
Di bulan Agustus yang terik, padahal ini baru pukul 10 pagi, namun terik matahari telah menunjukkan kehangatannya dan menyelimuti seluruh Kota Pantol dengan cahayanya. Hanya berjalan santai saja, pasti akan berkeringat karena kepanasan.
Namun, saat ini Triple Fazura malah merasa sangat dingin, rasanya seperti di negara yang sedang musim dingin. Tubuhnya menggigil!
Adiwangsa Suprapto yang begitu tenang setelah ditargetkan pistol, sungguh adalah Komandan Perbatasan Selatan?
“Triple Fazura! Jangan bertindak bodoh! Cepat turunkan pistolmu!”
Dustin Armando berteriak lagi.
Meskipun api serigala sudah dinyalakan dan Adiwangsa Suprapto sudah ditakdirkan tidak dapat menjabat sebagai Komandan Perbatasan Selatan lagi, tapi dia tetap tidak bisa membayangkan akibat seseram apa yang akan terjadi jika Adiwangsa Suprapto meninggal di Kota Pantol.
Tiba saat itu, seluruh pasukan Perbatasan Selatan yang marah pasti akan meratakan seluruh Kota Pantol, ‘kan?
Triple terhuyung dan mundur dua langkah. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Semua orang Triple Gate yang tersisa terkejut!
Mereka... sedang melawan Komandan Perbatasan Selatan?
Ini sudah bukan hanya cari mati!
“Bunuh.”
Adiwangsa berkata dengan nada suara yang dingin seperti biasanya.
Dua belas jenderal melanjutkan pembantaian!
Suara ratapan terdengar di mana-mana, tapi tiada satu pun yang berani melawan!
Hampir semuanya ketakutan. Mereka berlutut dan berteriak sambil menangis. “Mohon ampuni kami, Komandan Adiwangsa! Kami semua terpaksa!”
“Ini tidak berhubungan dengan kami! Mohon ampuni kami, Komandan Adiwangsa! Kami ini dipaksa oleh Triple Fazura!”
“Kalian!”
Triple Fazura menoleh ke belakang dan menggertakkan gigi.
Dor!
Pistolnya menembak.
Kepala orang yang pertama berlutut untuk memohon pengampunan telah ditembak. Benda merah putih berlumuran, mayat itu tergeletak, dan masih ada ekspresi ketakutan di wajahnya.
Semua terdiam. Teriakan Triple Fazura bergema di telinga semua orang. “Siapa yang memohon ampun akan aku tembak! Aku memelihara kalian bertahun-tahun bukan untuk membiarkan kalian mengkhianatiku di saat kritis!”
Saat berikutnya, Triple Fazura menargetkan pistolnya ke arah Adiwangsa lagi. Lalu, dia berteriak dengan gila. “Memangnya kenapa kalau kau ini Komandan Perbatasan Selatan? Kau berani muncul di Kota Pantol, pasti juga sudah melanggar hukum negara!”
Sambil berkata, dia melihat ke arah Bambang Perwira. “Jika kau sungguh Ketua Inspektur Lembaga Pengawasan, kau harusnya tangkap dia!”
Bambang tersenyum dan melihatnya dengan lucu. Dia belum pernah melihat semut yang sebodoh ini. Namun, pada saat yang sama, tatapannya menjadi lebih dingin.
Jelas sekali dia tahu yang dia lawan itu Komandan Perbatasan Selatan, tapi dia masih berani berlagak seperti ini. Anjing yang dipelihara dalang di balik semua ini benar-benar sangat berani!
“Aku sudah tahu!”
__ADS_1
Triple berkata dengan keras. “Ketua Inspektur Lembaga Pengawasan Naga Emas bersekongkol dengan Komandan Perbatasan Selatan, ‘kan? Kau ini melalaikan tugas! Kalau berita ini disampaikan ke Ibukota, kau pasti tidak sanggup menanggung risikonya!”
“Lancang!”
Jantung Dustin hampir meledak.
Triple ini sebenarnya telah memakan empedu macan tutul atau nyali beruang? Berani sekali!
Dia memang sangat berkuasa di Kota Pantol, namun jika dibanding dengan Komandan Perbatasan Selatan maupun Ketua Inspektur Lembaga Pengawasan Naga Emas, dia, Triple Fazura itu bukanlah apa-apa!
Bagaimana dia bisa berani berkata seperti itu?
“Memangnya aku salah?”
Sebenarnya, Triple sudah sangat ketakutan. Kedua kakinya terlihat jelas sedang gemetar. Namun, dia tahu, dia tidak boleh mengalah. Jika tidak, dia pasti akan dihabisi! Lagi pula, tidak mungkin bisa menguasai langit Kota Pantol ini dengan kemampuan dia seorang. Dia yakin orang di belakangnya pasti akan menyelamatkannya!
Mungkin saja, jika dia membalas dengan lebih kejam dan terlihat lebih tidak ketakutan, orang di belakangnya juga akan lebih mempercayainya. Ke depannya, dirinya tidak hanya bisa menguasai langit di Kota Pantol, tapi juga langit di seluruh daerah barat daya!
Hanya memikirkan ini saja, Triple sudah sangat bersemangat. Kakinya tidak gemetar lagi. Tangan dia yang memegang pistol juga lebih stabil.
Triple berteriak lagi. “Komandan Perbatasan Selatan memang luar biasa! Perang bersama negara musuh belum berhenti, kau tidak berjaga di Perbatasan Selatan malah diam-diam berlari ke daratan dalam untuk berlagak! Kalian juga! Jenderal perbatasan selatan! Apa kalian masih menghormati hukum negara?”
“Di mata kalian, aku, Triple Fazura, memang hanya orang kecil, tapi aku bukan orang Negara Naga. Aku berhak mengawasi dan melaporkan kalian. Aku bisa menghancurkan reputasi kalian, membawa kalian ke pengadilan militer, dan dihukum!”
Pandangan Adiwangsa tetap sangat tenang. Namun, di bawah ketenangan ini tampak sedikit kejam.
Mau bunuh Triple Fazura itu sangat mudah. Namun, membiarkannya mati dengan mudah tidak cukup untuk memadamkan amarahnya.
“Aku beri kamu satu kesempatan. Beri tahu siapa dekingmu? Tentu saja kau juga bisa memilih menyembunyikannya dan dikeroyok.”
Orang di depannya adalah Komandan Perbatasan Selatan! Komandan Perbatasan Selatan yang telah melewati gunung mayat dan menyeberang lautan darah!
Melihat Triple yang masih diam, Adiwangsa mengangkat tangannya secara perlahan. “Semuanya dengar perintah. Bersiap!”
Krak krak krak...
Peluru selesai dimuat!
Triple hampir pingsan. Lalu, dia segera berteriak dengan keras. “Kamu tidak boleh membunuhku!”
Tatapan Adiwangsa yang cuek tampak seperti Dewa Kematian. “Beri tahu siapa dekingmu. Aku tidak akan mengulangi pertanyaan ini ketiga kali.”
Glug...
Triple menelan seteguk ludah dengan payah.
Tangan Adiwangsa pelan-pelan melambai ke bawah.
Mata Triple melebar. Dia segera berteriak: “Kamu tidak boleh membunuhku! Aku pernah menyelamatkan nyawa Malik Qais!”
Adiwangsa menghentikan tangannya. “Siapa?”
“Malik Qais! Dokter genius Sekte Kedokteran Taoisme, Dokter Malik!”
__ADS_1
Triple tersentak dan berteriak: “Dokter Malik itu dokter yang telah dianugerahi lencana Naga Emas! Jika kamu membunuhku, Dokter Malik pasti akan marah!”
Adiwangsa berangguk.
Saat Triple menghela nafas lega, dia malah mendengar Adiwangsa berkata: “Malik Qais, sudah dengar, ‘kan? Cepat keluar!”
Ada yang berjalan keluar dari pintu Hotel Grand Masa.
Itu adalah seorang lelaki tua yang berambut abu-abu. Punggungnya agak bungkuk, tapi juga berjenggot sepanjang 100 cm, auranya seperti seorang master Taoisme yang suci.
Setelah melihat orang ini, mata Triple melebar sebulat lonceng.
“Dok... Dokter Malik!”
Orang ini adalah Malik Qais!
Dokter yang dikenal sebagai salah satu dokter terhebat Negara Naga, penguasa Sekte Kedokteran Taoisme, Malik Qais!
Jumlah orang yang telah dia selamatkan tidak terhitung, dia bahkan telah memadamkan wabah yang melanda di seluruh negeri, dan diberi penghargaan lencana Naga Emas oleh Presiden sendiri. Meskipun dirinya tidak memegang kekuasaan apa pun, tapi ke mana pun , siapa pun, semuanya harus menyeganinya dan memperlakukannya dengan hormat.
Apa kata Adiwangsa tadi?
Cepat keluar?
Cepat?
“Malik Qais hormat kepada Komandan Adiwangsa.”
Dokter Malik yang terkenal di dunia sedang menghormati Adiwangsa Suprapto! Dia bahkan tampak gelisah seperti anak kecil yang telah berbuat salah dan akan dihukum orang dewasa.
Triple hampir tercengang.
Dalam hatinya sangat ketakutan. Dia buru-buru berteriak: “Dokter Malik, tolong selamatkan aku!”
“Diam!”
Dokter Malik melirik ke arah Triple dengan tatapan penuh kebencian. Lalu, dia membungkuk kepada Adiwangsa dan berkata dengan nada suara tak berdaya. “Maaf, Komandan Adiwangsa. Malik telah salah.”
Adiwangsa berkata dengan santai. “Kau mau selamatkan dia?”
“Tidak berani.”
Malik Qais melirik lagi ke arah Triple dan berkata dengan tatapan sangat dingin. “Orang ini memang pernah menyelamatkan saya sekali, tapi saya sudah membalas budinya sejak lama. Setelah mengetahui dia banyak berbuat kejahatan, saya pun tidak pernah menemuinya lagi. Bagaimana mungkin saya mau menyelamatkannya? Kalau saya tahu dia ini penjahat beracun, saya lebih baik mati daripada diselamatkan olehnya.”
Triple merasa seluruh darah di dalam tubuhnya telah membeku. Dia berkata dengan wajahnya yang pucat dan suara yang gemetar. “Tidak! Kau pasti telah mengancam Dokter Malik, ‘kan! Berani sekali kau! Dokter Malik itu orang yang telah dianugerahi lencana Naga Emas, aku...”
“Kau yang berani sekali!”
Malik Qais berteriak: “Wabah yang melanda seluruh negeri, kalau bukan karena saran Komandan Adiwangsa, bagaimana mungkin aku bisa menemukan obatnya? Lencana Naga Emas? Lencana Naga Emas yang Komandan Adiwangsa miliki bahkan tidak muat di seragamnya! Dia ini orang yang paling aku hormati! Beraninya kau menghina Komandan Adiwangsa, aku dan kau sudah ditakdirkan menjadi musuh!”
Triple benar-benar tertegun.
Pandangannya menjadi kosong dan mulai mencurigai hidupnya.
__ADS_1
Telinganya mendengar suara Adiwangsa yang datar. “Malik Qais tidak bisa menyelamatkanmu. Siapa deking yang ada di belakangmu? Katakanlah.”