Melelehkan Patung Es

Melelehkan Patung Es
Malam yang melelahkan


__ADS_3

Alina mengedarkan pandangannya ke kamar miliknya itu yang kini sudah berubah menjadi kamar pengantin. Sprai putih dengan kelopak mawar berbentuk hati dengan dinding yang kini sudah banyak terpajang foto pre wedding mereka maupun foto kenang kenangan saat mereka bersama.


Karena rasa lelah yang mengerogoti tubunya Alina langsung melemparkan diri ke dalam kasur empuk itu yang membuat beberapa kelopak mawar itu terayun ayun bahkan ada yang jatuh ke lantai.


Alina langsung membuka mata ketika merasakan kasur di sebelahnya terayun ayun seperti terkena genjotan. Matanya terbelalak kaget saat melihat Dev bertelanjang dada dan hanya memakai boxer itu sudah berbaring disampingnya.


Dev tersenyum memandang lekat ke arah istrinya itu kemudian langsung memeluk dan menindihnya.


Sontak Alina meronta ronta sambil sesekali memukul bahu Dev "ikhh Dev lepasin "


Cup


Cup


Cup


Dev berulang kali mencium dahi, hidung dan bibir singkat Alina


"Dev lepasin gak" Alina mendorong Dev sekuat tenaga namun sia sia


"Kamu ini sama suami sendiri kayak lagi dilecehin aja" Dev lalu menjauhkan wajahnya namun masih tetap **** Alina


"Aku belum mandi Dev badan aku lengket semua" Ucapnya. Dev lalu melepaskan diri dan mengambil posisi duduk


"Yaudah abis mandi ya sayang" Alina hanya memutar bola matanya malas dan engan menjawab ocehan Dev lalu ia bergegas ke kamar mandi


tok tok


"Sayang masih lama ya mau aku mandiin gak,aku masuk ya?"


"Berani masuk jangan tidur disini"Dev terkekeh mendengar Alina berteriak..lalu ia kembali menunggu dengan tenang di kasur empuknya sambil memainkan ponsel. Dibuka grup Chat sudah penuh ucapan Selamat dari teman temannya.


Leon: Selamat bosque

__ADS_1


Angga:Udah siap mental blom nih


Keral: Anjirr istri kau cakep abis coy


Dev: Keral jaga mata atau mau ku bantai


Keral : hahahah santai bro


Dev : Kapan Nga seorang Dev Arma lemah mental paling juga kau liat cewek seksi langsung pingsan


Leon: hahaha mampus anjing


Kriet..


Pintu terbuka menampilkan Alina yang sudah mengunakan baju tidur berupa celana pendek diatas lutut dan atasan senada lengan pendek juga, rambut yang masih basah membuat Dev kesulitan menelan savilanya.


Bergegas ia memeluk pinggang Alina dan menariknya ke dalam pelukannya.


Dev mulai menarik tengkuk Alina melumat bibirnya dengan lembut, Alina yang awalnya terkejut akhirnya membalas ciuman Dev. Alina membuka mulutnya dan membiarkan Dev menjelajahi isi mulutnya dengan lidahnya. Alina tidak tinggal diam ia membelit lidah Dev dan kini Alina pun sudah mengalungkan tanganya ditengkuk Dev.


Dev mulai meremasnya dengan gemas dan sesekali menciumnya memberikan tanda kepemilikan, Alina menjadi panas merasakan sensasi yang Dev berikan.


Dev memasukkan tanganya dan membelai lembut punggung Alina kemudian membuka kaitan bra yang digunakan lalu membuangnya asal sehingga terlihatlah panyudara Alina,kini bagian atas Alina sudah bersih tanpa sehelai benang pun.


Dengan cepat Dev melahap ****** Alina dengan gemas,menyedotnya dan tangan lainnya sudah dada Alina yang lain. Alina semakin tak karuan dan tangannya rambut tebal Dev, menekan kepala Dev agar melakukan hal yang lebih dalam lagi.


Perlahan tangan Dev mulai masuk ke dalam celana dalam Alina "Kamu basah sayang" Alina hanya memalingkan wajahnya karena malu. Dev terus bermain di area sensitif itu


"Akhhh"Desahan lolos dari mulut Alina, melihat itu Dev mempercepat gerakannya


"Sebut namaku sayang"


"Dev aku mau..akh" Dev semakin menambah kecepatannya bahkan menambahkan 1 jari lagi ke dalamnya

__ADS_1


Tubuh Alina melemas mendapat pelepasan pertamanya. Dev membuka seluruh pakaiannya begitu juga dengan Alina, ia menarik celana yang Alina gunakan dan masih menyisakan cd "Tunggu dev"


"Kenapa sayang kau tidak mau"


"Bisa tolong matikan lampunya" ucapnya sambil memegang tangan dev yang hendak membuka dalamanya itu "Kenapa kau malu..tenanglah sayang toh kita sudah menikah" ucapnya sambil mengelus rambut Alina


"Kali ini saja tolong matikan lampunya, ak..aku tidak nyaman" Dev akhirnya menuruti keinginan istrinya itu kini lampu sudah padam hanya terdengar suara desahan di balik pintu yang menemani keheningan malam.Sungguh malam yang panjang.


Matahari sudah diatas kepala sinarnya mampu menghangatkan suasana.


"Hoamm"Alina menguap seraya membuka matanya dilihatnya Dev masih terlelap di tidurnya. wajah tampan itu terlihat sangat imut ketika tertidur


cup


Alina mencium singkat bibir Dev lalu memakai pakaian dalamnya, berjalan menuju kamar mandi


"Akhh..sakit" Pekik Alina cukup keras sambil memegangi area sensitifnya.Dev yang semula tertidur bergegas bangun mendengar teriakan Alina


"Kenapa sayang" terlihat raut kekhawatiran diwajahnya ketika melihat istrinya duduk dilantai menahan sakit


"Sakit Dev kalau dibuat jalan" Dev hanya terkekeh kecil lalu mengendong Alina ke kamar mandi "Maaf ya karena aku kamu jadi kesakitan gini, buat jalan juga susah..tapi sayang kemaren sungguh melelahkan"


Dev membantu Alina mandi lalu mereka turun untuk sarapan. Dimeja makan sudah tersedia berbagai macam lauk namun ada yang kurang?


"Bi kak Zordan kemana kok gak ikut sarapan" ucap Alina yang menyadari Zordan tidak ikut sarapan dengan mereka. Bibi hanya tertawa sambil geleng geleng kepala lalu ia menjawab nona mudanya ini yang sudah menjadi nyonya Arma


"Tuan Zordan sudah sarapan tadi pagi non dan sekarang juga sudah jam 10"


"APA" pekik Alina kaget dilihatnya jam dinding yang mengantung itu dan ternyata benar sudah jam 10:18 menit. 'Astaga kesiangan ini' batin Alina.


"Haha tidak apa apa nona..pengantin baru jadi wajar" ucap Bibi dan sudah pasti wajah Alina memerah dilihat suaminya itu malah asyik makan


Dev hanya tersenyum kecil sambil geleng geleng kepala melihat tingkah cengo istrinya itu

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2