
"Bos bisa datang ke markas sekarang" pesan masuk ke hp Dev terlihat raut muka Dev berubah masam. Alina yang melihat itu tentunya bingung
"Kenapa Dev" Dev hanya mengeleng pelan lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai ia berpamitan "Yang abis ini aku mau ke tempat Ray penting katanya"
Alina hanya mengangguk.Lalu ia mengambil laptop dan memulai mengerjakan beberapa file penting yang sempat terbengkalai waktu itu
Dev merogoh kunci mobilnya lalu melajukan mobil itu ke sebuah gudang lama seperti bekas tempat produksi. Dev turun mengunakan kaca mata hitamnya dan berjalan santai.Terlihat beberapa orang berjas hitam sudah menunggunya di depan pintu
"Siang Bos" ucap mereka serempak dan dijawab anggukan oleh Dev
"Gimana Ray" Ray menunjukan seseorang yang sudah terikat dengan wajah yang masih mulus tanda ia belum mendapat bogeman.Pria itu tersenyum devil sambil menatap wajah Dev "Oh anakku"
"anakmu..hahahaha" tawa Dev mengelegar membuat siapa saja yang mendengar merasa merinding.
Dev memerintahkan seluruh anak buahnya untuk pergi dari ruangan itu karena ingin membicarakan hal pribadi dengan pria didepannya itu
"Ray kau keluar saja sisanya biar aku yang urus"
"Tapi bos " Dev hanya diam dan itu sudah menjadi perintah mutlak untuk ray perg"
"Apa uangmu sudah habis sampai kau mendatangiku dan mencoba membunuhku" kini Dev sudah duduk di kursi tepat di depan ayah tirinya itu.Orang yang membuat Orang tuanya bercerai. Tidak hanya itu beberapa tahun terakhir bisnisnya mendapat teror dan berujung penusukan Alina itu tidak lain dan tidak bukan karena ulah ayah tirinya itu..Bram Kusuma lelaki yang memiliki dendam kusumat dengan Papa Dev.
"Kau benar aku ingin membunuh seluruh keturunan Arma bajingan itu, aku ingin membuatnya merasakan kehilangan orang orang terdekatnya sama sepertiku"
"Shutt..diamlah telingaku rasanya penuh jika harus mendengar ocehanmu itu...apa setelah ini kau mau bilang kalau istrimu mati karena ayahku, kau jangan bodoh istri dan anakmu yang masih dikandungan mati karena keinginannya sendiri"
"Dia mengejar Papaku bahkan saat dia sudah hamil anakmu lalu apa...haha papa menolaknya dan itu bagus menurutku..jadi jangan peenah menyalahkan papaku BAJINGAN"Teriak Dev cukup keras diakhir kalimatnya
"Hahahaha"Bram tertawa keras membuat orang disektar binggung "Lalu kau mau apa? Membunuhku" Bram mengambil pistol di dalam sakunya, sedari tadi ikatanya sudah terlepas namun ia hanya berpura pura sambil menunggu anak buah Dev lengah
Dor..Dor..Dor..
3x suara pelatuk berbunyi membuat Ray,Leon dan ajudan Dev segera memasuki ruangan itu "DEV"
"Maafkan mama sayang..mama minta maaf su..dah menelantarkan kalian.To..Tolong bilang pada papa bahwa mama menyayanginya dan maaf sudah membuatnya ke..cewa" ucapnya terbata bata darah merembes ke luar pakaiannya dalam sekejap matanya sudah tertutup rapat. Dev tak mengira sama sekali bahwa mamanya sudah mengetahui niat awal Bram sehingga sedari lama ia sudah bersiap di tempat. Dev menangis melihat mamanya rela mengorbankan nyawanya demi melindunginya "MAMA"
__ADS_1
Bram sudah dibawa polisi setelah selesai dihajar bawahan Dev. Pemakaman mamanya Dev juga sudah selesai dilakukan
"Sabar ya sayang" Alina memeluk Dev sambil mengelus punggungnya. Dev menatap sekilas wajah papanya tidak ada air mata namun tersirat cukup kesedihan didalamnya, Dev hanya membiarkan itu biarlah papanya merasa tenang sendirinya
***
Beberapa bulan telah berlalu, Alina dan Dev sudah memasuki 3 bulan pernikahannya meskipun sedikit ada rasa sedih akibat kematian Mamanya Dev namun hal itu tak membuat keduanya berlarut dalam duka.
Dan kini Mereka sudah menetap di rumah milik Dev hanya berdua dengan beberapa pembantu
"DEV" teriak Alina dari kamar, Dev yang sedang menyusun laporan bergegas menemui Alina "Ada apa sayang" hosh hosh nafasnya tak beraturan akibat harus berlari dari teras rumah ke kamar.
"Lihat ini" Sebuah benda disodorkan Alina ke Dev, sedangkan lelaki itu hanya mengerutkan keningnya tanda tak faham"Apa"
"Ini lihat 2 garis biru yang artinya aku hamil Dev" ucapnya dengan antusias
"Oh kamu hamil kirain apa aku sampai kaget loh" sepertinya Dev kurang mencerna keadaan, hal ini membuat Alina emosi karena merasa Dev tidak mau menerima anak ini wajahnya terlihat sedih
"Kenapa Sedih Yang.."
"Kamu gak suka ya aku hamil"
Dev membawa Alina pemeriksaan ke dokter
"Bagaimana kondisi bayi dan ibunya Dok"
"Bayinya sehat dan sudah memasuki usia hampir 1 bulan ini, pesan saya kepada bapak supaya selalu menemani istrinya apalagi di trisemester pertama ini"
"Baik dok terima kasih"
Dev mengelus perut Alina" yang pinter ya Dek jangan nakal kan kasihan Mamanya"
"Iya Papa adek gak nakal kok" ucap Alina sambil menirukan gaya anak kecil. Dev hanya tersenyum
cup
cup
__ADS_1
cup
Dev mencium kening dan mata Alina bergantian " Makasih ya sayang udah mau jadi ibu untuk anak anakku"
"Iya aku juga mau terima kasih sama kamu solanya udah jadi imam yang baik untukku"
"Oh ya sayang sehabis ini kamu gak boleh kerja biar tugas kamu kasih ke Sonia aja"
"Eh gak bisa donk..Sonia gak akan sanggup mengurus semuanya"
"Udah nanti aku bantu kamu tenang aja"
Bulan mulai menunjukan aksinya menerangi malam yang remang remang tanpa cahaya. Alina yang terbangun karena lapar segera membangunkan Dev
"Dev bangun aku laper" ujarnya sambil mengoyang goyangkan tubuh Dev.Dev pun terbangun karena tidak tega melihat istrinya kelaparan "Mau makan apa"
"Steak" Dev hendak bangun menuju dapur sebelum panggilan namanya kembali di sebut "Dev"
"Iya sayang ada apa"
"Jangan kamu yang bikin ..Suruh kak Zordan Aja dia enak masaknya"
"Tapi aku juga bisa kok masakin kamu enak aku malah" Alina cemberut mendengar Dev menolak keinginanya lalu ia berbaring dan kembali menarik selimut menutupi tubuhnya tak berpa lama terdengar isak tangis..hiks..hiks..
"Eh sayang kok nangis yaudah ayo ke rumah kak Zordan" Dev menarik selimut dan menarik tangan Alina. tanganya menyeka cairan bening yang menjatuhkan dirinya di pipi mulus istrinya
"Beneran" Wajah sendu kini berubah menjadi binar Alina segera menarik tangan Dev.
Tak berapa lama sampailah mereka ke tempat Zordan. Alina langsung masuk kamar Zordan.
Dan disinilah seorang Zordan yang bahkan tidak pernah menginjak Dapur harus memasak Steak untuk adiknnya
Berbagai sumpah serapah dikeluarkannya bukan untuk Alina tapi untuk Dev yang kini hanya menonton TV sambil bermesraan dengan Alina menghiraukan Zordan yang sudah membuat dapur bak kapal pecah. Sejam kemudian jadikah steak ala Zordan
"Nah Alina sayang ini silahkan dimakan" Zordan menatap sekeliling mencari adik dan adik iparnya itu
"***..huh sabar Zordan sabar kalem adikmu lagi ngidam jadi sabar" Zordan kembali menutup pintu kamarnya setelah melihat adik dan suaminya tertidur pulas di kamar tidurnya.
__ADS_1
Bersambung....