
Dev berjalan meninggalkan Alina pikirannya bercampur aduk saat ini.Wanita yang ia tunggu selama 3 tahun ini malah datang bersama tunanganya.
"AKRGG SIAL" umpatnya.
Dia menuju mobil dan saat akan membuka pintu teriakan seseorang membuatnya berbalik
"AWAS DEV" Alina menghadang pisau yang akan menusuk Dev hingga mengenai perutnya."ALINA "teriak Dev.
Bruk tubuh Alina ambruk seketika darah bercucuran membasahi pakaiannya dan juga mengenai jas hitam Dev. Beberapa orang berhamburan mengejar orang dengan baju hitam itu yang mengincar Dev tadi dan ada beberapa yang mengerubungi Alina
"KAU GILA HAH KENAPA KAU MENGHADANG PISAU ITU..AA KAU BODOH " terlihat raut kepanikan diwajah Dev ia segera menghubungi Leon. Ia meminta bantuan warga
"Bawa mobilku dan tolong antar kami ke rumah sakit terdekat" Dev melempar kunci mobil, lalu ia mengendong Alina mereka duduk di kursi penumpang. Mobil melesat dengan kecepatan penuh membelah jalanan kota
"Al bangun aku mohon..BANGSAT AKAN KU CARI SAMPAI KE NERAKA SEKALIPUN" wajahnya kusut marah dan sedih pikirannya kacau ketika melihat Alina sudah terkapar bersimpuh darah terlebih jarak ke rumah sakit cukup jauh.
"Kau bisa bawa mobik tidak..lebih cepat sedikit" bentaknya kepada pemuda di depannya itu
"Baik pak"
Tiba dirumah sakit Dev segera turun dari mobil mengendong Alina
"Suster tolong" Teriaknya
"Suster..Alina bertahan ya aku mohon kamu harus kuat Al"
Petugas segera bertindak Alina dibawa ke UGD Dev yang mengikuti Alina hendak masuk
"Maaf anda lebih baik menunggu diluar"
"Tapi saya ingin melihat keadaanya sus"
"Sekali lagi maaf anda tidak bisa masuk"
"SIAL AKAN KULENYAPKAN SAMPAI KAU MEMOHON KEMATIANMU.BANGSAT"
Sonia dan Leon sampai di rumah sakit, Sonia sudah terlebih dahulu menghubungi Zordan
"Dev Alina bagaimana"
"Masih didalam Son"
"Bos kenapa bisa begini bukankah kalian ada di taman"
"Dari mana kau tau aku bertemu Alina di taman? " ucapnya penuh selidik
"Eh.. emm ah itu bos apakah ini ada hubunganya dengan orang itu?"
"Orang itu siapa hah..dan kenapa Alina bisa begini aku kecewa padamu Dev kau bahkan tidak becus menjaga Alina dia sudah susah payah ke sini" Ucap Sonia
"Tenanglah..begini beberapa bulan yang lalu aku terlibat masalah dengan seseorang dan tadi tiba tiba ada yang ingin menusukku tapi dihadang Alina.. aku sendiri tidak tau kalau dia akan mengikuti dibelakangku seandainya tadi dia diam dan segera pergi mungkin dia tidak akan terluka Son..ini salahku" lihat raut penysalan dari wajah Dev
__ADS_1
Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan
"Mana keluarga pasiem"
"saya dok bagaimana kedaannya" ucap Dev
"Begini untuk lukannya bersyukurlah tidak terlalu dalam namun saat ini kondisinya masih kritis "
"Bisa saya masuk dok"
"Bisa tapi tunggu pasien dipindahkan ke ruang rawat dulu"
kriet....
Pintu terbuka terlihat ruangan serba putih itu lengkap dengan sofa tv dan 2 kasur, untuk pasien dan 1 lagi untuk keluarga yang ingin menginap..benar benar bukan seperti rumah sakit.
Dev duduk di sebelah Alina dilihat wajah yang yang sedang tertidur itu terlihat pucat pasi dengan infus ditangannya.Dev lalu mengenggam telapak tangan itu
"Bagun Al aku mohon" tak terasa sebutir cairan berguling keluar sudah 2 kali ia menangis dan itu karena orang yang sama.
"Dev" Alina mengerjab beberapa kali pandangannya masih kurang jelas
Dev mendongak melihat siapa yang memangginya itu.
"Al kau sudah bangun! apa yang sakit kau butuh sesuatu mau minum atau kau lapar mau ku carikan makanan" Alina hanya tersenyum mendengar kecerewetan seorang Dev Arma lalu ia mengeleng pelan.
"Temani aku ya Dev" ucapnya lirih
Brak pintu terbuka terlihat 2 orang laki laki memasuki ruangan
"Kalian" Ucap Dev
"Alina kenapa bisa begini" Zordan mendekat diikuti Arga yang berdiri dibelakang Dev. Dev yang paham akhirnya menyingkir dari duduknya dan berdiri mempersilahkan Arga duduk disamping Alina
"Maafkan aku kak lagi lagi aku menyakiti Alina dia terluka karena menolongku..baiklah karena kalian sudah datang aku permisi" Dev hendak keluar
"Tunggu Dev" ucap Alina membuat Dev berhenti
"Iya Al" ia berbalik dan mendekat
"Dev ini kenalkan Arga kami bertemu saat aku akan ke Korea"
Dev menatap Sinis lelaki didepanya itu namun ia tetep menyambut uluran tangan itu
"Arga Zaleon"
"Dev Arma..dan aku juga ingin mengucapkan selamat untuk pertunanganmu"
"Kau tahu aku akan menikah.. Alina kau memberitaunya kan?"
"Tidak aku melihat kalian bertunangan minggu lalu"
__ADS_1
Hahhaha mereka tampak tertawa bersama kecuali Dev yang hanya diam dalam kebingungan
"Kau mengira aku bertunangan dengan Alina begitu" Arga hanya mengeleng pelan sambil masih tertawa begitu juga dengan Zordan
"Jelas waktu itu" ucapnya terpotong oleh pengakuan Alina
"Arga kau ikut aku keluar aku mau bicara" ucap Zordan sengaja agar Alina dan Dev memiliki waktu bicara. Mereka keluar hanya menyisakan sepasang orang itu yang masih diam dalam pikiran masing masing.
Perlahan Dev menatap wajah Alina dalam tanganya mulai memegang telapak tangan Alina dan sesekali mengelus wajah putih yang kini masih pucat itu
"Dev..waktu itu aku hanya membantu Arga untuk berlatih karena dia akan melamar kekasihnya di Amerika dan tahun depan ia akan menikah" ucapnya lirih namun masih jelas di telingga Dev
"Kau serius" rau wajah Dev berubah cerah taklupa dengan senyum yang mengembang di pipi lesungnya
"Aku serius makannya tadi aku meyusulmu ke bandara.. kenapa kau ingin pergi tanpa mengabariku"
"Aku kecewa padamu Al..melihatmu menerima cincin dari orang lain membuat hatiku panas jadi aku ingin pergi untuk melupakanmu"
"maaf dev "
Shut Dev meletakkan 1 jarinya dimulut Alina
"Tidak Al kau tidak salah..aku yang selama ini salah karena telah sering mengecewakanmu aku minta maaf..tapi aku berani bersumpah Al aku memang suka main wanita tapi kaulah satu satunya perempuan yang mampu membuatku tenang Al.. dulu maupun sekarang aku masih mencintaimu Al"
Alina mengusap kepala Dev sambil tersenyum ia berkata " Aku sudah memaafkanmu bahkan aku sudah tau tentang taruhanmu dihari kau melakukannya"
"APA KAU SUDAH TAU DARI AWAL" wajahnya lagi lagi terkejut
"Aku bukan orang bodoh Dev yang akan mudah dikelabui aku sudah tau semua tentang taruhanmu dan ya semua sudah diatur oleh Kak Kevin dialah yang mengatur agar Alex menerormu dan akhirnya Videomu itu diputar di ultahku"
"Apa karena itu berberapa hari sebelum kau ultah kau selalu memancingku dengan m
berkata bahwa kau membenci kebohongan"
"Yaps kau benar aku hanya ingin mengetes apa kau bisa gentle dengan mengakui kesalahanmu..dan disitu aku jujur kecewa padamu dev"
"Maaf..aku hanya takut kau akan meninggalkanku ketika kau tau aku hanya menjadikanmu bahan taruhan..Tapi jika kau sudah tau aku brengsek dari awal kenapa kau masih ikut permainanku" Ucap Dev
"Karena aku tau kau orang baik"
"Bagaimana kau tahu"
"Jangan lupa Dev kita pernah bertemu di panti Asuhan kan dan aku tau kau selalu menyumbang ke panti itu dan kau juga akrab dengan anak anak di situ..Kau bermain dengan mereka seperti keluargamu sendiri menyuapi mereka dan bahkan aku pernah melihatmu mengganti pakaian salah satu bayi disana.. itulah yang membuatku terharu Dev hingga kini rasa cintaku masih utuh padamu"
"Al" Dev mengecup lembut kening Alina lalu tangannya menangkup pipi gadis itu matanya menelisik tajam namun penuh ketuduhan "Menikahlah denganku"
Alina menatap Dev melihat ketulusan dimata lelaki itu tanganya kembali mengusap kepala Dev seraya mengangguk
"Baiklah"
Bersambung...
__ADS_1