Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Mimpi


__ADS_3

Alina dan Zordan pergi ke pemakaman.


Mereka menatap 2 batu nisan di depanya, di ucapkanya lantunan doa doa sambil menaburkan bunga diatas makam mereka.


Alina yang terlihat membendung air matanya, kemudian dipeluk erat oleh kakaknya, di usap lembut rambutnya


" Menangislah kalau itu bisa membuat kau tenang Al"


"Tidak kak aku kesini untuk memulai hidup baru, dan aku tidak akan menangis karena sedih lagi sudah cukup hari hari suram itu, sekarang aku ingin menujukkan kepada Mama dan Papa bahwa putri kecilnya sudah kembali"


"Baiklah Al, kamu tahu kan kakak ingin yang terbaik untuk kamu..oh ya karena kamu sudah sembuh jadi setelah ini kakak harus kembali ke Korea"


"iya..kakak tenang saja aku juga akan coba terjun ke perusahaan kita yang disini, mulai sekarang aku akan sering kesana"


"adik kakak sudah besar rupanya..pasti sebentar lagi akan menikah"


"sudah kak jangan mengodaku" Pipi Alina bersemu merah


Setelah selesai berziarah merekapun pulang. Zordan lalu bersiap kembali ke Korea untuk mengurus bisnisnya, rasanya berat baginya meninggalkan adiknya sendirian.


"Al kamu baik baik di rumah kalau ada sesuatu segera hubungi kakak ya"


"ya kak, kau juga jaga kesehatanmu"


Malam terasa begitu panjang, dilihatnya ada 2 orang yang menatapnya dari kejauhan.

__ADS_1


Perlahan kakiku mulai mendekat ke arahnya dan samar samar wajah itupun terlihat jelas. Mereka tersenyum terlihat bahagia sekali, sambil bergandengan tangan ke dua orang tua itu melambaikan tangan ke arahnya, ingin ia memeluk mereka namun kabut putih menutup matanya.


"Tunggu aku " Alina pun terbangun dari mimpi itu tak terasa bantal yang ia gunakan telah basah terkena air mata namun senyumnya malah melebar, mimpi itu membuat hatinya tenang mungkin kini orang tuanya sudah bisa pergi dengan tenang.


Dilihat jam dinding dikamarnya " sudah jam 6" bangunlah ia dari tempat tidur, dibukaklah jendela kamarnya yang membuat sinar matahari menusuk langsung ke wajahnya.


Kemudian dia bersiap untuk mandi. Rambut yang terurai panjang dengan pinggiran di kepang ke belakang, riasan yang natural menambah kecantikanya dengan memakai dress casual di turun dari kamar.


"Bi sarapanya sudah siap"


Bagai bertemu bidadari dadakan mata Paman Bai dan Bibi melihatnya takjub tanpa kedip, kaki yang panjang saat menuruni tangga membuatnya bak model internasional.


"Nona anda cantik sekali (sambil menyeka air mata karena terharu)"


"Tapi nona, kalau tuan Zordan tau dia bisa marah"


"Tenang saja nanti aku akan menghubunginya"


Setelah sarapan selesai Alina berangkat ke kampus dengan mobil sport merahnya.


Semua mata mulai tertuju pada pemilik mobil itu, betapa terkejutnya mereka ketika menatapi yang keluar dari mobil itu adalah perempuan yang terkenal dingin dan pandai berkelahi itu, namun bedanya kini Alina tampil anggun dan penuh wibawa.


Tap tap tap...


Suara langkah kaki yang perlahan mendekat. "Hallo Kamu yang bernama Alina ya"

__ADS_1


" hahah iya..siapa ya"


"Aku Zein dari jurusan Bisnis, kamu mau jadi pacarku"


Sontak pernyataanya membuat Alina kaget


" Sorry ya ,mungkin lebih baik kita temenan saja "


"ALINA" Teriakannya membuat semua mengalihkan pandangan ke arahnya, lelaki yang baru turun dari mobil itu segera menghampiriku, ditaruhlah tangan kananya di bahuku sambil menatap wajahku dia berkata


"Dia milikku jadi jangan menggangunya" Senyum sinisnya membuat Zein perlahan mundur dan pergi.


"Apa yang kau bicarakan hah jangan suka ikut campur masalahku" ucap Alina dengan muka masam.


Sambil tersenyum tipis dia berkata "Hey ku kira kau sudah berubah tapi mulutmu masih saja tajam ya"


"Aku bisa sopan tapi itu tergantung kepada siapa aku berbicara"


Alina kemudian memasuki kampus.


"Woy Dev ditolak lagi.. hahaha" ucap Vian.


Sambil berbisik dia berkata " Hanya 1 semester".


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2