Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 34 Aku Tidak Kenal Dia!


__ADS_3

Adiwangsa berkata dengan lembut: "Anna, ikut tante ini pulang untuk ganti baju dulu, ya."


"Oke."


Anna berangguk dengan patuh, lalu mengikuti Jeje sambil menyeka air matanya. Lalu, dia mengangkat kepalanya untuk melihat Jeje dan berkata dengan imut: "Kakak, kamu cantik sekali."


Jeje tersenyum dengan memesona dan sungguh menggoda. Sebenarnya, dia juga sangat menyukai Anna yang imut. Lalu, dia menggandeng tangannya yang kecil sambil berkata: "Anna imut sekali, ayo ikut kakak pergi ganti baju."


"Oke~"


Mereka pergi dalam waktu yang lama, tapi Adiwangsa juga tidak khawatir. Pendengarannya sangat tajam, meskipun kini masih hujan deras, tapi dia jelas sekali bisa mendengar suara air mandi, serta suara tawa Anna dan Jeje.


20 menit kemudian, kedua orang masih belum kembali. Di luar pintu, ada seorang pria yang datang tergesa-gesa dengan membawa sebuah kantong di tangannya. Setelah melihat Adiwangsa, dia segera berkata sambil tersenyum: "Tuan, obatnya sudah tiba."


"Terima kasih."


Setelah mengucapkan terima kasih, Adiwangsa menerima kantong itu, membukanya, dan memeriksanya dengan saksama. Karena sudah sesuai, dia pun mulai memasak obat-obat itu.


Aroma obat tradisional Tiongkok segera menyebar di seluruh rumah. Kini, Anna dan Jeje sedang berjalan kemari. Kedua orang sudah mandi dan mengganti pakaian yang bersih.


Pakaian yang Jeje kenakan harusnya milik Ibu Anna. Bentuk tubuh mereka mungkin juga sama, karena sangat pas. Hanya saja, sangat sederhana. Bajunya yang berwarna hitam dan abu-abu, begitu dilihat, bisa ketahuan itu baju lama yang sudah dipakai 2-3 tahun. Meskipun begitu, pakaian sederhana ini tetap tidak bisa menutupi pesona Jeje.


Pakaian Anna juga biasa saja, namun wajahnya yang merah muda, membuatnya sama imut seperti boneka dan membuat orang sangat ingin menyayanginya.


Adiwangsa benar-benar tidak mengerti, kenapa bisa ada yang tega menindas gadis kecil yang seimut ini!

__ADS_1


"Apa mau kalian? Waris itu pamanku! Kalian..."


Hujan sudah mulai reda. Di luar pintu, terdengar pula suara teriakan yang menggila. Mendengar suara ini, Anna langsung kaget, wajahnya juga menjadi pucat pasi. Tatapan Adiwangsa menjadi sangat dingin. Lalu, segera berkata: "Suruh Waris rangkak ke sini!"


...


"Jojo, kamu mau mobilku, 'kan? Aku jual padamu, cukup 1,6 miliar..."


"Wendy, kamu mau vilaku, tidak? Hanya 12 miliar..."


Waris yang baring di lantai segera menelepon dan meminta bantuan. Lalu, mulai menghubungi orang untuk menjual mobil dan rumah sehingga bisa mengumpulkan 20 miliar. Karena Adiwangsa telah menjalankan akupuntur di kakinya, hingga saat ini dirinya masih tidak bisa merasakan kakinya. Jadi, termasuk bebas dari penderitaan patah tulang juga. Namun, Waris tahu jelas, kakinya sudah tidak bisa tertolong lagi. Sisa hidupnya, hanya bisa dilewati bersama kursi roda.


Dia sangat menderita, tapi juga tidak berani membenci. Wanita yang Jason Zaky tidak berani singgung, malah begitu sopan terhadap Adiwangsa. Ini cukup untuk dirinya percaya dia sangat hebat. Seumur hidup ini, tidak, bahkan kehidupan yang akan datang pun belum tentu bisa membalas dendam!


Dia hanya bisa menyesal. Jika bisa mengulang semua ini, dia pasti akan memberikan 2 miliar kepada Mustofa Suprapto tanpa ragu-ragu dan mengantarnya pergi seperti tamu penting. Sayangnya, tidak mungkin.


Dibanding kematian, kehilangan sepasang kaki bukanlah apa-apa.


Lalu, Waris mendengar suara langkah kaki. Dia kira itu orang-orang yang dipanggil untuk datang membantu, jadi segera berteriak: "Aku ada di dalam! Kalian datang berapa mobil? Di sini masih ada belasan orang yang kakinya sudah patah..."


Namun, saat melihat itu adalah pria-pria berjas hitam, Waris segera menelan kata-katanya dan merasa sangat takut. Dia segera memohon: "Kumohon, ampunilah aku! Aku sudah mengumpulkan 20 miliar! Aku akan segera bisa..."


Pengampunan di awal dan pembunuh di akhir... Plot seperti ini sudah sering dia lihat di dalam film dan sama sekali tidak asing. Jadi, Waris sangat takut!


Pria yang berjas hitam tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun, seolah-olah bukan manusia yang memiliki emosional. Dia bahkan tidak memiliki nada suara yang menghina dan hanya berkata dengan tenang: "Jalan Pelantar No. 558. Tuan Adiwangsa memintamu untuk merangkak ke sana."

__ADS_1


Setelah itu, pria berjas hitam berbalik dan pergi.


Waris tercengang. Dia tidak mengerti apa maksud Adiwangsa. Tak lama kemudian, dia pun menggertakkan giginya dan membalikkan badan untuk mulai merangkak dengan kedua tangan!


Tidak peduli apa pun maksud Adiwangsa, karena dia sudah memintanya merangkak pergi ke sana, maka dirinya harus rangkak! Kecuali, dirinya sudah ingin mati.


Waris ini jelas sekali bukan karakter yang dapat menerima kematian dengan santai dan sangat menghargai hidupnya. Jarak yang sepanjang 2000 meter, Waris merangkak dengan terengah-engah. Keringat yang baru keluar juga segera dibersihkan oleh air hujan. Kedua tangannya sudah luka dan berdarah. Darahnya juga langsung diencerkan oleh hujan, tapi tetap meninggalkan jejak merah yang panjang di belakangnya.


Sakit sekali! Tapi tidak boleh menyerah. Kecuali dirinya sudah ingin mati.


Akhirnya, dia merangkak kemari. Dari kejauhan, dia sudah melihat enam pria berjas hitam berdiri di tengah hujan, dan juga seorang pria muda yang dikepung mereka dan menggigil  dengan wajah yang pucat.


Pada saat ini juga, ekspresinya berubah total dan ingin merangkak kembali. Namun, dia tidak berani,


"Paman!"


Pria muda yang dikepung telah melihatnya dan segera berteriak dengan keras.


"Sialan!"


Waris meraung di dalam hati.


Jeje yang mengenakan pakaian sederhana meleambaikan tangannya sambil memegang payung. Pria yang berjas hitam segera menghindar untuk menyisihkan satu jalan untuknya.


Pria muda segera berlari ke arah Waris dengan panik: "Paman, kamu kenapa?"

__ADS_1


"Aku tidak kenal kamu! Ber*ngsek, aku tidak kenal kamu!"


Waris berteriak dengan keras: "Tuan Adiwangsa, aku tidak kenal dia!"


__ADS_2