
"Wah wah ini rumahnya, besar banget Alina itu orang kaya tapi dia tidak sombong ya"
ucap Sonia
"Ayo masuk" ucap Dev
Tok tok tok "permisi ada orang di dalam"
Zordan yang kebetulan mendengar seseorang mengetuk pintu mulai turun ke bawah dan membukanya.
"Siapa (pintu terbuka) " terlihat wajah penuh selidik dari Zordan. Matanya menatap tajam pada dua orang di depannya itu
"Oh hallo kak (berjabat tangan) saya Dev dan ini"
"Hai kak saya Sonia kami mendapat kabar kalau Alina sakit jadi kami ingin menjenguknya"
"Iya dia ada di kamar atas (menunjuk)" Zordan merasa senang setelah sekian lama akhirnya ada tamu yang datang ke rumahnya.
Kriet (suara buka pintu) "Al bagaimana keadaanmu" ucap Dev seraya mendekat ke kasur Alina diperiksalah tubuhnya "hemm masih panas "
"Kenapa kalian disini, pergi dari sini aku tidak butuh simpati kalian" ucapnya tanpa menatap mereka
"Alina maaf menganggu istirahatmu tapi sebagai teman kami harus saling menjaga kan"
"Siapa yang teman kalian"
__ADS_1
Sonia mulai menarik Dev untuk keluar kamar "ingat jangan masuk dulu"
lalu ia kembali ke kamar dan duduk di sebelah Alina,
"Al aku bawakan bubur makanlah"
Saat sedang mau menyuapi, Alina melempar bubur itu hingga pyar mangkuk itu pecah.
Seketika suasana hening raut kesedihan mulai menyelimuti diri Sonia
" hahaha bodohnya aku, maaf ya Alina kau pasti tidak pernah makan bubur murahan yang dibeli di pinggir jalan seperti itu"
Deg deg serasa hatinya ikut sedih mendengar perkataanya , di dalam hati Alina berfikir apa ia sudah keterlaluan.
"Sonia kau masih bawa 1 mangkuk lagi kan, berikan padaku aku lapar"
"Al aku tulus ingin berteman denganmu, berkat kamu juga aku bisa lebih berani menghadapi orang orang yang menghinaku, aku tidak memaksamu, aku tahu kita tidak sebanding tapi aku berharap kita bisa jadi teman"
"Kau taukan aku bukan orang baik "
"Aku tau kau orang baik jadi bagaimana mau ya berteman denganku"
" (pintu terbuka) Sebenarnya aku malas berkata demikian tapi yang dia katakan bener Al, kamu harus mencoba bangkit dari masa lalumu, lupakan kenangan buruk yang pernah terjadi dan ya kakak mu sudah menceritakan semua kepadaku"
"Kasihanilah dia Al selama ini dia menderita rasa bersalah karena gagal menjagamu"
__ADS_1
Perasaan campur aduk memenuhi otaknya seakan ingin marah tapi pada siapa yang tersisa hanya rasa kesal dan kesedihan, perlahan memori masa lalu mulai ia kenang lagi
"Mereka benar kenapa harus aku yang menderita, apa yang telah ku perbuat selama ini menyia-yiakan kehidupanku..huh bodohnya aku (menepuk jidatnya) "
"Baiklah Al kami pamit dulu ingatlah kami disini untukmu" ucapnya seakan membuat damai.
Alina berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa melanjutkan hidup bebas tanpa halangan, ia pun menemui Zordan dikamarnya .
Ia menatap tajam kakanya dan perlahan bendungan air mata mulai berjatuhan, ia menangis tersedu sedu, kemudian dipeluk erat tubuh kakanya seraya berkata " kak maafkan aku" ditutup mulutnya ketika hendak melanjutkan perkataannya
" Tidak ada yang salah Al, sekarang mari kita mulai kehidupan baru, kehidupan penuh canda tawa. Bagaimana Al kamu mau kan"
Sambil tersenyum Alina berkata "iya kak" Kini tumpukan beban yang menetap di pundak Zordan seakan musnah, rasa bahagia menyelimuti hingga tak bisa berkata kata lagi senyum yang hilang kini bersemi lagi
Ke esokan paginya
"Kak hari ini aku sudah baikan bagaimana kalau kita ziarah ke makam Mama dan Papa, aku kangen dengan mereka"
"Baiklah nanti kita berangkat, tapi kamu yakin sudah sembuh"
"haha iya kak aku sudah sembuh, mungkin kakak mau coba tanding denganku"
"hahaha mana berani aku melawan master bela diri"
Suasana suram di kediaman Mo kini mulai menebarkan kehangatanya.
__ADS_1
Bersambung..