
Ruang kecil yang menampung 5-6 orang saja sangat sempit, apalagi belasan orang.
Semua pria itu bertubuh kekar dan bertato. Aura bawaannya sangat menakutkan. Lagi pula, mereka berbeda dengan 4 sampah yang sudah terjatuh pingsan. Mereka ini bawahannya Triple Fazura, master-master yang pandai bertarung.
Wajah Mustofa Suprapto langsung menjadi pucat. Kakinya juga melemas. Dia segera memohon. “Pak Riski! Kumohon ampuni putraku! Ini semua salahku! Aku...”
“Enyahlah!”
Riski Bagas tidak melihat Mustofa, bahkan juga tidak melihat Adiwangsa Suprapto. Pandangannya langsung tertuju ke Rias Anggun yang baru saja berjalan keluar dari kegelapan dan melindungi Adiwangsa dari depan. Tatapan dia sangat dingin dan mesum.
Wanita ini hampir membunuhnya! Dia mau mebuatnya lebih sengsara daripada mati!
“Kau ini pacarnya Tuan Muda Adiwangsa, ‘kan?”
Riski menjilat bibirnya dan tersenyum dengan angkuh. “Kau tahu nggak dia itu buronan? Aku beri kau satu kesempatan untuk berlutut padaku. Aku bisa anggap semua ini nggak pernah terjadi. Lalu, ikut aku mulai sekarang, aku akan bawa kau makan enak dan hidup nyaman!”
“Terkadang manusia memang suka mencari perkara sendiri, namun tidak siap untuk menanggung karma dipanggil Tuhan!”
Pandangan Adiwangsa sangat cuek. “Tangani sisanya.”
“Hahaha...”
Mendengar ini, Riski tertawa keras. “Ini lelucon terlucu yang pernah kudengar tahun ini! Adiwangsa Suprapto, kau sudah bukan Tuan Muda Keluarga Suprapto dulunya lagi! Bisa-bisanya kau masih sombong begitu? Kenapa? Kau kira kau yang memakai seragam militer sangat hebat?”
Sambil berbicara, Riski duduk di atas sofa dan menyilangkan kakinya, lalu dia mengeluarkan sebuah cerutu dari sakunya, menyalakan nya, menghisap dalam-dalam, dan berkata sambil menghembuskan asap. “Tuan Muda Adiwangsa, kuberi kau satu kesempatan. Berlutut, bersujud, lalu mohon padaku. Mungkin saja aku akan berbaik hati dan melepaskanmu. Kalau nggak...”
Riski mengubah nada suaranya menjadi ganas dan berkata: “Hari ini di tahun depan akan menjadi hari kematianmu, si anak anjing dan ayahmu, si ayah anjing!”
“Dasar anjing tak tahu diri!”
Rias sangat marah. “Kau tahu nggak dia ini siapa? Beraninya kau menghinanya! Kau...”
Adiwangsa menepuk bahu Rias untuk menghentikannya. Sebenarnya, Adiwangsa bukan ingin menyembunyikan identitasnya. Hanya saja, karena Mustofa masih di sini.
Ayahnya yang tidak bertanggung jawab ini hanya tahu mabuk-mabukan dan bersenang-senang sejak Ibu mereka meninggal. Kini menjadi seperti ini juga hasil perbuatannya sendiri. Kalau dia tahu identitas Adiwangsa adalah komandan perbatasan selatan, dia pasti akan berlagak tanpa batas dengan mengandalkan identitasnya. Ini sungguh membuat Adiwangsa merasa malu.
Adiwangsa bisa tidak peduli dengan ayah ini, tapi dia tidak bisa menghapus hubungan darah mereka. Dia tidak ingin pangkat “Komandan Perbatasan Selatan” dipermalukan gara-gara ayahnya.
“Kenapa nggak lanjut? Belum selesai mengarang drafnya, ya?”
Riski tertawa keras. “Gimana kalau aku bantu? Dulu dia itu Tuan Muda Keluarga Suprapto, tapi juga buronan yang sangat dibenci, bajingan yang ingin dibunuh oleh orang Keluarga Hasan. Dia itu anak anjingnya si anjing Mustofa! Dasar militer bodoh! Oh, aku takut sekali!”
Riski mengangkat kepalanya, menyesap seteguk anggur, dan berkata sambil tersenyum jahat. “Aku sudah bilang aku beri kalian satu kesempatan untuk memohon pengampunanku dengan bersujud padaku. Kalau nggak... hehe.”
Semuanya menonton adegan ini dengan lucu, lalu melihat ke arah Rias dengan penuh nafsu.
__ADS_1
Wanita secantik ini, bahkan Kota Pantol yang penuh dengan wanita cantik pun sangat susah menemukan yang sepertinya. Apalagi Rias masih memakai seragam militer. Rasanya pasti lebih nikmat. Hanya memikirkannya saja, mereka sudah sangat bergairah dan susah mengendalikan diri. Mereka sudah tidak sabar untuk mencicipi rasa wanita ini.
Adiwangsa menggeleng kepala.
Manusia tidak pernah peduli dengan provokasi semut, tapi semut tetap berani merangkak ke tubuh manusia. Jika mereka ingin menggigit manusia, maka manusia hanya bisa membunuhnya.
“Terima kasih karena telah memberi kami kesempatan, tapi aku tidak ingin memberimu kesempatan.”
Tangan yang ditekan di atas Rias telah dilepas.
Di bawah perhatian semua orang, Adiwangsa berjalan maju beberapa langkah, meraih lengan Mustofa, dan membawanya keluar.
Saat salah satu pria yang lengannya penuh dengan tato ingin menghentikan mereka, Riski malah berkata: “Biarkan mereka keluar. Cukup tinggalkan wanita ini. Suruh teman-teman yang di luar untuk layani Kepala Keluarga Suprapto dan Tuan Muda Adiwangsa dengan baik.”
Hati pria yang lengannya penuh dengan tato langsung berkobar, lalu dia menyampingkan diri sambil tersenyum mesum.
Adiwangsa dan Mustofa berjalan keluar dari ruangan. Namun, saat tiba di koridor, preman-preman yang berjaga di luar menatap mereka dengan senyuman licik.
“Kau cepat pergi!”
Mustofa melepaskan tangan Adiwangsa, mendorongnya ke samping, lalu hendak berlari ke preman-preman itu.
Wajahnya yang pura-pura galak juga tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sama sekali. Namun, kalaupun begitu, dia tetap berencana menghalangi semuanya agar putranya bisa keluar dari sarang harimau ini dengan selamat.
Ayah yang tidak bertanggung jawab ini, akhirnya bisa memikul sedikit tanggung jawab sebagai seorang ayah.
Namun meski begitu, dia tetap jangan harap dirinya akan memaafkannya! Kalau bukan dia, Ibu mereka tidak akan meninggal!
Belasan preman mendekat dan mengepung mereka. Namun, sebelum bertindak, mereka malah mendengar suara tabrakan yang keras dari dalam ruangan bercampur jeritan kesakitan.
Para preman saling bertatapan dengan bingung. Lalu, pintu ruangan terbuka dari dalam. Rias berjalan keluar dengan santai.
“Bereskan ini.”
Sambil berbicara, Adiwangsa masuk lagi ke dalam ruangan.
Mustofa tertegun dan tiba-tiba memiliki satu pemikiran yang tidak masuk akal. Dia segera mengikuti Adiwangsa dari belakang.
Begitu memasuki ruangan, semua orang berbaring di lantai dengan berantakan, tidak bergerak sama sekali.
Kenapa bisa?
Mustofa tidak berani mempercayai ini.
Seorang wanita yang kelihatannya sangat lemah lembut, bisa-bisanya menjatuhkan belasan pria kekar yang hebat bertarung!
__ADS_1
Lalu, rasa takut yang luar biasa memenuhi sekujur tubuhnya.
Habislah!
Ini wilayah Triple Fazura. Orang-orang ini juga bawahannya Triple Fazura! Kalau menyinggung Triple Fazura, tiada seorang pun yang bisa membantu mereka di Kota Pantol!
“Cepat! Cepat, Adi... cepat pergi!”
Wajah Mustofa menjadi pucat. Dia berkata kepada Adiwangsa dengan suara yang serak. “Cepat pergi! Kalau tidak, akan terlambat!”
Adiwangsa mengabaikannya dan melangkah maju.
Riski yang gemuk meringkukkan tubuhnya di sudut dengan wajah penuh darah dan pandangan linglung.
Celananya basah. Ada bau urin yang bercampur alkohol menyebar di seluruh ruangan. Sangat menjijikkan!
Mustofa mengira orang-orang ini hanya pingsan, tapi Riski tahu jelas, mereka sudah mati! Mereka dibunuh oleh wanita yang secantik bidadari, namun sesadis iblis!
Adiwangsa berjalan mendekat, berjongkok di samping Riski, dan berkata dengan santai. “Pak Riski?”
“Jangan! Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku! Jangan! Jangan!”
Riski berteriak histeris seperti orang gila. Tubuhnya yang gemuk langsung berlutut kepada Adiwangsa dan terus bersujud. “Jangan bunuh aku! Kumohon jangan bunuh aku! Jangan... jangan...”
Suara itu terus bergema di seluruh ruangan.
Kow... kow... kow...
Riski bersujud dengan sangat kuat dan berharap Adiwangsa bisa mengampuninya.
Dalam menghadapi kematian, dia sungguh ketakutan.
“Aku tidak akan bunuhmu. Bawa aku pergi ketemu Triple Fazura.”
“Adiwangsa!”
Mustofa tampak sedih dan cemas. “Ayah mohon, ya? Cepatlah pergi! Tinggalkan kota Pantol! Pergi semakin jauh, semakin bagus!”
Adiwangsa berbalik dan menatap Mustofa dengan serius. Lalu, dia menghela napas tak berdaya dan berkata. “Aku nggak akan pergi lagi setelah kembali kali ini. Hal yang nggak bisa kau penuhi, serahkan saja padaku! Kau nggak sanggup melindungi Nia, jadi aku akan lindungi sendiri!”
“Kau sama sekali nggak tahu Triple Fazura itu orang seperti apa!”
Mustofa berteriak dengan emosi. “Sehebat apapun kau bertarung, timun juga nggak bisa menang dari durian! Bagi dia, kita ini hanyalah sampah di pinggir jalan! Semut! Anjing liar! Sedangkan dia! Dia itu langit kota Pantol ini!”
Adiwangsa mencengkeram kerah baju Riski. Dia menyeretnya seperti sedang menyeret seekor anjing mati dan berkata tanpa menoleh ke belakang. “Langit sudah runtuh sejak aku tahu kecelakaan Nia!”
__ADS_1