Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Bandara


__ADS_3

Selesai meeting dengan para desainer Alina bergegas pergi ke studio karena ada beberapa model yang akan melakukan pemotretan disana.Sejak ia menjabat sebagai direktur tugasnya menumpuk berkali lipat membuat akhir akhir ini bisa dibilang ia lebih sering menghabiskan waktu di kantor ketimbang dirumah.


"Denis bagaimana syutingnya lancar, apa ada kendala?"


"Selama ini tidak ada kendala bu, Prosesnya lancar dan juga untuk tema yang akan dipakai para model sudah dikonsepkan dengan desainer masing masing bu"


"Baiklah"


Alina keluar dari ruangan itu diikuti Sonia


"Bu saya sudah menyiapkan makan siang mari" Alina dan Sonia memasuki salah satu resto dan segera para pelayan menghidangkan makanan dan minuman


"Al kau masih peduli pada Dev?" Sonia menghentikan suapanya, wajahnya terlihat serius


'uhuk.uhuk' Alina yang sedang menyantap makanannya pun tersedak dengan pertanyaan sahabatnya itu "Kenapa memangnya"


"Beberapa hari yang lalu dia datang ke kantor"


"Benarkah? kenapa tidak menemuiku" Alina masih melanjutkan makannya tanpa terganggu dengan ucapan sonia


"Entahlah..dan ya aku dapat kabar dari Leon asisten Dev"


****


Alina melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh melahap jalanan kota


"Al kau gila ya pelan pelan"


"Sudah Son diam aku sedang konsentrasi" ujarnya sambil menatap tajam jalanan didepannya itu


"Tau gini mending aku yang bawa mobil Al..aku masih mau hidup tau gak" gerutu Sonia yang dianggap angin lalu olehnya. Pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu


"Aku lupa..dan ya aku dapat kabar dari Leon asisten Dev"


"Katakan"


Sonia menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar 'huh'

__ADS_1


"Dev akan melanjutkan S2 di Amerika rencananya Tahun depan ia akan berangkat"


"Baguslah aku juga akan segera melanjutkan pendidikamku..lalu apa masalahnya justru malah baik kan"


"Dia melihatmu"


Alina hanya menaikkan salah satu alisnya tanda tidak paham akan maksud dari Sonia" Melihat apa?"


"Dia langsung pergi ketika melihatmu dilamar Pak Arga waktu itu"


"APA" Alina bener benar terkejut kali ini


"Kenapa kau tidak bilang padaku"


"Dan tadi Leon mengabariku kalau tiba tiba Dev memutuskan akan pergi ke Amerika hari ini penerbangannya pukul 13:30


'Deg'Alina segera bangkit dari kursinya dan menarik tangan Sonia menuju mobil


Setibanya di bandara Alina mencoba menghubungi Dev dan Sonia menghubungi Leon namun nihil sama sekali tidak ada yang mengangkat


"Son gimana ini"


Sonia kembali dengan wajah sendu "Telat Al pesawat Dev sudah landas setengah jam lalu"


Seketika tubuh Alina lemas ia merasakan sesak di sekujur tubuhya namun ia tetap diam di tempat terlihat raut kekecewaan di wajahnya. Sonia yamg melihat itu hanya diam dia tahu bagaimana sakit hatinya Alina.


"Ayo pulang Son"


'Kenapa kau tidak menangis Al ketika hatimu sakit, jangan bodoh dengan berpura pura kuat' batin Sonia


tring..


*Taman *


"Al tunggu" Sonia mencekal tangan Alina yang hendak meraih pintu mobil


"Lepas Son"

__ADS_1


Tanpa menunggu aba-aba sonia kemudian menarik lengan Alina menuju taman yang berada di sisi kanan bandara "ada apa Son lepaskan tanganku "


"Nah pergi ke taman itu" sebuah taman dengan nuansa yang indah banyak bunga bermekaran. Dari pandangannya Alina berhasil menangkap sesuatu yang menarik dimana seorang laki-laki duduk sendiri di sana perlahan tapi pasti Alina bergerak menuju bangku taman tersebut ditepuklah pundak lelaki itu "Dev" ucapnya lirih


Dev menengok ke belakang dan betapa terkejutnya dirinya melihat Alina. Wajah hangatnya mendadak datar seakan tak suka dengan kedatangan wanita didepannya itu


"aku dengar kau akan lanjut S2 dan hari ini keberangkatanmu, kau tidak jadi pergi " ucapnya Alina membuka percakapan karena dirasa cukup canggung bertemu dengan Dev.


"Sepertinya kau sangat mengharap kepergianku..oh atau kau menungguku karena belum mengucapkan selamat untukmu" ucapnya sinis sambil menatap tajam Alina


"Bukan begitu..Boleh kita bicara sebentar Dev"


"Maaf tapi aku tidak punya waktu"


"Hanya sebentar"


"Pergi"


"Aku tidak mau sebelum kau mendengarkanku"


Dev hanya diam lalu dia bangkit dan berjalan menjauh.Sekali dia menoleh ke belakang "Selamat atas pertunanganmu semoga kau bahagia"


"Bagaimana jika aku menolak ucapan selamat darimu karena aku masih mencintaimu" ucapnya lirih yang masih bisa didengar Dev sehingga membuat langkah kaki Dev berhenti dia berbalik dan mendekati Alina


Brak..tangan Dev menghantam pohon di sebelah Alina yang membuat Alina tergelak kaget


"JANGAN PERNAH MENGUCAP CINTA DARI MULUT SAMPAHMU ITU" teriak Dev yang membuat Alina syok, tak bisa dipungkiri terlihat jelas raut wajah penuh kecewa dari lelaki didepannya ini. Alina hanya diam membisu mulutnya tak mampu mengucap kata lagi jujur hatinya sesak.


"Kau marah..KENAPA KAU MARAH HAH? KAU YANG MENDEKATIKU KAU YANG BILANG MENCINTAIKU LALU APA KAU MENJADIKANKU MAINAN YANG HANYA SETARA MOBIL, MOBIL DEV...KAU KIRA HANYA SEGITU HARGA DIRIKU..BRENGSEK teriak Alina tak kalah kencang


Dev menarik nafas dan menghembuskannya kasar dia tau dia salah dan cukup selama 3 tahun ini dia menyesal. Penantian selama ini ia tunggu dengan sabar namun apa ketika takdir bahkan menolak adanya kebersamaan


"Maaf" Alina mendongkak menatap wajah marah dev yang kini menjadi sendu


"untuk? "


"Maaf sudah melukaimu dulu , aku minta maaf dan sekarang ku mohon biarlah keadaan seperti ini anggap kita tidak pernah bertemu, lupakan segalanya lagipula hubungan kita sudah berakhir kan 3 tahun silam dan sekarang kau juga sudah bahagia dengan lelaki itu" ucapnya lirik seraya berbalik menjauh

__ADS_1


Terlihat senyum mengembang di wajah Alina melihat kepergian Dev entahlah ada rasa puas dihatinya.Jahatkah dirinya? tidak anggap ini sebagi pintu untuk dirinya agar bisa melangkah ke jalan yang bisa menentukan kebahagiaan


Bersambang..


__ADS_2