
Di ruang Dosen
"Tok..tok..tok permisi ini saya Alina dari jurusan desain..Boleh saya masuk"
"Oh silahkan" Ucap Bu Ema selaku dosen pembimbing Alina.
"Jadi begini Bu untuk masalah ujian yang tertunda saya akan menyelesaikan semua hari ini"
Alina kemudian mengerjakan soal ujian di ruang tertutup hanya ada Bu Ema selaku dosen pembimbingnya.
Waktu pun mulai berlalu dan 3 mata kuliah sudah selesai ia kerjakan.
"Bu ini semua sudah selesai (menyerahkan jawaban ujian"
"kamu taruh di meja sana, oh iya Alina saya cukup terkejut dengan perubahanmu tapi kamu terlihat sangat cantik hari ini" ucap Bu Ema sambil mengamati penampilan gadis didepannya itu
"Terima kasih bu, kalau sudah saya permisi" Alina kemudian keluar dari ruang tersebut.
"Dorr" Alina yang seharusnya merasa kaget malah terheran heran dengan tingkah Sonia
"Kau kenapa? "
"Al kok kau tidak kaget padahal aku sudah berteriak keras, Oh ya bagaimana ujiannya" ucap Sonia dengan terburu buru
"Yah soalnya membosankan" ucapnya datar
"Wah..apa maksudmu membosankan aku saja sebagai mahasisiwi pintar penerima beasiswa kesulitan menjawabnya"
Di dalam hati Alina berkata itukan karena kau bodoh.
"Oh ya Sonia ayo ke kantin aku sudah lapar".
__ADS_1
Alina lalu memegang tangan Sonia dan menariknya. Ketika sampai di kantin Alina memilih tempat duduk di pojok untuk menghindari kebisingan.
"Nona pesan apa" tanya pelayan itu
"Mie ayam 1 dan Es jeruk, oh ya Sonia kau pesan apa?"
"Ah aku Bakso dan es teh saja"
"Oh ya mbak saya tambah sate porsi besar dan tolong dissertnya red cake 2 ya" ucap Alina.
"Al kau yakin itu tidak terlalu banyak" Sonia merasa binggung dengan porsi makan Alina yang besar namun badannya tetap ideal. Beberapa saat kemudian semua pesanan sudah diletakkan meja, merekapun mulai makan dan saling berbagi cerita. Terasa menyenangkan melihat mereka tertawa tanpa beban seperti itu.
Setelah pulang dari kampus Alina menunggu Sonia di depan parkiran
"Dimana anak ini, nah itu dia"
"Loh Alina kau belum pulang sedang menunggu siapa" Ucap Sonia
" Al kita mau kemana"
"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat jadi diam dan ikut saja" Mobil terus melaju hingga sampai di sebuah tempat di pinggiran jalan
"Mau apa kita kesini" tanya Sonia.
Mereka pun turun dari mobil dan duduk di bawah pohon, Sonia yang masih belum paham lalu berkata " Al kenapa kau mengajakku kesini"
Alina hanya diam menatap pohon besar di atasnya.Tak berapa lama ia berkata
"Sonia saat ini aku merasa beruntung"
dalam hati sonia "hah apa maksudnya"
__ADS_1
"Saat kau melihatku dulu, itu adalah sisi terburuk dari ku, entahlah kenapa aku memberontak tapi saat itu aku benar benar kehilangan kendali aku tidak punya belas kasih, bahkan aku memusuhi kakakku sendiri" matanya masih menatap nanar ke arah pohon di depannya
"Al itu bukan masalah, dulu ya dulu dan sekarang kau sudah kembali ke kehidupanmu yang sebenarnya, emm tapi kalau boleh tau kenapa kau jadi seperti itu"
Sejenak Alina menghelakan nafas panjang. Alina kemudian menceritakan soal kisah cintanya dulu yang berakhir penghianatan dan juga kepergian orang tuanya yang terjadi di saat bersamaan.
Sonia tertunduk sedih mendengar cerita Alina lalu ia merangkulnya
"Sudah jangan diteruskan selebihnya aku sudah tau dari Dev"
"Kau tidak ingin tau kenapa aku bilang saat itu aku beruntung"
"Memangnya kenapa ?"
"Saat kondisiku terpuruk..ya saat itu semua temanku meninggalkanku sendirian, mereka merasa tingkahku aneh jadi aku dijauhi karena itu aku tidak percaya ada kata persahabatan di dunia, sampai aku bertemu denganmu kau masih ingat saat di pohon ini kau bilang bahwa aku orang baik padahal kita belum lama bertemu".
Alina dan Sonia menginggat kejadian itu.
Dipeganglah tangan alina sambil berkata "kita teman selamannya" mereka pun sama sama tersenyum.
Tak terasa hari mulai gelap Alina mengantar Sonia pulang.
"Al terima kasih untuk semua yang kau lakukan hari ini"
"Tidak ada kata terima kasih di antara teman bukan, emm kalau begitu aku pulang dulu dadah " ucap Alina
Alina pun pulang ke kediaman Mo
"Sungguh hari yang indah"
Bersambung....
__ADS_1