kembali mata Meli yang seperti itu. Mata seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Mel," lirih Enggar, nadanya mulai putus asa.


"Bye Enggar, see u. Duh gue siap siap dulu ya Ka. Lo mau tunggu sini apa di rumah gue?" Meli bergerak keluar kamar Enggar. Diikuti Raka dibelakang gadis manis itu.


"Oh, dirumah lo aja. Gue juga udah lama gak ketemu mama lo."


Kemudian Enggar kembali mendengkus, dasar, gitu aja langsung nostalgia lebay, alay.


Enggar lalu menoleh pada Reyan. Dia menaikan sebelah alis melihat tatapan temanya.


"Tuh kan lo ketikung!" Reyan memekik gak tau diri.


"Dari dulu Yan, belokannya tajem tajem soalnya," jawabnya pelan. Hatinya tengah hujan kali ini.


Didalam sana sedang begitu kelam dan dingin. Badai rasanya.


"Fiks Nggar, lo butuh pelarian."


Enggar mengangkat kepala, "hah?"


"Siapa itu Intan? Jadiin dia pelarian Nggar, gue yakin kali aja nih cara berhasil." Enggar terdiam sesaat. Apa hati yang hujan butuh pelarian?


"Jangan sebut Intan pelarian Yan. Dia itu cocok diistimewakan."


"Do you fall in love with her?"


Maka Dari Enggar terdiam. Sejauh ini, ia hanya pernah sekali jatuh cinta. Hanya pada seorang Meli.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Me: *Aloha, πŸ’•πŸ’•


Makasih yaw udah mampir. Aku sayang kalian.

__ADS_1


Oh yah, apa Intan itu pelarian? Atau orang yang diistimewakan*?


__ADS_2