Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 33 Hidup Segan Mati Tak Bisa!


__ADS_3

Hujan deras menyapu rata bumi, seolah-olah ingin membersihkan semua kegelapan.  Namun, yang gelap itu bukan dunia, tapi hati manusia.


Di tengah hujan deras yang memekakkan telinga, pikiran semua orang terfokus pada Adiwangsa. Melihat Adiwangsa yang melakukan akupuntur sungguh semacam kenikmatan. Gerakannya yang lancar dan lincah, berasal dari keyakinan mutlak Adiwangsa pada keterampilan medisnya sendiri dan kendalinya yang luar biasa. Ini juga merupakan keyakinan dia untuk merebut orang dengan Penguasa Akhirat.


Saat jarum perak Adiwangsa menusuk, napas nenek tua itu berangsur-angsur menjadi stabil. Setelah menyimpan jarum peraknya kembai, Adiwangsa menggendong nenek tua dan bertanya dengan pelan: "Anna, di mana rumahmu?"


"Di situ."


Anna menunjuk ke sebuah pintu kayu yang rusak. Adiwangsa pun menggendong nenek tua dan melangkah maju dengan cepat. Sebelum memasuki rumah, dia sudah mencium bau lembab yang sangat kuat. Rumahnya sangat gelap. Ada lampu, tapi jelas sekali listriknya sudah diputuskan. Bagian atap juga bocor dan terus ada air hujan yang menetes ke ember dan mangkok yang di lantai.


Adiwangsa meletakkan nenek tua di tempat tidur yang di pojok, lalu mulai mengamati seluruh rumah.


Rumah ini sangat bobrok.


Tempat tidurnya hanya satu. Seprai dan selimutnya terdapat banyak bekas jahitan, namun tetap sangat bersih dan terlipat rapi. Ada lagi, lemari, meja, dan dua kursi yang catnya sudah kelupas-kelupas. Di sisi pintu, ada sebuah kompor tanah yang terbuat dari batu bata.  Di ujung sisi satu lagi ada meja yang terbuat dari ubin dan potongan kayu yang pecah, di atasnya terletak peralatan makan yang bersih dan beberapa sisa makanan yang belum dihabiskan. Di sudut lain, ada banyak botol air mineral, kaleng, besi bekas, dan sebagainya. Selain itu, tidak ada furnitur lain, apalagi alat elektronik.


Ini benar-benar penggambaran yang paling realistis dari orang-orang miskin tingkat rendah.


Yang paling membuat Adiwangsa prihatin adalah dua bingkai foto hitam putih yang tergantung di dinding menghadap pintu. Di sebelah kiri adalah seorang pria tua berambut putih dengan wajah keriput dan mengenakan seragam militer eksklusif perbatasan selatan. Giginya bahkan sudah hilang total pun masih masih tersenyum dengan bahagia. Sedangkan di sebelah kanan, adalah seorang pria muda berusia sekitar 30-an tahun. Dia juga tersenyum bahagia dan menunjukkan seluruh giginya. Dirinya kini juga mengenakan pakaian tentara yang rapi tanpa kerutan.


Tentara perbatasan selatan! Satu keluarga memiliki 2 loyalis yang telah gugur! Nenek tua dan gadis kecil yang ditinggal sendirian malah ditindas seperti ini!


Tangan Adiwangsa tiba-tiba menjadi gemetar. Lalu, amarahnya seperti meledak dalam seketika, "Jeje."


"Tuan Adiwangsa!"


Jeje tiba-tiba menjadi tegang. Pria ini jelas-jelas memanggilnya dengan sangat tenang, tapi kenapa dirinya bisa merasa takut. Rasanya seperti sedang menghadapi singa yang mengamuk.

__ADS_1


Adiwangsa bertanya tanpa membalikkan kepalanya: "Bisa siksa orang?"


Jeje tertegun, lalu segera mengerucutkan bibirnya: "Bisa!"


"Lima orang itu, aku mau mereka hidup segan mati tak bisa!"


"Anda tenang saja. Saya pasti akan 'melayani' mereka dengan baik.", ucap Jeje sambil menarik napas yang panjang.


Adiwangsa mengeluar ponselnya dan menekannya dengan cepat. Beberapa saat kemudian, menunjukkan layar ponselnya kepada Jeje, "Beli obat-obat ini sesuai resep."


"Baik."


Jeje mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto, lalu segera mengirimnya keluar. Dia segera telepon dan berkata dengan serius: "Bawa obatnya kemari dalam waktu setengah jam."


Setelah memutuskan telepon, Jeje berkata dengan hormat: "Tuan Adiwangsa, obat akan segera datang."


Adiwangsa merasa sedih. Dia berjongkok di sisi Anna, lalu membujuknya dengan lembut: "Anna, jangan takut. Nenek akan baik-baik saja. Paman ini dokter, loh. Dokter yang sangat hebat. Sebentar lagi, obat akan segera tiba. Paman akan memasakkannya untuk nenek. Setelah meminumnya, nenek pasti akan sembuh."


Anna mengangkat kepalanya untuk melihat adiwangsa, kedua matanya yang berkaca-kaca menunjukkan harapan yang sangat polos: "Serius?"


"Tentu saja serius. Paman tidak akan membohongimu. Kalau tidak percaya, kita janji.", ucap Adiwangsa dengan lembut sambil mengeluarkan jari kelingkingnya yang besar.


Anna juga menjulurkan jarinya. Lalu, kedua jari saling terkait.


"Janji tidak bohong, seratus tahun tetap ingat!"


Anna yang matanya penuh dengan air mata tersenyum. Di dunianya yang kecil, janji itu sangat suci.

__ADS_1


Sedangkan Jeje, dia hanya melihat dengan tenang dan semakin penasaran. Pria yang begitu kejam dan tangguh, bisa-bisanya memiliki sisi yang selembut ini?


Melihat Anna, Adiwangsa mengingat wajah seseorang yang sedang menangis dengan kasihan juga.


Bulan Hasan...


Mereka benar-benar sangat mirip!


Sayangnya...


"Hatsyii!"


Suara bersin Anna menarik kembali kesadaran Adiwangsa. Lalu, dia segera berteriak: "Jeje, kamu juga sudah basah kuyup. Bawa Anna pergi dulu."


Jeje berangguk: "Baik."


"Aku tidak mau pergi."


Anna menolak dan membalikkan kepalanya dengan keras kepala, "Aku mau menunggu nenek bangun."


Adiwangsa berkata: "Nenek akan bangun, tapi kamu sudah kehujanan. Kalau tidak ganti baju, kamu akan flu. Siapa yang mau jagain nenek kalau kamu juga sakit?"


Anna tetap bergeleng dan menunjuk ke dinding yang di samping: "Anna punya baju di rumah."


Adiwangsa mengangkat alisnya. Dia mengira Anna dan nenek ini saling mengandalkan dan harusnya tinggal bersama.


Sedangkan Jeje, dia sudah mengambil inisiatif lebih dulu untuk keluar dan berjalan ke sebelah.

__ADS_1


Pintu rumah di sebelah sudah rusak. Begitu berjalan masuk, dia langsung melihat rumah yang penuh dengan foto Anna. Di dalam lemari ada pakaian wanita muda dan pakaian Anna. Setelah kembali, Jeje tidak mengatakan apa pun dan hanya berangguk kepada Adiwangsa.


__ADS_2