Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 27 Mempermalukan!


__ADS_3

Ketika Terry Mohammad memberitahukan semua informasi, Adiwangsa Suprapto pun melepaskan pegangan besi yang telah berubah bentuk, dan meninggalkan sidik jari tangan kanannya dengan jelas.


"Tuan Adiwangsa, wanita licik ini sungguh mengerikan! Hanya Anda satu kata saja, saya akan segera memenggal kepala Ibu dan anak itu, lalu mengantarkannya kepada Anda!"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


Suara Adiwangsa terdengar seperti es yang sudah membeku ratusan tahun.


Permata Zaky! Wanita inilah dalang sebenarnya yang mengakibatkan Keluarga Suprapto menjadi sekarang seperti ini!


Apakah Bambang Perwira tidak menyelidikinya? Atau dia sudah menyelidikinya, tapi tidak berani memberitahu dirinya?


Niat membunuh Adiwangsa meluap-luap!


Kini semua orang yang di koridor merasa ketakutan dan kedinginan! Ada juga yang terjatuh dan berteriak kesakitan.


Pada saat ini jugalah, Adiwangsa menarik balik pemikirannya dan memendamkan niat membunuhnya. Sudut matanya terus berkedut karena sangat emosi. Dia benar-benar ingin membakar habis dunia yang gelap ini! Bagaimana bisa ada manusia yang sekejam itu! Demi keuntungan pribadi, apa lagi yang tidak bisa dia lakukan?


Terry berkata lagi: "Tuan Adiwangsa! Saya utus beberapa orang untukmu, ya. Tenang saja, bukan orang Aliansi Skythorn."


Adiwangsa awalnya ingin menolak, namun setelah dipikir-pikir, dia berangguk, "Oke, suruh mereka datang cari aku."


"Baik, Anda tenang saja. Saya tidak akan membocorkan identitas Anda."


Terry menutup telepon dengan senang.


Meskipun Adiwangsa bukan lagi Komandan Perbatasan Selatan, namun kemampuannya yang bisa melenyapkan 9 dewa perang negara musuh sendirian dan keterampilan medisnya yang dapat berebut orang dengan Penguasa Akhirat, masih sangat pantas bagi Aliansi Skythorn untuk membantunya.

__ADS_1


Orang yang ingin menjalin hubungan baik dengan Adiwangsa dan mendapat bantuannya sangat banyak, tapi mereka semua tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya!


Bagi Terry, bisa dihubungi oleh Adiwangsa secara langsung dan membantunya adalah kehormatan yang langka bagi Aliansi Skythorn.


Setelah bergembira sejenak, Terry segera serius kembali dan meninju ke meja sambil berteriak: "Wanita ini benar-benar terlalu kejam dan menjijikkan. Kalau sampai jatuh di tanganku, aku akan memotongnya hingga berkeping-keping!"


Di dalam rumah sakit, Adiwangsa berjalan pergi dengan cepat.


Jgeeer...


Di tanah yang datar, tiba-tiba ada guntur dari langit. Tak lama kemudian, hujan deras di musim panas menyapu rata seluruh kota!


"Gubernur, orang itu telah meninggalkan rumah sakit!"


Dustin Armando mendapat informasi dari orang yang di rumah sakit, lalu segera berkata: "Suruh semuanya jaga orang yang di dalam kamar pasien dengan baik, kemudian pilih 2 orang untuk ikuti dia dari kejauhan dan lihat ke mana dia pergi. Jika ada masalah, segera bertindak, jangan ragu-ragu!"


Setelah menutup telepon, Dustin melihat ke langit yang gelap dan menghela nafas tanpa daya.


Jgeeer...


Guntur bergulir. Di tengah hujan lebat, ada sebuah taksi yang tiba di Jalan Hatta.


Jalan Hatta merupakan daerah perkumpulan bisnis dan sangat makmur. Meskipun hujan lebat, tapi masih banyak orang yang berbelanja di sini dengan payung.


Setelah membayar uang taksi, Adiwangsa pun turun dari mobil dan memasuki Jalan Hatta secara langsung. Melewati Jalan Hatta, ada area pembongkaran yang direncanakan, bangunan bobrok menyebar beberapa kilometer, membentuk kontras yang tajam dengan Jalan Hatta yang ramai. Tempat ini belum dibongkar, tetapi sudah termasuk dalam perencanaan dan hak penggunaan tanah telah dibeli oleh grup real estat. Jika ingin merelokasi dan membangun kembali, juga perlu membayar kompensasi pembongkaran.


Perusahaan real estat yang membeli hak guna tanah ini adalah Grup Hatta. Jalan Hatta adalah pusat komersial yang dikembangkan oleh grup ini dan telah menghasilkan banyak uang. Dengan begitu, daerah yang di ujung tentu saja enggan melepaskannya karena ini telah menjadi daerah ikon Kota Pantol dan menjadi sumber pendapatan terbesar.

__ADS_1


Namun, yang disebut pengusaha, tentu saja lebih mementingkan keuntungan. Mengeluarkan biaya yang paling kecil untuk mendapatkan keuntungan paling besar merupakan target semua pengusaha.


Perbedaannya hanyalah, ada pengusaha yang memiliki dasar moral dan ada pengusaha yang tidak bermoral. Karena kompensasi yang diberikan sangat sedikit, jadi ada banyak orang yang tidak bersedia bangunannya dibongkar. Hal ini juga telah menimbulkan beberapa konflik dan tidak pernah terselesaikan. Namun, Grup Hatta sama sekali tidak tergesa-gesa, karena cepat atau lambat, tanah ini akan menjadi milik mereka selama mereka memiliki tim pembongkaran yang profesional.


Waris Hutama, ketua tim pembongkaran. Saat ini, dia sedang merokok dengan santai sambil menginjak seseorang di kakinya.


"Ugh..."


Orang yang diinjak Waris mengeluarkan suara kesakitan.


"Ya! Siapa ini?"


Waris seolah-olah baru sadar, dia telah menginjak orang dan segera memindahkan kakinya, lalu berjongkok dan mengamati orang itu dengan saksama. Dia sengaja berteriak dengan berlebih-lebihan: "Bukankah ini Kepala Keluarga Suprapto, Bapak Mustofa Suprapto? Kenapa Anda ada di sini? Maaf, maaf. Saya tidak tahu Anda tidur di bawah saya. Sungguh maaf. Siapa yang di situ, melongo apaan? Cepat papah Kepala Keluarga Suprapto untuk bangkit!"


Kedua bawahan yang di samping segera berangguk dan tersenyum jahat. Mereka berdua berjalan ke kiri dan kanan untuk mengangkatnya. Kini pakaian Mustofa agak berantakan, wajahnya juga memar dan bengkak. Jelas sekali, baru saja dipukuli.


"Kepala Keluarga Suprapto, kenapa datang tanpa memberi tahu lebih dulu? Kalau tidak, saya 'kan bisa berlutut di depan pintu untuk menyambut Anda. Waduh, Anda kenapa? Siapa yang memukul Anda?"


Waris sok-sok berteriak dengan emosi. "Kalian! Ada apa ini? Siapa yang memukul Kepala Keluarga Suprapto?"


Bawahan yang di samping berjalan mendekat sambil mengedipkan mata dan berkata dengan pelan: "Maaf, bos. Aku yang memukulnya."


"Kamu yang pukul?"


Waris menunjukkan ekspresi sangat marah dan berteriak: "Kenapa memukul Kepala Keluarga Suprapto? Kepala Keluarga Suprapto menyinggungmu? Bagaimana aku harus memarahimu? Kami ini benar-benar..."


"Maaf, bos. Maaf, maaf."

__ADS_1


Waris terus menceramahi bawahan itu, dan bawahan itu pun terus meminta maaf. Kelihatannya sangat natural. Orang yang tidak tahu, pasti akan mengira Waris itu sangat menghormati Mustofa.


__ADS_2