
Alina POV.
Sedari tadi malam aku sudah gelisah entahlah mungkin gugup sedang melanda hingga kini menunjukkan pukul 00:48 menit aku masih terjaga.
Biasanya akan ada seorang ibu yang menemani putrinya ketika tiba masa pentingnya, memeluknya dan menenangkan kegelisahannya tapi apalah daya mama sudah ke surga. Ku bangkit dari tempat tidur dan berjalan mengambil foto yang bertengger di meja. Kupandangi foto harmonis itu, aku, kak Zordan Mama dan Papa tak terasa sebulir cairan keluar dari kelopak mataku
"Ma Pa besok Alina akan menikah dengan Dev doakan kami ya. Seandainya kalian masih disini"aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sambil sesekali menghapus air mataku.
"Aku kangen kalian" ucapku lirih seraya memeluk figura itu. Kudekap dipelukanku dan perlahan ngantuk pun menyerang dan aku mulai tertidur
Hari pernikaham pun tiba. Sudah sedari subuh aku bersiap siap untuk dirias karena acaraa ijab qabul akan dilaksanakan pukul 9 pagi ini.
Menggunakan kebaya putih dengan corak emas dengan ekor menjuntai panjang, bawahan batik dan make up yang natural membuat wajahku terlihat lain. Rambutku juga dimodel sederhana dengan beberapa hiasan bunga diatasnya. Aku menatap kaca didepanku bahka aku ragu dengan bayangan diriku dicermin itu. Senyum tak luntur dari bibirku " cantik" gumamku.
Pangling? mungkin itulah kata beberapa orang yang sedang berada disisiku.
"Ih gimana cin euke riasnya,puas dong tuh euku liat muka you senyam senyum begitong" ucap Belinda, Yah meskipun agak belok tapi aku benar benar kagum padanya sungguh riasan yang sempurna
"Thanks Madam Belinda aku suka banget sama dandananya"
"Udah cin pokoknya situ tenang bae euku jamin deh situ punya laki pasti klepek klepek liat situ secara kan situ cuantek begindong" seketika tawaku pecah dengan kelucuan Madam ini.
tok tok
"Masuk" Kulihat sejenak dan ternyata itu kak Zordan yang memasuki kamar riasku, matanya menatap ku dengan pandangan yang sulit diartikan bahagia namun juga tersirat kesedihan didalamnya. Ku lontarkan pertanyaan kepadanya
__ADS_1
"Kenapa kak" dia hanya diam dan beberapa saat baru buka suara
"Pengantin pria sudah datang Al" Wah kenapa denganku jantungku jadi berdebar kencang. Gugup semakin melanda hatiku tapi ku lihat kak Zordan memandangku dengan sendu kali ini ia mendekatiku dan membelai pelan rambutku agar tidak rusak
"Adik kakak ternyata sudah besar ya? sudah mau meninggalkan kakak sendirian. Terus nanti kakak dengan siapa disini" Hatiku ikut bergetar mendengarnya. Benar saja sebentar lagi aku harus berpisah dengannya. Ku balik menatapnya dengan senyum lebarku dan ku genggam tangannya
"Kak seberapa banyak pun Dev didunia ini kakaklah laki laki kedua setelah Papa yang sangat ku sayangi, dan aku bukan akan pergi jauh kak kita masih tetap bersama dan juga kalau kakak takut sendirian maka aku ada solusi kak"
"Apa itu" Dia terlihat antusias mendengarkanku
"Bawakan aku kakak ipar" aku terkekeh geli melihat wajah merahnya. Dan akhirnya aku pun keluar dengan Kak Zordan menuruni tangga.
******
Kediaman Alina sudah dipenuhi beberapa kerabat Dev dan teman dekat Calon pengantin. Tidak terlalu banyak orang karena memang mereka hanya mengundang orang orang untuk acara resepsi yang akan dilaksanakan nanti pukul 4 sore sedangkan untuk ijab Qabul hanya mengundang orang terdekat mereka supaya terkesan sakral.
******
Aku hanya mondar mandir kesana dan kemari lalu berputar dan berbalik lagi, ku rasakan keringat menetes dari dahiku. Sungguh aku sangat gugup saat ini aku segera memakai pakaianku. Sepatu hitam dengan Jas putih dan jam edisi terbaru ku pakai segera karena ketukan pintu yang tak kunjung berhenti dari tadi
"Kau ngapain didalam hah? kayak anak perawan dandan 5 jam" ucap Ray. Aku menjitak kepalanya cukup keras sehingga sang empu meringis kesakitan.
"Itu kenapa kau keringetan Dev,bukannya Ac kamarmu masih normal tanganmu juga gemeteran, Jangan bilang kau gugup hahaha" Kali ini bukan Ray yang bilang tapi asisten laknatku si Leon yang juga merupakan sahabat baikku
"DIAM KALIAN " teriakku keras seraya menahan malu bukannya berhenti si Ray dan Leon sialan ini malah makin kencang ketawannya.
__ADS_1
"Hahaha Leon kau lihat dia seorang pembisnis besar yang ditakuti banyak orang di dunia hitam ternyata bisa gemetar juga..ini lucu sekali" Ucap Ray, kalau bukan sayang tanganku mungkin saat ini juga sudah hancur wajahnya itu.
Tak berapa lama papa datang menghampiriku dengan jas hitam yang semakin menampilkan wibawanya. Dia menepuk pelan pundakku dan berkata
"Sudah waktunya berangkat Dev dan setelah hari ini kau harus ingat akan tanggung jawabmu terhadap istrimu dan nanti juga untuk anak anakmu. Saat ijab qabul nanti jangan gugup ambil nafas dalam kalau bisa 1 tarikan nafas selesai" Aku hanya mengangguk angguk tanpa berniat membalas jujur saya bahkan aku sudah hapal diluar kepala, bagaimana tidak seminggu ini setiap harinya aku diberi wejangan oleh Papa tapi aku bersyukur seengaknya masih ada Papa yang menemaniku meskipun di lubuk hatiku sedikit kecewa terhadap Mama yang bahkan tidak sekalipun mengabari.
Kami berangkat menuju kediaman Mo. Sesampainya disana sudah terlihat perubahan besar dirumah itu karpet merah menjulur hingga keluar pintu dan bunga mawar putih tersedia di setiap sudut ruangan itu. Aku turun diikuti rombonganku berjalan disamping Papa. Disana kami disambut Kak Zordan
"Mari tuan Arma dan Dev silahkan masuk" kami memasuki rumah itu dan aku disuruh duduk di kursi yang sudah disediakan.Karena jam menunjukkan waktunya Kak Zordan pun naik dan menjemput Alina. Entah bagaimana wajahnya pasti sangat cantik.
"aku panggilkan mempelai wanitanya"
Dia menuju tangga atas tak lama kemudian ia turun bersama calonku. Sungguh mataku tidak bisa berkedip "Cantiknya bidadariku" gumamku
Alina segera duduk di sebelahku, ku lihat dia menunduk dan tanganya gemetar. Refleks aku mendekati telingganya dan ku bisikkan sesuatu " jangan menunduk nanti cantiknya ilang sayang"
"Aku malu Dev dan grogi juga"
"Kalau malu jangan sekarang tunggu nanti malam sayang" Ku lihat wajahnya semakin memerah, entahlah gugupku tiba tiba hilang
Suara sangat riuh beberapa saat lalu kini sudah hening, rupanya acara ijab qabul akan segera dimulai ku dengarkan dengan jelas ketika pak penghulu membacakan doa lalu menyerahkan perwakilan pada kakak calon istriku. Ku dengar papa kembali membisikan sesuatu di telingaku "Santai Dev ingat jangan gugup" Kemudian aku mengangguk
"Bismillahhirrahmanirahim...Dev Arma binti Afandy Arma saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik saya Alina Mo binti almarhum Alexander Mo dengan seperangkat alat sholat dan uang senilai 15.102.019 dibayar tunai" ucap Zordan sambil menjabat tangan Dev
"Saya terima nikah dan kawinya Alina Mo binti Almarhum Alexander Mo dengan seperangkat alat sholat dan uang senilai 15.102.019 dibayar tunai" ucapku dengan sekali tarikan nafas terdengar kembali suara riuh mereka mengatakan "SAH"
__ADS_1
Setelah itu Penghulu menyuruh kami untuk saling memasangkan cincin. Alina hanya menunduk. Selesai bertukar cincin Alina mencium tanganku sedangkan aku mencium kening Istriku itu.