
Terlihat seorang wanita cantik berbalut Kebaya warna navy itu dengan rambut di model sedemikian rupa tak lupa polesan make up menambah kecantikannya. Senyum lebarnya membuat setiap lelaki yang menatapnya kagum karena selain cantik dia juga pintar terbukti saat ini wanita itu sedang berdiri di atas mimbar dengan predikat lulusan terbaik.
"selamat kak Alina"
"Congratulations baby"
"Selamat ya "
Berbagai ucapan selamat menghampirinya mulai dari adik tingatnya dan teman seangkatanya, bahkan kini tangannya hampir kualahan memegang setumpuk bunga mawar dan coklat berbagai rasa itu.
Setelah putus dari Dev 3 tahun silam Alina mengikuti Zordan ke Korea karena keadaan perusahaan yang mengalami penurunan saham yang lumayan pesat membuat kakaknya itu menetap disana. Karena tidak mau membiarkan adiknya sendirian terlebih saat itu dia sedang patah hati ia pun mengajaknya sekaligus. Dan alhasil Alina pun melanjutkan kuliahnya di sana.
"Hem" Deheman membuat wanita berumur 21 tahun itu menengok ke arahnya.Seorang pria tinggi dengan wajah putih memakai jas formal sambil membawa seikat bunga menghampirinya
" Arga kau disini "
"Nih"
"Lagi" Alina menyorodorkan kedua tangannya yang penuh bunga dan coklat
"Yang kau pegang itu dari orang lain sayang tapi mawarku ini ada perasaan di dalamnya " ucapnya sambil mengambil alih bunga yang ada ditangan Alina dan dibalas senyum olehnya
"Sekarang ganti kau pegang bunga dariku" Alina menghirup bunga itu "wangi"
"Zordan mana? jangan bilang dia tidak datang di acara pentingmu ini" Ucap Arga sambil melihat sekeliling ia mencari keberadaan teman lamanya itu.
Alina menghela nafas panjang "aku tidak tau entah pergi ke mana dia dan sudahlah masa bodoh dengannya" gerutu Alina sambil memanyunkan bibirnya
seseorang memegang sebelah pipi Alina dan menyubitnya "Auh sakit tau siapa sih"
seraya menengok ke samping kananya.
"kenapa ke sini pergi sana jauh jauh" ucapnya sambil menatap jengkel kakaknya itu
"Aish adikku marah nanti keriput loh " zordan terus mencubit pipi adiknya itu
"KAKAK.. udah ih biarpun keriput tetep banyak yang ngejar Alina gak kayak Kakak udah tua pacar aja masih kesasar makannya gak sampai sampai"
"Eh...Kakak ini bukannya gak laku cuma belum nemu kalau kakak mau ribuan gadis udah antri deh"
Arga hanya terkekeh melihat kelakuan kakak beradik itu, ia sudah mengenal Zordan selama hampir 5 tahun ini karena kebetulan mereka merupakan rekan bisnis dan selama ini ia mengenal pribadi zordan yang dingin namun sangat hangat ketika bersama adiknya.
"Oh ya kak tadi Kau dari mana, kenapa baru sampai" ujar Alina dengan wajah seriusanya
__ADS_1
"Oh itu tadi habis mengurus beberapa hal di perusahaan sebelum nanti kita tinggal" Alina hanya ber oh ria dan kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil untuk segera pulang
***
Tiba di Apartment Alina segera mengemasi barang barangnya dibantu Zordan..yah lelaki itu sudah prepare dari tadi pagi dibantu pelayannya
"Kak penerbangannya jam berapa"
"Nanti malam" Zordan langsung mendudukakan dirinya di sofa merah itu
"Akhirnya" Alina tersenyum ceria jujur dia sudah menanti waktu ini
"Kenapa?" Zordan hanya mengerutkan dahinya melihat adiknya itu begitu bahagia menyambut kepulangan mereka ke tempat kelahirannya itu
"Bukan apa apa" Alina yang sedari tadi tersenyum lantas buyar akibat perkataan Zordan
"Seneng ya mau ketemu mantan" ujarnya mengoda Alina
"Gak usah di bahas" Alina hanya menunjukkan ekspresi datarnya ia engan membahas tentang hal itu
****
setelah Perjalanan yang cukup melelahkan pagi ini Zordan, Alina dan Arga tiba di tanah air . Udara sejuk Jakarta seakan merasuki tubuh Alina karena terbilang masih pagi sehingga masih sedikit kendaraan berlalu lalang.
"Langsung ke apartment Zor soalnya banyak berkas yang harus diurus secepatnya"
"Hati hati bro" Arga pun melaju dengan mobilnya meninggalkan Alina dan Zordan yang masih menunggu supir
"masih lama kak" ujar Alina sambil menghentak hentakkan kakinya yang terasa pegal
"Leon sialan emang" Zordan merohoh ponselnya dan hendak melepon asistenya namun ia urungkan ketika melihat mobil melaju ke arah mereka
"Bos maaf telat "
"AYO " bentak lelaki itu, Leon segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tuan dan nonanya itu masuk ke mobil tak lupa 2 koper besar dia masukkan ke bagasi. Ia memasuki mobil dengan gemetar saat melihat dari kaca bahwa Zordan menatapnya tajam "JALAN" suara kerasnya membuat Leon bergegas melajukan mobilnya
2 jam perjalanan tibalah mereka di kediaman tercinta dimana lagi kalau bukan di rumah peninggalan ke dua orang tua mereka..rumah besar yang berdiri kokoh ini tidak ada yang berubah.mereka memasuki rumah disambut oleh para pelayan yang sudah berjejer di pintu masuk
"Selamat datang tuan Zordan "
"Selamat datang nona Alina" Seru mereka bersama
Alina melangakah menaiki anak tangga satu per satu karena ia malas menggunakan lift sekalian olahraga ia memasuki kamar mandi dan istirahat karena besok adalah waktunya ia memulai aktifitas baru.
__ADS_1
Seorang pria berjas hitam dengan kaca mata itu menghampiri tawanan mereka, diikuti dengan puluhan pengawal dibelakangnya
"Katakan pada pemimpinmu ingin merusak milikku maka langkahi dulu mayatku..Bilang padanya untuk membuat ide yang lebih bagus lagi jika ingin meretas perusahaanku dan yah kalau mau aku bisa bagi 1 orang IT untuk membantu kalian bagaimana" Ucapnya dengan wajah datarnya itu dan ia kembali melanjutkan perkataannya
"Selesaikan seperti biasa" ujarnya seraya berbalik meninggalkan kelompotan pembunuh bayaran yang berjumlah 11 orang itu.
Bukan hal baru baginya untuk sekedar melenyapkan nyawa seseorang biarpun tidak dengan tangannya tapi cukup dengan 1 ucapannya maka semua bisa terjadi.
Bukan sembarangan orang namun hanya orang tertentu yang mencoba bermain api dengannya.
Saat ini pemuda dengan balutan jas hitam itu tengah duduk di kursi sambil mengamati penjabaran yang diberikan oleh klaiennya. Tampangnya semakin berwibawa saat ia mulai mengambil alih. Meetingpun berjalan lancar dan 1 lagi koleksi rekan bisnisnya bertambah diusia yang baru 21 tahun ia sudah membawa perusahaan miliknya itu ke tingkat yang lebih tinggi
Brak..seseorang masuk ke ruangan direktur
"kau masih punya tangan kan ..Ray" ujarnya
"Eh iya maaf Bos" Rey pun keluar ruangan dan mengulanginya lagi "Bos gila aura nya mematikan"gerutunya
tok..tok.."permisi Bos boleh saya masuk"
"hmm"
"Bos ada kabar bagus"
Dev hanya memutar bola matanya jengah dia sudah mengira yang keluar dari mulut kaki tanganya ini adalah sampah yang tidak berguna.
"nona Alina sudah kembali"
"Lalu" ujarnya dengan datar
"YA AMPUN DEV KEKASIHMU SUDAH KEMBALI KAU TULI YA"
"Kau taukan mulutmu sama dengan NYAWAMU "ucapnya penuh penekanan"
"iya bos serius baru tiba pagi tadi dan rencananya besok nona Alina sudah masuk perusahaan" Terbesit senyum dibibir Dev.
'oh astaga ini mimpi kah bos tersenyum memang nona Alinalah obatnya' ucap ray dalam hati
"Aku akan kesana sekarang" Dev hendak melangkah keluar namun langkahnya terhenti karena tubuhnya dihadang oleh Ray. Rasa kesal sudah mencapai ubun ubun ingin rasanya dia mencekik leher lelaki di depannya itu kalau tidak mengingat bahwa dia adalah sepupunya
"Bos lihat jam sudah malam jadi besok saja"
"ah..SIAL"
__ADS_1