Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 2 Tiga Dekret!


__ADS_3

Kota Pantol, di Bandara Militer dan Masyarakat.


“Cepat! Cepat!”


Para prajurit bersenjata lengkap berbaris dengan cepat dan waspada. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya mendengar ada kejadian besar. Mereka dikerahkan tiba-tiba dan seluruh bandara berada dalam kondisi darurat militer.


Dahi Gubernur Kota Pantol, Dustin Armando, terus berkeringat dingin. Namun, hatinya malah seperti telah terbakar dan terasa seperti semut yang berdiri di atas panci panas.


Brooom...


Ketika mendengar suara gemuruh bergema dan melihat jet tempur yang sedang menukik dari langit, Duston gemetar.


Sudah tiba!


Dia sudah tiba!


Hembusan angin bertiup, jet tempur pun mendarat dengan mulus. Setelah pintu jet terbuka, Adiwangsa Suprapto berjalan turun bersama Rias Anggun. Detik berikutnya, Adiwangsa langsung melihat prajurit-prajurit di sekitar mendekat, mengepungnya, dan mengarahkan senjata mereka pada dirinya.


“Minggir!”


Rias Anggun berkata dengan nada suara sangat dingin dan tatapan kejam. Aura pembunuh yang tercipta dari pengalaman perang selama bertahun-tahun di perbatasan, membuat semua orang menjadi ketakutan.


“Komandan Adiwangsa!”


Dustin bergegas mendekat, membungkuk di depan Adiwangsa, dan memberi hormat. Dia sama sekali tidak berani menatap mata Adiwangsa. Ia bersusah payah baru sanggup berkata: “Saya Dustin Armando, Gubernur Kota Pantol. Boleh tahu apa yang membuat Komandan Adiwangsa bergegas dari perbatasan selatan ke sini?”


Rias berkata dengan dingin. “Cepat suruh orangmu minggir dan siapkan mobil! Komandan Adiwangsa mau ke Rumah Sakit No. 1!”


“Ini...”


Dustin mengangkat kepalanya sedikit dan melirik Adiwangsa. Namun, melirik sekilas saja sudah membuat kakinya melemas.


Tatapan apa itu! Tampaknya seperti ada gunung mayat dan lautan darah di dalamnya!


Rias berteriak lagi. “Siapkan mobil!”


“Lapor Komandan Adiwangsa. Sebagai komandan perbatasan selatan, kamu tidak diperbolehkan meninggalkan posisimu tanpa izin. Presiden telah menurunkan dekret untuk memintamu segera kembali...”


Sebelum Dustin selesai berbicara, Rias telah menendang Dustin ke tanah. Kedua mata Rias melebar dan berkata dengan penuh niat membunuh yang kejam: “Aku suruh kau siapkan mobil!”


Krak krak krak...


Ratusan prajurit memindahkan ujung senjata mereka ke Rias dan memuat peluru!


“Komandan Adiwangsa!”


Saat kondisi genting, ada seseorang yang bergegas mendekat. Sedangkan Dustin, dia tersentak seperti ikan yang hampir sekarat.


Orang yang mendekat adalah Bambang Perwira dan anggota Lembaga Pengawasan Naga Emas yang bertanggung jawab mengawasi zona perang.


Adiwangsa melihat ke arah Bambang Perwira dengan acuh tak acuh.


“Aku tidak ada waktu untuk menunda di sini lagi. Siapkan mobil!”


Ekspresi Bambang Perwira tampak tak berdaya. “Komandan Adiwangsa, jangan khawatir. Aku telah membawa seorang dokter jenius dari ibukota. Kini dia sudah bergegas ke rumah sakit untuk mengobati adikmu.”


Sambil berkata, Bambang mengeluarkan dekrit di tangannya: “Komandan Adiwangsa, presiden memberi perintah. Kamu sebagai komandan Perbatasan Selatan, tidak boleh kembali ke daratan dalam tanpa panggilan. Kini kamu telah melanggar hukum negara, tolong segera kembali ke Perbatasan Selatan. Setelah memimpin hal-hal yang berkaitan dengan negara musuh, baru kembali ke Ibukota untuk menemui presiden.”


Adiwangsa menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan tenang: “Aku bahkan tidak tahu adikku masih hidup atau tidak! Bisa-bisanya kau suruh aku pulang ke perbatasan selatan? Minggir, Bambang!”


“Komandan Adiwangsa!”


Bambang masih ingin mengatakan sesuatu, namun dia berhenti lagi dan menatap ke Dustin. “Gubernur Dustin, silakan pimpin pasukanmu untuk mundur.”


“Baik!”

__ADS_1


Dustin mengangguk dengan tergesa-gesa seolah-olah dia telah diberikan amnesti. Jika bukan karena ada perintah dari presiden, dia sama sekali tidak ingin datang. Dewa neraka ini bukanlah sosok yang gampang dihadapi.


Dustin memimpin pasukannya dan pergi.


Bambang melambaikan tangannya untuk memberi isyarat agar pasukannya mundur, lalu berkata sambil tersenyum pahit. “Oh, Komandan Adiwangsaku! Tolong pulang ke perbatasan selatan, ya! Ini momen penting negara musuh menyerah pada kita, kalau Anda tidak di tempat, siapa yang bisa menakuti negara musuh? Karena Anda pernah menyelamatkanku sekali, aku diam-diam beri tahu Anda, deh! Para petinggi lagi diskusi mau memberi Anda gelar baru! Tunggu perang ini selesai, Anda akan dilantik menjadi Dewa Perang dan bahkan menjadi pemimpin dari lima Dewa Perang!”


Adiwangsa berkata dengan cuek. “Aku tak peduli.”


“Aku tahu Anda tidak peduli, tapi Anda harus peduli dengan bawahan yang ada di perbatasan selatan, ‘kan? Setelah perang ini, 12 jenderal dari Pasukan Kematian juga akan diberi hadiah!”


Bambang mengerucutkan bibir, lalu berkata lagi: “Anda ini Komandan di Perbatasan Selatan, sebagai otoritas tinggi yang bertanggung jawab atas satu daerah, Anda tidak boleh balik ke daratan tanpa panggilan. Anda tiba-tiba kembali begini sudah melanggar peraturan! Kalau para petinggi marah...”


Broom broom...


Sebelum Bambang selesai berbicara, terdengar suara knalpot mobil yang keras.


Sebuah mobil plat merah mendekat dengan kecepatan tinggi. Pintu mobil terbuka dan ada seorang pria yang memberi hormat kepada Adiwangsa, lalu mengeluarkan sebuah dekret dan berkata dengan nada suara datar. “Komandan Adiwangsa tidak diperbolehkan kembali ke daratan dalam tanpa panggilan. Mohon segera kembali ke Perbatasan Selatan, Komandan Adiwangsa.”


Mulut Adiwangsa tersenyum seperti bilah pisau yang tajam, lalu menatap ke Bambang. “Siapkan mobil untukku. Aku mau ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi adikku.”


“Komandan Adiwangsa!”


Bambang sangat sakit kepala. Orang ini sama sekali tidak mau mendengarnya.


Adiwangsa tidak meladeni Bambang lagi dan pergi.


“Koman... Haih!”


Di luar bandara, Dustin tidak berani pergi. Dia tetap membawa para prajurit untuk bersiaga dalam kondisi darurat militer. Begitu melihat Adiwangsa berjalan keluar, mata Dustin melebar dan menjadi gelisah.


Dekrit presiden pun tidak bisa menghentikannya?


“Mobil ini aku pakai dulu. Ambillah di rumah sakit.”


Yang Adiwangsa katakan itu mobil Dustin.


Dia menelan seteguk ludah dan berangguk.


Bambang mengejar keluar, lalu begitu melihat Adiwangsa hendak masuk ke mobil...


“Tahan dia!”


Krak krak krak...


Ratusan prajurit mengarahkan senjatanya ke Adiwangsa dan mengepungnya lagi.


Bambang membentak dengan emosi. “Kamu sebenarnya mau berbuat apa? Jangan membuat kesalahan lagi!”


Saat ini!


Broom...


Terdengar lagi suara knalpot mobil yang keras.


Satu mobil plat merah lagi yang mendekat dan menghalangi mobil Adiwangsa dari depan. Seorang pemuda berjas keluar dari mobil dan mengeluarkan sebuah dekrit lagi. “Dekret Presiden, Komandan Adiwangsa silakan segera kembali ke Perbatasan Selatan!”


Adiwangsa meliriknya dan kembali menatap Bambang. “Kau tidak bisa menahanku.”


Kata-katanya acuh tak acuh, namun malah membuat Bambang merinding dan berkeringat dingin. Bambang akhirnya hanya bisa melihat Adiwangsa masuk ke mobil dan tidak berani mengatakan apa pun.


Pria ini, sudah di ambang kemarahan!


Suara mesin mobil berdengung. Rias Anggun mengemudikan mobil, melewati mobil yang di depan, dan menuju ke rumah sakit Kota Pantol sesuai navigasi.


Mata Dustin menjadi gelap.

__ADS_1


Lembaga Pengawasan Naga Emas tidak bisa menghentikannya!


Tiga dekret juga tidak bisa menghentikannya!


...


Rumah sakit Kota Pantol, Ruang ICU.


Di koridor lantai 12, ada seorang gadis yang wajahnya sudah tidak bisa dikenali berbaring di atas ranjang rumah sakit.


Namanya Niawangsa Suprapto, adiknya Adiwangsa!


Seorang lelaki tua berambut putih menusuk beberapa jarum perak ke tubuh Niawangsa dengan sangat hati-hati dan tenang, lalu memeriksa denyut nadinya lagi.


Kini tubuh Niawangsa terus berkedut, matanya yang bengkak membuka celah kecil dan tidak bisa melihat semuanya dengan jelas.


Niawangsa tidak tahu dari mana energinya berasal, dia memegang tangan lelaki tua itu dan berkata dengan susah payah. “Ka... kak... a... aku... kangen... ka...kak...”


Pffft!


Niawangsa menyembur seteguk darah dari mulutnya. Darah yang merah tampak tercampur warna hitam.


Lalu, Niawangsa pun pingsan lagi.


Lelaku tua itu terkejut, lalu segera menusuk 3 jarum emas ke kepala Niawangsa. Saat memeriksa denyut nadi Niawangsa yang lemah, dia bergeleng dan menghela napas.


Seorang gadis cantik di sebelahnya langsung bertanya: “Bagaimana kondisinya, guru?”


“Organ dalamnya rusak semua. Hidupnya tidak lama lagi. Guru sudah menusukkan tiga jarum Taoisme untuk mempertahankan nyawanya, tapi ini juga hanya bisa menunda sedikit waktu. Takutnya...”


Gadis itu tampak sedih dan menatap ke Niawangsa dengan kasihan.


Bahkan guru pun tidak bisa menyelamatkannya, takutnya di seluruh dunia ini, sudah tiada yang bisa menyelamatkannya lagi. Tidak tahu juga siapa orang yang tega menyiksanya sampai seperti ini?


Benar-benar kasihan!


Ngung...


Dalam seketika, gadis itu merasa seluruh tubuhnya menjadi lemah, kakinya juga gemetar, rasanya seperti ditindih satu gunung besar!


Ada apa?


Dia berbalik badan dengan susah payah dan bingung. Lalu, dia melihat tiba-tiba ada dua orang di belakangnya.


Seorang pria dan seorang wanita yang berseragam militer.


Pemuda itu tampak sebaya dengannya. Dia mengerucutkan bibirnya dengan erat. Pandangannya sangat fokus ke Niawangsa yang di ranjang seolah-olah tidak melihat yang lain.


“Dia...”


“Komandan Adiwangsa.”


Gadis itu mendengar teriakan gurunya.


Apa?


Komandan Adiwangsa?


Di dunia ini, hanya satu orang yang bisa dipanggil Komandan Adiwangsa.


Mungkinkah pria yang tampak sebaya dengannya adalah...


Komandan Perbatasan Selatan yang menjaga gerbang negara selama 6 tahun, melawan sejuta tentara musuh sendirian, menyelamatkan dunia semudah membalikkan telapak tangannya, dan bahkan membantai habis ribuan pasukan dengan tangannya sendiri!


Ketika perasaan kagetnya belum mereda, saat berikutnya, hati gadis itu bergejolak lagi.

__ADS_1


Sosok legendaris ini, matanya memerah dan diam-diam meneteskan air mata dari sudut matanya!


Dia menangis!


__ADS_2