
"Kalau sudah bangun, pergilah!", ucap Adiwangsa Suprapto dengan tiba-tiba.
Mustofa Suprapto membuka matanya dan melihat wajah putranya yang tegas, tanpa ekspresi apa pun!
Padangannya seperti sedang menatap orang asing!
Mustofa berbicara dengan bibir bergetar: "A... Adi..."
"Pergilah. Cederamu sudah sembuh. Tempat ini tidak menerima keberadaanmu."
Mustofa merasa sangat kecewa dan buru-buru berkata: "Adi, Ayah tahu Ayah..."
"Aku tidak ingin dengar."
Adiwangsa bergeleng dengan tenang.
"Semua masa lalu telah berakhir. Pergilah, Nia tidak akan menjadi bebanmu lagi."
Mustofa merasa dirinya seperti tersambar petir. Setelah terdiam sejenak, dia mengangguk dengan kuat.
"Ayah telah bersalah kepada kalian kakak beradik. Ayah akan pergi."
Setelah berdiri, Mustofa pun pergi dengan langkah yang berat dan pinggang terbungkuk. Kini dia sungguh merasa sangat putus asa dan sedih.
Adiwangsa juga melihatnya, tapi dia tetap tidak bisa memaafkannya. Setiap orang harus membayar atas perbuatannya, tidak peduli siapa pun identitasnya.
Di luar pintu, Rias Anggun yang datang mengantar makanan hanya menyampingkan tubuhnya dan menundukkan kepala tanpa berkata sepatah kata pun ketika melihat Mustofa berjalan keluar dengan ekspresi murung.
Saat berjalan melewati Rias, Mustofa berhenti dan memandangnya dengan tatapan sangat tulus. "Nona."
Rias tertegun.
"Ka... kamu pacarnya Adi?" Mustofa bertanya.
Rias bergeleng.
"Saya tidak pantas untuknya."
__ADS_1
Mustofa berkata lagi dengan getir. "Bolehkah... aku memohon sesuatu padamu?"
"Silakan."
"Jagalah... dia baik-baik. Di... dia telah kehilangan kasih sayang dari seorang ayah sejak kecil..."
Rias tiba-tiba merasa sesak.
"Tolong..." Lalu, Mustofa pun pergi.
Sebelum keluar dari rumah sakit, Mustofa mendengar orang-orang membicarakan kelenyapan Triple Gate. Dia sangat terkejut dan segera menyapa orang-orang itu. "Bung, apa yang kalian katakan barusan? Triple Gate?"
"Kamu tidak tahu, bung?"
Pria yang mengenakan pakaian pasien menjawabnya dengan penuh semangat. "Triple Gate sudah lenyap! Triple Fazura, si baj*ngan sialan itu sudah mati! Inilah akibat terlalu banyak melakukan kejahatan..."
Beberapa saat kemudian, Mustofa baru tahu segala yang telah terjadi, lalu berbalik dengan pandangan kosong.
"Triple Gate telah dilenyapkan oleh Bos Misterius... Apa itu Adi? Tidak, tidak mungkin."
Mustofa terkejut oleh pikirannya, lalu langsung tersenyum pahit.
Lalu, Mustofa pun bersyukur. Untung saja Triple sudah meninggal, jadi putranya pun terlepas dari bahaya.
Baguslah... baguslah...
Setelah menghela nafas lega, Mustofa mengangkat kepalanya dan berjalan keluar rumah sakit. Lalu, tatapannya menarget ke arah Rumah Leluhur Keluarga Suprapto dengan penuh dendam: "Permata Zaky, aku akan membalas dendam untuk Vian! Tunggu saja kau!"
Mustofa tidak memberi tahu kebenaran yang telah diberi tahu Permata kepada Adiwangsa, karena dia tidak ingin putranya terjebak dalam bahaya lagi.
Kali ini, hanya kebetulan beruntung, karena Triple sudah mati. Namun, belum tentu keberuntungan ini akan terjadi kedua kali.
Permata itu wanita yang sangat kejam dan licik. Kekuasaannya juga lumayan luas. Jika ingin membalas dendam, bukanlah hal yang mudah, jadi ini tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan.
Mustofa ingin putra dan putrinya menjalani kehidupan yang santai dan bahagia. Biarkan saja sisa hidup dirinya memikul dendam-dendam ini sendirian! Dirinya akan bertarung dengan Permata dengan nyawanya!
Sedangkan di dalam kamar pasien, Adiwangsa membuang makanan ke lantai dengan keras.
__ADS_1
Adiwangsa sangat marah. "Rias! Apa kamu masih ingat dengan identitasmu?"
Rias berlutut dengan setengah lutut dan menjawab dengan mata memerah. "Saya Rias Anggun adalah salah satu dari 12 Jenderal Pasukan Kematian dan penanggung jawab sistem intelijen Perbatasan Selatan!"
Tatapan Adiwangsa sangat dingin. "Kamu masih tahu kamu ini salah satu dari 12 Jenderal Pasukan Kematian? Kamu masih tahu kamu ini penanggung jawab sistem intelijen Perbatasan Selatan? Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang? Jadi pembantuku? Prajurit pasukan ke-3 tidak perlu diurus lagi? Sistem intelijen dibiarkan saja?"
Ari Ghazi dan yang lainnya sudah kembali ke Perbatasan Selatan. Hukuman mereka meninggalkan perbatasan selatan tanpa izin telah ditanggung oleh Adiwangsa, karena dia telah menyalakan api serigala, jadi tidak ada yang berani menyalahkan penasihat dan kedua belas jenderal perbatasan selatan.
Lagi pula, Perbatasan Selatan yang begitu besar tentu saja tidak bisa tanpa komandan, apalagi ini adalah saat kritis negara musuh menyerah dan sedang menjalankan negosiasi.
Bambang Perwira telah pergi menggantikan Adiwangsa di perbatasan selatan sambil menunggu masalah ini berakhir dan Komandan Perbatasan Selatan yang baru menjabat.
Rias berkata dengan sedih: "Komandan Adiwangsa..."
"Jangan panggil aku Komandan Adiwangsa!"
Adiwangsa marah besar. "Enyahlah! Sekarang, langsung, segera kembali ke Perbatasan Selatan!"
Rias menangis dengan menderita, lalu berdiri dan memberi hormat. "Baik! Rias segera enyah! Komandan Adiwangsa jaga diri baik-baik!"
Rias yang tidak kalah dari pria, menangis dengan sedih, berbalik dan melangkah pergi. Saat keluar dari pintu kamar pasien, dia masih menutup pintu dengan pelan.
Setelah duduk kembali ke kursi, Adiwangsa menghela nafas lega dan sedih dengan ekspresi tak berdaya.
Begitu Api Serigala menyala, dirinya bukan lagi Komandan Adiwangsa. Kalaupun presiden, juga tidak bisa memerintahkan dirinya untuk menjabat lagi.
Tok tok tok...
Pintu kamar diketuk.
Kemudian pintu terbuka, dan seorang perawat masuk dengan sepanci air panas dan bertanya, "Apakah boleh menyeka pasien?"
"Boleh."
Adiwangsa mengambil sapu untuk membersihkan kekacauan di lantai, lalu meninggalkan kamar, dan turun ke bawah untuk membeli makanan.
Di aula di lantai satu, orang-orang berlalu lalang. Adiwangsa kemudian melihat banyak orang mengelilingi pintu.
__ADS_1
Tangisan seorang gadis kecil bergema dengan keras. Ketika Adiwangsa lewat, dia meliriknya, dan melihat seorang wanita tua, dengan rambut abu-abu, wajah tua yang keriput dan sederhana tampak sedikit pucat. Dia tergeletak di tanah dan sepertinya sedang koma.