
Rias Anggun berdiri tegak di luar ruang KTV..
Belasan preman tergeletak di lantai. Mereka semua tampak seperti pingsan, tapi sebenarnya jantung mereka sudah diledakkan oleh tenaga dalam dan benar-benar mati.
Adiwangsa berjalan keluar sambil menyeret kerah baju Riski Bagas. Dia melirik semua itu dengan santai dan tidak peduli sama sekali.
Hanya sekelompok bajingan yang berlagak atas nama bos dan meminum darah manusia. Kematian mereka tidak pantas disayangkan.
Mustofa sudah tidak terkejut dengan kemampuan Rias. Dia juga tidak tahu sebenarnya preman-preman ini sudah mati seperti orang-orang di dalam ruang KTV. Namun, dia tetap sangat ketakutan. Kali ini mereka telah benar-benar menyinggung Triple Fazura.
Triple Fazura, loh! Raja tanpa mahkota di Kota Pantol! Orang berkuasa yang bahkan empat Keluarga Besar harus menyeganinya! Orang yang bahkan harus Mustofa hormati saat Keluarga Suprapto masih berjaya!
“Ayah tahu ayah ini bukan ayah yang kompeten. Tapi, bisakah kau dengarkan ayah sekali saja? Ayah akan tetap di sini untuk selamatkan Nia. Kau cepat tinggalkan kota Pantol dan jangan pernah pulang lagi!”
“Adi, kau sungguh mau membuat keluarga Suprapto habis di tangan ayah? Tolong tinggalkan satu keturunan, ya?”
“Ayah mohon!”
Adiwangsa tidak peduli dengan permohonan ayahnya yang terdengar sedih, dia melemparkan Riski yang sudah hampir gila ke Rias dan berkata dengan keras: “Kau selamatkan dia? Memang kau tahu gimana kondisi Nia sekarang? Dia masih terbaring di rumah sakit! Kalau aku nggak buru-buru pulang, dia sudah mati! Kau tahu gimana dia disiksa?”
“Apa?”
Mustofa buru-buru bertanya: “Nia sudah berhasil diselamatkan? Di rumah sakit mana?”
“Diselamatkan? Heh.”
Adiwangsa mencibir. “Tidak ada yang menyelamatkannya. Dia telah disiksa mati-matian. Dia sendiri yang berhasil melarikan diri saat penjaga nggak waspada, tapi dia malah terpaksa harus melompat dari lantai 5 ke bawah! Wajahnya sudah nggak bisa dikenali, organ dalamnya hancur semua, seluruh tubuhnya berlumuran darah! Dia masih hidup, tapi apa bedanya dengan mati! Itu adikku, putrimu!”
“Mustofa Suprapto! Kau ini benar-benar ayah yang baik!”
Adiwangsa menarik nafas yang dalam, lalu berkata tanpa ekspresi apa pun. “Kau pergi saja. Tinggalkan Kota Pantol untuk sementara waktu. Aku akan bantu Nia balas dendam dan buat semua yang menyakiti Nia menanggung resikonya! Tunggu semuanya telah selesai, kau baru pulang lagi.”
“A... aku...”
Perasaan sedih yang kuat menyebar di hati Mustofa. Saat ini, dia tampak seperti menua puluhan tahun dalam seketika. Dia mengepalkan tangannya dengan erat dan membenci dirinya yang tak berguna.
Adiwangsa mengabaikannya. Dia berjalan dan pergi dengan tenang.
Rias menyeret Riski dengan satu tangan dan mengikuti Adiwangsa dari belakang dengan diam.
Di luar pintu KTV Triple Gate, Mustofa tersesat dan kebingungan.
Hembusan angin malam bertiup.
Jelas-jelas ini adalah angin pertengahan musim panas di bulan Agustus, tapi kenapa dia merasa dinginnya sangat menusuk seperti angin bulan Desember.
Beberapa saat kemudian, Mustofa kembali sadar. Dia melihat ke arah tertentu dengan pandangan sangat malu.
Arah itu adalah letak rumah leluhur keluarga Suprapto. Mustofa berjalan menuju rumah leluhur dengan langkah yang berat.
Keadaan saat ini, kalau masih ada yang bisa menyelamatkan mereka sekeluarga 3 orang, maka hanya tersisa orang itu. Meskipun orang itu telah memberinya penghinaan dan rasa sakit yang mengakar, tapi ini sudah kesempatan terakhirnya!
Demi putra dan putrinya, bagaimanapun, dia harus mencobanya!
__ADS_1
Di bawah langit yang gelap, Mustofa mengeluarkan raungan yang pelan, meningkatkan kecepatannya dari berjalan menjadi berlari seperti ngengat yang hendak mencari mati, lalu menghilang di dalam kegelapan.
...
Lampu neon yang indah memberikan kota Pantol lapisan kain kasa yang berwarna-warni.
Selama perjalanan, Adiwangsa tidak terburu-buru maupun terlalu santai. Namun, dia tetap diam saja. Rias yang menyeret Riski di belakangnya juga tidak mengatakan apa pun. Hanya saja, matanya yang cantik itu menunjukkan emosi kasihan dan dendam yang kuat.
Pria ini memikul dan menanggung terlalu banyak hal. Dia sungguh terlalu lelah.
Adiwangsa tiba-tiba berhenti. Dia mengangkat kepalanya sedikit dan melihat papan tanda yang memancarkan cahaya neon.
Hotel Grand Masa.
Adiwangsa mengepalkan tangannya tanpa sadar. Aura yang menakutkan menyebar keluar.
Inilah tempat adiknya menerima siksaan yang menyayat hati dan membuatnya terpaksa harus melompat dari jendela ke bawah!
Adiwangsa memiliki keinginan untuk menghancurkan gedung ini tanpa meninggalkan jejak apapun! Dia melangkah lagi dan memasuki hotel.
Begitu bel pintu berbunyi, pintu kaca langsung terbuka.
“Selamat datang.”
Adiwangsa berkata. “Beri aku satu kamar. Aku mau no. 502.”
“Apa?”
Senyuman resepsionis membeku.
Kamar itu masih bisa ditempati?
Lalu, resepsionis melihat ke bawah dan melihat Riski yang wajahnya penuh dengan darah.
“Pak Ris...”
Resepsionis depan tidak bisa menahan diri untuk berteriak, tapi dia segera menutupi mulutnya dan menatap Adiwangsa dengan ketakutan.
Orang yang berseragam militer... beraninya dia menyerang Pak Riski! Siapa dia?
Sambil berpikir, resepsionis itu mengulurkan tangannya dan menekan tombol merah yang di bawah meja.
Adiwangsa berkata dengan santai. “Hotel ini nggak ada tamu lain?”
“Nggak ada...”
Resepsionis bergeleng tanpa sadar.
Tadi sore telah terjadi kejadian besar. Setelah selesai mengikuti berbagai inspeksi dan menyelesaikan semuanya dengan susah, akhirnya hotel mereka baru bisa buka kembali sekarang.
Adiwangsa adalah pelanggan pertama yang memasuki pintu hotel.
“Kalau begitu, jangan buka dulu. Rias, kunci pintu.”
__ADS_1
“Baik.”
Rias meletakkan Riski dan berjalan ke pintu besar. Dia menutup pintu, mengambil kunci rantai yang digantung di pegangan pintu, memutarkan nya, dan mengikat kunci rantai itu.
Resepsionis melototi semua ini dengan bingung.
Apa ini manusia?
Jangankan wanita yang lemah lembut, bahkan pria yang kekar pun tidak bisa memutarkan dan mengikat kunci rantai, ‘kan?
Segera setelah itu, resepsionis kembali sadar dan melangkah mundur.
Tujuan kedatangan orang ini tidak baik!
Tap... tap... tap...
Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Semua orang muncul di tangga spiral di kedua sisi hotel, serta dua lift hotel.
Kalau dari luar, ini memang hanya hotel biasa. Namun, di bawah hotel ini terdapat arena tinju bawah tanah, tempat petinju ilegal bermain. Ini juga merupakan usaha penting Triple Fazura, jadi ada banyak yang berjaga di sini.
Begitu resepsionis menekan tombol merah di bawah meja, penjaga-penjaga itu langsung menyerbu keluar karena mereka tahu ada yang datang membuat keributan. Namun, saat melihat yang datang hanya 2 orang, mereka semua tertegun dan tersenyum.
“Hanya berdua saja berani mencari masalah? Berani sekali! Maju, bunuh cowok itu dan sisakan yang cewek!”
Semua orang mengepung mereka berdua. Rias diam-diam mengeluarkan belati maroon di pinggangnya, lalu menyerbu dengan agresif seperti kilat!
...
Di luar pintu gerbang KTV telah dikelilingi oleh tim inspektur.
Bambang Perwira duduk di mobil hitam tanpa plat. Sudut matanya terus berkedut.
Sangat cepat, bawahannya datang dan melapor dengan hormat. “Tuan, 32 orang, mati dalam satu pukulan fatal, tidak berdarah sama sekali.”
Bambang Perwira menelan seteguk ludah. “Sembunyikan!”
“Hotel Grand Masa, 35 orang, menggunakan senjata, semua berlumuran darah.”
Bambang terdiam sejenak.
“Tuan?”
“Tetap...”
Suara Bambang sangat rendah: “Sembunyikan!”
“Baik.”
Bawahannya telah pergi. Bambang melemas dan duduk di situ dengan perasaan sangat kacau.
Beberapa saat kemudian, Bambang membuka pintu dan turun dari mobil dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Begitu tertiup angin malam hari, dia tidak bisa menahan diri untuk menggigil. Dia mengeluarkan rokok dan mancis dari sakunya. Tangannya yang bergetar menekan mancis itu berulang kali dan gagal menyalakan rokoknya. Akhirnya, dia membuang mancis itu ke tanah dengan penuh emosi.
Dia menggigit rokok yang belum dinyalakan, mengangkat kepalanya, dan melamun.
__ADS_1
Langit sangat gelap, namun dia merasa dirinya bisa melihat langit merah yang dipenuhi oleh darah.