
Mata Adiwangsa Suprapto menyipit.
Dengan keterampilan medisnya, hanya dengan sepintas, dia dapat melihat nenek tua itu akan segera meninggal jika ditunda lagi. Sedangkan di samping nenek tua itu, ada seorang gadis yang berusia sekitar 5-6 tahun dengan pakaian yang buruk dan usang, tapi masih tampak bersih. Wajahnya yang putih polos dan manis sedang menangis dengan sedih.
Begitu melihat gadis kecil itu, Adiwangsa tertegun dan menjadi linglung.
Dia, sangat mirip dengan seseorang.
Seseorang yang Adiwangsa sangat merasa bersalah dan tidak bisa lupakan, yaitu Bulan Hasan.
"Paman-paman, tante-tante, kumohon, tolonglah nenek... Anna mohon... Huhuhu..."
Setelah terdiam sejenak, Adiwangsa berjalan mendekat.
Kalaupun gadis kecil ini tidak mengingatkannya akan wanita itu, kondisi nenek ini juga sudah sangat kritis. Karena dirinya mampu untuk menyelamatkannya, jadi dia memutuskan untuk membantu.
Dia, Komandan Perbatasan Selatan, yang bisa menyelamatkan semua orang di dunia ini. Meskipun sekarang sudah bukan komandan lagi, dia juga bisa menyelamatkan seseorang.
"Permisi."
Adiwangsa melewati kerumunan, lalu berjongkok di sisi nenek dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa denyut nadinya.
"Paman, kumohon selamatkan nenekku... Kumohon..."
Gadis kecil itu segera bersujud kepada Adiwangsa.
"Jangan panik, dik. Nenek tidak apa-apa."
__ADS_1
Adiwangsa segera menghentikannya. Tidak tahu kenapa, dia merasa sangat familier dengan gadis ini. Melihat gadis kecil ini menangis, dia juga merasa sakit hati dan sedih. Mungkin ini karena dia terlalu mirip dengan Bulan Hasan.
Saat ini, penonton yang mengelilingi membuka suara: "Anak muda, hati-hati jangan sampai tertipu. Zaman sekarang mendingan jangan berbuat baik."
"Benar, jangan nanti mereka mau memerasmu. Kamu menangis pun sudah terlambat."
"Ya, pingsannya pas di depan rumah sakit. Rumah sakit sendiri saja tidak peduli, kenapa kamu bodoh sekali malah mau memeriksanya. Ini mungkin jebakan, loh."
Orang-orang berkata dengan penuh nada menghina.
Membantu orang atas niat baik malah berakhir dijebak dan diperas bukanlah hal baru lagi. Karena ini juga, orang-orang menjadi tidak berani melangkah maju untuk menjulurkan bantuan. Kalaupun membantu, mereka juga akan mengeluarkan ponsel untuk merekamnya terlebih dahulu untuk mengantisipasi terjebak dan sulit untuk menyangkalnya. Namun, terkadang bahkan rekaman pun tidak bisa berefek sebagai bukti dan membuat orang yang membantu dirugikan.
Bukan manusia yang tidak ingin berbuat baik lagi, tapi kita mengalami kesulitan untuk membedakan isi hati orang. Terlalu banyak penjahat yang memanfaatkan kebaikan orang demi keuntungan pribadi, dan ini sungguh menyakitkan hati orang-orang.
Para penonton sebenarnya sudah melihat pakaian tentara yang dikenakan Adiwangsa dan menganggap dia hanyalah tentara polos yang dungu dan tidak pernah dibodohi, jadi mereka berniat baik untuk mengingatkannya. Namun, pada saat yang sama, mereka juga merasa orang yang melangkah maju ini membuat mereka para penonton tampak kejam, jadi mereka hanya memiliki satu pemikiran: Memangnya hanya kamu yang baik hati dan kami semua tidak berperasaan? Rumah sakit saja tidak peduli. Ini jelas sekali adalah jebakan, beraninya kamu melompat masuk. Bodoh, ya?
"Anna bukan penipu!"
"Namamu Anna? Anna anak baik, paman tahu kamu tidak berbohong."
Adiwangsa sama sekali tidak peduli dengan kata-kata para penonton di sekeliling. Dia hanya merasa suara gadis kecil yang begitu lemah lembut terdengar sangat kasihan karena difitnah. Setelah menghiburnya dengan lembut, Adiwangsa mengeluarkan jarum perak dan menusuknya ke leher nenek tua itu di depan mata semua orang.
Semua orang berteriak dengan kaget.
Jarum yang sepanjang itu langsung ditusukkan ke leher orang. Apa dia yakin ini menyelamatkan orang bukan membunuh orang?
Namun, segera setelah itu, nenek tua itu bergetar sebentar, lalu membuka mata, memiringkan kepalanya, dan memuntahkan kotoran hitam.
__ADS_1
Bau busuk segera menyebar.
Para penonton yang menyaksikan ini semua pun segera menutup hidungnya dan mundur.
Nenek itu bernafas dengan kuat dan terengah-engah.
Sedangkan gadis kecil itu, seolah-olah tidak mencium bau dan bergegas ke sisi nenek dan berkata dengan cemas: "Nenek! Nenek baik-baik saja, 'kan?"
"Tenang saja, tidak apa-apa."
Adiwangsa menarik balik jarum peraknya dengan santai, lalu membelai rambut gadis kecil itu dengan lembut. Dia tersenyum pada gadis yang matanya tampak polos dan bersih, lalu berkata: "Nenek sudah sembuh. Ke depannya kamu harus jaga nenek dengan baik, oke?"
Gadis kecil itu mengerutkan bibirnya, lalu menangis lebih keras lagi. Dia menarik sudut baju Adiwangsa dan berkata sambil menangis: "Terima kasih, Paman. Paman benar-benar orang baik!"
"Anak manis, jangan nangis lagi, ya."
Adiwangsa menepuk punggung nenek dengan ringan dua kali sehingga napasnya menjadi lebih lancar. Nenek pun menatap ke arah Adiwangsa dengan sangat berterima kasih. "Terima kasih... Terima kasih..."
"Sama-sama. Lain kali jangan makan makanan yang sudah kedaluwarsa lagi."
"Ba... Baik."
Nenek tua itu merogoh sakunya, mengeluarkan sehelai kain, membukanya, dan menyerahkannya kepada Adiwangsa. Lalu, dia berkata dengan nada meminta maaf, "Terima kasih telah menyelamatkan nenek yang sudah tua, tapi nenek hanya punya uang segini..."
Adiwangsa melihat uang yang sudah kusut terpapar di telapak tangan nenek yang kering. Uang yang nilainya paling besar hanya 50 ribu rupiah, lalu 20 ribu dan beberapa 2 ribu. Sisanya recehan 500, 200, dan 100.
"Nek, tidak perlu membayarku." Adiwangsa berdiri sambil bergeleng, lalu pergi.
__ADS_1
Para penonton pun bubar.
Nenek memeluk gadis kecil itu sambil memandang belakang Adiwangsa yang pergi menjauh dengan air mata berlinang di mata dan berbisik: "Terima kasih..."