
Plak "ku kira kau berbeda dari si brengsek itu tapi kau sama saja dengan Alex seorang bajingan yang suka memainkan perempuan" Alina lalu berbalik walaupun Dev memanggilnya berulang
"Al maaf dulu memang aku menjadikanmu taruhan tapi sekarang" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya
"Aku membencimu dan jauhi aku"
"Al..Alina tunggu.. Al"
"Dev bangun dev..Woy bangun ada renungan nih" dev lalu membuka matanya, keringat habis menelan kaos hitam miliknya
"iya kalian duluan" mimpi itu kenapa begitu nyata rasa sakit ketika Alina pergi."Tidak aku tidak rela sebelum ia mengetahui dari orang lain ia harus mengatakannya sendiri"umpatnya dalam hati
Seluruh mahasiswa berkumpul dan mulai berbaris mengikuti instruksi panitia.
"luruskan dan beri jarang" ucap Pak Aji.
Delam renungan itu hampir seluruh sisiwa menangis benar saja topik yang dibahas terus menerus mengenai orang tua mereka kesempatan membahagiakan mereka dan dosa yang kita perbuatan
Matahari mulai terbit kembali diiringi alunan musik dan senam di pagi hari "1.2.3 " setelah itu mereka ishoma , istirahat sholat dan makan.
"Masing masing kelompok terdiri dari 4 orang dan untuk regunya bisa dilihat di forum sekolah"
Merekapun bergerumbul sesuai kelompok yah sudah pasti Alina bersama Dev, Mia,Sonia. Mereka lalu memulai perjalanan untuk menemukan sebuah bendera, Mengikuti petunjuk peta mereka segera bergegas agar bisa memenangkan sesi kali ini
"Kita belok kiri nanti ada jalan bercabang"
"Baik sekarang cari petunjuk yang bisa digunakan" Mereka mulai berpencar dan ya sebuah kertas berukuran kecil terselip di antara semak semak
__ADS_1
"Nah itu dia"tangannya meraih kertas itu bersamaan dengan tangan Dev sehingga tangan mereka saling menyentuh, kedua pasang mata mulai menatap dalam 'deg' seakan jantung memompa lebih cepat debaran di hati mereka semakin besar. Tanpa disadari baik Mia maupaun Sonia hanya geleng geleng kepala melihat mereka "Ehem" Mia berdehem keras dan segera mengambil kertas itu "Fokus woy fokus kalau mau mesra mesraan nanti bisa kan"
Kami akhirnya tersadar dari dunia kami dan melepaskan tangan masing masing
"Apaan sih Mi"
"Gk gk papa kok Al" ucap Sonia
Mereka berhasil menemukan petunjuk sehingga berhasil menyelesaikan misi dan memperoleh bendera merah putih itu "Yah kalah"
"Sudah Son kalah juga gak rugi" ucap Dev
Hari semakin malam semua beristirahat kecuali Alina dan Dev yang sedang menatap rembulan
"Al boleh tanya"
"iya"
.m
"Hem" Alina diam sesaat matanya masih memandang ke atas menikmati angin malam lalu ia melanjutkan kalimatnya tanpa menengok ke arah Dev
"Kebohongan..Mereka yang berbohong berarti merusak kepercayaan orang lain dan aku sangat membenci itu"
"Hah..Baiklah"
"emm...kenapa kau bertanya"
__ADS_1
"Tidak hanya ingin tau lebih dalam, emm.. sudah larut sebaiknya cepat tidur besok kita sudah harus pulang"
"iya"Mereka berjalan ke arah tenda masing masing
Paginya seluruh orang mulai berkemas dan pulang. Zordan yang sudah menunggu adik kesayangannya itu turun dari bus langsung memeluknya "ayo pulang"
Zordan POV
"Tuan nona disini baik baik saja dan dia terlihat sangat senang tuan" laporan yang kuterima setiap jamnya membuatnya puas.
Dan hari ini adiku pulang dia banyak bercerita
"kak ternyata asik ya disana pemandangan nya bagus..beh udaranya sejuk abis kak.. Dan semalam kita renungan sampai nangis gitu...bla bla bla"
Yah aku senang adikku kini bisa hidup normal tanpa beban walau beberapa hari lalu dia masih diganggu Alex tapi aku sudah membereskannya
Alina memasuki kamar dan sekejam mata ia sudah lunglai di kasur .dret drett sebuah pesan masuk
"Siapa sih menganggu orang lagi mau tidur juga"
tertera nama Dev disana
Malam cantik...besok aku jemput ya dan gak boleh nolak.
Membaca pesan itu membuat Alina binggung sendiri. Cantik? dia kenapa ya tumben.
__ADS_1
Bersambung..