
Di dalam kamar hanya menyalakan lilin. Kelurga miskin tingkat rendah tidak pantas menikmati fasilitas listrik, air, dan gas. Jeje juga memasak semua hidangan dengan tungku tanah yang membakar kayu. Di atas meja yang menguning dan catnya kelupas-kelupas, ada 4 piring sayur dan semangkuk sup, tidak ada daging. Namun, itu semua sangat wangi dan memancing nafsu makan orang. Dengan kondisi yang terbatas seperti ini, Jeje memang sangat luar biasa karena bisa menghidangkan ini semua.
Anna telah bangun dari tempat tidurnya sambil mengendus, dia tergoda oleh aroma wangi.
Lalu, Adiwangsa segera menggendong Anna. Jeje juga sudah menyiapkan alat makan yang bersih untuknya. Anna tidak mengambil sumpit, malah memanggil Mustofa lebih dulu: "Halo kakek, namaku Anna."
Anak patuh yang sungguh menyenangkan hati orang!
"Anna anak manis." Mustofa sangat menyukai Anna dan merasa sakit di tubuhnya langsung berkurang banyak.
Adiwangsa berkata: "Anna, makanlah."
"Di mana nenek?"
"Nenek masih butuh istirahat. Paman jamin, nenek pasti akan bangun dan tersenyum pada Anna besok pagi."
Anna berangguk dengan senang, lalu mengambil sumpit untuk menjepit makanan.
Di dalam kegelapan, ada sosok yang tampak lelah berjalan mendekat dan melihat di dalam rumahnya sangat ramai. Dia terkejut dan segera berlari kemari.
"Anna!"
Suara wanita itu sangat enak di dengar dan membuat orang ingin menebak betapa cantiknya pemilik suara itu.
Cahaya lilin berkedip-kedip, menyinari wajah wanita itu.
Saat ini, selain Anna, Adiwangsa dan yang lainnya tertegun. Wanita ini tidak cantik dan bahkan tampak mengerikan. Wajahnya memiliki beberapa bekas luka goresan!
__ADS_1
"Ibu."
Anna meletakkan sumpit dan mangkuknya, lalu turun dari kursi dan memanggilnya dengan penuh semangat sambil berlari ke sisinya dengan rambutnya yang berkibas-kibas. Wanita itu juga segera memeluk Anna sambil mengangkat kepalanya dengan tatapan sangat waspada. Saat melihat Adiwangsa, dia juga terkejut.
Pada saat yang sama, Adiwangsa mematahkan sumpit yang di tangannya dan membunyikan suara "krak". Dia segera berdiri dan memanggilnya dengan kaget: "Bulan Hasan!"
Saat mendengar nama ini, seluruh tubuh wanita itu bergemetar. Dia segera menundukkan kepalanya dan memeluk Anna dengan kuat, lalu menyangkal: "Aku bukan. Kamu salah kenal orang."
"Aku tidak akan salah kenal orang!"
Adiwangsa sangat emosi, suaranya juga gemetar. Sedangkan Jeje dan Mustofa, mereka hanya melihat semua ini dengan aneh.
6 tahun yang lalu, tidak tahu Tuan Muda Keluarga Suprapto telah memakan nyali harimau atau beruang, berani-beraninya dia meniduri gadis Keluarga Hasan yang cantik setelah itu Tuan Muda Keluarga Suprapto melarikan diri, mendapatkan identitas sebagai buronan dan menghilang selama 6 tahun.
Bulan Hasan adalah putri Keluarga Hasan yang telah dinodainya.
Bulan Hasan meninggal sudah selama 5 tahun!
Wanita yang berpakaian sederhana dan mengenakan pakaian orang miskin ini, bagaimana mungkin adalah Bulan Hasan?
Adiwangsa mengabaikan pandangan aneh dari kedua orang itu dan segera berjalan ke arah Bulan. Langkahnya sama berat seperti sedang bertempur melawan seribu musuh sendirian di Perbatasan Selatan!
"Aku tidak akan salah kenal orang!"
Adiwangsa mengulangnya, seolah-olah sedang meyakinkan diri. Dia menatapi wanita yang di depan matanya dengan serius dan berteriak dengan pelan: "Kamu ini Bulan Hasan! Aku ingat dengan matamu!"
6 tahun! Selama 6 tahun! Dia telah melarikan diri ke Perbatasan Selatan sebagai buronan dan menjadi anggota pasukan meriam. Apa yang dia hadapi setiap hari hanyalah pembunuhan tanpa akhir yang tidak tahu akan hidup atau mati. Satu-satunya yang mendukungnya untuk bertahan hidup adalah wajah yang menangis dengan kasihan itu! Mata yang menangis tanpa henti dan penuh penderitaan!
__ADS_1
Setiap tidur, dia juga akan mimpi kembali ke Kota Pantol, mimpi malam yang mengubah hidupnya, mimpi wanita yang dia paling bersalah padanya!
Dia yang berani di medan perang adalah desertir yang pengecut di depan wanita ini. Setiap kali menghadapi keputusasaan, motivasi terbesar bagi Adiwangsa untuk hidup hanyalah wanita ini. Hidup untuk kembali dan menebus dosanya kepada wanita yang telah dia sakiti dengan parah.
Namun, Yang Maha Kuasa sangat suka bercanda dengan manusia.
Saat Adiwangsa menjadi Komandan Perbatasan Selatan dan bersusah payah mencari kembali Bulan Hasan, yang dia terima malah kabar kematiannya. Dia meninggal pada tahun kedua dirinya menjadi desertir! Saat menjalankan upacara pelantikan Komandan Perbatasan Selatan, saat itu pula dia mendapat kabar kematian Bulan hasan. Dia menangis sendirian seperti serigala tunggal yang sedang menghadapi kematian.
Bahkan jika dia memiliki kekuasaan tinggi dan mengendalikan jutaan tentara! Memiliki kekuatannya luar biasa dan dapat membunuh 9 dewa perang sendirian! Menjadi ahli waris dokter datuk dan bisa merebut orang dengan penguara akhirat! Dia juga tidak bisa menebus dosanya lagi selamanya! Inilah yang menyiksa roh terdalam Adiwangsa.
Jadi, bisa dibayangkan, begitu melihat Bulan Hasan, betapa besarnya pengaruh ini terhadap dia.
"Aku bukan Bulan Hasan! Benaran bukan! Kamu salah kenal orang! Salah kenal orang!..." Wanita itu terus menundukkan kepalanya dan menyangkal.
Adiwangsa tidak bisa melihat tatapan kebencian yang di matanya, tapi bisa mendengar penderitaan yang menyayat hati.
"Bulan Hasan, kamu pasti sangat membenciku, 'kan? Akulah yang menghancurkanmu."
Adiwangsa tertawa.
Membencinya?
Tidak masalah, yang penting Bulan Hasan masih hidup. Ini sudah cukup! Kalaupun kebencian Bulan Hasan tidak bisa dinetralkan, Adiwangsa juga senang!
Dia masih hidup!
"Aku sudah bilang aku bukan Bulan Hasan! Bukan! Siapa pun kamu! Enyahlah! Sekarang!"
__ADS_1
Bulan Hasan meledak dan berteriak dengan emosi. Anna yang di dalam pelukannya pun menangis karena terkejut. Namun, Bulan Hasan masih saja menatap Adiwangsa dengan marah. Ditambah lagi dengan bekas luka di wajahnya, tampangnya saat ini benar-benar sangat mengerikan dan seperti hantu!