
Rumah leluhur keluarga Suprapto sangat terang.
Villa besar yang terdapat 5 pintu masuk, gaya bangunan yang klasik, terletak di belakang area villa elite Bukit Indah yang di pinggiran kota Pantol. Papan tanda ‘Kediaman Suprapto’ yang dulu telah diganti menjadi ‘Kediaman Zaky’.
Papan tanda yang bertatahkan emas itu sungguh menusuk mata Mustofa Suprapto.
“Untuk apa kau ke sini, Suprapto?”
Pengawal rumah menghalangi jalan Mustofa.
“Aku cari... Permata Zaky.”
Mustofa menggertakkan giginya dan berkata: “Bisakah bantu laporkan?”
Rumah sendiri, namun dia malah tidak berhak untuk masuk dan bahkan harus minta izin kepada orang lain. Kesedihan dan kemarahan di hatinya sudah tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata lagi.
“Tunggu.”
Setelah pengawal itu pergi, Mustofa mengepalkan tangannya dengan erat. Telapak tangannya penuh dengan keringat. Meskipun dirinya merasa sedih dan marah, tapi dia juga khawatir.
Bagaimana kalau Permata Zaky menolak untuk menemuinya?
Kalau bisa, Mustofa sungguh tidak ingin menemui wanita ini lagi seumur hidup. Keluarga Suprapto yang begitu besar telah dikosongkan oleh dia tanpa disadari. Seluruh bisnis keluarga Suprapto telah dipindahkan ke namanya sendiri. Saat Mustofa sadar, dirinya sudah diusir dari rumah ini.
Hari itu, Mustofa sangat terpukul. Pukulan ini tidak lebih ringan daripada saat istri pertamanya meninggal karena kecelakaan mobil. Dia membenci dirinya yang buta dan membawa penjahat ke dalam rumah, membenci dirinya yang telah menghancurkan bisnis keluarga Suprapto. Dia sungguh ingin melompat dari Jembatan Sungai Galaksi dan tidak perlu memikirkan apapun lagi. Kalau bukan masih ada seorang putri, Mustofa mungkin akan bunuh diri tanpa ragu-ragu.
Saat ini, masa lalu berputar seperti film. Semua adegan muncul kembali di depan mata Mustofa. Dia tenggelam dalam kesedihan dengan pandangan linglung.
“Woi!”
Mustofa merasa ada yang mendorongnya sehingga terhuyung mundur dua langkah. Setelah menstabilkan tubuh, dia baru melihat pengawal yang menghalanginya tadi. Dia berkata dengan ekspresi tidak sabar. “Ngapain bengong? Masih mau ketemu Bu Permata nggak? Ayo ikut aku.”
“Baik, terima kasih.”
Mustofa mengikuti pengawal itu dengan patuh, melewati halaman depan, dan memasuki rumah. Di ruang tamu, ada seorang wanita berusia 30-an tahun yang mengenakan baju tidur kasa berbaring di atas sofa mahoni yang empuk di bawah cahaya yang lembut.
Wanita itu sangat cantik. Dia menjaga kecantikannya dengan baik. Pesona khusus wanita berusia 30-an tahun, postur tubuh yang sempurna dan anggun, gaya baring yang menggoda seperti ini, sungguh membuat orang bergairah.
Dialah Permata Zaky. Mantan istri kedua Mustofa.
“Kukira kau tidak akan pernah menemuiku lagi seumur hidup.”
Melihat penampilan Mustofa yang malang, Permata Zaky tersenyum dengan maksud menghina.
__ADS_1
“Aku...”
Permata menutupi mulutnya yang menguap karena kantuk dengan tangannya yang telah dicat kutek warna merah dan berkata: “Aku tahu tujuan kedatanganmu. Mau aku selamatkan putrimu?”
Mustofa menarik napas dalam-dalam dan berkata: “Permata.”
“Diam!”
Permata tiba-tiba berteriak: “Memangnya kau berhak memanggil namaku langsung? Panggil aku Bu Permata!”
Mustofa gemetaran. Wanita yang di depannya ini, dulu pernah tersenyum sangat lembut padanya, memanggilnya Kak Mustofa, menyebut dirinya sendiri Adik Permata, berkata dia akan bersamanya seumur hidup, selamanya, dan juga akan menjaga dirinya dan anak-anaknya dengan baik.
“Bu Permata.”
Mustofa menggertakkan giginya dan berkata: “Putraku sudah pulang.”
Permata mengangkat alisnya. “Oh? Adiwangsa Suprapto sudah pulang? Lalu, kenapa? Memang dia bisa mengusirku?”
“Bukan... aku... dia telah menyinggung Triple Fazura. Kumohon, selamatkanlah anak-anakku. Bisakah...”
“Mustofa, kau ini idiot, ya?”
Permata menyela kata-kata Mustofa dan terkikik-kikik. “Aku tidak menyangka kau senaif itu? Atas dasar apa aku membantumu untuk menyelamatkan anak-anakmu?”
Wajah Mustofa tampak menderita. “Bagaimanapun, kita pernah menjadi suami istri. Sehari menjadi suami istri, seumur hidup berhubungan! Dengan identitasmu sebagai anggota Keluarga Zaky, asalkan kau mau bantu, Triple Fazura pasti akan menyeganimu.”
“Hahaha...”
Permata tertawa terbahak-bahak hingga air matanya hampir keluar. Lalu, dia berdiri dan berkata dengan lucu. “Kau benar, asalkan aku mau bantu, Triple Fazura pasti akan menyeganiku. Tapi, kenapa aku harus membantumu? Apa yang kau pikirkan? Bisa-bisanya kau mengungkit hubungan kita? Dasar konyol.”
Mustofa benar-benar tak berdaya. Dia merasa dirinya seperti badut.
Ya, kenapa wanita ini harus membantuku? Aku pasti sudah gila baru mau berlari ke sini untuk dihina.
“Tapi...”
Permata berkata lagi: “Kalau kau berlutut untuk memohonku, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”
Bruk!
Mustofa langsung berlutut tanpa berpikir panjang.
Dia sudah tidak punya apa-apa lagi, selain sepasang anak.
__ADS_1
Putrinya sudah terluka parah dan sekarat. Sedangkan putranya, sudah menyinggung Triple Fazura. Jika tidak ada yang menolongnya, putranya sudah pasti akan mati!
Harga diri? Rasa malu? Itu semua bisa dibuang!
Melihat Mustofa yang berlutut tanpa ragu-ragu, Permata menjadi semakin meremehkannya dan membencinya. Dia mengulurkan jarinya dan menggerakkannya. “Rangkak ke sini.”
Mustofa membungkuk dengan patuh dan merangkak selangkah demi selangkah.
Permata mengulurkan satu kaki untuk menepuk wajah Mustofa dengan ringan. Lalu, dia berkata sambil tersenyum tipis. “Mustofa, kini kau sungguh mirip seekor anjing!”
“A... aku ini anjing. Bu Permata, kumohon selamatkan anak-anakku...”
Permata menendang wajah Mustofa, menarik balik kakinya, lalu berkata dengan angkuh. “Jangan harap! Awalnya aku hanya ingin mempermainkanmu, tapi kau yang seperti ini, membuatku kehilangan mood. Oh, iya! Aku bisa saja memberitahumu satu rahasia!”
Mustofa menundukkan kepalanya. Sekujur tubuhnya gemetar dengan putus asa. Lalu, dia mendengar Permata berkata: “Sebenarnya kematian Vian Pradipta saat itu tidak berhubungan denganmu.”
Vian Pradipta yang Permata sebut itu istri pertama Mustofa, Ibunya Adiwangsa dan Niawangsa.
“Semua orang, bahkan kau sendiri, semuanya mengira kecelakaan yang membunuh Vian itu terjadi karena kau mengemudi dalam keadaan mabuk. Namun, sebenarnya bukan kau, tapi aku.”
“Apa?”
Mustofa segera mengangkat kepalanya dengan pandangan penuh emosi.
Permata tersenyum dan berkata: “Kalau Vian nggak mati, bagaimana aku bisa menikah denganmu? Aku mana bisa merebut bisnis keluarga Suprapto tanpa nikah denganmu? Ya, ‘kan?”
“Kau!”
Karena terlalu emosi, Mustofa terbatuk keras. Di mata dia, wajah Permata yang sangat cantik ketika tertawa sama persis dengan iblis yang jelek dan sungguh menjijikkan!
“Rahasia ini sudah kusembunyikan di dalam hati sangat lama. Aku sangat ingin membagikannya ke orang. Setelah dipikir-pikir, kaulah orang yang paling cocok untuk mendengar rahasia ini.”
Permata lanjut berkata: “Kejadian Adiwangsa pada 6 tahun yang lalu juga ulahku. Aku yang membius Adiwangsa dan putri Keluarga Hasan. Aku juga yang melapor polisi. Padahal aku masih ada trik lain, tapi Adiwangsa malah berhasil melarikan diri. Namun, bagus juga dia melarikan diri, jadi identitas buronan akan mengikutinya seumur hidup.”
“Dengan begini, satu-satunya ahli waris Keluarga Suprapto sudah tiada lagi. Begitu menikah denganmu, anakku akan menjadi ahli waris Keluarga Suprapto. Kau lumayan suka dengan anakku juga, ‘kan?”
“Iblis! Dasar Iblis! Akan kubunuh kau, Permata Zaky!”
Ekspresi Mustofa sangat marah. Dia langsung menyerbu ke arah Permata, tapi ada yang lebih cepat darinya. Seorang pengawal bergegas maju dan menendang dada Mustofa hingga terjatuh ke lantai.
Rasa sakit yang parah menyerang. Ini membuat Mustofa hampir berhenti bernapas.
Permata menunjuk dirinya dengan acuh tak acuh. “Kalau mau salahkan, ya, salahkan saja dia yang diam-diam menyelidiki kematian Vian. Gadis kecil itu kalau berhasil menemukan sesuatu, aku akan sangat sulit, loh! Jadi, aku hanya bisa meminjam tangan Eka Fazura untuk membereskannya. Menurutmu, mungkinkah aku membantumu menyelamatkan Niawangsa?”
__ADS_1
“Selain itu, hubungan Eka dan putraku sangat mesra sekarang. Dia akan menikahi anakku nanti, tentu saja Triple Fazura akan menjadi keluargaku juga. Berani-beraninya anak sampahmu itu pulang dan bahkan menyinggung Triple Fazura! Dia sungguh mencari mati! Mana mungkin aku yang berharap dia segera mati menyelamatkannya? Mustofa, kau ini sungguh naif dan menyedihkan!”