Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 35 Cahaya!


__ADS_3

Pria muda melihat wajah Waris yang mengerikan dengan linglung, "Paman..."


"Aku bukan pamanmu! Aku salah kenal orang! Aku tidak kenal ber*ngsek sepertimu!"


Waris benar-benar ingin menggigit orang ini sampai mati! Dia sudah mengorbankan sepasang kakinya dan semua hartanya baru berhasil menjamin nyawanya. Mungkinkah ber*ngsek ini membuatnya harus berakhir di sini?


Jeje berjalan mendekat dengan ekspresi sedingin es: "Sungguh tidak kenal?"


"Sungguh! Sungguh tidak kenal! Aku tidak kenal dia!" Waris berteriak dengan ketakutan.


Pria muda itu tercengang.


Jeje segera berangguk: "Kalau begitu, tidak masalah 'kan kalau aku menghancurkan tulangnya?"


Waris yang tengkurap di tanah berangguk dengan kuat: "Tidak masalah! Aku tidak kenal dia! Dia yang berani menyinggung Tuan Adiwangsa, pantas mati!"


"Paman!"


Seluruh tubuh pria itu gemetar. Dia kedinginan. Paman yang dulunya menepuk bahunya dan berkata akan melindunginya, bagaimana bisa...


"Aku ini bekerja untukmu, loh! Aku..."


"Enyahlah! Ber*ngsek, siapa kau sebenarnya? Mau menjebakku?" Waris tidak bisa memedulikan siapa pun, kini dia hanya ingin hidup!


Jeje membuka suara: "Bawa pergi."


Seorang pria berjas hitam melangkah maju menarik baju pria muda itu dan menyeretnya seperti anjing.


"Waris, setan kau! Aku ini keponakan kandung kau! Ayahku itu kakak kandung kau! Bagaimana bisa kau! Ah!!!"


Dia terlalu berisik, jadi pria berjas hitam langsung meninjunya. Ini membuatnya sakit hingga hampir pingsan dan tidak memiliki tenaga untuk berteriak lagi. Kemudian, pria berjas hitam melemparnya ke sisi empat orang yang bertumpuk di sana, seperti membuang sampah.


Jeje berkata kepada Waris: "Siapkan uangnya."

__ADS_1


"Su... sudah... siap."


Waris tahu ini adalah hari tergelap di kehidupannya. Jika salah selangkah saja, dia akan hidup di kegelapan selamanya.


Jeje berbalik dan pergi tanpa melihatnya lagi. Orang seperti ini, kalau bukan karena Adiwangsa, dirinya tidak akan pernah berhubungan dengannya. Mereka adalah dua orang yang perbedaannya sangat jauh dan benar-benar dari dunia yang berbeda.


Waris tengkurap di tanah dan terengah-engah, seperti baru saja terselamatkan dari bencana mematikan.


Akhirnya... selamat!


Dia ingin menangis dengan keras, rasa sesal di hatinya sangat kuat!


...


Di dalam rumah yang bobrok, Adiwangsa sudah memasakkan obat dan menyuapinya kepada nenek tua. Lalu, dia memasak satu obat lagi dan menuangkannya untuk Anna.


Anna menunjukkan ekspresi sangat sengsara: "Paman, boleh tidak minum?"


"Minum ini supaya tidak flu. Anna anak baik." Adiwangsa tersenyum dengan lembut.


Adiwangsa mengeluarkan permen dan menyerahkannya seperti pesulap, Anna segera membuka bungkus permen dan memasukkannya ke mulut. Rasa manis segera menyebar di lidah dan menghilangkan semua kepahitan.


Jeje juga meminum semangkuk. Dia juga melihat ke Adiwangsa dengan pandangan penuh harapan, tapi Adiwangsa tidak memberikan permen padanya. Setelah meletakkan mangkuk, Jeje berkata dengan hormat: "Tuan Adiwangsa, kelima orang sudah dibawa pergi."


Adiwangsa mengulang: "Biarkan mereka merasakan hidup segan mati tak bisa."


Inilah risiko menindas keluarga loyalis!


Jeje berangguk dengan kuat: "Pasti memuaskan Anda."


Adiwangsa melihat lagi ke arah wanita tua yang berbaring di kasur. "Kamu mandiin dia dan gantikan bajunya juga, ya."


"Oke."

__ADS_1


Jeje berjalan ke arah wanita tua.


"Terima kasih." ucap Adiwangsa.


Jeje berhenti dan berbalik sambil tersenyum: "Tuan Adiwangsa terlalu segan."


Adiwangsa menggendong Anna sambil tersenyum: "Anna, tidak mau ajak Paman ke rumahmu untuk lihat-lihat?"


"Ayo."


Mata Anna yang sama murni seperti bintang berkedip-kedip. Setelah dipeluk Adiwangsa, dia segera melingkarkan tangannya di leher Adiwangsa sambil berkata dengan imut: "Paman, Anna bisa menggambar dan sudah memiliki banyak karya, loh."


"Oh, iya?"


"Ya."


"Anna pintar sekali. Ayo lihat apa saja yang Anna gambar."


"Ada bunga, pohon, rumah, pelangi, gelembung, mama, Anna..."


Sosok besar dan kecil itu menghilang dari luar pintu.


Jeje melihat ke wanita tua yang masih belum sadar dengan tatapan aneh dan berkata dengan pelan: "Kalian, benar-benar sangat beruntung, telah menemukan cahaya dalam kegelapan."


Di dalam rumah yang sederhana tapi hangat, Anna menunjukkan gambarnya seperti memamerkan barang berharga kepada Adiwangsa. Setumpuk kertas yang tebal, sama seperti yang dia sendiri katakan. Ada bunga, pohon, rumah, pelangi, matahari, mama dan Anna. Gambarnya yang polos dipenuhi oleh harapan dan impian yang indah.


Adiwangsa pun melihatnya dengan senyuman yang lembut, lalu kadang-kadang bertanya sepatah dua kata. Anna pun menjawab dengan sangat serius, seperti guru kecil yang sedang mengajari muridnya.


Dari gambar ini, Adiwangsa bisa mengetahui kehidupan Anna dengan jelas. Dia dan nenek tua ini bukanlah nenek dan cucu kandung. Anna hidup bersama Ibunya. Nenek tua hanyalah tetangganya yang hidup sendirian. Karena Ibu Anna sangat sibuk untuk bekerja di luar, nenek tua juga sendirian, jadi dia bersedia menjaga Anna untuknya.


Nenek tua ini tidak memiliki sumber mata pencaharian, jadi hanya bisa hidup dengan dana bantuan negara dan memulung barang bekas. Dia menjaga Anna seperti menjaga cucu kandungnya sendiri.


Kompensasi dari Grup Hatta atas pembongkaran rumah sangat sedikit dan bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan nenek tua untuk sewa rumah dan hidup tenang. Karena itulah, dia tidak ingin pindah. Rumah yang bobrok ini adalah rumahnya dan memiliki banyak kenangan antara dirinya dengan suaminya, serta anaknya. Karena itu juga, dia ditindas.

__ADS_1


Kalau bukan karena Adiwangsa, kejadian hari ini cukup membunuhnya.


__ADS_2