
Di kawasan pusat Kota Pantol, di sebuah kamar presidential suite hotel bintang 5.
Eka Fazura meletakkan ponselnya, bangun dari kasur, memungut pakaian yang di lantai, dan memakainya.
Ada seorang pria yang memeluk Eka dari belakang dan bertanya: “Sampah itu sudah pulang?”
Tangan pria itu sangat mesum dan membuat seluruh tubuh Eka melemas. Saat Eka hampir kehilangan akal sehat dan hendak membuang pakaiannya, pria itu malah menarik balik tangannya. Pria yang tampan itu tersenyum. “Setelah kabur selama 6 tahun, kini dia malah pulang mencari mati. Pas sekali, mereka sekeluarga 3 orang... Eh, salah! Sekeluarga 4 orang bisa bersatu kembali!”
Sambil memakai pakaian, Eka sambil berkata: “Kak Delvin, sebenarnya aku tidak mengerti kenapa kamu dan Bibi Permata begitu benci keluarga Suprapto?”
Pria itu mengangkat dagu Eka dan menciumnya. “Sayang, jangan tanya terlalu banyak. Tidak baik untukmu kalau tahu terlalu banyak.”
Pria ini bernama Delvin Zaky. Anak kandung Permata Zaky, seumuran dengan Adiwangsa Suprapto. Dulu dia memasuki keluarga Suprapto bersama Ibunya saat Permata Zaky menikah ke Keluarga Suprapto.
Ini pertunjukkan seru yang dirancang oleh Permata Zaky. Dia menjebak Adiwangsa dan Bulan Hasan dari keluarga Hasan, salah satu dari empat keluarga besar, melewati satu malam yang tidak senonoh dan membuat keluarga Hasan marah besar. Bisa dibayangkan, jika Adiwangsa tertangkap di saat itu, dia pasti akan mati.
Akhirnya, Adiwangsa kabur ke perbatasan selatan karena tahu jelas akibatnya.
Setelah Adiwangsa kabur, ahli waris Keluarga Suprapto akan berganti menjadi Niawangsa. Namun, Niawangsa ini anak cewek dan karakternya juga tidak cocok untuk menjadi ahli waris. Ditambah lagi, saat itu Mustofa sangat marah dan telah mengorbankan banyak bisnis untuk menenangkan amarah keluarga Hasan, jadi dia langsung menyerahkan ahli waris kepada Delvin Zaky dan membiarkannya mencampuri bisnis keluarga Suprapto untuk belajar pengalaman. Sejak itu juga, Permata Zaky dan Delvin Zaky mulai mengosongkan bisnis Keluarga Suprapto.
Saat Mustofa menyadarinya, bahkan kediaman keluarga Suprapto pun sudah tidak di bawah namanya lagi.
Kepala Keluarga Suprapto, diusir keluar dari rumah sendiri!
Setelah berpakaian rapi, mereka berdua naik lift ke tempat parkir bawah tanah, lalu membawa mobil sport dan langsung menuju ke Hotel Grand Masa.
Setengah jam kemudian, mobil sport berhenti di depan Hotel Grand Masa.
Eka merangkul lengan Delvin dan memasuki lobi yang terang bersamanya. Saat melihat tiada yang berjaga, Eka langsung mengernyit. “Sampah-sampah ini bermalas-malasan lagi. Tunggu ayahku pulang, aku harus beri mereka pelajaran yang keras!”
Delvin tersenyum. “Sudah, ngapain marah dengan mereka? Ayo pergi lihat Adiwangsa. Sudah 6 tahun nggak bertemu, aku lumayan kangen dengannya.”
“Iya, iya.”
Eka tersenyum manis dan memasuki lift bersama Delvin, lalu menekan tombol lantai 5.
Ting!
Sebentar saja, lantai 5 telah tiba. Pintu lift terbuka.
Mereka berdua berjalan melewati koridor dengan santai, lalu berdiri di depan pintu kamar 502. Eka mengangkat tangannya dan mengetuk pintu. “Buka pintu, Riski!”
Di dalam kamar, Adiwangsa duduk di tempat dan tidak bergerak sama sekali. Adegan di TV sudah berhenti. Hanya saja, ini tidak menandakan penyiksaan terhadap Niawangsa Suprapto telah selesai, tapi hanya setengahnya yang telah diputarkan.
Adiwangsa mengira dia bisa menontonnya sampai habis dengan tenang. Namun, dia terlalu memandang tinggi dirinya, juga terlalu meremehkan kekejaman Eka Fazura dan yang lainnya.
Meskipun mereka tidak mengambil kesucian adiknya, tapi siksaan yang mengerikan itu telah membawakan tingkat penderitaan yang tidak terbayangkan pada tubuh dan mental adiknya!
__ADS_1
Adiwangsa sangat ingin...
Menghancurkan kota ini!
Menghancurkan dunia ini!
Dia telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi negara ini dan penduduknya di perbatasan selama 6 tahun. Namun, pembalasan yang dia terima, malah kenyataan adiknya dihancurkan oleh Iblis yang begitu mengerikan!
Sungguh, tidak layak!
Rias Anggun tidak menerima perintah dari Adiwangsa, tapi dia tetap membuka pintunya.
Saat melihat wanita cantik yang berseragam militer, Eka terkejut. Namun, sebelum sadar, dia dan Delvin sudah ditarik masuk ke dalam kamar oleh Rias.
Bam!
Suara pintu ditutup dengan keras.
Eka terhuyung dan hampir terjatuh. Setelah menstabilkan tubuh dengan bersandar pada tubuh Delvin, Eka langsung melihat Riski Bagas yang berlutut di lantai dengan darah di seluruh wajahnya. Lalu, dia berkata dengan kaget. “Riski, kau!”
Riski gemetaran dan tidak berani bergerak sama sekali. Dia terus menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap ke arah Eka dan juga Delvin.
Malahan Delvin, matanya tertuju ke Adiwangsa yang berseragam militer, lalu tatapannya menjadi dingin dan tersenyum dengan maksud meremehkan. “Kak Adiwangsa, sudah lama kita tidak bertemu. Enam tahun ini kau ke mana saja? Orang rumah mencarimu kemana-mana juga tidak menemukanmu.”
Adiwangsa mengangkat kepalanya tanpa ekspresi. Dia tidak menyangka Delvin akan datang juga.
Sejak Permata Zaky menikah ke Keluarga Suprapto, Delvin ini sering menindas Niawangsa. Untung saja, waktu itu Adiwangsa sudah tidak sakit-sakitan dan lemah seperti waktu kecil. Setiap kali Delvin menindas Niawangsa, Adiwangsa pasti akan memukul Delvin sampai babak belur. Lalu, Delvin mengadu kepada Permata Zaky dan akhirnya Adiwangsa dihukum berlutut oleh Mustofa Suprapto. Hanya saja, setiap kali Mustofa memarahi Adiwangsa untuk mengakui kesalahannya, yang dilihatnya malah pandangan Adiwangsa yang sangat keras kepala.
Delvin bertanya: “Dia pacarku, anaknya Triple Fazura.”
“Riski, beraninya kau menipuku!”
Kini Eka sudah sadar.
Riski bilang dia telah menangkap Adiwangsa, tapi jelas sekali Adiwangsa yang menangkap Riski dan menyuruhnya menipu dirinya ke sini.
Saat berikutnya, ekspresi Eka sedikit berubah.
Berarti, Adiwangsa pasti sudah tahu apa yang telah dia lakukan pada Niawangsa.
“Eka Fazura.”
Adiwangsa menyebut nama Eka dan berdiri. Dalam seketika, niat membunuhnya memenuhi seluruh kamar.
Eka dan Delvin merasa seperti sedang menghadapi binatang buas yang memakan manusia. Tekanan yang kuat ini membuat jantung mereka berdetak dengan kencang dan hampir berhenti bernapas.
Saat mata Adiwangsa melihat diri sendiri, kaki Eka langsung melemas. Dia menarik Delvin tanpa sadar, tapi ternyata Delvin juga sama sepertinya. Mereka berdua terjatuh ke lantai dan hampir tidak bisa menahan rasa untuk membuang air kecil.
__ADS_1
Adiwangsa berkata dengan pelan. “Rias.”
“Ya!” Seluruh tubuh Rias memancarkan aura membunuh.
“Berapa banyak siksaan yang adikku alami, kembalikan semuanya padanya. Pelan dikit, jangan sampai mati.”
“Baik!”
Adiwangsa melihat ke arah Riski. “Kau yang pimpin. Perlakukan dia seperti kau perlakukan adikku waktu itu.”
Riski bergetar. “Aku...”
“Atau potong dagingmu sepotong demi sepotong dulu? Tenang. Selama belum mencapai 1.000 potong, kau nggak akan mati.”
Celana Riski basah lagi. Seluruh tubuhnya bergetar, tapi dia juga tidak berani menunda. Dia segera berangguk. “Saya ikut perintah Anda! Saya ikuti Anda!”
“Adiwangsa!!”
Eka berteriak dengan pandangan sangat takut dan membenci. “Beraninya kau! Kau tahu nggak aku ini siapa? Aku ini anaknya Triple Fazura! Kalau kau berani memperlakukanku seperti itu, ayahku pasti akan membacokmu, membasmi sekeluargamu untuk diberi makan anjing!”
Adiwangsa memandang Eka dengan tenang, seperti sedang memandang seekor semut. “Orang yang ingin membacok ku sangat banyak. Kau bahkan nggak berkualifikasi untuk ambil antrian.”
Rias langsung mengulurkan tangannya, menjambak rambut Eka, dan mengikatnya di atas salib.
“Ah!”
Eka berteriak kesakitan. “Adiwangsa! Beraninya kau! Tolong aku, Kak Delvin! Tolong! Ah!”
Rias meninju perut Eka dan membuatnya membungkuk karena kesakitan. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk memberontak. Lalu, Eka diikat di atas salib dengan mudah.
Rias menoleh ke belakang dengan kuat. “Riski, kau yang pimpin.”
Riski duduk di lantai. Badannya seperti kesetrum dan terus gemetar, lalu berkata: “Per... per... pertama... remas perutnya... dulu...”
Rias mengambil tali yang telah berlumuran darah, melilitkannya ke pinggang Eka, lalu menariknya dari kiri kanan dengan kedua tangannya.
Sebenarnya, kekuatan kedua preman itu tidak sebanding dengan Rias.
Perut Eka terus menyusut hingga terakhir hanya tampak selebar kedua pergelangan tangannya.
“AHHHHHHH!”
Eka mengeluarkan suara ratapan yang menyedihkan dan memuntahkan sesuatu yang busuk dan kotor.
Rasa sakit yang dia alami jauh lebih intens daripada yang Niawangsa alami!
Kini Delvin baru sadar, lalu dia melangkah mundur dengan ketakutan. Dia mengangkat sebuah kursi dan membantingkannya ke arah Adiwangsa.
__ADS_1
Adiwangsa mengangkat kakinya dengan santai, lalu menendang Delvin ke dinding.
Delvin merintih kesakitan, lalu berteriak dengan keras. “Adiwangsa! Matilah kau! Habis kau! Beraninya kau memperlakukan Eka seperti itu! Paman Triple nggak akan membiarkanmu! Habislah kau! Mustofa juga sama! Habislah kalian semua! Di dunia ini nggak ada yang bisa menyelamatkan kalian lagi! Nggak ada!”