
Me: aduh gatega:'( btw long chap. Sampe 1500+ words, siapin mata yach, biar gapegel.
🖤🖤🖤
Enggar menjemputnya. Mengajaknya mengobrol di perjalanan, menggodanya.
Sama seperti sebelumnya. Hanya saja, Intan tak benar benar fokus mendengarkan. Ia malah terus memikirkan pesan singkat dari papanya pagi ini.
Papa:
•siap2, habis nerima raport nanti kamu papa jemput. Kita beneran pindah ke Kota Malang.
"Mata lo kek Panda Intan." Enggar mengusap matanya pelan. Membuat Intan tersadar.
Kemarin, semalaman ia memikirkan tentang Mama dan juga Enggar. 2 orang itu sukses mengakibatkan matanya menghitam seperti pagi ini.
"Yakali panda lucu. Lo?" Enggar menggeleng diakhir kalimat.
Deg
Intan langsung teringat Mia. Cewek itu pernah mengatakannya.
Intan tersenyum tipis tak menjawab. Mia mendelik karena hanya diberi senyum tipis. "*Gini ya, lo akhir akhir ini kok makin aneh. Ngelamun, terus mata lo kek panda, sembab. Ya kali panda lucu. Lo?"
Mia menggeleng sembari bergidik ngeri. "Nyeremin. Mungkin lo bisa ikut cassting pemeran The Nun 2*."
"Gapapa," sahut Intan. Ia lalu memandang Enggar dengan tenang. Ia bersiap membuka mulut namun urung kembali.
Intan benar benar ingin mengatakan seluruhnya kepada Enggar. Tentang kepindahannya, juga pertanyaan tentang apa benar dugaannya semalam.
Tapi Intan belum punya cukup keberanian.
"Gue masuk. Lo jangan bikin ulah." Intan berjalan lebih dahulu.
Meninggalkan Enggar yang menatap heran punggung Intan yang menjauh.
🖤🖤🖤
Ruangan putih itu hening. 2 manusia yang bernapas itu tak saling berkomunikasi.
Irma menghela napas lantas menyibak majalah ditangannya. Ia mendekat ke tubuh Meli, anaknya membuka mata lantas mengerjap.
"Kamu mau minum Mel?" Irma bertanya.
Meli diam, masih belum bisa berbicara.
"Kalau mau minum kedipin mata 2 kali. Kalo enggak satu." Irma memudahkan Meli menjawab.
Gadis itu mengedipkan mata satu kali. Irma mengangguk. "Kamu butuh sesuatu?"
Meli dengan cepat berkedip 2 kali. Membuat Irma kian mendekat, lantas bertanya. "Apa sayang?"
"Enggar...."
Pagi itu, bibir lemah ini mengeluarkan suara setelah sunyi melanda.
🖤🖤🖤
"Hay, lo Intan?" Intan yang baru saja akan pergi ke kopsis bersama Riana langsung berhenti ketika ada kakak kelas yang menghampirinya siang ini.
"Iya. Ada apa?" Tanya Intan kaku. Ia benar tak mengenal kakak kelas ini.
"Follow me, please."
Intan menggigit bibir ragu. Ia sedikit ragu dengan cewek ini.
"Ini tentang Meli."
Dan Intan langsung menoleh pada Riana. "Na, gajadi ke kopsis deh. Lo balik masuk ke dalem aja."
Riana melirik sekilas kakak kelas tadi, sebelum akhirnya mengangguk lantas masuk ke kelas.
-----
"Gue temenya Meli," Dia memperkenalkan diri sejenak, "Refa."
Intan mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ada apa Kak?"
Refa berdehem sejenak sebelum mengambil hp dari saku seragam miliknya. Lantas menunjukan room chat dengan nomor tidak dikenal.
+62 897 7768 XXXX
•refa. Ini mamanya Meli
•Meli nyariin Enggar. Bisa kamu bujuk Enggar buat dtg ke rs?
•tante tadi udh chat dia tp dianya offline
"Ini dari mamanya Meli Tan." Refa menunjuk.
"Gue tadi udah ke pacar lo. Tapi dia nolak Tan." Refa berdecak frustasi sembari berkacak pinggang. "Gue juga udah suruh Reyan bujuk, tapi, Reyan tetep gabisa juga."
Intan terdiam beberapa saat, membayangkan bagaimana keras kepalanya Enggar. "Kakak nyuruh gue bujuk?"
Refa mengangguk mantap. "Iya, dan ya gitu...."
__ADS_1
"Gue juga udah bujuk Kak Enggar, setiap gue pergi ke rs. Kak Enggar selalu gue bujuk biar mau masuk ke ruang inap Kak Meli. Tapi tetep aja sama, dia juga gak mempan dibujuk sama gue." Intan menunduk, merasa bersalah ketika ia tak mampu membantu memenuhi keinginan Meli.
Ah, tunggu. Meli mencari Enggar? Perasaan Intan langsung tidak enak. Apakah ia akan bersiap kehilangan Enggar? Tidak! Enggar selalu memenuhi komitmennya. Jika ia sudah berkomitmen bersama Intan, maka cowok itu akan tetap bersama Intan bukan?
"Gue gabisa kak." Intan kembali bicara
Refa terhenyak sejenak. "Gue bawa handycam. Bukan punya gue, tapi punya si Meli."
"Ya?" Intan menyahut tidak paham.
Refa menggigit bibirnya sendiri, ia mengangkat kamera itu lalu menyerahkannya kepada Intan. "Maaf sebelumnya Tan. Tapi, gue beneran prihatin sama hubungan Meli dan Enggar."
"Maksud kakak?"
"Gini, sorry banget. Tapi, yang harus lo tau itu, semua anak pada ngomongin lo dibelakang," Refa berkata pelan, takut menyinggung hati Intan.
Intan berdiri kaku tiba tiba. "Gimana?"
"Soal Enggar dan Meli, aduh, jadi gini. Enggar sama Meli itu yaaaa gimana ya, intinya deket banget. Dan tiba tiba aneh gitu pas Enggar malah pacaran sama lo, sejauh ini yang gue tau Enggar pasti bakal selalu ada buat Meli. Tapi Meli tiba tiba bilang, kalo Enggar udah berubah sikap semenjak pacaran sama lo," Refa berhenti sejenak, menatap tidak enak kearah Intan yang menatap dirinya dengan tatapan tak terbaca.
"Gapapa kak, bilang aja. Semua unek unek lo."
Refa tersentak kaget, apa dia kelihatan seperti seseorang yang menyimpan unek unek?
Refa berdehem sejenak, "Meli gak pernah curhat lagi. Terus juga semua anak heran, pas mereka jengukin Meli di rs Enggar gak pernah ndeket ke Meli, dia cuman ada di luar ruangan atau kalopun masuk, dia pasti jauh dari Meli. Dan pas ada kabar Meli udah bangun, Enggar tetep gak mau samperin Meli. Dan sekarang, waktu Meli nyari Enggar, si Enggar gak mau nemuin si Meli. Dan, kata Reyan Enggar gini gara gara lo, apa bener?"
Diam. Intan tidak menjawab.
"Apa bener, semua orang lebih ndukung hubungan Kak Enggar sama Kak Meli?" Intan balik bertanya, membuat Refa makin tidak enak.
"Iya Tan."
"Kakak?"
"Gue....gue iya." Refa kini berganti menunduk.
"Apa kurang gue ya kak?"
Refa menepuk pundak Intan, "gak Tan. Gak ada. Jujur gue juga dilema banget kalo ada di posisi lo."
"Terus kenapa gue disebut gak pantes sama Kak Enggar?" Intan terus bertanya kepada Refa.
"Gue gak bilang gitu Tan."
"Gue tau kok gimana buruknya kalo cewek udah ngerumpi. Pasti yang dimongin gak sebagus yang lo bilang." Intan menepis tanggapan Refa barusan
Cewek yang satu tahun lebih tua itu terdiam untuk memikirkan jawaban. "Gini Tan, secara fisik dan karakter, lo gak kurang apapun. Tapi, kurang lo itu cumam gara gara waktu. Meli lebih dulu kenal Enggar dan lo baru kenal Enggar langsung bisa rebut Enggar dari Meli. Pasti semua cewek bakal patah hati kalo ada di posisi Meli Tan."
Intan diam dan Refa melanjutkan, "Tan, gue cuman saran aja. Daripada lo gini, gue sekali lagi cuma saran. Kalo lo gamau sakit hati, lepasin Enggar buat Meli. Gue tau Meli suka ke Enggar lebih dari temen, lebih dari sahabat, gue tau ini lewat vidio yang ada di handycam itu."
"Entah kenapa, gue kayak menganut kepercayaan: Du dunia ini, gak ada persahabatan antara cowok dan cewek yang murni, pasti salah satunya atau mungkin keduanya ada yang nyimpen rasa."
Teori bumi yang ingin Intan musnakan itu terdengar kembali.
"Gue gabisa Kak...." Intan menggeleng tidak mau.
"Biasanya, kesembuhan seseorang yang sedang sakit itu berasal dari kebahagiaan. Dan lo tau, tadi Meli nyariin Enggar, dan pasti kalo Enggar dateng Meli bahagia, dan dia bisa cepet sembuh Intan."
"Katanya ini cuma saran? Kenapa kakak jadi maksa?" tanyanya enteng.
"Gue gabakal maksa gini kalo gue gak liat semua vidio yang ada di handycam itu. Kalo lo ada waktu, buka vidionya, semua. Biar lo paham gimana dilemanya dunia sahabat itu Tan."
Entah, Intan hanya terdiam. Refa jelas menunjukan ketidak sukaan hubungannya dengan Enggar. Apa ia harus berhenti dan mendengar apa kata orang?
🖤🖤🖤
Intan bertemu pandang dengan Mia, tapi gadis itu buru buru buang muka dan keluar kelas untuk pulang.
Untuk sementara waktu, Intan memilih mengabaikan masalahnya dengan Mia, ia harus fokus pada satu titik masalah. Yaitu mengenai hubungannya dengan Enggar.
Intan segera mengirim chat pada Enggar. Dan dengan cepat chat itu dibalas.
Kak Enggar
•pulang naik ojol dulu ya Tan?
•lagi ada urusan sama Reyan
Intan:
•gue mau ke rs. Anter gue kak
Kak Enggar:
•gabisa intan. Maafin ya? :"(
Intan:
•tega lo nyuruh gue naik ke boncengan cowok lain?
Kak Enggar:
•gaiklas malahan, yatapi emg dadakam bat urusannya
Intan:
__ADS_1
•apa, urusan apa?
Kak Enggar:
•gatau, ini Reyan tetiba mau ngmng. Pntg katanya. Kalo gue gak nurutin Reyan dia ngancem mau nyolong jaket gue.
Intan:
•lo dmn?
Kak Enggar:
•msh d kelas. Ati ati ya.
Intan menyimpan ponselnya. Kelas mulai beranjak sepi. Dia berjalan keluar kelas, bukan untuk ke gerbang, namun menuju kelas atas, kelas 11.
🖤🖤🖤
Koridor kelas 11 benar benar bersih manusia. Semua muridnya langsung ngacir ke gerbang sejak bel berbunyi. Dan itu memudahkan Intan.
Ia bergerak mendekat ke pintu kelas Enggar yang terbuka separuh. Samar, terdengar suara 2 lelaki.
Awalnya ia tak mau menguping, tapi, ketika yang terdengar adalah namanya Intan mengubah niatnya.
🖤🖤🖤
"Cepet deh Yan kalo mau ngomong, kesian bebeb gue nih," Enggar berkata setengah sebal pada temannya yang kali ini sibuk memasukan buku paket ke tasnya.
"Meli nyariin lo. Ayo ke rs," Reyan berkata datar lalu melongok ke loker untuk mengecek apa ada barangnya yang tertinggal.
"Gue masih gamau."
"Sampe kapan?" tanya Reyan dengan diiringi kegiatan menutup resleting tas.
"Sampe Meli minta maaf ke Intan."
"Lo bohong. Alesan lo gak masuk akal Nggar. Cerita ke gue gih." Reyan kini menatapnya serius.
"Apaan?"
"Alesan lo ngejauh dari Meli. Lo lagi sembunyiin itu dari gue. Tapi kan gue salah satu orang pinter Indonesia, jadi lo gak bisa bodohin gue," dia mengucap bangga akan kepekaan dirinya terhadap sikap Enggar.
"Gak ada Yan. Emang itu doang," jawab Enggar pelan.
"Gitu lo Nggar, nggak mau kasih tau gue." Reyan berkacak pinggang lalu duduk diatas meja.
"Iya mau gimana lagi?" Kali ini cowok itu menggaruk kepalanya frustasi.
"Ya cerita, gue temem lo Nggar. Jangan dikira cewek doang yang bisa curhat ke temen. Cowok juga bisa, bedanya kalo curhatan cewek itu pasti ada unsur gosipnya." Reyan berkata dengan raut wajah meyakinkan.
Sementara Enggar mengernyit lantas menimamg nimang keputusan. "Meli bilang ke gue, kalo dia suka ke gue. Sebelum kecelakaan. Dia bilang gitu pas ada Intan."
"Terus?" Sahut Reyan nge-gas.
"Gue waktu itu nggak mikir dulu, gue langsung bilang kalo gue tetep milih Intan."
"Lanjot Nggar. Gausa di spasi gitu dong."
"Ya gitu, Meli emosi dan nyebrang tanpa liat liat. Dan gue sebenernya nggak marah sama sikap dia sebelum kecelakaan. Itu cuman alibi gue doang." Enggar diam sejenak untuk menarik napas. "Alasan gue gak mau nemuim Meli adalah, tiap gue liat wajah Meli, gue selalu inget kejadian Meli ditabrak. Gue merasa bersalah Yan, juga, gue merasa gak siap kalo liat Meli. Gue takut perasaan gue gak konsisten buat Intan. Gue takut kalo nanti tiba tiba Meli minta gue buat sama dia, gue takut lepas kendali dan salah bikin keputusan. Makanya, untuk sementara waktu gue ngejauh dari Meli dulu Yan. Gue gak berani."
Reyan diam tidak menyahut, ia pikir Enggar masih belum selesai berbicara.
"Cupu banget kan gue Yan?" Enggar berkata dengan nada putus asa yang menyedihkan.
Maka Reyan menjawab, "gapapa Nggar, lo cupu gini kayak Alza itu karena lo manusia. Bahkan lo bisa jadi sekuat macan abis minum milkuat, eh itu iklan apansih yang jadi sekuat macan tuh? Biskuat bukan?"
"Kek-nya biskuat. Tapi kayaknya juga Milkuat." Enggar bergidik tidak ingat.
"Terus gimana? Ini bukan sementata waktu doang loh Nggar, udah 2 minggu lo jauhin Meli. Kesian kan, dia masih sakit."
Cowok bernama Enggar itu hanya diam tidak menjawab. Membuat Reyan benar benar frustasi akan keadaan.
"Nggar!"
"Gue balik suka ke Meli lagi Yan."
"Intan gimana?"
"Gue gak tau, apa jangan jangan bener kata lo dulu? Gue cuman jadiin Intan pelarian?"
🖤🖤🖤
Intan terdiam, melangkah perlahan lantas menjauh dari kelas itu.
Memang benar saran Refa.
Ia harus segera melepaskan.
IÂ Â IÂ Â I
🖤🖤🖤
UÂ Â UÂ Â U
Me: sudah lelah aku sama dia. Lepas ya?
__ADS_1