Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 12 Tidak Adil!


__ADS_3

“AHHHHHHHHH!!!”


Jeritan Eka Fazura yang menyedihkan bergema di dalam kamar 502 Hotel Grand Masa.


Semua siksaan yang dialami Niawangsa Suprapto sedang diulangi kepada Eka Fazura satu demi satu!


Meremas perut, menusuk tangan, mencambuk, mengoles garam pada luka, menuangkan kotoran, mengikat batu bata pada kaki...


Delvin Zaky menyusut di sudut dan gemetaran. Dia bahkan tidak berani melarikan diri dan hanya melihat semua ini dengan panik! Dia sungguh ketakutan. Dia bahkan muntah karena melihat kondisi Eka yang tragis.


Jeritan Eka dan ancaman dari Delvin terdengar begitu konyol dan menyedihkan.


Hingga saat ini, Eka baru merasakan apa yang dimaksud hidup lebih sengsara daripada mati.


“Am... ampuni... aku...”


Eka mengubah ancaman menjadi permohonan. Dia terus berteriak kesakitan dan menangis.


“Mengampunimu...”


Mata Adiwangsa memerah. Dia mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan kukunya telah menusuk ke dalam daging telapak tangannya.


Adiwangsa sama sekali tidak merasa lebih nyaman setelah menyiksa wanita ini. Dia bisa membayangkan betapa sakitnya adiknya pada saat itu!


“Adikku juga memohon pengampunan. Dia memohon padamu untuk melepaskannya dengan begitu malang!”


Adiwangsa berteriak dengan suaranya yang serak. “Memangnya kau melepaskannya? Tidak! Adikku disiksa sampai sekarat! Kenapa waktu itu kau tidak mengampuni dia?”


Rias juga tidak mengasihaninya. Dia terus meninju wajah Eka dengan kuat hingga wajahnya berlumuran darah dan tidak bisa dikenali lagi.


Sampai Eka berbaring di lantai dengan terengah-engah dan susah menarik napas...


Fakta membuktikan Eka tidak sekuat Niawangsa.


Saat penyiksaan selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 1:30 pagi. Lalu, Adiwangsa menunjuk ke arah jendela. “Lempar keluar.”


Rias mengabaikan bekas darah di seluruh tangannya, lalu mengangkat Eka ke samping jendela.


“Tidak! Tidak! Ampuni... aku! Aku... nggak... mau mati...”


Semua orang memiliki keinginan untuk bertahan hidup.


Eka yang sudah setengah mati memberontak mati-matian. Namun, Rias mengabaikannya dan melempar Eka keluar tanpa ekspresi apa pun. Dia melihatnya terjatuh.


Brak!


Eka jatuh ke tanah.


Seluruh badannya berkedut. Darah menyebar menjadi genangan dan bercampur dengan air hujan yang lebat.


Kini Riski sudah lumpuh di tanah seperti babi mati. Sedangkan Delvin, matanya melebar. Ketakutan di hatinya seperti malam hari yang gelap. Akhirnya, dia pingsan karena terlalu ketakutan.


Adiwangsa memberi perintah: “Pungut kembali.”


Rias langsung melompat keluar jendela. Ketinggian gedung 5 lantai itu tidak tinggi baginya. Dia mendarat dengan ringan, salto ke depan, lalu segera mengangkat Eka yang sekarat kembali ke kamar 502 melalui tangga.


Adiwangsa sudah bersiap-siap. Dia mengeluarkan 9 jarum perak yang panjangnya berbeda. Tangan yang ramping menusukkan jarum-jarum dokter datuk ke dalam semua titik akupunktur di tubuh Eka.


Sangat cepat, denyut nadi Eka kembali stabil.

__ADS_1


Jarum dokter datuk yang berani merebut nyawa dengan penguasa akhirat. Selama dia masih bernapas, maka tidak akan mati!


Kemudian...


Penyiksaan berlanjut!


Meremas perut, menusuk tangan, mencambuk, mengoles garam pada luka, menuangkan kotoran, mengikat batu bata pada kaki...


“Lempar keluar!”


Brak!


“Pungut kembali!”


Pulihkan denyut nadinya dengan jarum dokter datuk!


Penyiksaan berlanjut!


Kemarahan Adiwangsa sama seperti api yang hendak membakar dunia! Tidak peduli musuh yang di depan mata itu pria atau wanita dan tidak peduli siapa identitasnya!


Adiknya telah disiksa hingga ingin mati!


Maka, pelakunya juga harus disiksa hidup-hidup daripada mati!


Rasa sakit yang diderita adiknya harus dibalas dengan 10 kali lipat, bahkan 100 kali lipat!


Lingkaran penyiksaan ini terus berulang hingga hujan berhenti dan langit menjadi terang.


Eka Fazura sudah seperti sepotong daging busuk yang hanya bisa hidup dengan mengandalkan jarum dokter datuk. Seluruh orangnya jatuh koma. Bahkan penyiksaan yang sakit pun tidak bisa membangunkannya lagi!


Penyiksaan telah dihentikan.


Adiwangsa mengangkat Delvin yang membeku dengan linglung.


Delvin memberontak dengan panik. “Lepaskan aku! Adiwangsa! Lepaskan aku... kumohon... lepaskan aku!”


Bau busuk menyebar di seluruh kamar. Delvin sudah tidak bisa mengendalikan gerakan ususnya untuk membuang air kecil ataupun besar.


“Enyahlah!”


Adiwangsa membuka pintu kamar dan melempar Delvin keluar. “Beri tahu Triple Fazura, aku tunggu dia di sini.”


Mata Delvin melotot hingga pupilnya hampir keluar.


Apa yang dia dengar?


Adiwangsa yang dulunya begitu tak berguna, kini menyiksa Eka Fazura hingga seperti ini pun tidak mau melarikan diri! Dia malah memintanya untuk mencari Triple Fazura ke sini?


Dia... sudah gila?


Triple Fazura! Dia itu langit di kota Pantol!


Jangan-jangan dia mau menyerang Triple Fazura juga?


Gila!


Benar-benar gila!


Adiwangsa berkata lagi dengan nada suara yang dingin. “Kalau kau masih tidak mau pergi, maka jangan harap bisa pergi lagi.”

__ADS_1


Delvin terkejut. Dia segera bangkit dan hendak lari, namun dia malah terjatuh ke lantai karena tersandung. Rasa sakit membuatnya merasa pusing. Dua gigi depannya copot, batang hidungnya juga bengkok dan terus berdarah.


Meski begitu, Delvin juga tidak menghentikan langkah kakinya dan segera berlari dengan malang. Setelah masuk ke dalam mobil, dia menyalakan mobil dengan tangan gemetar. Dia mengendarai mobil seperti orang gila. Pandangan matanya dipenuhi oleh kebencian.


Dia meraung di dalam mobil. “Adiwangsa! Habislah kau! Kau akan dibacok dan dipotong-potong untuk diberi makan anjing! Bahkan tulang kau juga akan digiling jadi serbuk!”


...


Langit cerah dan udara segar.


Mobil-mobil dengan plat nomor merah melaju ke area konferensi pusat. Sekelompok orang tua berambut abu-abu berkumpul di pagi hari.


“Kali ini pertemuan darurat yang diprakarsai oleh Komandan Perbatasan Selatan.”


Seorang pria yang mengenakan jas berkata dengan suara yang dalam. “Pukul 5 sore kemarin, Adiwangsa Suprapto, Komandan Perbatasan Selatan telah menjalankan jet tempur dari Perbatasan selatan sampai memasuki daratan dalam, Kota Pantol, tanpa panggilan.”


“Berani-beraninya!”


Seorang lelaki tua berkata dengan emosi. “Dia mau ngapain? Sebagai komandan yang memegang pasukan, dia dilarang memasuki daratan dalam tanpa panggilan. Apa dia mau memberontak?”


“Sungguh keterlaluan! Ini sudah melanggar peraturan negara, harus dihukum berat!”


“Apa yang Ketua Inspektur Naga Emas lakukan? Kenapa tidak menghentikannya?”


“Bahkan tiga dekrit presiden pun gagal menghentikannya...”


Begitu mendengar ini, semua orang menjadi lebih emosi. “Berani sekali dia! Dia sungguh berlagak! Cepat utus Lembaga Pertahanan Naga Emas ke Kota Pantol untuk menangkapnya kembali ke pengadilan!”


“Saat ini adalah momen penting perang di perbatasan selatan...”


“Lalu, kenapa? Ini bukan dasar untuk dia berlagak!”


“Benar! Sebelumnya kita masih berencana memberinya penghargaan gelar, namun dilihat dari ini, moral dia sama sekali tidak pantas menjabat sebagai Komandan Perbatasan Selatan! Kita harus tarik kembali jabatannya dan memenjarakannya seumur hidup!”


Klik!


Saat para petinggi sangat emosi, ada yang membuka pintu ruang rapat.


Pria yang berseragam militer melangkah maju, mengangkat kepalanya, dan memberi hormat. “Hormat kepada Para Tuan.”


Orang yang datang adalah Bambang Perwira. Dia bergegas terbang dari Kotal Pantol ke Ibukota dalam waktu semalam.


“Para Tuan, mengenai Komandan Perbatasan Selatan memasuki Kota Pantol tanpa izin. Saya ingin memberi penjelasan.”


Setelah menarik napas yang dalam, Bambang berkata: “Adiwangsa Suprapto, Komandan Perbatasan Selatan, penduduk asli Kota Pantol, memasuki perbatasan selatan pada 6 tahun yang lalu. Dia telah mempertahankan perbatasan selatan, melawan negara musuh, dan melindungi ratusan juta penduduk daerah selatan!”


“Saat pasukan ke-9 dikelilingi pasukan musuh di perbatasan selatan, dialah orang yang membawa 300 prajurit menerobos jebakan musuh dan membawa kembali pasukan ke-9! Sekujur tubuhnya terkena 132 tusukan pisau! Setengah kakinya telah masuk ke gerbang neraka!”


“Dialah orang yang merebut nyawa dengan penguasa akhirat, menyelamatkan 842 orang Lembaga Pertahanan Naga Emas dengan jarum dokter datuk!”


“Dialah orang yang membunuh 9 dewa perang negara musuh sendirian dan menyelamatkan 20.000 penduduk di saat Kota Pipit diterobos musuh. Dialah yang membuat negara musuh ketakutan dan memenangkan perang yang sudah berlangsung selama 10 tahun!”


Bambang Perwira menarik napas yang dalam, lalu berkata dengan suara nyaring dan sedih. “Tapi, orang yang begitu melindungi negara ini, Ibunya malah dijebak hingga meninggal dalam kecelakaan mobil! Keluarganya dan bisnis keluarganya direbut! Ayahnya dipukul dan diusir keluar! Adiknya, disiksa dengan cara yang sangat kejam dan sekarat!”


Di layar ruang konferensi, muncul satu foto.


Kondisi Niawangsa yang menyedihkan mengejutkan semua orang.


Bambang Perwira berteriak dengan penuh emosi. “Dia telah melindungi perbatasan selatan! Melindungi daerah selatan Negara Naga! Melindungi ratusan juta penduduk di tiga provinsi daerah selatan! Namun, dia tidak bisa melindungi adiknya sendiri! Saat dia mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan tanah air, kerabatnya malah diperlakukan seperti ini! Saya! Ketua Inspektur Lembaga Pengawasan! Berpikir ini... tidak adil!”

__ADS_1


Dua kata terakhir, Bambang meneriakkannya dengan penuh histeria.


Petinggi-petinggi yang masih marah sebelumnya, terdiam!


__ADS_2