Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Pantai


__ADS_3

Mereka pun pergi bersama menggunakan mobil Dev.



"Hallo paman Bai aku ada urusan jadi tolong bawa pulang mobilku"



"Baik nona" tut..tut



Dev yang sedari tadi hanya diam terus melajukan mobilnya tanpa tau arah sehingga membuat Alina kesal , sambil berteriak ia meminta Dev untuk berhenti dan segera turun dari mobil. Alina lalu mengambil alih untuk menyetir mobil.



"sini biar aku yang setir mobilnya aku masih mau hidup tau dari tadi cuma muter muter, udah gitu nyetirnya gak konsen lagi bisa bisa nanti nabrak kan"



Mobil terus melaju "Al kita mau kemana" dengan singkat ia menjawab " merubah suasana hati"



Dev yang biasannya tidak bisa diam hari ini benar benar kehilangan semangatnya. Tatapan matanya seolah kosong. Hampir 2 jam perjalanan ditempuh dan akhirnya mereka sampai. Hamparan pasir putih dengan ombak yang saling bersaut-sautan sungguh pemandangan yang luar bisa



"Untuk apa kita ke pantai terlebih disini tidak ada orang "



"Memang tidak ada orang karena ini milikku pribadi, Papa memberiku saat ulang tahun ke 10 awalnya cukup shock sih dengan hadiah ini tapi begini juga bagus"



Dalam hati Dev berkata apa yang perlu dikagetkan bukannya itu hal wajar untuk seukuran keluarga Mo jangankan hanya pantai mungkin pulau pribadi mereka juga punya.



Nama keluarga Mo sudah tersebar di seluruh kalangan pembisnis di indonesia karena belum sampai 5 tahun sudah mampu menguasai pasar baik dalam maupun luar negeri.


Fashion Mo Grup didirikan dengan penuh banjir keringan oleh karena itu baik Zordan maupun Alina sudah bertekad akan mempertahankan semua yang telah dicapai papanya itu.



Dev yang masih belum faham maksudnya membawa dia kesini lalu bertanya "Al kenapa mengajakku kesini"

__ADS_1



Alina diam sejenak dan memejamkan mata, terasa kesunyian yang terdengar di telinganya ingatan ingatan yang membuatnya marah maupun sedih menumpuk di otaknya. Lalu ia membuka mata dan berteriak sepenuh tenaga "Aaaaaaaaaa" perasaan lega karena berteriak membuatnya melupakan kekesalan yang ia alami karena itu ia membawa Dev kesini.



"Nah kau coba sekarang tutup matamu dan ingatlah semua kenangan yang membuatmu kesal maupun sedih lalu teriaklah yang keras sampai suaramu menggema di ujung lautan"



Dev yang mengikuti kata Alina mulai mengikuti langkahnya, ia memejamkan mata dan mengingat saat bahagia berkumpul bersama keluarga dan akhirnya pertengkaran antara kedua orang tuanya.


Sejenak ia menghela nafas dan menariknya kuat "Aaaaaaaaa". Melihat sedikit beban di badan Dev berkurang Alina merasa senan



"Bagaimana"



"Yah lumayan menghibur ternyata kau pandai membuat suasana hati jadi bagus ya, sebenarnya apa yang kau tidak bisa"



"Setiap orang pasti ada hal yang tidak dikuasai jadi jangan bilang begitu"




Dev yang mulai tertawa membuat hati Alina berdebar dalam hati ia berkata ah perasaan ini lagi ada apa denganku, tapi syukurlah dia sudah baikan.



Mereka lalu duduk tepi pantai sambil menatap ombak dilaut, sesekali kaki mereka terkena air " Dev ayo makan, kau tidak lapar ya dari pagi sampai sore begini"



"Ya kau duluan 10 menit lagi aku menyusul biarkan aku disini sebentar"



Alina lalu masuk ke villa sendirian meninggalkan Dev yang masih duduk di tepi pantai itu.


Dev lalu mengambil ranting kayu dan membuat ukiran di atas pasir, sebuah gambar hati dengan tuliskan DEVALINA didalamnya dan setelahnya ia pun pergi ke villa. Baru beberapa kali terkena air tulisan itupun memudar seakan sebuah hubungan yang akan cepat terhapuskan.


__ADS_1


Di ruang makan


"Al lain kali giliranku mengajakmu ke pulau"



"Kau punya pulau benar benar orang kaya oh ya dimana tempatnya"



"Nanti saja jika jadi berangkat, oh ya hari ini kita menginap disini saja sudah sore perjalanan pulang juga jauh kan "



Sejenak Alina membenarkan perkataan Dev "kita pulang setelah makan oke" dalam hati ia berkata aku masih kurang percaya padanya bagaimanapun juga aku harus melindungi tubuhku.



"Kenapa otakmu mesum begitu aku tidak akan melakukan hal diluar batas"



"eh kau tau pikiranku ternyata yah pokonya kita pulang sudah ayo"



Diperjalanan pulang giliran Dev yang menyetir mobil Alina yang kelelahan pun tertidur, karena jalan yang bergelombang membuat kepala Alina sering terbentur



"Dibilang tadi menginap saja tidak mau" menyenderkan kepala Alina ke pundaknya.


Setelah sampai di rumah Dev yang tidak tega membangunkannya kemudian mengendong Alina masuk ke dalam kamar, direbahkanlah tubuh Alina dengan lembut di kasur ia pun menyelimutinya



"Selamat tidur (sambil mencium kening)" Dev pun akhirnya pulang ke rumah






Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2