
“Kak yang patuh, minum obat, ya! Kata Ibu, kakak akan mendingan setelah minum obat.”
Adiwangsa Suprapto yang lemah dan sakit-sakitan sejak lahir berbaring di kasur. Bahkan peramal juga berkata dirinya tidak bisa hidup sampai usia 10 tahun.
Niawangsa yang berusia 5 tahun memegang semangkuk obat dan menyuapinya ke mulut Adiwangsa dengan sangat hati-hati. Wajahnya yang imut tersenyum manis seolah-olah bisa menyembuhkan segalanya.
“Dasar orang-orang jahat! Jangan menindas kakakku!”
Adiwangsa yang baru SD kelas 3 selalu ditindas oleh teman sekelasnya. Niawangsa yang mengikat rambut kepang dua berdiri di depan Adiwangsa dengan ekspresi sangat galak. Namun, dia sendiri tidak tahu ekspresi ini sama sekali tidak terlihat galak malah sangat imut.
“Kak, kenapa gigiku ompong, ya? Kalau berbicara, cadel dan jelek sekali... Kakak masih ketawa! Kakak jahat! Aku benci!”
Niawangsa yang baru kehilangan gigi sulungnya sangat panik, tapi begitu melihat Adiwangsa yang menertawakannya dia langsung menghentakkan kakinya dengan marah.
“Kak, rok imutku cantik nggak?”
Setiap Ibu membelikan Niawangsa rok baru, Niawangsa pasti akan memamerkannya di depan Adiwangsa. Sedangkan Adiwangsa, dia selalu menjawab jelek dengan wajah cemberut.
“Huhuhu, Ibu sudah tiada. Kak, aku kangen Ibu...”
Pada hari Ibu meninggal, Niawangsa yang ceria menangis seperti anak anjing yang dibuang oleh majikan sambil menarik ujung baju Adiwangsa.
“Kak, cepat lari! Aku lihat pasukan yang berpatroli sudah mendekat. Ini uang yang telah kutabung sangat lama. Ambillah. Kakak harus jaga diri di luar...”
Wajah Niawangsa sangat merah dan terengah-engah. Dia mengeluarkan setumpuk uang kertas yang berbeda-beda nilainya dan menyerahkannya kepada Adiwangsa, lalu buru-buru berlari ke arah lain untuk mengalihkan patroli yang ingin datang menangkap Adiwangsa.
Hari itu, Adiwangsa baru saja melewati ulang tahun yang ke-20. Dia memegang erat uang itu, melihat adiknya berlari hingga tidak terlihat sosoknya di malam yang gelap, dunianya pun seperti telah jatuh ke kegelapan.
Matanya telah dipenuhi oleh air mata.
Adik yang dulunya begitu ceria dan imut tampak bertumpang tindih dengan gadis yang kini sedang berbaring di ranjang dengan malang.
Rasanya seperti ada sebuah tangan tak berwujud sedang mencengkam hatinya.
Kuat! Sangat kuat!
Seperti akan mencengkam hatinya hingga meledak!
Tap... tap... tap...
Langkah kaki yang berat bergema. Adiwangsa melangkahkan setiap kakinya dengan sekuat tenaga. Tulang belakang yang tinggi dan lurus sedikit membungkuk seolah-olah telah memikul 100.000 gunung di perbatasan selatan di atas punggungnya.
“Hormat kepada Komandan Adiwangsa!”
Lelaki tua itu segera membungkuk dan menarik murid yang linglung di sampingnya. Hati gadis itu terasa sangat kacau, dia hanya ikut menundukkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
Adiwangsa mengabaikan mereka. Dia berdiri di samping ranjang rumah sakit dan memeriksa kondisi adiknya dengan hati-hati.
Hati dan mental kuat yang ditempa selama 6 tahun telah hancur pada saat ini. Adiwangsa mengulurkan tangannya ke pergelangan tangan adiknya. Begitu merasakan denyut nadinya, niat membunuh yang mengerikan langsung menyebar tak terkendali. Baik lelaki tua yang dipanggil dokter genius oleh Bambang Perwira atau gadis yang di samping lelaki tua, wajah mereka sama-sama memucat, menjadi sesak napas, dan gemetar.
Untung saja, niat membunuh ini menghilang dalam sekejap.
“Tiga jarum Taoisme?”
Adiwangsa berkata dengan tenang.
“Be... benar...”
Lelaki tua itu merespons dengan cepat, namun tetap tidak bisa menahan nada suaranya yang gemetar.
Walaupun hanya sekejap, namun dirinya merasa seperti baru saja pulang dari neraka. Niat membunuh yang mengerikan ini tak bisa dilihat atau disentuh, tetapi ini niat yang terbentuk oleh lautan darah yang tiada batasnya.
Bahkan Rias Anggun saja tidak bisa menahan niat membunuhnya, apalagi lelaki tua dan gadis itu.
Kemudian, Adiwangsa menatap lelaki tua yang berjanggut dan rambut putih itu, lalu berkata dengan serius: “Terima kasih karena telah membantu adikku menunda waktu yang berharga. Aku berhutang budi padamu kali ini. Tunggu aku senggang, aku akan melengkapi 6 jarum tersisa untukmu.”
“Apa?”
Lelaki itu tercengang, lalu dia melihat ke arah Adiwangsa dan berkata dengan penuh semangat. “Komandan Adiwangsa sungguh bisa melengkapi 6 jarum Taoisme yang hilang?”
Rias berkata: “Komandan Adiwangsa selalu komitmen. Dia tidak akan memberi janji palsu, jadi tenang saja.”
Lelaki tua itu segera menarik gadis yang masih tertegun di tempat melangkah ke samping. Dia tahu betul, kini yang terpenting bagi Adiwangsa itu selamatkan gadis yang di ranjang.
Langkah kaki yang kacau buru-buru mendekat.
Bambang Perwira, Dustin Armando, semua telah datang.
Ada juga dua orang berjas lab putih.
Adiwangsa meliriknya dan bertanya: “Kok adikku ada di koridor? Memang rumah sakit nggak ada ruang kosong lagi?”
Nada suara Adiwangsa terdengar tenang, namun Bambang Perwira malah sangat panik. Dia bukan baru kenal dengan Adiwangsa. Dia sangat jelas, semakin tenang pria ini, semakin besar pula masalah dan amarahnya.
Dulu waktu pasukan kuat dari negara musuh menyerang diam-diam dan membantai habis desa kecil di perbatasan selatan, ketika tiba di tempat kejadian dan melihat mayat-mayat yang tergeletak di genangan darah, pria ini juga menunjukkan ekspresi ini dan berbicara dengan nada begini.
Tidak lama kemudian, pasukan kuat yang membantai desa kecil itu dikejar oleh Adiwangsa sampai ke negaranya, bahkan sampai melarikan diri ke 7 kota juga gagal.
Karena takut Adiwangsa mengambil tindakan yang mengakibatkan pertumpahan darah, Bambang Perwira segera mendesak. “Kok begini! Jelaskan!”
“Ini...”
__ADS_1
Wajah dua orang yang berjas lab putih memucat. Mereka tampak ragu-ragu untuk menjelaskan sesuatu.
Rias mengeluarkan ponselnya, lalu menggerakkan ujung jarinya di ponsel dengan cepat. Setelah beberapa saat, dia menyerahkan ponselnya kepada Adiwangsa.
Di layar ponsel, ada seorang pemuda yang pincang membuka pintu ruang rumah sakit dan berkata dengan arogan. “Aku mau ruang ini. Usir saja orang di dalamnya.”
Di samping pemuda itu ada seorang pria gemuk berjas lab putih. Dia mengangguk dengan wajah penuh senyuman, lalu membentak perawat dengan tidak senang. “Cewek ini sudah mau mati juga, untuk apa dikasih ruang? Dorong keluar saja! Sial sekali! Harusnya dia langsung didorong ke kamar mayat. Sudah begini pun, buat apa diobati lagi! Mati saja sudah!”
Lalu, Niawangsa didorong keluar kamar pasien dan pemuda pincang yang arogan itu berbaring dengan nyaman.
Sudut mata Adiwangsa berkedut, lalu dia berkata: “Hidup dokter ini terlalu nyaman di Kota Pantol. Bawa dia ke perbatasan selatan untuk dilatih. Kalau orang yang merebut kamar adikku... karena dia begitu suka berbaring, maka biarlah dia lebih menikmatinya.”
Tatapan Rias menjadi kejam dalam seketika, lalu memberi hormat. “Baik.”
Di seberang mereka ada sebuah kamar yang kosong, Adiwangsa mendorong ranjangnya ke dalam ruang itu. Lalu, Rias berjaga di luar pintu, mengeluarkan belati berwarna maron dari pinggangnya, dan memandang semua orang dengan tatapan dingin. “Dalam 3 meter, dilarang lewat. Jika melanggar, mati!”
Di dalam kamar, Adiwangsa membalikkan pergelangan tangannya. Lalu, dia mengambil 9 jarum perak yang panjangnya berbeda dari braket yang muncul.
Sambil mengeluarkan jarum, dia sambil berkata dengan lembut. “Nia, jangan takut. Kakak sudah pulang. Kakak akan menyelamatkanmu. Kakak ini keturunan dokter datuk yang berani merebut nyawa sama penguasa akhirat.”
Meskipun Adiwangsa berkata seperti itu, namun tangannya yang memegang jarum tetap bergetar. Ini pertama kalinya dia yang dapat menyelamatkan dunia dengan mudah, menusukkan jarum ke tubuh pasien dengan sangat hati-hati. Dia sangat takut jika salah sedikit akan membunuh adiknya atau lebih kuat sedikit akan membuat adiknya kesakitan.
“Kak...”
Tiba-tiba, ada panggilan yang nyaris tak terdengar.
Adiwangsa tercengang. Dia menatap ke arah Niawangsa, ternyata pandangan dia yang kabur dan lemah, sudah tidak mengenalinya lagi. Niawangsa hanya sedang bergumam pada diri sendiri.
“Nia, nia jangan takut. Kakak ada di sini! Kakak akan segera menyelamatkanmu. Jangan khawatir, sangat cepat, kok...”
Mungkin karena mendengar jawaban Adiwangsa, Nia berusaha keras membuka matanya dan sadar!
Pandangannya yang kabur dan lemah akhirnya menjadi jelas. Begitu melihat Adiwangsa yang berseragam militer, dia langsung memaksakan diri untuk tersenyum. “Kak... aku sangat kangen kakak...”
“Kakak juga kangen sama Nia. Nia tenang saja. Selama kakak di sini, kakak nggak akan biarkan Nia kenapa-napa.”
Nia memejamkan matanya dengan puas dan pingsan lagi.
Waktu berlalu sedetik demi sedetik. Dahi Adiwangsa telah penuh dengan butiran-butiran keringat yang meluncur dari pipi ke dagu dan menetes ke lantai. Perlahan-lahan, wajah Adiwangsa pun tampak panik.
Dia telah menusukkan jarum untuk menyelamatkan adiknya. Namun...
Adiknya sama sekali tidak ada tanda-tanda akan sadar! Sebelumnya, adiknya masih memiliki keinginan untuk bertahan hidup, tapi sekarang...
Keinginan untuk bertahan hidupnya telah hilang!
__ADS_1
Dia...
Ingin mati!