
Syukurlah, Niawangsa masih hidup!
Syukurlah! Bulan masih hidup!
Syukurlah, dirinya sudah kembali!
Semua dendam ini, semua utang budi ini, akan berakhir secara perlahan!
"Tidak perlu buru-buru..."
Adiwangsa berbalik dan melihat lilin yang redup membentuk bayangan dirinya yang panjang.
Tatapan Adiwangsa menjadi lembut, karena melihat seorang gadis yang imut sedang menantikan kepulangan ayahnya.
Ayahnya telah pulang.
Bagi Adiwangsa, ini adalah kado terbaik seumur hidupnya.
Sosok yang kecil dan malang, mulai sekarang akan dia lindungi sendiri!
Adiwangsa tersenyum dan mengeluarkan ponselnya: "Gubernur Dustin, inginkan lebih lanjut?"
...
Bulan Hasan terbangun dari mimpi buruk. Lalu, saat melihat Adiwangsa, dia hendak memaki-maki secara langsung, tetapi dia malah melihat Adiwangsa mengangkat jari telunjuknya ke mulut sambil membunyikan suara "sst" dan menunjuk ke sisinya.
Mengikuti arah yang Adiwangsa tunjuk, Bulan melihat Anna yang wajahnya masih ada bekas air mata sudah tertidur pulas.
Bulan sangat sakit hati dan menderita. Begitu juga Adiwangsa. Lalu, dia pun berbalik dan keluar dari pintu.
Bulan membelai wajah anaknya yang lembut dengan tatapan sangat tegas, lalu berjalan keluar juga.
Sekeliling sangat tenang. Bulan malam hari bergantung tinggi di langit dan memancarkan cahaya yang terang.
Adiwangsa berbalik untuk melihat Bulan dengan tatapan sangat lembut dan penuh kasih. Namun, ini malah membuat Bulan semakin membencinya dan berkata dengan dingin: "Aku sudah bilang aku bukan Bulan Hasan. Rumahku tidak menerima kedatanganmu. Pergilah."
"Bulan, aku tahu apa saja yang telah kamu alami selama 6 tahun ini. Aku tidak akan menyangkal dengan apa yang telah aku alami juga selama 6 tahun ini. Bagaimanapun, akulah yang menghancurkan kehidupanmu. Jadi, kini aku ingin menebus dosaku padamu."
__ADS_1
"Hahahaha..."
Bulan tertawa dengan keras, namun rasa bencinya tidak berkurang sama sekali. Beberapa saat kemudian, Bulan berhenti tertawa. Matanya yang sudah tidak bercahaya lagi menangis.
"Menebusku? Adiwangsa Suprapto, kamu ingin menghapus 6 tahun ini dengan kata menebus yang begitu mudah?"
Dia tidak menyangkal lagi, tapi juga tidak akan menerima kedatangan Adiwangsa. Kalaupun dia sangat pintar dan tahu kejadian itu sangat mencurigakan, namun fakta tetaplah fakta. Hal yang sudah terjadi, tidak bisa disangkal lagi.
Sosialita Keluarga Hasan yang agung sudah menjadi wanita jelek yang dibenci semua orang. Kalau bukan Anna, Bulan sudah mati sejak dulu dan tidak akan bertahan hingga sekarang.
Pria ini kabur dengan begitu lincah dan kini malah tiba-tiba kembali sambil mengatakan ingin menebus mereka? Bagi dia, ini benar-benar konyol!
"Kamu harusnya percaya padaku."
Adiwangsa berkata dengan posesif: "Tidak peduli, akankah kamu memaafkanku, aku tetap akan bersamamu."
Bulan berkata dengan jijik: "Aku tidak perlu penebusanmu!"
Adiwangsa berjalan maju dan semakin dekat dengan Bulan. Ini membuat Bulan menjadi panik dan merasa semakin tertekan. Rasanya seperti sedang diancam oleh raja yang mendominasi. Tekanan seperti ini, belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Adiwangsa tersenyum.
Dengan kebencian Bulan padanya, sikap lembut itu tidak akan berguna. Jadi, dia hanya bersikap lebih posesif baru bisa tinggal di sisinya!
"Kamu takut denganku?"
Bulan menggertakkan giginya: "Aku benci kamu!"
"Sebenci apa?"
"Ingin membunuhmu!"
Adiwangsa membalik pergelangan tangannya dan mengeluarkan sebuah belati hitam yang diukir dengan kata "Selatan", lalu menyerahkannya kepada Bulan: "Ini, bunuhlah aku."
Bulan menggertakkan giginya lebih kuat lagi: "Kamu kira aku tidak berani?"
"Ya, kamu tidak berani."
__ADS_1
Mata Bulan memerah. Dia merebut belati yan di tangan Adiwangsa dan mengarahkannya ke arah Adiwangsa dengan emosi, lalu berteriak: "6 tahun ini, aku bahkan dalam mimpi pun ingin membunuhmu!"
"Lalu, apa yang kamu ragukan? Bunuhlah aku."
Adiwangsa maju selangkah dan membiarkan ujung belati itu menarget tepat pada bagian jantungnya. Namun, saat Adiwangsa maju selangkah, Bulan ketakutan dan segera mundur selangkah.
Adiwangsa maju selangkah lagi, dia mundur selangkah lagi.
Kedua tangannya yang memegang belati memutih dan gemetar dengan kuat karena emosinya yang kompleks.
"Lihat, kamu sebenarnya tidak begitu membenciku."
Tinggi badan Bulan hampir 170 cm, tapi Adiwangsa masih lebih tinggi satu kepala darinya dan melihatnya dari atas sambil tersenyum tipis.
"Aku mau membunuhmu!"
Mata Bulan menjadi merah total. Dia tersinggung oleh kata-kata Adiwangsa dan segera bergegas maju. Belati itu menusuk ke dada Adiwangsa, tidak dalam, tapi seragam tentaranya telah dibasahi oleh darah.
Bulan pun sadar kembali, lalu segera membuang belati itu dan mundur terhuyung-huyung.
Darah di dadanya semakin menyebar. Namun, Adiwangsa seolah-olah tidak merasa sakit dan masih tersenyum: "Kekuatan seperti ini masih ingin membunuhku? Ayo, lebih kuat lagi."
"Kamu..."
Seluruh tubuh Bulan bergemetar.
"Lihatlah, kamu sebenarnya tidak tega untuk membunuhku. Atau kamu takut, setelah membunuh aku, kamu akan dipenjarai. Lalu, bagaimana nasib Anna?"
Brak...
Bulan terduduk di lantai.
Air matanya menetes tanpa henti. Pandangannya sangat linglung dan terus bergeleng dengan menderita, "Kenapa? Kenapa aku sudah seperti ini, masih saja ingin... masih saja ingin menyiksaku?"
Jantung Adiwangsa yang meneteskan darah terasa sangat sakit. Ini jauh lebih sakit dari tusukan Bulan tadi. Lebih sakit seratus kali lipat! Seribu kali lipat!
Namun, Adiwangsa tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Bulan terlalu membencinya, jika tidak bersikap posesif, dia tidak akan menerima keberadaan dirinya!
__ADS_1