
Hidup di masyarakat tingkat rendah yang selalu dihina dan diinjak-injak, dia tahu jelas betapa kejam dan dinginnya manusia. Setelah sekian lama dihina, dibenci, dan dimaki, nenek tua sudah lama tidak merasakan kehangatan dan bantuan dari orang asing.
"Nenek, kita bertemu dengan orang baik. Nanti kalau Anna sudah dewasa, Anna juga mau membantu orang lain." Gadis kecil menyeka air matanya dan berkata dengan penuh semangat.
"Anna benar-benar anak baik."
Nenek tua mengangguk sambil tersenyum. Tangannya menahan ke lantai dan hendak berdiri dengan pelan. Lalu, dia memberi gadis kecil itu 4 ribu rupiah untuk memintanya pergi membeli sebotol air mineral di samping jalan. Setelah itu, dia mengeluarkan handuk di sakunya untuk menyeka kotoran yang dia muntahkan tadi, kemudian pergi menjauh bersama gadis kecil itu.
Bagi Adiwangsa, menyelamatkan seorang nenek tua hanyalah kebetulan, jadi dia sama sekali tidak mengingatnya. Setelah makan siang, Adiwangsa kembali lagi ke rumah sakit dan perawat telah selesai membersihkan tubuh Niawangsa. Wajah Niawangsa sampai saat ini, masih terlihat memar dan bengkak, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
Adiwangsa duduk di sisi Niawangsa dan terus berbicara dengannya, hingga ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Ini telepon dari Bambang Perwira.
Setelah telepon terhubung, Bambang segera memanggilnya: "Komandan Adiwangsa..."
"Aku bukan Komandan Adiwangsa lagi." Adiwangsa menjawab dengan tenang.
Di ujung telepon hening sebentar, lalu Bambang berkata lagi: "Negosiasi dengan negara musuh tidak terlalu lancar. Entah bagaimana kabar kamu telah menyalakan api serigala telah tersebar. Kini sikap mereka berubah total."
Suara Bambang terdengar sedikit serak dan jelas sudah marah. Adiwangsa pun mengernyit. Tatapannya menjadi sangat dingin.
"Aku sudah tahu."
Tiga kata yang sederhana. Kemudian, Adiwangsa menutup teleponnya dan mencari nomor telepon yang tidak pernah dia hubungi selama ini.
__ADS_1
Tut... Tut...
Setelah berdering sebentar, telepon terhubung dan terdengar suara yang kasar: "Komandan Adiwangsa?"
Sudut mulut Adiwangsa tersenyum kejam dan berkata, "Chels, kamu tahu betul bahwa aku bukan lagi Komandan Adiwangsa."
"Haha, maaf. Aku lupa kamu bukan Komandan Adiwangsa lagi. Kalau begitu, apa tujuan kamu meneleponku? Kalau kamu berencana bergabung ke negaraku, aku akan menerimamu dengan senang hati. Sebenarnya, Negara Naga terlalu tidak adil padamu dan ini terlalu sayang untukmu. Percayalah padaku, kalau kamu di negaraku, kamu tidak akan pernah mengalami ini. Aku bersumpah atas nama Yang Maha Kuasa..."
"Aku tidak ingin dengar omong kosong darimu."
Adiwangsa memotong pembicaraan lawan dan berkata dengan tenang: "Segera menyerah. Gandakan kompensasi yang awalnya kalian janjikan. Jika kamu berani menolak, aku akan kembali ke Perbatasan Selatan dengan identitas tentara baru."
Padahal suaranya sangat tenang dan santai, namun wajah lawan yang berpakaian tentara langsung menjadi pucat pasi ketika mendengarnya.
"Pecundang tidak pantas bernegosiasi! Selama ada aku, kalian jangan coba-coba menyerang Perbatasan Selatan lagi. Kalau tidak percaya, coba saja!"
Perbatasan Selatan.
Area tanah yang luas diwarnai merah dengan darah, dan setelah mengering, berubah menjadi merah tua, dan terlihat mengerikan. Kini sudah 10 tahun sejak negara musuh menginvasi Perbatasan Selatan. Entah berapa jiwa setia yang telah terkubur di tanah tandus ini, tanpa melihat kampung halaman, istri, anak, dan orang tuanya.
Di zona penyangga tempat kedua pasukan bertempur, di tenda yang sederhana namun besar, negosiasi antara musuh dan pihak kita sedang berlangsung dengan tegang. Setiap petinggi dari masing-masing pihak, pada saat ini, seperti bajingan yang tidak tahu malu dan terus meludahi satu sama lain. Tujuannya hanya untuk memperjuangkan keuntungan yang terbesar bagi masing-masing pihak.
Tim perunding negara musuh sikapnya sangat sombong dan tidak kenal takut. Mereka berencana untuk terus memegang teguh pendapat sendiri, tetapi tiba-tiba menerima berita yang membuat ekspresi mereka menjadi buruk.
Setengah jam kemudian, Bambang mendapat kabar, negosiasi telah selesai.
__ADS_1
Negara musuh menyerah dan bersedia menggandakan kompensasi yang awalnya telah dijanjikan!
Bambang tercengang sejenak dan merasa kabar ini palsu. Namun, segera setelah itu, ekspresinya berubah menjadi aneh.
Tim perunding negara musuh pun pergi seperti ayam jantan yang baru kalah bertarung.
"Komandan Adiwangsa tak terkalahkan! Perbatasan Selatan tak terkalahkan! Negara Naga tak terkalahkan!"
Sorak-sorai atas kemenangan bergema di seluruh Perbatasan Selatan. Sedangkan Bambang, dia memegang kontrak hasil akhir negosiasi yang dikonfirmasi oleh kedua belah pihak dengan mata berkaca-kaca.
Negara musuh sebelumnya masih main curang dan bahkan tidak ingin memberikan kompensasi. Perubahan yang secepat ini, tanpa harus dipikir juga bisa ketebak, ini pasti ulah Adiwangsa.
Meskipun dia sudah tidak berada di Perbatasan Selatan, tapi dia tetap memiliki pengaruh yang begitu mengerikan!
Pria ini telah bertempur selama 6 tahun dan membahayakan diri hanya demi kemenangan Negara Naga. Namun, dia malah tidak bisa melihat kemenangan ini dengan mata kepalanya sendiri sekarang!
Perbatasan Selatan, telah kehilangan Komandan terkuat!
Negara Naga, telah kehilangan Pilar Pelindung Negara!
Bambang segera terbang ke ibukota dengan kontrak yang dinegosiasikan di tengah sorakan gembira para prajurit di Perbatasan Selatan. Sementara itu, tokoh-tokoh besar di ibukota juga sedang berkumpul untuk menunggu berita dari Perbatasan Selatan.
Bambang datang dengan tergesa-gesa dan membawa hasil negosiasi. Dalam senyum tertahan para tokoh besar ini, dia membungkuk dalam-dalam: "Semua ini berkat Perbatasan Selatan dan Komandan Adiwangsa yang telah memberikan kontribusi besar! Hamba memohon pada semuanya untuk membuka Konferensi Nasional dan biarkan Adiwangsa memimpin Perbatasan Selatan lagi!"
Wajah tokoh-tokoh besar itu menjadi murung, lalu saling menatapi dan tidak ada yang menjawabnya.
__ADS_1