Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Hujan


__ADS_3

Alina yang masih berjalan di koridor sekolah terus terbayang akan perkataan Dev "10.000 kali katanya cih" sorot matanya menatap entah kemana menandakan keyakinan namun hatinya menolak.


"Alina awas" brakk sontak semua orang menatap, dilihatnya ada seorang perempuan dari belakang yang memeluk punggungnya.


"Apa kamu baik baik saja tadi ada pot gantung yang jatuh".


"Kamu Sonia kan, untuk apa membantuku aku bisa sendiri" ucapnya ketus.


"Tunggu m..maaf kalau aku membuatmu marah tapi aku ingin berterima kasih. Kemaren kamu sudah membantuku menghadapi Jesa (sambil membungkukkan badan) "


Alina berlalu pergi tanpa mengucap apapun, kemudian ia menyusuri jalan sambil sesekali menengok ke belakang.


"Keluarlah untuk apa mengikutiku" ucapnya sambil berbalik arah menuju pohon besar di pinggir jalan.


"Ha..hallo Alina ...ka.. kau tidak pulang, tenang saja aku tidak mengikutimu aku berani bersumpah aku tidak mengikutimu" dengan perasaan takut Sonia menjelaskan.


"Apa maumu, kau tahu aku bukanlah orang baik jadi jangan mengira aku membantumu lalu aku tidak bisa mencelakaimu" ucapnya tegas dengan mata tajam menyorot Sonia.


"Kau tidak akan melakukan itu, aku tahu kau bukan orang jahat ".

__ADS_1


"Hahahh siapa yang tahu, ingat gadis kecil kau belum mengenalku".


Serasa seluruh badan gemetar tawa mengerikan Alina membuat ciut nyalinya untuk menjawab perkataannya, dengan terbata bata ia berkata


"Aku tidak tahu masalahmu tapi aku tahu kamu orang baik mungkin ada sebab yang membuatmu menjadi dingin dan selalu acuh pada sekitar tapi saat aku bersama denganmu aku bisa merasakan kehangatan itu"


Alina hanya mematung tak bergeming, perkataan Sonia seakan menusuk jiwanya, tatapan tajamnya mulai meredup "pergi dari sini " .


Sonia berlari pergi meninggalkan Alina yang masih terdiam di bawah pohon itu.


sambil berteriak ia mengingatkan Alina "ALINA SEGERALAH PULANG sepertinya akan hujan".


"Dulu kami bermain bersama sampai lupa waktu dan Mama selalu memarahi kami, ya saat itu kami hanya bisa berlindung di bawah Papa".


"Ha ha" tawa garing yang seakan mengejek dirinya sendiri. Ia membenci hidupnya, lelah sering kali hal itu memenuhi dirinya.


Sekilas ia tampak baik baik saja tapi tanpa terasa air mata jatuh beriringan dengan hujan, hanya saat banyak air mengalir menjatuhi tubuhnya, ia bisa menangis bebas, kata kata Sonia membuatnya ingin menangis sejadi jadinya ia teringat kembali nasehat orang tuanya sebelum mereka meninggal untuk selalu berbuat baik.


Di rumah Mo

__ADS_1


Alina pulang dengan suasana hati kacau, direbahkanlah tubuhnya di atas kasur.


"Terlalu banyak hal terjadi hari ini" seakan pikiranya memutar memori berulang kali hingga tanpa sadar ia sudah tertidur.


"(membuka pintu) Nona makan malam sudah siap, hah Nona sudah tidur pulas sepertinya kecapekan bahkan dia belum sempat mandi kalau begini dia bisa kedinginan" Bibi kemudian mengganti pakaian Alina dan menyelimutinya ,saat itu Bibi terlihat menitiskan air mata.


"Kasihan kamu Nona selama ini kamu menderita kesepian sendiri, kenapa kamu jadi begini, Bibi kangen melihat Nona tersenyum lagi" ucapnya sedih.


Ke esokan paginnya


"Nona Alina bangun, nanti anda terlambat ke Kampus".


Merasa heran karena tak kunjung ada jawaban Bibi pun memasuki kamar Alina "maaf non saya masuk" dilihatnya Alina masih tertidur pulas dengan wajah yang memerah, bergegas Bibi mengecek keadaanya wajah yang sangat panas namun dingin di bagian tangan.


sambil berteriak keras " Bai cepat kesini"


"Ada apa kenapa kau berteriak begitu bagaimana kalau Nona Alina marah nanti" ucap Paman Bai sambil nafasnya terengah engah


"Berisik kau ini sekarang Nona Alina deman cepat bantu aku bawa ke rumah sakit"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2