
“Komandan Adiwangsa, ini dokumen penyerahan yang dikirim oleh negara musuh. Mereka bersedia menyerahkan tanah seluas 3.000 mil sebagai hadiah untuk meminta pasukan perbatasan selatan kita mundur.”
“Mereka yang sengaja memprovokasi Negara kita lebih dulu. Setelah dikalahkan pasukan perbatasan selatan yang dipimpin Komandan Adiwangsa, kini mereka mau minta kita mundur hanya dengan 3.000 mil tanah? Konyol!”
Perbatasan selatan Negara Naga, di dalam ruang rapat zona perang. Sebelas jenderal memandang ke seorang pemuda yang berseragam militer, pemuda tersebut beralis tajam, dan pandangan penuh kepercayaan diri.
Pemuda ini bernama Adiwangsa Suprapto, Komandan Perbatasan Selatan!
Enam tahun lalu, dia memasuki perbatasan selatan sebagai buronan dari prajurit meriam, lalu memutarbalikkan kondisi perbatasan selatan yang lemah. Setelah melewati 6 tahun pertempuran sengit, dia berhasil membunuh 9 dewa perang negara musuh dengan kemampuan sendiri, membuat pasukan musuh ketakutan, dan menyerah seperti sekarang.
Semua orang berunding. Hanya saja, mereka tahu keputusan akhir ada di tangan pemuda yang sudah diangkat menjadi komandan di usianya yang baru 26 tahun.
Tap... tap... tap...
Adiwangsa tidak berbicara dan hanya mengetukkan jarinya di atas meja dengan pelan.
Tidak buru-buru mengambil keputusan.
Dia sedang menunggu... menunggu orang itu menyerah. Jika tidak, perang ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Brak!
Pada saat ini juga, tiba-tiba ada yang mendobrak masuk ruang rapat.
Semua orang melihat ke arah seorang wanita cantik yang berdiri di pintu. Wanita ini mengenakan seragam militer. Tubuhnya yang feminim tampak sangat gagah. Wanita yang tidak kalah dari pria!
Dia adalah salah satu dari dua belas pasukan kematian yang dipimpin Komandan Perbatasan Selatan, namanya Rias Anggun.
Melihat Rias yang berjalan mendekat dengan cepat, Adiwangsa tersenyum.
Tampaknya sudah ada hasil.
“Komandan Adiwangsa!”
Rias mendekat dan memberi hormat dengan tergesa-gesa. Wajahnya samar-samar terlihat khawatir. Adiwangsa yang gesit segera menyadarinya dan tidak bisa menahan diri untuk mengernyit.
Rias sudah mengikutinya selama bertahun-tahun dan tidak pernah tergesa-gesa seperti ini. Apakah terjadi sesuatu?
“Komandan Adiwangsa, kabar dari Kota Pantol, adik Anda...”
Adiwangsa tiba-tiba berdiri dengan tatapan sangat tajam: “Adikku kenapa?”
Rias menggertakkan giginya, merogoh sakunya, namun dia malah berhenti karena tidak berani mengeluarkan foto itu. Dia sangat jelas jika pemuda yang di depannya ini marah, siapa pun tidak sanggup menahannya. Kota Pantol, pasti akan menjadi lautan darah!
“Keluarkan.”
Adiwangsa berkata dengan dingin.
“Baik...”
Rias menarik napas yang panjang, lalu mengeluarkan foto itu.
Adiwangsa mengulurkan tangannya untuk mengambil, lalu saat melihat foto itu, matanya langsung melebar.
__ADS_1
Dalam seketika, emosinya meledak dan memenuhi seluruh ruang rapat.
“Komandan Adiwangsa!”
Para jenderal berdiri serempak dengan gelisah.
Apa yang mereka lihat?
Pemuda yang berani melawan ribuan pasukan sendirian... tangannya sedang gemetar!
Itu adalah foto seorang gadis muda. Dia berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah yang sudah tak bisa dikenali. Darah telah membasahi seluruh pakaiannya yang robek. Tangannya yang terjatuh di samping ranjang masih memegang sesuatu dengan erat.
Gadis ini adalah adiknya! Adik kandung Komandan Perbatasan Selatan!
“Maafkan saya!”
Rias menggertakkan gigi dan berlutut dengan satu lutut. “Saya gagal melindungi adik kandung Anda sehingga...”
“Bagaimana kondisi adikku sekarang?”
Di bawah kekuatan Adiwangsa, foto di tangannya berubah menjadi serbuk. Tekanan yang semakin berat memenuhi seluruh ruang rapat. Para jenderal perbatasan selatan bahkan merasa sesak napas.
“Jatuh dari gedung! Semua organ dalamnya rusak dan tiada yang bisa menyelamatkannya. Jika hanya didukung keinginan untuk bertahan hidup, takutnya...”
Jgeeer!
Dalam benak Adiwangsa terdengar suara sambaran petir yang membuat pandangannya menggelap. Para jenderal yang di situ pun tampak ketakutan. Mereka sangat gelisah, rasanya seperti dunia telah runtuh.
Adiknya Komandan Adiwangsa kenapa bisa jadi seperti ini?
Seorang pria yang memakai jas dan kacamata hitam buru-buru berkata: “Tidak boleh, Komandan Adiwangsa! Ini momen penting negara musuh menyerah. Jika Anda tidak ada di perbatasan selatan...”
Adiwangsa menatapnya dengan tajam. “Tidak ada kata jika! Adikku sudah mau meninggal! Mau meninggal! Mengerti?”
Wajah pria itu menjadi pucat karena ketakutan. Dia segera menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Adiwangsa sama sekali.
“Siapkan jet tempur!”
“Baik!”
Sebuah jet tempur terbang dari langit perbatasan selatan ke Kota Pantol yang di daratan dalam.
Adiwangsa sangat cemas dan menyesal.
Enam tahun lalu, karena melakukan suatu kesalahan, dia melarikan diri dari rumah dan tidak berani menghubungi keluarganya sama sekali. Kemudian, setelah bangkit di perbatasan selatan dan terkenal di negara musuh. Dia semakin tidak berani menghubungi mereka karena takut agen rahasia mengetahui identitasnya dan membuat adiknya terjebak dalam bahaya. Dia bahkan tidak boleh mengutus orang untuk melindunginya.
Di era informasi ini, setiap tindakan yang tidak diperlukan akan mengakibatkan identitasnya terungkap.
Tak disangka, adiknya akan terjebak dalam kecelakaan ini!
Adiwangsa mengepalkan tangannya dengan erat. Niat membunuh di dalam matanya semakin jelas.
Siapapun yang melukai adiknya, harus mati!
__ADS_1
“Cepat! Lebih cepat lagi!”
Adiwangsa merasa ada pisau yang sedang menyayat hatinya dan membuat dirinya hendak berteriak.
Syuut...
Jet tempur berlalu dengan sangat cepat dan meninggalkan jejak di langit. Namun, sebelum jet itu meninggalkan perbatasan selatan, ada lagi tiga jet tempur dengan pola naga emas yang menyusulnya.
Ekspresi Rias segera berubah. “Komandan Adiwangsa, itu Lembaga Pengawasan Naga Emas.”
Wajah Adiwangsa tampak cuek dan tidak berkata apa pun.
“Komandan Adiwangsa! Mohon segera hentikan jet tempur! Sebagai komandan perbatasan selatan, Anda tidak boleh meninggalkan perbatasan selatan! Saya ulangi lagi, Anda tidak boleh meninggalkan perbatasan selatan!”
Suara itu terdengar dari komunikator ke dalam jet tempur dan bergema di telinga Adiwangsa.
Adiwangsa berkata dengan tegas. “Aku sudah bulatkan tekad hari ini harus kembali ke Kota Pantol. Bahkan Bambang Perwira pun tidak bisa menghentikanku! Aku beri kalian waktu semenit untuk pergi dari sini! Kalau tidak, jangan salahkan aku terlalu kejam!”
Kondisi adik sedang kritis, dokter-dokter bodoh itu tidak ada cara apa pun, jadi dia hanya bisa menyelamatkannya sendiri!
Saat ini, tiga jet tempur itu masih mengikutinya, namun tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka juga tidak tahu harus melakukan apa. Jika orang lain yang paksa menerobos perbatasan selatan, mereka bisa saja menembak mati secara langsung. Namun, pemuda ini, mereka tidak berani dan tidak boleh!
Tanpa Adiwangsa, perbatasan selatan mungkin telah dijajah sejak beberapa tahun yang lalu. Bagaimana mungkin masih ada perbatasan selatan?
“Tidak bisa dihentikan. Cepat hubungi Ketua Inspektur!”
Di Lembaga Pengawasan, saat menerima laporan dari bawahan, Bambang Perwira tampak bingung. “Cepat selidiki alasan Komandan Adiwangsa mau meninggalkan perbatasan selatan!”
Beberapa saat kemudian, Bambang melihat pesan yang ditampilkan di ponsel, lalu ekspresinya berubah total dan segera berteriak pada komunikator: “Cepat! Pergi!”
Di dalam jet tempur, Rias yang di samping Adiwangsa terus melihat jam tangannya dengan panik.
Adiwangsa mengatakan semenit, maka pasti semenit! Jika jet tempur lembaga pengawasan tidak pergi, maka pasti akan menyerangnya. Namun, jika mereka menyerang Lembaga Pengawasan Naga Emas, itu sama dengan mengkhianati negara!
“55... 56... 57...”
Jantung Rias berdebar dengan gelisah. Tangannya juga telah menekan tombol peluncuran. Asalkan dia menekan lebih kuat sedikit, maka kondisi ini tidak akan bisa dibalikkan lagi!
“58!”
“59!”
“6...”
Saat Rias menghitung detik terakhir, seluruh tubuhnya terasa sangat lelah.
Tiga jet tempur yang di depan mereka telah menghindar ke dua arah!
Rias segera memindahkan jari tangannya yang menahan di tombol peluncuran, kemudian sadar wajahnya telah dipenuhi oleh keringat dingin.
Melihat semua ini, ekspresi Adiwangsa tidak berubah sama sekali.
Syuut...
__ADS_1
Di atas awan putih yang jernih, jet tempur yang tercetak tulisan “Perbatasan Selatan” melintasi perbatasan selatan tanpa ragu-ragu. Dengan kecepatan jet tempur, mereka akan tiba di Kota Pantol dalam waktu setengah jam jika semuanya berjalan dengan lancar.
Namun, bagi Adiwangsa, setengah jam ini sama lamanya dengan satu abad!