Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Kesedihan.


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu besok orang tua Alina akan pulang. Dia sangat bahagia biarpun cuma satu minggu tapi dari kecil Alina tidak pernah jauh dari orang tuanya.


Alina sangat menghormati mereka, baginya orang tua adalah segalanya.


Ia bukanlah gadis yang manja mungkin bagi orang yang baru mengenalnya pasti mengira putri dari keluarga kaya itu memiliki sifat arogan karena selalu dimanja orang tuanya.


Namun Alina tidak termasuk di dalamnya hatinya lembut bahkan tidak ada celah hitam.


Senyumnya selalu menghiasi wajah cantiknya itu.


Namun akhir akhir ini entah mengapa gadis itu kehilangan senyumnya.


Alina merasa ada sesuatu yang salah, banyak keanehan yang terjadi belakangan ini.


Alex kekasihnya itu sekan hilang ditelan bumi seperti susah untuk ditemui.


Alina mencoba menekan perasaan aneh di dirinya karena ia tau Alex sangat sibuk mengingat ia anak tunggal.


Malam harinya Alina bergegas ke hotel karena akan ada rapat penting disana.


"malam ini ada meeting dan dokumen kakak tertinggal aku harus segera mengantarnya" ucap Alina sambil menuju mobil.


Sesampainya di hotel Alina segera masuk dan menuju tempat sang kakak berada.


"Kak aku udah bawa filenya ini(menyodorkan)".


Tak berselang lama Alina menuju toilet, saat perjalanan kembali ia seperti melihat alex. Perlahan kakinya terus melangkah dan tiba tiba

__ADS_1


"Alina kamu ngapain aja meeting sudah selesai, sekarang direktur Van mau berpamitan(menarik tangannya) ".


107 107 107 dalam pikiran Alina terus mengingat nomor kamar itu. Setelah selesai meeting Alina terus menatap kamar tersebut dan itu tak luput dari penglihatan Zordan


"Ada apa dek?"


"Hmm..itu kak tadi aku seperti melihat Alex dia bersama wanita dikamar 107 tapi mungkin itu temannya atau kolega nya".


Tanpa pikir panjang bergegas Zordan menuju kamar itu.


braakk (suara tendangan pintu)


Betapa terkejutnya Alina, air matanya terus mengalir tanpa henti, hatinnya sakit bercampur kecewa dan sekarang dia hanya diam mematung tanpa bersuara.


"Dasar brengsek (memukul wajah alex dengan keras) adikku selalu mempercayaimu dia sangat mencintai mu tapi kau malah menghianatinya, kau bermain dengan wanita murahan ini.." tunjuknya pada wanita yang diyakini masih seusia adiknya


Bergegas Alex menggunakan pakaian lalu dia memohon sambil memegang tangan Alina


Sebanyak apapun penjelasan dari Alex, Alina sama sekali tidak mengubrisnya hatinya kini sudah hancur dan rapuh. Perlahan Alina melepaskan gengaman tangan Alex sambil perlahan mundur


"Terima kasih 1 tahun ini kamu memberikan kenangan manis kepadaku, tapi sekarang kita putus" ucap Alina seraya berlari meninggalkan ruangan tersebut.


Terus berlari tanpa arah dan tujuan setiap langkah dipenuhi tanda air mata


"Sakit sekali belum pernah aku merasakan rasa seperti ini"


Kenangan manis perlahan terlitas.

__ADS_1


Ingatan saat pertama kali mereka bertemu sampai makan malam anniversary yang romantis dan sekarang semua sirna dalam sekejab bersama harapan yang sudah hancur.


Disisi lain Zordan yang berhasil menemukan Alina mulai berteriak dari kejauhan


"Alina kabar buruk, papa dan mama kecelakaan".


Merasa tidak percaya dengan apa yang Zordan katakan Alina terus terdiam


"Bagaimana bisa".


Kemudian paman Bai datang menghampiri mereka.


" Nona dan tuan muda..nyonya dan tuan menabrak truk dan mobilnya terlempar ke jurang sekarang mereka dibawa ke rumah sakit" Mendengar perkataannya mereka bergegas menuju rumah sakit


"Dokter bagaimana"ucap Alina dalam kepanikan, nafasnya masih memburu


Bagai disambar petir di siang bolong mereka menangis sejadi jadinya perlahan tubuhnya sudah tidak kuat menahan berat hingga terjatuh ke lantai seakan ingatan kebersamaan mereka muncul, kasih sayang yang mendalam kini tinggal kenangan


"PAPA..MAMA (teriak histeris alina) ".


Setelah selesai melakukan upacara pemakaman mereka terduduk lemas di pinggir makam, mereka mulai mengingat kata kata orang tuanya di telepon waktu itu.


"Papa dan mama beristirahatlah dengan damai kami minta maaf atas segala kenakalan kami..dan aku berjanji akan memenuhi semua permintaan kalian, aku akan menjaga dan melindungi Alina dan kami akan berusaha mandiri supaya bisa membesarkan perusahaan kalian, kalian tenang saja(memeluk bahu Alina) "ucap Zordan.


Hatinya sakit namun ia berusaha tegar karena adiknya masih membutuhkannya.


Melihat keadaan Alina ia hanya bisa mengelus rambut Alina

__ADS_1


"Alina tenang ya"


bersambung.....


__ADS_2