Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 5 Ayah Yang Tak Bertanggung Jawab!


__ADS_3

Dingin!


Sangat dingin!


Perasaan ini seperti waktu itu terjatuh di genangan darah. Kehidupan akan segera berakhir, kematian sedang mendatanginya. Perbedaannya hanyalah, waktu itu Adiwangsa muncul dengan membawa kehangatan. Dia menariknya kembali ke dunia dengan kemampuan medis yang luar biasa.


Sedang sekarang, rasa dingin yang mengerikan ini berasal dari Adiwangsa Suprapto!


Langit sudah runtuh!


Komandan Perbatasan Selatan yang pintar menyusun strategi, mengendalikan medan perang di tangannya, dan selalu irasional yang tidak seperti manusia normal, kini menjadi sangat impulsif karena adik kandungnya!


Tanda pangkat naga emas yang di lantai sangat menusuk mata!


Bambang Perwira tiba-tiba memiliki suatu perasaan.


Dalang yang memimpin semua ini telah membuat kesalahan besar! Kesalahan yang sangat fatal!


Bagaimanapun, dia tidak seharusnya menggunakan adik Adiwangsa sebagai titik terobosan!


Pada saat yang sama, Bambang juga menjadi semakin emosi! Dia terlalu jelas dengan pria yang di depannya ini!


Demi Negara Naga, demi perbatasan selatan, demi ratusan juta rakyat, Adiwangsa telah mengorbankan terlalu banyak. Dia berdarah mat-matian di medan perang, namun adik tersayangnya malah disakiti hingga menjadi seperti ini!


Kalau bukan karena Adiwangsa sangat berbakat dalam medis, gadis yang kini berbaring di ranjang pasti sudah menjadi mayat, ‘kan?


Dendam dan kebenciannya telah mencapai *******!


Jika kini yang mengalami semua ini adalah orang terdekatnya, bagaimana mungkin dia bisa lebih bijaksana daripada Adiwangsa?


Adiwangsa berlangkah dan hendak pergi.


Bambang seperti kesurupan. Dia bahkan bisa melihat gunung mayat dan lautan darah di depannya.


“Tidak!”


Bambang segera bangkit dan buru-buru menyusul Adiwangsa dan menarik lenganya.


“Kau tidak bisa menghentikanku. Kau tahu jelas.”


Nada suara Adiwangsa tetap sangat tenang.


Di balik ketenangan ini, ada niat membunuh yang bisa menghancurkan dunia.


Bambang gemetar, tapi tetap berkata: “Komandan Adiwangsa, jangan sembarang bertindak. Aku akan membantumu!”


Mendengar ini, Adiwangsa tiba-tiba menoleh. Pandangannya tampak terkejut. “Kau mau bantu?”


“Ya! Akan kubantu!”


Bambang berangguk dengan kuat.


“Komandan Adiwangsa, di perbatasan selatan memang tiada yang bisa menghalangimu, tapi ini di Kota Pantol. Ada beberapa hal yang tidak bisa kamu ikut campuri. Tidak sepertiku, aku bisa mengerahkan semua pasukan untuk membantumu membalas dendam. Jadi, tiada satu pun orang yang terlibat bisa melarikan diri.”


Adiwangsa menatap ke Bambang. “Kau takut aku menggila total, ‘kan?”


Bambang tidak menjawab. Jelas sekali, tebakannya benar.


Jika membantu Adiwangsa, maka Bambang juga akan melanggar hukum negara. Setelah masalah ini selesai, dia pasti akan ditindaklanjuti. Namun, jika dia tidak bantu dan biarkan Adiwangsa bertindak sendiri, maka Kota Pantol hanya akan berubah menjadi lautan darah!

__ADS_1


Meskipun tanggung jawab dia akan berkurang, tapi Adiwangsa...


“Oke, aku terima bantuanmu.”


Adiwangsa berangguk. Matanya tidak bisa menahan rasa benci yang sangat ekstrem. “Bantu aku lacak. Di mana ayahku yang tidak bertanggung jawab itu? Putrinya sendiri disiksa seperti ini, sampai hampir mati. Di mana dia?”


Bambang tertegun, lalu dia berkata tanpa berpikir panjang. “KTV.”


Adiwangsa tersenyum. Suara kepalan tangannya terdengar jelas.


Krak... krak...


Rasa benci di matanya semakin meningkat.


Sungguh Ayah yang baik!


Putri sendiri sudah disiksa sampai hampir mati, ayah ini malah makan, minum, dan bersenang-senang di KTV!


...


Sekeras apa pun matahari berjuang, sinarnya tetap akan tertutup oleh kegelapan.


Kota Pantol yang makmur ini pun mulai memasuki kehidupan malam. Triple Gate adalah nama sebuah KTV. Tempat untuk menghamburkan uang yang paling terkenal di Kota Pantol. Pengurus Triple gate ini adalah Triple Fazura, ayahnya Eka Fazura yang disebut Bambang.


Bawah tanah Kota Pantol, raja yang tidak bermahkota!


Saat ini, di sebuah ruangan kecil di Triple Gate.


Mustofa Suprapto tersenyum segan, mengangkat segelas penuh anggur, dan berkata kepada seorang pria paruh baya dengan perut buncit. “Pak Riski, terima kasih telah meluangkan waktu dari jadwal sibuk Anda. Ini sungguh suatu kehormatan bagi saya. Mari bersulang, Pak.”


Pak Riski ini melirik ke arah Mustofa dengan pandangan meremehkan yang sangat jelas. Dia mengangkat gelasnya secara terpaksa, bahkan sebelum gelas Mustofa menyentuh gelasnya, dia sudah mengangkat tangannya dan menyiramkan semua anggur merah ke wajah Mustofa.


“Hahaha...”


Di dalam ruangan, semua bawahan Pak Riski itu tertawa dengan sombong.


Mustofa berusaha menahan kesedihan dan kemarahan di dalam hatinya, mengangkat kepala, dan meminum habis anggur di gelasnya. Lalu, dia mengeluarkan satu kartu ATM dan menyerahkannya dengan senyuman yang dirinya sendiri pun merasa jijik. “Pak Riski, ini sudah semua uangku. Tidak banyak, pas 4 miliar sebagai tanda hormat saya kepada bapak. Mohon pertimbangkan hubungan kita di masa lalu... Aduh!”


Sebelum selesai berbicara, Pak Riski itu tiba-tiba mengangkat kakinya dan menendang Mustofa hingga terjatuh di lantai. Kepala Mustofa juga terbentur sudut meja dan merasa sedikit pusing.


Darah merah mengalir dari dahinya di bawah lampu warna-warni. Adegan ini tampak sedikit aneh.


“Hubungan masa lalu? Di masa lalu, saat Keluarga Suprapto sangat hebat dan berkuasa, aku juga pernah menyanjungmu seperti yang kau lakukan hari ini. Tapi bagaimana denganmu? Kau hanya mau membagiku sesuap sup sisa!”


Pak Riski tersenyum muram. “Kepala Keluarga Suprapto! Aku sudah lama menantikan hari ini! Kau tahu? Senyumanmu yang antusias sungguh sangat menjijikkan bagiku!”


“Tapi, aku harus berterima kasih padamu juga. Kalau bukan karena kau memberiku sesuap sup sisa itu, aku juga tidak bisa mengumpulkan modal untuk menjilat Pak Fazura. Mana mungkin aku bisa melihatmu, Kepala Keluarga Suprapto, bersujud di depanku? Hahaha! Ayo, bangkitlah!”


Pak Riski mengambil sebotol anggur yang mahal dan menuangkannya ke lantai. Lalu, dia menyeringai dan berkata: “Jilat sampai bersih.”


“Aku...”


Mustofa menundukkan kepalanya dengan sedih. Darahnya masih mengalir dan menetes ke lantai.


Tik... tik... tik...


Dia sangat marah dan sangat ingin menghancurkan dunia ini!


Keluarga Suprapto yang hampir setara dengan empat keluarga besar di masa lalu, kini malah terpuruk hingga harus dipermalukan seperti ini. Bahkan anjing pun lebih bermartabat darinya!

__ADS_1


Tapi dia, harus menahan amarahnya!


Kalau tidak, bagaimana dengan putrinya?


Putranya sudah menghilang selama 6 tahun, anggap saja dia tidak pernah memiliki putra ini. Namun, putrinya, tidak boleh terjadi apa-apa padanya lagi!


Mustofa memejamkan matanya dengan menderita, meletakkan tangannya di lantai yang berlumuran darah, dan berlutut dengan lutut kanannya. Dia menundukkan kepalanya sehingga tiada yang bisa melihat rasa sengsara di wajahnya.


Demi putriku!


Biarlah dia mempermalukanku! Biarlah dia bersenang-senang! Biarlah dia menginjak kepalaku dan tertawa dengan gembira!


Hanya dengan begini, aku masih punya sebersit harapan untuk menyelamatkan putriku!


Mustofa memejamkan mata. Sebelum lutut kirinya menekuk, tiba-tiba ada yang menahan bahunya.


“Pak Riski, tenang saja. Aku pasti akan merangkak dengan mantap seperti anjing.” Mustofa berkata dengan pelan.


“Seperti anjing? Kalau begitu aku ini? Anak anjing?”


Suara yang tenang bergema di telinganya. Mustofa terkejut, lalu segera mengangkat kepalanya dengan kuat.


Darah yang di dahinya hampir mengaburkan pandangannya. Cahaya di dalam ruangannya juga agak redup. Namun, meskipun begitu, Mustofa tetap bisa melihat wajah pemuda yang berseragam militer ini dengan jelas.


Bibirnya bergetar, setelah sangat lama pun tidak sanggup mengatakan sepatah kata.


Setelah beberapa saat yang sangat lama, Mustofa menundukkan kepalanya. Dia tidak berani saling bertatapan dengan anaknya!


Anak yang telah hilang selama 6 tahun telah kembali. Harusnya ini adalah hal yang bahagia, namun...


Dia malah menunjukkan dirinya yang serendah anjing di depan anaknya! Saat ini, Mustofa sungguh ingin membunuh diri!


“Hei, siapa ini? Tuan Muda Keluarga Suprapto? Ya, benar! Tuan Muda Adiwangsa!”


Sepertinya Pak Riski ini mengenali Adiwangsa. Waktu 6 tahun mungkin sangat lama bagi banyak orang, tapi juga sangat singkat bagi banyak orang.


“Ayo!”


Pak Riski menunjukkan senyuman yang sangat mesum. “Tuan Muda Adiwangsa juga ikut merangkak! Cepat merangkak! Cepat woi!”


Adiwangsa mengangkat kepalanya, lalu tersenyum.


“6 tahun... yang aku lindungi di perbatasan selatan itu sampah seperti ini?”


Senyumannya menghilang.


Adiwangsa berkata dengan tenang. “6 tahun ini tidak layak sama sekali!”


Pada saat yang sama, Rias Anggun melangkah maju.


Niat membunuhnya sangat kuat!


Sampah-sampah ini lebih menjijikkan daripada prajurit-prajurit negara musuh!


Menghadapi orang seperti ini...


Hanya perlu...


Dibunuh!!!

__ADS_1


__ADS_2