
Riski Bagas ini hanyalah anjingnya Triple Fazura. Mungkin karena sudah lama menjadi anjing, dia bahkan memiliki indera penciuman setajam anjing. Saat melihat wanita cantik yang berseragam militer datang dengan niat membunuh yang kuat, dia tidak bisa menahan otot wajahnya untuk bergetar. Lalu, dia segera membentak dengan tegas. “Kau mau ngapain? Kau tahu nggak aku siapa?”
“Tidak perlu tahu.”
Rias Anggun mendekati Riski selangkah demi selangkah. Sedangkan Riski, dia merasa dirinya sedang menghadapi seekor binatang buas betina yang kejam. Dia segera berteriak kepada bawahannya. “Buat apa kalian bengong? Cepat maju!”
Empat bawahannya yang kekar langsung menyerbu ke arah Rias dan hendak menangkapnya.
Rias terus melangkah maju, melirik orang-orang itu dengan sudut matanya, lalu saat mereka menyerbu ke dirinya, dia mengangkat tangannya, menekukkan jarinya seperti cakar, mencengkam pergelangan tangan musuh, lalu memutarnya dengan santai.
Krak!
“AHHH!”
Suara retakan tulang dan tangisan melengking.
Rias melumpuhkan tangan orang itu hanya dengan satu cengkaman yang sederhana.
Tatapan tiga orang yang lebih lambat menyerbu Rias menjadi lebih kejam. Mereka ini orang yang telah memasuki dunia gelap selama bertahun-tahun dan memiliki sangat banyak pengalaman berkelahi. Mereka tahu jelas wanita ini sangat sulit dihadapi, tapi ini juga semakin merangsang keganasan mereka.
Siapa yang lebih kejam, dialah pemenangnya!
Namun, kali ini mereka telah salah perhitungan. Mereka bahkan tidak bisa melihat jelas kecepatan Rias menyerang. Saat mereka sadar, rasa sakit yang parah sudah menyebar dari saraf lengan ke otak.
Semuanya tidak bisa menahan diri untuk menjerit kesakitan.
Mendengar jeritan yang bergema di dalam ruangan, Rias merasa terlalu berisik. Lalu, dia menendangkan kakinya.
Bam bam bam!
Empat bawahan yang mencengkam lengan sambil menangis kesakitan jatuh ke lantai dan pingsan.
Wajah Riski menjadi pucat. Dia ingin melarikan diri, tapi Rias malah menjambak rambutnya yang tidak banyak dan menariknya kembali.
Bam! Bunyi belakang kepala Riski membentur dinding. Riski pun menjerit kesakitan. Dia menyentuh bagian belakang kepalanya dan merasa tangannya sangat basah dan lengket. Riski mengecek cairan yang di tangannya melalui cahaya dalam ruangan yang redup dan bergetar.
Darah!
Darahnya!
Sedangkan Rias, kini dia telah mengambil sebotol anggur yang belum dibuka dan menatap Riski dengan angkuh seolah-olah Riski akan mati begitu dia memecahkannya di kepala Riski.
“Kau... kau berani menyentuhku?”
Riski tidak bisa menahan dirinya untuk bergetar, tapi dia tetap berbicara dengan maksud mengancam. “Aku ini orang Pak Triple! Kau kalau berani berbuat macam-macam terhadap aku, Pak Triple nggak akan melepaskanmu! Kau nggak akan bisa hidup di Kota Pantol lagi! Nggak peduli siapa kau, kau pasti akan mati!”
“Oh, iya?”
Niat membunuh Rias menjadi semakin kuat.
Bagaimana mungkin seseorang yang dilatih di medan perang bisa takut dengan petinggi-petinggi seperti itu?
Konyol sekali!
__ADS_1
Di dunia ini, hanya ada beberapa orang yang berani mengancamnya. Namun, pastinya, tidak ada yang namanya Triple Fazura.
Rias mengangkat botol yang di tangan kanannya.
Sebenarnya, dia bisa saja mencekik tenggorokan Riski Bagas secara langsung, tapi dia tidak ingin mengotori tangannya, jadi lebih nyaman menggunakan botol anggur.
“Ti... tidak...”
Riski ketakutan. Dia sungguh ketakutan. Dia merasa wanita yang di depan matanya sungguh akan membunuhnya!
“Hentikan!”
Ada yang berteriak dari belakang.
Itu bukan suara Adiwangsa Suprapto, tapi Rias tetap menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang.
Memang bukan Adiwangsa yang menghentikannya, tapi Mustofa Suprapto.
Rias biasanya hanya mendengarkan perintah dari Adiwangsa, namun Mustofa Suprapto itu ayah Adiwangsa.
Mustofa tadi tercengang. Kini dia baru sadar dan segera bangkit, melewati Adiwangsa, lalu berlari ke sisi Riski dan berkata: “Pak Riski, bapak tidak apa-apa, ‘kan?”
Melihat penampilan Mustofa yang malang, hati Riski yang ketakutan menjadi lebih tenang. Dia berkata sambil menunjuk ke arah Rias. “Cepat suruh dia menjauh dariku! Cepat! Jauhi aku!”
Mustofa menelan seteguk ludah. Menghadapi wanita cantik yang di depannya ini, dia juga ketakutan setelah melihat tindakannya yang sadis.
Mustofa melihat ke arah Adiwangsa tanpa sadar, lalu berkata: “Nona, ada apa kita bicara baik-baik, ya... Jangan bertindak impulsif...”
Rias melihat ke arah Adiwangsa. Adiwangsa mengangguk. Lalu, Rias membuang botol anggur yang di tangannya, mundur ke balakang, dan berjaga di pintu tanpa bergerak sama sekali. Seluruh tubuhnya tampak seperti bayangan yang tidak dapat disinari cahaya.
Pandangan Adiwangsa sangat dalam dan tidak terlihat emosi apa pun.
“Brengsek!”
Kata “anjing” telah menyinggung hati Mustofa. Dia merasa sangat dipermalukan, dia menggertakkan giginya, berjalan ke depan Adiwangsa, mengangkat tangannya, dan hendak menampar Adiwangsa.
Rias yang di dalam kegelapan mengepalkan tangannya. Dia tidak tahu apa dirinya harus menghentikan Mustofa.
Mata Adiwangsa terus menatap Mustofa yang marah, seolah-olah dia sedang melihat orang asing.
Akhirnya, Mustofa tidak jadi menamparnya. Rasa ketidakberdayaan menyebar ke seluruh tubuhnya. Kakinya lemas, dia berjalan mundur dua langkah, dan terduduk di sofa.
Mata Riski penuh dengan kepanikan, lalu dia diam-diam mengambil ponselnya dan mengirim pesan teks tertulis “99”.
“Untuk apa kau pulang?”
Setelah keheningan yang lama, Mustofa berteriak lagi: “Siapa suruh kau pulang?”
Di bawah cahaya redup, Mustofa menyeka noda darah yang setengah kering di wajahnya dengan tisu. Dalam hatinya merasa sangat menderita.
Putrinya mengalami kecelakaan, putranya telah kembali, tapi tidak seharusnya putranya kembali!
“Kalau bukan karena Nia, aku nggak akan pulang.”
__ADS_1
Dari pelipis Mustofa, Adiwangsa melihat sedikit rambut putih. Ayah yang tidak bertanggung jawab, yang selalu dibencinya, menjadi jauh lebih tua.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Mendengar jawabannya, Mustofa sangat terkejut. Dia segera bangkit. “Pergi saja kau! Semakin jauh, semakin bagus! Jangan pernah pulang ke Pantol lagi!”
“Aku pergi?”
Adiwangsa mencibir. “Lalu, melihat Nia meninggal begitu saja?”
“Itu bukan hal yang bisa kau urus!”
Mata Mustofa melotot sampai hampir keluar dari rongganya, dia menunjuk ke arah Riski, dan berkata: “Minta maaf pada Pak Riski! Cepat minta maaf!”
Riski buru-buru melambaikan tangannya. “Jangan, jangan! Ini semua salah paham. Hanya salah paham. Nggak apa-apa.”
Meskipun berkata seperti itu, tapi sebenarnya dalam hati Riski telah berdendam. “Tunggu orang aku tiba semua, maka bukan salah paham lagi!”
Adiwangsa tidak mengatakan apa pun dan hanya menatap Mustofa dengan kecewa.
Orang-orang suka berkata Ayah itu gunung dan pahlawan anak. Namun, ayahnya ini, tidak pernah membuatnya merasakan cinta dari seorang ayah, tidak pernah membuat dirinya ingin mengaguminya.
Melihat Adiwangsa seperti ini, Mustofa tahu dia sudah tidak mungkin meminta maaf.
Putra sendiri tentu saja dia tahu jelas. Kalaupun sudah menghilang selama 6 tahun, sifatnya juga tidak akan berubah. Sejak kecil sudah sangat keras kepala, sekarang lebih keras kepala lagi.
“Maaf, Pak Riski. Saya yang tidak mendisiplinkan anak saya dengan benar. Maaf telah membuat Anda kaget.”
Sambil berbicara, Mustofa mengambil lagi kartu ATM di meja dan menyerahkannya dengan kedua tangan. “Pak Riski, saya mohon jangan mempersulit keluarga kami. Saya akan berlutut pada Anda...”
Sebelum Mustofa berlutut, dia telah ditahan oleh Adiwangsa.
Rasa kecewa di dalam pandangan Adiwangsa semakin terlihat jelas.
Mustofa merasa di dalam tubuhnya seperti ada pisau yang sedang menyayat hatinya dan menusuk jantungnya hingga berdarah-darah.
“Enyahlah!”
Mustofa berteriak dengan keras sampai suaranya hampir serak.
Jika menyinggung Riski, putrinya tidak akan ada harapan lagi. Kini satu-satunya harapan dia adalah menjamin keselamatan putranya.
Triple Fazura itu sangat berkuasa di Kota Pantol. Selama bisa meninggalkan Kota Pantol, maka putranya masih memiliki kesempatan untuk hidup. Asalkan putranya bisa melarikan diri, maka dia telah meninggalkan keturunan untuk Keluarga Suprapto. Sedangkan dirinya sendiri, dia sama sekali tidak pernah berpikir untuk hidup lagi. Dia ingin menyerahkan nyawanya yang terakhir untuk menyelamatkan putrinya sekuat tenaga! Hasil terburuk hanyalah mati bersama putrinya! Yang penting, putranya masih bisa hidup.
“Oke.”
Adiwangsa tiba-tiba tersenyum, mengangkat bahunya, dan berbalik badan. “Aku ikuti kemauanmu. Siapa suruh aku ini anak anjing!”
Mustofa bergidik. Dia merasa hatinya sedang berdarah. Tulang belakangnya yang awalnya tidak tegak menjadi semakin bungkuk.
Brak!
Tiba-tiba, ada yang mendobrak pintu dari luar. Lalu, belasan pria bertato berjalan masuk dengan agresif.
__ADS_1
Riski yang awalnya menyusut di pojok, langsung berdiri dengan mata berbinar-binar. Dia berkata sambil tersenyum jahat. “Pergi? Tanpa izinku, siapa pun jangan harap bisa pergi!”