Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Tetap Mendekat


__ADS_3

Setibanya di rumah, Alina disambut tatapan tajam dari Zordan


"Jadi apa penjelasanmu? "


"Tidak ada aku hanya sedang bermain main saja"ucapnya singkat seraya menuju ke kamar.


Zordan sangat berharap Alina bisa terbuka, dia ingin adiknya bisa menjadikanya sandaran. Meskipun begitu Zordan percaya akan karakter adiknya dia tahu bawa Alina tidak mungkin menyerang tanpa alasan.


Tring tring "hallo.....apa (kaget)"


Setelah mendapat telephon Zordan bergegas menuju kantor "bagaimana keadaanya"


"maaf Pak Zordan saya baru saja mendapat kabar bahwa perusahaan Mo di luar negeri mengalami penurunan saham jadi anda harus bersiap berangkat sekarang pak"


Mendengar hal itu zordan lalu menghubungi Alina supaya dia tidak cemas.


Ke esokan paginya


"bi dimana kak Zordan"


"maaf nona tuan Zordan pergi ke luar negeri kemaren"


Seketika Alina ingat bahwa kemaren Zordan sudah mengabarinya. Mungkin Alina terlihat acuh pada kakaknya namun di dalam hatinya merasa sedih.

__ADS_1


Hari mulai berlalu tanpa ada hal yang berarti.


Setelah pulang kuliah, Alina hanya belajar di rumah untuk persiapan ujian bulanan. Baginya mudah mendapat nilai karena memang dia pintar meskipun begitu Alina tetap tidak puas akan kemampuannya, bagi orang yang ambisius tidak ada kata berhasil ataupun menang selain itu, nanti ia juga harus memimpin perusahaan dan disitu segala kerja kerasnya dipertaruhkan.


Hari ujian


Alina yang tiba lebih pagi dari biasanya mulai membalik lembaran materi yang telah ia kumpulkan sebelumya.


Seakan terhanyut dalam dunianya ia bahkan tidak menyadari seseorang telah duduk disebelahya.


"rajin banget Al pagi gini udah belajar" ucapnya dengan lembut.


Alina yang masih serius menatap tajam ke arah buku itupun sontak kaget sambil berteriak ia berkata " menjauhlah dariku" (mendorong keras)


"Al jika kau memang membeciku kau kan bisa bicara baik baik tidak perlu sampai mendorongku kan"(memegang kening)


Alina ingin menjauh sejauh mungkin darinya ia tidak ingin memiliki hubungan dengan seseorang lagi bukan teman maupun pacar tidak semua, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri "Dev ikut denganku"


Dev yang heran dengan sikap Alina mulai menghentikan langkahnya


"kau mau membawaku kemana kurang puaskah kau mendorongku, seharusnya kau ingat bahwa kau masih perempuan jadi bertingkah lah selayaknya"


Alina kemudian menarik tangan Dev kembali

__ADS_1


"Hah UKS"


"Ya maaf telah melukaimu aku hanya ingin kau menjauh dariku, sekarang diam aku akan mengobati lukamu sebentar lagi masuk"


Alina mulai membersihkan luka Dev dan menempelkan plester di dahinya tangannya terasa dingin ketika memegang wajah Dev perasaan tidak nyaman mulai muncul kembali


"sudah selesai aku pergi"


Alina berbalik dan akan pergi.


"tunggu (memegang tangan) terima kasih sudah mengobatiku dan ya 1.000 kali pun kau memintaku menjauh 10.000 kali aku mendekat sampai kau mau jadi temanku bagaimana?


Alian menarik tanganya dan berlalu dari sana menuju kelas.


"baik semuanya tolong kerjakan soal dengan serius dan percaya akan kemampuan kalian sendiri" ucapnya dengan tegas


keadaan berlangsung tenang, Alina dengan lancar mulai menjawab semua soal "bu sudah selesai"


Tidak butuh waktu lama baginya menyelesaikan soal mudah itu setelah selesai Alina berjalan pulang dan ia melewati salah satu ruangan, tampak seorang pria tampan dengan wajah serius dan tenangnya Diwajahnya menyiratkan kepercayaan diri yang dalam


"Tidak ku sangka Dev itu bisa dewasa juga" tanpa sadar ucapan itu terlontar dari bibir Alina begitu saja.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2