
Pukul 12 tengah malam.
Kota yang mendung akhirnya hujan. Pejalan kaki yang di jalan mencari tempat teduh masing-masing. Payung yang warna-warni terlihat seperti bunga yang mekar di malam hari.
Di suatu jalan terpencil, Mustofa Suprapto berjalan terhuyung-huyung dengan wajah penuh memar. Hujan telah membasahinya dan menetes dari dagunya hingga ke tanah.
Tidak tahu juga itu air hujan atau air mata.
Dia berjalan seperti mayat berjalan. Pandangannya tampak linglung dan putus asa.
Dia yang dilempar keluar setelah dikeroyok, seperti telah mati rasa, karena seluruh hatinya sudah terjatuh ke dalam jurang yang tidak berujung. Permata tidak memukulnya sampai mati. Dia mau membiarkannya melihat anak-anaknya mati hidup-hidup.
Anak meninggal lebih dulu daripada orang tua adalah hal yang paling kejam di dunia ini. Permata ingin Mustofa merasakannya.
Dalam telinga Mustofa terus bergema suara tawa Permata yang menusuk seperti iblis.
Darah di mulutnya terus mengalir, lalu dia terjatuh di tengah hujan. Dia terus menggumamkan kata “iblis” hingga akhirnya pingsan.
Sangat cepat, ada sebuah payung hitam berjalan mendekat. Payung hitam terangkat, Bambang Perwira menghela napas pelan. “Antar dia ke rumah sakit No. 1. Atur dia ke kamar Niawangsa. Suruh dokter genius untuk periksa dia.”
“Baik.”
...
Hotel Grand Masa.
Lampu neon terus berkedip di tengah hujan lebat. Pintu hotel tertutup rapat. Lobinya sangat bersih dan tiada seorang pun, sama sekali tidak terlihat ada 35 mayat yang berlumuran darah tergeletak di sini sebelumnya.
Rias Anggun telah membuka kamar No. 502. Begitu lampu menyala, hati Adiwangsa Suprapto pun bergetar dengan sakit. Seluruh kamar penuh dengan bekas darah yang sudah mengering.
Goresan berdarah yang di dinding membuat Adiwangsa bisa membayangkan adegan bagaimana adiknya menggaruk dinding dengan panik.
Beberapa alat penyiksaan yang digunakan untuk menyiksa masih terletak di sini. Alat-alat ini juga berlumuran darah. Itu semua darah Niawangsa.
Jendela di sebelah kiri telah rusak. Ada bekas darah yang sangat jelas di ambang jendela. Itu juga jejak yang ditinggalkan Niawangsa. Dia melompat dari sini setelah disiksa mati-matian!
Adiwangsa duduk di satu-satunya sofa yang bersih. Dia melihat ke sudut langit kamar. Di situ ada satu kamera kecil yang tidak terlihat jelas.
“Nyalakan TV.”
Adiwangsa berkata dengan santai. “Aku mau lihat rekaman CCTV.”
“Komandan Adiwangsa...”
Wajah Rias tampak sangat khawatir. Dia takut Adiwangsa tidak bisa menahannya.
“Aku harus melihat siksaan apa saja yang telah adikku alami supaya aku bisa tahu aku yang menjabat sebagai Komandan Perbatasan Selatan… betapa tak bergunanya.”
__ADS_1
Nada suara Adiwangsa terlalu datar, datar sampai hati Rias bergetar tanpa sadar.
Rias tidak berani menentangnya, lalu dia mengeluarkan ponsel untuk menghack rekaman CCTV hotel.
Dua belas jenderal pasukan kematian, masing-masing memiliki kemampuan sendiri. Rias Anggun ini, selain sangat kuat, juga sangat hebat memperoleh informasi. Seluruh sistem intelijen eksternal Perbatasan Selatan berada di bawah kendalinya.
Tidak lama kemudian, ada adegan yang ditayang di TV.
Niawangsa dibawa masuk dalam keadaan mata tertutup dan diikat. Lalu, kedua tangannya diikat di sebuah salib.
Ada satu cowok dan dua cewek yang berpakaian mewah berjalan masuk. Salah satu cewek yang langsing dengan riasan tebal berjalan mendekat dan melepaskan tutup kepala Niawangsa. Wajahnya yang termasuk cantik tampak puas.
“Eka Fazura!”
Niawangsa terkejut. “Kau mau ngapain?”
“Mau ngapain? Haha, menurutmu? Kau kira kau ini masih putri keluarga Suprapto yang dulu? Beraninya kau merebut perhatian orang dariku di sekolah! Aku dari dulu sudah nggak senang sama kau! Nggak disangka kau bahkan berani menyelidiki alasan kematian ibumu. Salahkan saja dirimu telah menyinggung orang yang tak seharusnya kau singgung!”
“Rupanya kematian Ibuku sungguh bermasalah! Ada hubunganya denganmu, ya?” Niawangsa bertanya dengan marah.
“Hei, beraninya kau menatapku dengan tatapan seperti itu! Sungguh menjijikkan! Riski! Riski!”
“Nona besar!”
Riski Bagas berjalan masuk dengan senyuman menjilat.
“Nona, tenang saja. Dijamin memuaskan Anda! Hehehe...”
Riski melambaikan tangan, lalu ada dua preman yang berjalan masuk.
Eka Fazura dan dua anak konglomerat tadi duduk di sofa dan tertawa senang. Mereka menantikan pertunjukkan seru seolah-olah telah membeli tiket untuk menonton film di bioskop.
Lalu, dua preman berjalan mendekati Niawangsa dengan membawa tali di bawah perintah Riski.
Mulai saat ini, penderitaan Niawangsa dimulai!
Adiwangsa melihat adegan di dalam TV tanpa mengedipkan matanya dan berkata: “Bangunkan Riski Bagas.”
Rias telah menundukkan kepalanya dari tadi. Dia sama sekali tidak berani melihat adegan di dalam TV. Begitu mendengar perintah Adiwangsa, dia langsung menginjakkan kakinya ke atas betis Riski.
Krak!
“AHHHHH!”
Riski yang sudah pingsan langsung membuka matanya dan meratap kesakitan karena rasa sakit patah tulang.
Adiwangsa masih melihat adegan dua preman itu mengikat perut Niawangsa dengan tali dan menarik dari kiri kanan seolah-olah sedang menarik tambang melalui TV.
__ADS_1
“Sudah bangun? Telepon Eka Fazura.”
Riski tidak berani meratap lagi, kalaupun seluruh badannya bergetar karena kesakitan.
“Apa!”
Jeritan bernada tinggi bergema di seluruh kamar.
Riski gemetaran, lalu dia mengangkat kepalanya tanpa sadar. Matanya melebar! Dia baru sadar dia sedang berada di Kamar No. 502 Hotel Grand Masa. Kini di TV sedang menayangkan adegan dia menyiksa Niawangsa!
Riski merasakan hawa dingin mengalir dari belakang punggungnya ke atas kepala. Wajahnya menjadi sangat pucat. Dia segera berlutut dan bersujud, lalu meratap: “Tuan Muda Adiwangsa! Tolong maafkan saya! Eka Fazura yang memaksa saya melakukan itu semua! Itu sama sekali tidak berhubungan dengan saya...”
Suara Niawangsa berteriak kesakitan terus bergema. Suara ini membuat Rias merasa sangat mengerikan.
Penyiksaan!
Penyiksaan terkejam!
Takutnya bahkan veteran perbatasan selatan yang tangguh dalam pertempuran pun susah menahannya, apalagi seorang anak gadis yang begitu lemah lembut?
Tatapan Rias menjadi sangat kejam. Dibanding ketenangan Adiwangsa, dia merasa dirinya sudah mau gila, seolah-olah gadis yang disiksa di dalam TV itu adik kandungnya sendiri!
Belati yang penuh dengan bekas darah menempel di leher Riski. Bilah belati yang tajam telah membelah kulitnya. Darah pun telah mengalir dari bilah ke ujung belati, lalu menetes ke lantai.
“Telepon! Kalau nggak, aku akan memotong dagingmu sepotong demi sepotong!”
Suara mengerikan bergema di telinga Riski. Jantungnya berdetak dengan kencang, seperti akan meledak. Seluruh wajahnya yang pucat pasi menjadi merah total.
Di bawah ancaman kematian yang ekstrem, Riski buru-buru berkata: “Aku telepon! Ampuni aku! Aku segera telepon! Segera telepon!”
Riski mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetaran, lalu dia menemukan nomor Eka Fazura dan menghubunginya.
Dia sudah tidak peduli dengan akibatnya lagi.
Tidak telepon harus mati, telepon juga harus mati. Dia lebih baik mati nanti supaya masih bisa berdoa untuk mendapatkan kesempatan hidup.
Kini Riski benar-benar sangat menyesal. Kalau tahu akan menjadi begini, dibunuh pun dia tidak akan berani mendengar perintah Eka Fazura dan menyiksa Niawangsa.
Bunyi tut tut tut di dalam telepon seperti lonceng kematian yang berdentang.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
Di ujung telepon terdengar suara angkuh seorang cewek. “Riski, kau mau mati, ya! Untuk apa kau telepon aku malam-malam begini! Kalau kau nggak ada alasan yang masuk akal, aku akan memotong jari yang kau gunakan buat telepon!”
Riski buru-buru berkata: “Nona besar, kakaknya Niawangsa telah pulang. Kini dia ada di kamar 502 Hotel Grand Masa. Aku sudah menangkapnya. Nona mau datang lihat nggak?”
“Siapa? Kakaknya Niawangsa? Buronan yang telah menghancurkan Bulan Hasan pada 6 tahun lalu? Si Adiwangsa? Haha! Menarik! Oke, deh. Karena ini cukup menarik, aku terpaksa menontonnya secara langsung. Oh, iya! Trik yang digunakan untuk Niawangsa bisa digunakan sekali lagi! Tunggu aku tiba baru mulai, ya!”
__ADS_1