
Kesiapan tempur tingkat pertama Kota Pantol, baru diumumkan setengah hari saja sudah dicabut! Gubernur, Dustin Armando, mengumumkan bahwa semua mata-mata musuh negara telah ditangani di depan media.
Rakyat yang mendengar berita bersorak dan bertepuk tangan. Namun, banyak keluarga kaya yang berkuasa malah terdiam dan bimbang. Mereka mendapat berita bahwa Triple Fazura telah meninggal pada 2 atau 3 jam yang lalu! Semua anggota inti dari Triple Gate juga telah mati!
Ini membuat mereka merinding!
Triple Fazura ini merupakan langit di Kota Pantol, raja tak bermahkota yang menguasai seluruh industri abu-abu! Bahkan empat keluarga besar pun menyeganinya dan tidak ingin berurusan dengannya!
Alasan sebenarnya adalah di belakang Triple Fazura, ada orang yang mendukungnya! Status orang itu juga sangat luar biasa!
Namun, kini Triple Gate telah dimusnahkan!
Dimusnahkan pada saat Kota Pantol berada dalam kondisi kesiapan tempur tingkat pertama!
Apa maksud tersembunyi dari kejadian itu?
Banyak yang memikirkan ini dengan saksama. Mereka juga telah mengirim banyak orang ke kantor gubernur untuk mengunjungi Dustin dan hendak mengorek sedikit informasi.
Orang yang semakin kaya dan berkuasa, semakin bahaya. Mereka ingin mengetahui kebenaranya agar diri sendiri dapat menghindari menyinggung orang lain tanpa sadar, salah mengambil langkah, dan menjadi Triple Fazura berikutnya.
Namun, Dustin tidak menemui siapa pun. Semuanya diblokir.
Ini membuat semua orang bingung, tapi juga lega.
Faktanya, Dustin telah memberi signal dengan tidak menemui mereka: Kejadian ini tidak berhubungan dengan mereka, atau pun hubungannya tidak besar, jadi tidak akan terlibat.
Sangat cepat, mata mereka berputar dan segera bertindak lagi. Triple Gate sudah lenyap, tapi industri yang ilegal masih ada, di dalam ini terdapat terlalu banyak keuntungan. Barang yang tiada tuannya, siapa pun hendak menggigitnya!
Setelah itu, beberapa orang penting berkumpul. Mereka semua ingin mendapatkan keuntungan itu, tapi juga tidak berani membuat keributan apa pun pada momen kritis begini. Jadi, mereka mau mendiskusikannya dengan saksama dan membagi kue ini dengan adil.
Ini membuat Dustin yang di rumah sakit no. 1 sangat puas.
Adiwangsa Suprapto sama sekali tidak tahu pembagian keuntungan di Kota Pantol. Kalau tahu pun, dia tidak akan peduli. Dia berdiri di luar pintu kamar pasien dan membuka pintu. Begitu mengangkat kepalanya, dia langsung melihat Niawangsa Suprapto yang masih koma.
Adiwangsa yang tidak tertandingi di medan perang, kini merasa sangat sedih dan sungguh ingin menangis. Dulu waktu kecil, dia sering sakit dan lemah.Setiap dia ditindas orang lain, adiknya pasti akan muncul tepat waktu dan melindunginya dari depan dengan ekspresi sangat galak. Namun, saat adiknya membutuhkannya, dirinya sebagai Komandan Adiwangsa yang mengendalikan jutaan prajurit Perbatasan Selatan dan menaklukkan negara musuh, malah tidak bisa melindungi adik sendiri.
Saat menyiksa Eka Fazura, hati Adiwangsa juga sangat sakit. Karena betapa menderitanya Eka, betapa menderitanya juga siksaan yang adiknya alami.
Dia menyesal!
Dia benci!
__ADS_1
“Adi... Nia...”
Tiba-tiba terdengar suara orang bergumam.
Adiwangsa mengangkat matanya yang merah dan melihat ke tempat yang tertutup tirai putih. Dia berjalan mendekat. Saat membuka tirai itu, hatinya bergetar.
Ini Mustofa Suprapto!
Wajahanya telah babak belur, seluruh badannya telah diperban, area yang bisa dilihat juga memar.
Saat ini, Adiwangsa mengepalkan tangannya tanpa sadar dan menjadi sangat marah.
Tidak peduli Mustofa ini seberapa tidak bertanggung jawab, namun dia tetap adalah ayahnya!
Tidak peduli Adiwangsa betapa tidak ingin mengakuinya, dia tetap tidak bisa menghapus fakta hubungan darah mereka!
Setelah kejadian adiknya, Ayahnya pun dikeroyok sampai babak belur!
“Siapa pelakunya?”
Adiwangsa berdiri di samping Mustofa dan bertanya dengan geram. “Siapa pelakunya?”
“Nia... Nia... maaf...”
Mustofa belum siuman, dia hanya sedang bergumam di bawah sadar. Bahkan dalam keadaan koma pun, dia mengerutkan keningnya dan tampak sangat menderita.
Adiwangsa menggertakkan giginya, perasaan di dalam hatinya sangat rumit.
Apa Ayah yang tidak bertanggung jawab ini juga menderita?
Apa dia sedang mengkhawatirkan aku dan adik?
Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Pandangan Adiwangsa menjadi kabur.
Karena waktu kecil dirinya sering sakit dan lemah, jadi Mustofa selalu memanggilnya toples obat. Dia juga sama sekali tidak peduli padanya dan sibuk dengan bisnis keluarga sepanjang hari. Setelah ibunya meninggal, Mustofa menjadi sering mabuk-mabukan dan tidak pulang ke rumah.
Karena kehilangan Ibu, namun punya Ayah yang tiada bedanya dengan tidak ada, jadi Adiwangsa dan Niawangsa hanya bisa saling bergantung.
Adiwangsa benci dia.
Beberapa saat kemudian, Mustofa bahkan pulang membawa seorang wanita dan anak laki-laki yang seumuran dengannya. Itu adalah Permata Zaky dan Delvin Zaky.
__ADS_1
Ibunya baru meninggal tidak lebih dari setengah tahun, ayahnya sudah hendak menikahi wanita baru. Wanita itu bahkan adalah janda yang membawa anak!
Adiwangsa semakin membencinya.
Delvin Zaky sering menindas Niawangsa, setelah dipukul Adiwangsa, dia malah sering mengadu lebih dulu. Mustofa selalu menghukumnya, menyuruhnya untuk berlutut dan mengakui kesalahan. Dirinya tidak akan diberi makan jika tidak mau mengakui kesalahan.
Namun, bahkan sudah berlutut sepanjang malam atau hampir pingsan pun, Adiwangsa juga tidak pernah menyerah. Setiap saat seperti ini, adiknya akan diam-diam mengantarkan makanan dan minuman kepadanya.
Adiwangsa tidak pernah melihat pandangan kasih sebagai seorang ayah dari mata Mustofa. Dia benci kenapa dirinya adalah anak Mustofa! Dia menginginkan ayah yang penuh kasih! Bahkan jika ayah ini bukan kepala keluarga Suprapto yang agung, tapi hanya seorang pengemis, petani, atau buruh. Asalkan ayahnya bisa mengingat hari ulang tahunnya, bisa mengelus kepalanya sambil tersenyum, dan berkata: “Nak, ayah sangat mencintaimu.”
Cukup begitu saja!
Tapi!
Hingga Adiwangsa dijebak dan memikul identitas buronan, dia juga tidak mendengar sepatah kata dari Mustofa yang bermaksud membujuknya. Dia hanya bisa berkata: Dasar anak b*jingan! Beraninya kau menyinggung keluarga Hasan! Aku lebih baik memilih tidak pernah melahirkan anak sepertimu!
“Hahahaha...”
Adiwangsa tiba-tiba tertawa, air matanya pun jatuh saat dia tertawa.
Ayah ini, sungguh konyol!
Adiwangsa menarik napas dalam-dalam, mengerucutkan bibirnya, dan mengeluarkan jarum perak. Dia adalah keturunan dokter datuk. Hanya melihat sekilas saja dia tahu Mustofa ini dipukul sampai terluka parah. Kalau mau dibiarkan pulih secara alami, itu akan memakan waktu yang lama dan dia akan terus kesakitan.
Adiwangsa diam-diam menusukkan jarumnya.
Sangat cepat, alis Mustofa yang berkerut mengendur. Dia tidak merasakan sakit lagi.
Luka dalamnya sudah disembuhkan oleh Adiwangsa. Sedangkan luka luar, juga akan segera pulih dengan bantuan obat rumah sakit.
“Kamu bukan seorang ayah yang baik, tapi tetap adalah ayahku...”
Adiwangsa berkata di dalam hati, lalu menutup tirainya. Dia duduk kembali ke sisi ranjang adiknya. Dia menarik tangan adiknya yang dingin dan penuh dengan bekas darah, lalu berbisik dengan pelan. “Nia, nia... ini kakak... kakak sudah kembali... kamu tahu, tidak... kakak sudah sangat hebat. Kakak telah menghabiskan waktu selama 6 tahun di perbatasan selatan dan berhasil menjadi Komandan Perbatasan Selatan. Kakak bahkan bertarung sampai negara musuh menyerah...”
“Nia, ini semua salah kakak. Kakak yang tidak melindungimu dengan baik, tapi kamu tenang saja. Kakak tidak membiarkan siapa pun yang menyakitimu. Kakak sudah membunuh mereka semua! Ke depannya tidak akan ada yang berani menindas adikku lagi.”
“Dulu kamu selalu melindungi kakak, ke depannya, ganti kakak yang melindungimu. Kakak akan membelikanmu gaun cantik dan kue durian kesukaanmu, oke? Kakak juga bisa membawamu berwisata ke Danau Suci yang kamu sangat ingin pergi dan mengambil foto tercantik untukmu...
“Nia, bangunlah... kakak mohon... bangunlah... oke?”
Di luar kamar pasien, Rias Anggun dan yang lainnya bersikeras tidak ingin kembali. Mereka semua sedang menangis!
__ADS_1