Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 14 Triple Gate!


__ADS_3

Di Kota Pantol, orang yang memenuhi syarat untuk mengetahui api serigala telah dinyalakan hanyalah Gubernur, Dustin Armando, dan Ketua Inspektur Lembaga Pengawasan Naga Emas, Bambang Perwira.


Setelah tujuh kali bunyi lonceng itu berhenti, semuanya terlihat tidak berubah. 40-an juta penduduk yang hidup di Kota Pantol masih sibuk dengan kehidupan masing-masing.


Seratus ribu prajurit pertahanan Kota Pantol sudah mulai berkumpul. Semua jalur untuk meninggalkan Kota Pantol telah memasuki keadaan blokade, baik penerbangan, kereta cepat, stasiun bus, feri, dll.


Insiden ini telah mengakibatkan dampak sangat besar. Namun, Kota Pantol yang telah memasuki keadaan kesiapan tempur tingkat pertama malah mempublikasikan berita terkait dengan alasan negara musuh menolak untuk menyerah dan perang akan segera dimulai. Kota Pantol terletak di barat daya, tidak jauh dari perbatasan selatan. Seluruh kota harus berusaha sekuat tenaga untuk menangkap mata-mata musuh.


Seluruh penduduk terkejut, tapi mereka juga sangat mengerti dan mendukungnya.


Pertempuran invasi musuh sudah berlangsung selama 10 tahun. Banyak anak-anak Kota Pantol yang bergabung ke pasukan militer, namun gugur di medan perang dan tidak pernah kembali lagi.


Ini adalah perseteruan nasional!


Dalam menghadapi perseteruan nasional, semuanya harus direlakan!


...


Di pinggiran Kota Pantol, Kediaman Leluhur Keluarga Suprapto.


Sebuah mobil datang dengan cepat.


Delvin Zaky keluar dari mobil, lalu berlari masuk ke rumah dengan tergesa-gesa, wajah pucat, dan pandangan penuh kebencian.


“Ibu! Ibu!”


Delvin duduk di ruang tamu dan berteriak dengan keras. Dia mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis. Dirinya masih sangat ketakutan, tangannya gemetar, dan tidak bisa tenang sama sekali.


Tak lama kemudian, Permata Zaky yang masih mengenakan gaun tidur muncul di sudut tangga dan turun dari sepanjang tangga dengan anggun. Dia berkata dengan tidak senang. “Pagi-pagi begini, buat apa teriak begitu?”


“Gawat, Ibu! Gawat!”


Begitu melihat Permata Zaky, Delvin langsung melompat dan berkata: “Adiwangsa Suprapto! Si sampah itu! Dia menyiksa Eka Fazura sampai mati!”


“Apa?”


Awalnya Permata masih sangat cuek, namun setelah mendengar informasi ini, dia langsung tertegun dan buru-buru berjalan ke bawah dan berkata: “Cepat ceritakan apa yang terjadi?”


“Semalam aku dan Eka...”


Delvin menceritakan seluruh kejadian semalam dengan sangat marah.


“Cari mati!”


Permata mendengarkannya dengan gemetar. Ekspresinya penuh dengan ketidakpercayaan. “Si sampah itu gila, ya? Kok dia berani begitu?”

__ADS_1


“Pasti karena Niawangsa disiksa sampai sekarat, jadi si sampah itu menggila dan mau cari mati!”


Delvin menelan seteguk ludah dengan payah. “Ibu, mau hubungi Triple Fazura tidak? Gimana kalau Triple Fazura marah denganku juga?”


“Tindakan yang benar karena kau tidak langsung melaporkan hal tersebut kepada Triple Fazura.”


Permata sudah tenang. Dia menyeringai. “Si sampah itu sudah kabur selama 6 tahun, entah dari mana juga dia dapat seragam militer itu... apa tanda pangkat di bahunya?”


Delvin berpikir kembali dengan saksama, lalu bergeleng. “Dia nggak punya tanda pangkat.”


“Nggak punya tanda pangkat?”


Permata tertawa. “Ya juga. Sampah 6 tahun lalu, kini juga sampah. Bagus kalau nggak punya tanda pangkat. Hanya anak kecil, perbatasan selatan sana nggak akan peduli sama anak kecil seperti ini...”


Sambil berkata, Permata meregangkan pinggangnya dan berkata dengan pandangan dingin. “Untung saja si sampah itu tidak macam-macam denganmu, kedepannya kau harus lebih hati-hati, jangan biarkan dirimu dalam bahaya. Kalau Eka, lupakan saja, hanya bidak catur yang dimanfaatkan kita berdua... Hahaha, bagus!”


Melihat Ibunya yang tiba-tiba tertawa keras, Delvin terbengang. “Ibu...”


Permata mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Delvin, lalu berkata sambil tersenyum. “Sampah itu telah menciptakan kesempatan buat kita lagi. Eka nggak mati juga bakal cacat. Dia itu satu-satunya anak kesayangan Triple Fazura. Begitu Triple Fazura menggila, sampah itu sudah pasti akan dihabisi dengan tragis. Kita nggak perlu khawatir dengan ini, tapi bagaimana dengan kedepannya? Tanpa Eka, bisnis Triple Fazura yang begitu besar, pasti butuh ahli waris, ‘kan?


Mata Delvin langsung berbinar.


Dulu dia sengaja menarik perhatian Eka dan berhasil mendapatkannya selangkah demi selangkah juga karena mau mewarisi bisnis Triple Fazura. Sekarang Eka sudah pasti akan mati, inilah kesempatannya!


“Ibu, katakan saja apa yang perlu aku lakukan.”


Permata melambaikan tangannya, lalu dua pengawal berjalan mendekat.


Dia berkata dengan lembut. “Nak, sedikit sakit, tapi kau harus tahan...”


...


Jalan tol lingkar dalam kota Pantol, sebuah mobil mewah melaju dengan mulus. Di belakang mobil, ada seorang pria paruh baya berpakaian jas. Hidung burung bentet, mata bertudung... Dari wajah, tampaknya tidak mudah dihadapi.


Dia adalah ayahnya Eka Fazura, pemimpin Triple Gate, Triple Fazura.


Tidak tahu juga, dia ini termasuk beruntung atau sial. Baru saja melewati jalan tol dan memasuki lingkar dalam, jalan tol untuk keluar masuk Kota Pantol langsung diblokir.


Pria yang di sampingnya menutup telepon dan berkata dengan sopan. “Pak Triple, sudah diketahui. Semua rute lalu lintas masuk dan keluar Kota Pantol telah diblokir karena berhubungan dengan Perbatasan Selatan. Gubernur Kota Pantol, Dustin Armando, menerima perintah untuk menangkap mata-mata negara musuh.”


“Oke.”


Triple Fazura berangguk dan tidak peduli sama sekali.


Kota Pantol terletak di sebelah barat daya dan merupakan kota penting di daerah selatan. Dalam 10 tahun sejak musuh menginvasi perbatasan selatan, banyak mata-mata musuh telah menyabotase Kota Pantol dan tertangkap. Sedangkan dirinya, Triple Fazura, sebagai singa di kota ini, dia juga telah membantu negara menangkap banyak mata-mata. Karena jasa ini juga, dia baru bisa memiliki modal dan latar belakang saat ini dan menjadi orang penting yang menguasai seluruh langit kota Pantol.

__ADS_1


Bahkan empat keluarga besar pun harus segan padanya!


Kring kring kring...


Ponselnya tiba-tiba berdering.


Bawahan yang di sebelah melirik layar ponsel dan segera menyerahkan ponsel kepada Triple Fazura dengan hormat.


Panggilan video dari Delvin Zaky.


Sebenarnya, Triple sangat memandang rendah Delvin, tapi karena Delvin bermarga Zaky, termasuk anggota keluarga besar Zaky, Triple ingin memanfaatkan ibu dan anak ini untuk mendapatkan Keluarga Zaky! Karena itulah, dia baru menyetujui hubungan Delvin dengan Eka, putrinya.


Awalnya dia ingin mengabaikannya, tapi akhirnya Triple memutuskan untuk angkat telepon.


“Delvin, ya...”


Triple berkata sambil tersenyum, namun dalam sekejap, alisnya mengernyit. Di dalam layar, wajah Delvin penuh dengan bekas luka dan memar, bahkan ada yang masih berdarah. Tubuhnya bahkan lebih mengerikan. Pakaiannya tersobek dan berlumuran darah. Kelihatannya sangat menyedihkan.


Sebelum Triple bertanya, Delvin sudah meratap dengan kasihan. “Paman Triple! Selamatkan Eka! Cepat selamatkan Eka!”


Triple terkejut dan segera bertanya: “Anakku kenapa?”


“Eka sudah hampir mati dipukul orang! Huhuhu...” Delvin menangis dengan sangat menderita. Dia sungguh menangis, karena terlalu sakit!


Mata Triple memerah. Dia bertanya dengan marah. “Siapa? Siapa pelakunya?”


“Adiwangsa! Adiwangsa Suprapto!! Anaknya Mustofa Suprapto! Si sampah sialan itu...”


Brak!


Ketika Delvin selesai menceritakan sebab dan akibat, ponsel itu pun hancur menjadi tiga pecahan!


Delvin berteriak dengan gila. “Berani sentuh anakku? Berani singgung aku, Triple Fazura?! Akhir-akhir ini aku terlalu berbaik hati sampai orang-orang lupa kalau aku, Triple Fazura, adalah langit di Kota Pantol, ya? Kumpulkan semua orang Triple Gate dan kepung Hotel Grand Masa! Aku mau dia mati tanpa mayat utuh!!!”


Dalam kota Pantol, berbagai daerah hiburan yang seharusnya ramai pada malam hari tiba-tiba meledak. Semua orang berjalan di jalan raya dengan ganas dan segera berkumpul. Pakaian yang mereka kenakan memiliki lambang Triple Gate.


Semua tetua senior Triple Gate, tidak peduli apa yang sedang disibukkan juga ikut berkumpul!


Nona besar mereka sudah hampir mati dipukul orang!


Ini selain mempermalukan Triple Fazura, juga mempermalukan Triple Gate!


Tidak peduli siapa pun itu, dia harus mati! Dan harus mati dengan cara paling tragis!


Siapa pun yang di kota Pantol tidak bisa menyelamatkannya! Bahkan Dustin Armando, Gubernur kota ini juga tidak bisa!

__ADS_1


__ADS_2