Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Pesta


__ADS_3

Pukul 8 malam di kediaman Alina sudah penuh dengan tamu berdatangan baik dari rekan bisnis maupun dari teman temannya..


Dev dan Papanya juga sudah hadir disana.


Kediaman Mo berubah nuansa menjadi penuh warna putih dan biru. Di sepanjang sisi disematkan mawar putih dan lilin lilin yang menyala menerangi setiap sudut pekarangan rumah. Terlihat banyak kiriman karangan bunga dari para rekan bisnis bertenger di samping pintu masuk.


"Al ayo turun"


"Iya kak bentar"


Alina turun digandeng Zordan. Semua mata menatap setiap langkahnya, sebuah gaun panjang berwarna biru muda dan rambut ditata sedemikian rupa tak lupa wajah cantik dengan polesan make up natural menambah kesempurnaanya.Anak tangga mereka turuni satu per satu untuk bisa turun dan menyapa tamu


"Perhatian Semua sebelumnya perkenalkan saya Zordan Mo disini saya mengucapkan terima kasih banyak kepada semua tamu undangan karena sudah datang ke pesta ulang tahun adik saya Alina. Dan sekarang tibalah inti acaranya..Al ayo"


Alina memotong kuenya dan begitulah semua teman temannya heboh


"Potongan pertama dikasih siapa ya" Ucap Sonia


"Heh pasti Dev lah"


"Apasih kalian kan ada kakanya"


"Iya sih Al dikasih ke siapa "


Alina melangkahkan kakinya ke Arah Dev sontak semua bersorak "cieee kasih pangeran nih" Namun mereka salah Alina tetap berjalan lurus melewati Dev


"Kak ini terima kasih sudah menjagaku selama ini" Alina menyuapi Zordan dan disambut pelukan hangat oleh kakanya itu


"Itu sudah kewajiban kakak Al"


"Udah Al potongan ke dua" Mia


" Kasih Dev aja Al kasihan tuh dia diangurin"


"Berisik Son" ucap Dev


"Ish..Sabar " ucapnya geram pasalnya teman temanya itu saling bersorak untuk hal yang tidak penting. Alina berjalan menghampiri Dev namun kekasihnya itu hanya diam.


"Dev are you okay? kau tidak suka kue"


"Eh buat aku" Dev masih terbengong takut akan merasa ge er lagi seperti tadi dikira kue pertama akan dikasih kepadanya tapi malah Alina melewatinya begitu saja


"Ini" Alina menyendok kue dan memasukkanya ke mulut Dev. Seketika suasana kembali riuh


"cieee ayang embeb" ucap Ray


"cuit cuit baper baper" saut Dion


"yang jomblo ngiri"ucap Ray


"BERISIK KALIAN" sentak dev kepada teman temanya.


Mereka menikmati pesta dan teman teman Alina mulai berdatangan mendekatinya untuk memberikan kado


"Selamat ultah ya Al"


"Panjang umur "


"Makin langeng Ya ama yayangnya"


hahhaah semua tertawa Dev dan Alina merasa canggung sendiri


"Sayang iku aku " Alina mengikuti Dev ke depan rumah dan duduk di taman, sebuah bingkisan kecil yang sedari tadi digenggam Dev pun ia keluarkan


"Nih" Sebuah kotak dibungkus kertas kado.


Alina lalu membuka isinya "Kalung Dev"


"Iya Yang ini buat kamu" Dev lalu memakaikannya ke leher Alina Jarak yang cukup dekat membuat jantung keduanya berdetak cepet 'deg deg deg'


'Alina dengar tidak ya' timpalnya dalam hati.


"Pilihanku bagus kan sayang "

__ADS_1


" iya bagus liontin berbentuk hati terus ada ukiran nama DEV ALINA di setiap sisi makasih ya "


"Alina janji ya sama aku apapun yang terjadi jangan pernah dilepas dari leher kamu"


"Iya aku janji"


"Aku cinta sama kamu" ucap Alina


"Aku juga sayang"


"Dev"


"Iya"


"Apa ada yang ingin kamu kasih tau ke aku gak.."


"Eh kenapa kamu nanya gitu"


"Iya gpp nanya aja"


"itu ya sebenernya sih ada."


"Apa "


"A..aku dulu ngedeketin kamu karena ta.."


Apa mungkin mimpiku nanti jadi kenyataan Alina menjauh dan ia tidak percaya lagi kepadaku..gak aku gak bisa jauh darinya


"Ta..apa Dev"


"Tau kamu itu cantik dan pinter hahaa" Dev tersenyum kejut


"Huh..udah yuk masuk bentar lagi acaranya mau selesai nih"


"iya sayang.. eh Al tunggu"


cup


Alina berbalik dan mendapati ciuman mendarat dibibirnya biarpun hanya sebatas menempel itu sudah membuat keduanya panas dingin.


" Presdir"


"Eh direktur Andi bagaimana kabar anda"


"Aku baik oh ya ini istri saya Ani "


"Hallo presdir Zordan oh ya dan ini nona Alina ya cantik sekali ngomong ngomong anak saya seumuran nona masih single loh"


"Iya terima kasih nyonya " Alina hanya memasang senyum lebarnya sudah beberapa kali ia bertemu orang seperti nyonya Ani yang mana baru kenal sudah kirim lamaran..huh


"Oh ya presdir Zordan kami pamit dulu ya sudah larut"


Semua tamu sudah mulai meninggalkan Area kediaman Mo hanya tersisa beberapa teman dekat dan keluarga Dev tentunya.


Tak berapa lama seorang laki laki memasuki pesta meskipun sudah di hadang beberapa pengawal didepan.


"Hallo Sayang kita bertemu lagi" Semua orang menengok asal suara itu beberapa dari mereka binggung siapa itu terkecuali Alina dan Zordan yang bahkan sudah bosan melihat wajah busuknya itu.


"Mau apa kau kemari.. PENGAWAL BAGAIMANA BAJINGAN INI BISA MASUK APA GUNANYA AKU MEMBAYAR KALIAN" teriak Zordan seraya mendekati pria itu.


Seketika semua sunyi melihat zordan seperti kerasukan suaranya bahkan masih mengema di telinga.


"Oh kakak ipar.. tentu saja aku ingin memberi kado untuk kekasihku..Bukan begitu Sayang"


"Cih..Aku tidak mengundangmu...jadi enyah dari hadapanku"


Alex mendekati Alina "ayolah sayang kau pasti puas dengan kadoku"


Alex melempar sebuah flash disk ke bagian operator "PUTAR"


"Apa itu "


"Kalian tenang saja itu hadiahku untuk sayangku Alina"

__ADS_1


Sebuah video terputar terlihat Dev bersama temen temennya di sebuah kantin canda tawa beriringan dan mulailah 4 orang itu membahas masalah taruhan.


Semua orang begitu shock melihat video itu mereka mulai menerka nerka.


Apakah selama ini perhatian Dev hanya palsu?


Seorang Alina dijadikan taruhan?


Harga dirinya cuma seharga mobil?


Ternyata Dev ada maunya ya?


Bukkanya Dev kaya?


suara bisik bisik yang menghantam telingga Alina.


Semua orang bergumam tidak jelas Dev yang melihat itupun bergegas mematikannya


"Kenapa dimatikan..Alina juga sudah tau Dev" ucap Alex terkekeh


Alex berjalan mendekati Alina yang masih terdiam mengikis habis jarak antara mereka berdua Zordan yang ingin memisahkan ditahan oleh peringatan tangan dari Alina.


Alex mendekati wajah dan membisikkan sesuatu di sana


"Haha Alina sayang...malang sekali nasibmu lagi lagi kau dikhianati bukan, jadi sekarang kau tahu bahwa bukan salah kami melakukanya padamu tapi dirimulah yang bermasalah sehingga membuat laki laki mempermainkanmu hahh"


Tubuh Alina gemetar namun ia tetap diam tak bergeming dari tempatnya kepalanya mulai menunduk


Terlihat tatapan tajam Zordan. Seketika hawa dingin menyeruak dan wajah tenangnya kini menjadi merah padam.


BRUK Zordan yang sudah menahan emosinya dari tadi mulai meluap ia berkali kali menghajar Alex dan menyeretnya ke luar rumah


"Kalian dengar jaga dipintu kalau sampai bajingan ini bisa masuk KALIAN YANG KU HABISI"


Serempak mereka menjawab "i..iya tuan"


Zordan kembali memasuki ruangan pesta dengan amarah yang masih mengebu terlebih ketika melihat Dev yang mulai mendekati Alina


"DEV JAUHI ADIKKU" Dev bahkan tidak menghiraukannya ia tetap mendekati Alina dan memohon agar ia mau mendengar penjelasannya


"Al aku minta maaf itu salah faham Al"


"Al kau tau dulu ak.."


BUK..sebuah bogem mentah mengenai wajah putih Dev dan terlihat sedikit sobekan di ujung bibirnya BUK..lagi sebuah tinju mengenai perutnya sehingga membuatnya terjatuh


Alina hanya berdiri mematung disana diam ditempat sambil sesekali menyeka air matanya kepalanya dipenuhi perkataan Alex "dirimulah yang bermasalah sehingga membuat laki laki mempermainkanmu..kau yang bermasalah kau"


Dev memegang tangan Alina dan langsung di tepis olehnya..


Zordan kembali memukul Dev dengan brutal bahkan sampai melempar Dev ke tembok. Beberapa orang disana menahan nya dan yang lain membantu Dev berdiri.


Tanpa bersuara ia mulai menaiki tangga menuju kamarnya baru beberapa langkah ia lalu berbalik menatap Dev yang sudah babak belur dengan darah di kepala dan hidungnya.


Terbesit rasa seneng saat Alina membalikkan badanya namun seketika sirna


" Dev berulang kali aku bertanya apa ada yang kau rahasiakan tapi kau menjawab apa..KAU HANYA DIAM DEV DIAM"


"kau sudah mengkhianatiku dan aku benci kebohongan jadi mari Kita putus"


Alina melenggang pergi dan membanting pintu kamar keras sekeras emosinya saat ini. Sonia Mia Paris dan Gea ikut mengejarnya namun Alina sudah mengunci pintu kamarnya rapat rapat


"Al buka Al"


"Al ini kami jangan mengurung diri"


"Tuan zordan Saya mohon maaf atas tingkah anak saya Dev" ucapa tuan Arma sambil mengantupkan kedua tangannya namun dibalas bungkam oleh Zordan.


Melihat itu Tuan Arma membawa Anak semata wayangnya yang sudah babak belur ke rumah sakit sedangkan temen temen Alina masih mencoba membujuknya


"Kalian pulanglah biarkan Alina sendiri dulu..kalian bisa kesini besok"


"Baiklah kak tolong telephon kami kalau ada masalah"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2