Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Taman bermain


__ADS_3

Tak berapa lama mereka tiba di kediaman Mo.


Tok..tok "Bibi aku pulang "



Bibi yang baru selesai memasak pun berlari keluar, sambil berteriak ia berkata



"Nona Alina anda dari mana saja kenapa tidak pulang kemaren. Bagaimana bisa anda melakukan ini padaku dan Bai asal nona tau tuan Zordan terus menelepon dan memarahi kami bahkan dia mau pulang tadi tapi karena ada rapat penting jadi ditunda" sambil mengamati dari atas sampai bawah.



"Akhirnya Bibi diam juga kupingku panas rasanya dan ya aku baik baik saja jangan melihatku seperti itu"



"Nona ini, saya sudah khawatir setengah mati dan sampai sekarang Bai belum pulang mencari nona tetapi nona sama sekali tidak merasa bersalah, dan tuan Dev juga disini, apa kalian pergi bersama"



"Saya kemaren sakit dan Alina menolong saya, tapi Bibi tenang saja kami masih tau batas kok" ucap Dev dengan tenangnya.



Setelah itu Alina mengabari Zordan dan tentunya kakaknya itu sedang marah besar. Alina yang merasa bersalah hanya diam saja, set (mengambil hp)



"Hallo Alina jawab kakak"



"Maaf kak Zordan ini Dev, ini salah saya jadi tolong jangan memarahi Alina lagi. Kemaren dia merawat saya semalaman dan hpnya mati, sekali lagi saya ingin minta maaf"



"Dev saya mempercayaimu, jadi jangan macam macam dan tolong jaga Alina"


"Baik kak"



Setelah ketegangan yang terjadi Dev mengajak Alina pergi ke taman bermain walaupun awalnya dia menolak



"Nah kita sudah sampai"



"Kenapa tadi aku jadi ikut denganmu"


__ADS_1


Mereka pun masuk ke taman bermain itu. Sejenak Alina termenung "ada apa Al"



"Hah..bukan apa apa hanya saja aku teringat masa kecil, dulu keluarga kami sering pergi ke tempat seperti ini "



Melihat suasana yang mulai kurang nyaman, Dev lalu merangkul Alina dengan gaya kerennya dia pun berkata


"Berapa kali aku bilang kenangan itu di taruh di hati jika bisa tolong dikunci agar tidak mempengaruhi diri"



Alina yang mendengar sontak melongo dalam hati ia berkata apa benar dia Dev, jika begini pemikiranya sangat dewasa.



Sambil melihat sekeliling


"Al kau mau naik apa"



"Itu"



"emm..kau yakin"



dalam hati mereka berkata perasaan apa ini.



"Sudah selesai kau ini memasang sabuk saja tidak bisa, ehem nanti kalau kau takut boleh peluk"



Mohon perhatian untuk para penumpang wahana roller coaster akan segera berangkat mohon pasang sabuk pengaman.



Semua penumpang menikmati wahana itu terutama ketika mencapai ketinggian sambil berteriak keras Alina berkata



"Aaaaaaa seru sekali, Dev kenapa kau diam saja"



"Huh..mati sudah hoek..aku mau muntah kapan ini berakhir" Dev terus gemeteran sampai selesai.


__ADS_1


Dev lalu duduk lemas kepalanya serasa berputar putar dengan suara rintih ia berkata



"ingin muntah, jangan Dev sabar dulu mau ditaruh dimana harga dirimu"



Alina yang melihat tingkahnya hanya tertawa keras



"pft..hahaha maaf aku tidak bisa berhenti tertawa haha oh baik jadi karena kau takut sekarang giliranmu pilih yang mana"



"Jangan berhenti tertawa"



"eh apa maksudmu"



"Tidak jadi oh ya kau tadi bilang apa, takut oh yang benar saja hal itu tidak ada dalam kamus Dev Arma, tapi jika kau mau aku memilih ayo ikut aku"



Dev lalu berdiri dan mengandeng tangan Alina dalam hati ia berkata sekarang giliranmu kau pasti akan merasakan yang ku rasakan tadi heheh.



"Nah ayo masuk rumah hantu ini sangat mengerikan jadi kau jangan melepas tanganmu (menggengam erat)"



"Sudahlah Dev kau belum tau kan" seketika para hantu berdatangan bukannya takut "hiyaaa" bruk..brak..bukk



"hey nona kenapa hiks memukul kami hiks ini kan memang tugas kita menakuti hiks pengunjung"



Para hantu itupun dibuat babak belur olehnya, Lagi lagi Dev hanya melongo tanpa suara. Alina lalu menarik tanganya dan kabur ke luar.






Bersambung...

__ADS_1




__ADS_2