
Terlihat seorang wanita dengan perut buncitnya sedang berjalan santai di depan rumahnya menikmati angin sore. Beberapa kali rambut panjangnya terterpa angin membuat wajahnya yang kini sedikit berisi terlihat semakin cantik.
"Nyonya anginnya kencang nanti anda masuk angin" ucapnya
Seketika Alina menoleh dan mendapati Kepala pelayannya yaitu Bi Rani, Pelayan setia yang sudah menjadi ibu asuh bagi Dev kecil. "Iya Bi bentar udaranya lagi sejuk ini"
"Iya tapi nyonya sudah lama di luar nanti masuk angin sudah ya pokoknya masuk sekarang" Ucapnya dengan sedikit nada memerintah, Alina hanya mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Bi Rani lalu melengos pergi menuju kamar.
Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 15:13 yang artinya masih lama menunggu Dev pulang. Rasa bosan hampir setiap saat menghampirinya karena sejak mengetahui kehamilan Alina 8 bulan lalu, Dev melarang keras istrinya itu untuk melakukan pekerjaan, jangankan pergi ke kantor sekedar memegang laptop saja sudah di amuk olehnya.Jadilah kini ia hanya menonton TV sendirian di ruang tamu
Bi rani yang sedang memasak makan malam kalang kabut saat mendengar jeritan kesakitan Alina.
"Sakit" Alina sudah melengkuh dengan keringat bercucuran
"Astaga Nyonya" Pekik Bi Rani cukup keras dengan segera di panggilnya pak Satpam
"Adi cepat kemari Nyonya akan melahirkan"Teriak Bi Rani cukup keras. Pak Adi segera menyiapkan Mobil dan membopong Alina masuk ke dalamnya.
Bi Rani merutuk karena di saat seperti ini telephon Dev tidak bisa dihubungi.
"Kalian terus telephon Tuan Dev aku akan membawa nyonya" Ucapnya pada beberapa pelayan yang berkumpul di situ
Drt..drt..Ponsel Dev terus bergetar
"Lebih baik anda angkat dulu Tuan Dev" ucap pria yang kirannya lebih tua sedikit mungkin masih sepantaran kakak iparnya
"Ah..iya Tuan Hamish sebentar" Dev menjauh sedikit dari meja
"Hallo ada apa " Ucapnya sedikit sarkas
"Itu tuan Dev nyonya dibawa pak Adi ke rumah sakit karena mau melahirkan"Ucap pelayan itu
"APA" Dev segera mematikan telephon nya dan menghubungi Bi rani
"Bagaimana keadaan Alina Bi"
"Nyonya masih kesakitan tuan..Tolong tuan segera ke rumah sakit City Hospital" Dev mengakhiri panggilannya
"Maaf Tuan Hamish meetingnya kita tunda dulu saya ada urusan penting " Dev bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Hamish. Meeting penting itu harus dihentikan paksa biarlah jika kehilangan 1 client rugipun juga cuma beberapa miliyar yang terpenting itu bagaimana keadaan istrinya saat ini.
Dev terus berlari tanpa menoleh lagi , bergegas menaiki mobil dan melajukannya menjauhi area parkiran dan menembus jalanan layaknya orang kesetanan. Dev bergegas menuju ruangan bersalin dan terlihatlah 1 Dokter yang menjadi dokter kandungan Alina selama ini dan 2 Suster di sampingnya
.
"sayang gimana masih sakit" Dev membelai rambut Alina
__ADS_1
"Sakit Dev sakit banget.. Akhhh"
Ringisan Alina membuat Dev sedih karena tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan sakit pada diri istrinya. Dev hanya bisa membiarkan Alina mencengkram kuat tangannya bahkan kuku kuku jarinya seakan tertancap dalam sehingga membuat bekas di lengan Dev.
Alina berkali kali mengumam bahkan berteriak sakit, meringis bahkan sampai air matanya mengalir membuat Dev tidak tega dan jika bisa ingin sekali ia mengantikan posisi sang istri biarlah sakit menimpa dirinya asal bukan orang orang yang di cintainya.
Setelah menanyakan kesiapan Alina Dokter Desi mulai membimbingnya untuk mengejen, menarik nafas lalu mendorongnya dan begitu seterusnya.
"Tarik nafas Bu Alina lalu buang"
"Dorong bu"
Dev terus mengenggam tangan istrinya dan berusaha memberi semangat
"Sayang bertahan ya demi anak kita"
"Ukhh huh huh sakit Dev" Alina menjambak keras rambut Dev bahkan menyebabkan beberapa helai terjatuh ke tanganya
"Iya sayang kamu yang kuat ya inget Devalina junior" Dev menundukkan kepalanya mencium sang istri.Jangan tanya bagaimana penampilannya saat ini sunggu acak acakan dengan rambut berantakan dan beberapa kancing bajunya terlepas akibat tarikan Alina.
Dev tak memperdulikan bekas cakaran yang menghinggapi tubuhnya akibat keganasan Alina, yang kini sangat ia cemaskan adalah nyawa kedua orang terkasihnya. Berkali kali dia merapalkan doa dalam hatinya 'Ya allah berikan kekuatan untuk istri hamba semoga dia dan anak kami diberi keselamatan ya rab'
'Aku janji Al hanya kali ini kamu merasakan sakit seperti ini' batinnya
Tak berapa lama sebuah tangisan bayi terdengar membuat pasangan muda yang kini menyandang status ayah dan ibu itu menangis bahagia. Dev berkali kali mengecup kening sang istri dan memeluknya "Terima kasih sayang..terima kasih"
Bayi laki laki dengan berat 2,9 kg dan tinggi sekitar 52cm sudah di serahkan ke sang ibu untuk di berikan Asi. Dev terkekeh kecil saat melihat sang putra kesusahan mencari putting sang ibu. Dev berkali kali mencium pipi gembul sang putra dan setelahnya sang bayi di bawa oleh suster ke ruang khusus bayi.
Alina hanya tersenyum melihatnya begitu juga dengan Zordan yang baru saja memasuki ruangan dengan Bi rani.
"Selamat ya adikku sudah jadi seorang Ibu" Ucap Zordan
"Makasih kak" ucapnya lirih.
"Tahun depan kau juga nyusul kan kak" kini Dev yang berbicara dan dijawab angukan okeh Zordan
"Siapa namanya Dek"
"ARION DEVALNO ARMA" Ucap Dev lantang merasa bangga menyebut nama sang putra.
"Dimana Cucuku" Pintu terbuka berbarengan dengan suara Barrington dari seorang lelaki paruh baya
"Papa "
"Iya papa mendengar menantu sudah melahirkan jadi papa segera pulang...jadi dimana pewaris keciku"
__ADS_1
"Dia di ruang khusus bayi Pa"ucap Alina lirih
Tuan Arma segera meninggalkan ruangan dengan wajah berbinar, sebegitu pintu tertutup gelak tawa Dev dan Zordan menyeruak melihat tingkah kakek baru itu.
****
Seorang anak laki laki sedang bermain kejar kajaran dengan adik perempuanya
"Ihh kakak tungguin Celly" ujar anak perempuan berkuncir kuda itu
"Kamu gimana sih Cerry Zonia Mo kalau kakak tunguin nanti kakak kalah donk" sahut anak laki laki yang tak mau kalah itu
"Rion..Cerry sudah ayo masuk kita makan siang dulu"
"Siap Ma/ Siap Bibi" ujarnya berbarengan
Dimeja makan semua orang sudah berkumpul "Papa Celly mau disuapin"
"Minta mama aja ya Sayang" ucapnya datar
"Kak Zordan gimana sih anaknya minta disuapin kok gak mau" ucap Alina sambil mengambilkan lauk pauk untuk anak dan suaminya tak lupa juga untuk kakak, kakak iparnya dan tentunya sang putri
"Sudahlah Zor disuruh gitu aja gak mau itu anakmu loh yang minta,permintaan kecil aja gak bisa nurutin gimana mau jadi papa yang baik, udah deh kasihan tuh anak mau nangis lihat tuh udah buruan ambil sendok trus suapin tuh" omelan lolos dari sang istri.
Alina dan Dev hanya tertawa melihat Zordan yang diam saja dan segera menyuapi anaknya setelah diomeli istrinya
"Oh ya Al pembukakan Cabang baru udah sampai mana"
"Oh itu Son masih 75% lagian kamu sih gak mau bantuin aku" gerutu Alina terhadap kakak iparnya itu
"Sudah Al makan ya tinggal makan gak usah provokasi Sonia deh dia tuh lagi hamil" Ucap Zordan.
"Mah..Cerry udah mau punya adik kok Rion gak punya" uhuk..uhuk Dev tersedak kemudian ia menatap wajah Alina dan akanya bergantian
"Rion dengerin papa ya adik rion kan mau 2 ada Cerry sama dedek yang belum lahir cukup Rion menjaga mereka dengan baik kan mereka juga adik Rion" ucap Dev memberi perngertian ke putranya jujur saja ia melarang Alina untuk hamil karena ia tidak mau melihat istrinya bertarung dengan maut lagi.
"Iya papa bener Cerry kan adik aku" Rion mencubit pipi gembul Cerry dan terjadilah perang kecil diantara mereka. Semua orang ikut tertawa melihat anak anak mereka.
'Ma Pa..Alina dan kak Zordan sudah bahagia disini kalian pasti melihat kan ini kedua cucu kalian' batin Alina sambil menatap bintang dari balik jendela kamarnya. Perjuangan yang silih berganti seperti pagi dan malam tidak akan ada habisnya.
TAMAT
Makasih untuk semua yang sudah mendukung novel ini dari awal sampai akhir.
Yang sudah memberikan like maupun komen Thanks😘
__ADS_1
Sampai jumpa di novel saya selanjutnya...
Saya laksamana Wiskhey mohon pamit undur diri🙏🙏