
Rasa sakit di mata Mustofa Suprapto menjadi semakin dalam. Dia sudah terbiasa dengan semua hinaan ini.
"Kak Waris, bolehkah kamu kembalikan semua uang yang telah kamu pinjam denganku selama ini?"
Mustofa menunjukkan pandangan yang memohon.
Waris ini dulunya bekerja untuk Keluarga Suprapto dan Mustofa tidak pernah merugikannya. Setiap dia mencari cara untuk meminjam uang dengan Mustofa, Mustofa tidak pernah menolaknya. Jika dihitung-hitung, itu semua hampir 2 miliar. Namun, kisah Petani dan Beludak bukanlah hal baru lagi. Setelah Mustofa diusir dari keluarga, Waris segera berubah sikap. Dia yang dulunya betapa merendah di depan Mustofa, maka betapa angkuh juga dia sekarang.
Bagi Keluarga Suprapto dulunya, 2 miliar hanyalah uang kecil. Mustofa sama sekali tidak akan menganggapnya. Namun, sekarang sudah berbeda. Dia ingin membalas dendam dan ingin Permata Zaky membayar semua ini. Dia juga ingin bangkit kembali, jadi sepeser pun harus dia hargai, apalagi 2 miliar?
Karena itulah, dia datang kemari. Meskipun dia tahu pasti akan dihina, tapi dia tetap harus datang.
"Oh, iya! Aku sudah mengingatnya!"
Waris pura-pura teringat: "Benar, aku telah meminjam sedikit uang dengan Keluarga Suprapto beberapa tahun yang lalu. Berapa, ya?"
"2 miliaran, aku tidak mau bunganya. Kamu cukup mengembalikan pokoknya." Ucap Mustofa.
"2 miliaran? Sedikit begitu?"
Waris mengernyit, "Salah kali! Seingatku, aku sudah meminjam puluhan miliar denganmu. Kamu salah ingat, ya? Eh, Kepala Keluarga Suprapto, kamu kenapa?"
Sambil berkata, Waris menunjukkan ekspresi tidak senang. "Bagi seorang Kepala Keluarga Suprapto, 20 miliar itu hanyalah uang kecil yang tinggal kamu bocorkan dari lubang-lubang jarimu. Tokoh besar itu harus ada gaya tokoh besar yang sepantasnya. Apa itu 20 miliar? Ya, 'kan?"
Mustofa menggertakkan giginya: "Kak Waris, kamu hanya meminjam 2 miliar denganku. Hanya 2 miliar."
“Mana bukti utangnya?" Waris bertanya sambil tersenyum.
Mustofa menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Bukti utang?
Kepala Keluarga Suprapto yang dulunya bisa membutuhkan kertas sampah begitu?
2 miliar itu hanyalah uang kecil yang tidak pernah dia pedulikan. Bagaimana mungkin ada bukti utang?
"Tidak bawa? Aku mengerti."
Waris menunjukkan ekspresi, seolah-olah sangat mengerti dan berkata: "Kepala Keluarga Suprapto, aku juga tidak berani berbohong padamu. Uang yang kupinjam darimu memang benar 20 miliar, bukan 2 miliar. Kamu benar-benar terlalu berbelas kasih. Aku saja tidak tega menipumu. Terima kasih atas kemurahan hatimu. Aku segera meminta orang untuk menarik uang untukmu."
Setelah berhenti sejenak, Waris berkata lagi: "Selain harus mengembalikan uang padamu, masalah kamu dipukul di sini, juga harus diselesaikan."
Lalu, Waris menunjuk bawahan yang di sisinya: "Kamu! Kamu bilang kamu yang memukul Kepala Keluarga Suprapto, apa buktimu?"
Bawahan menunjukkan ekspresi pura-pura tak bersalah: "Bos, aku tidak ada bukti."
"Kalau begitu, kamu pergi tampar dia sekali. Lalu, aku akan tahu apa benar kamu yang memukulnya."
Bawahannya berangguk dan berjalan mendekat. Sedangkan Mustofa, dia ingin menghindar secara refleks, namun kedua lengannya telah diikat. Bagaimana dia bisa menghindar?
"Kepala Keluarga Suprapto, setelah hal ini dipastikan, aku baru bisa mengembalikan uangnya padamu. Ya, 'kan?" Waris berkata sambil tersenyum.
Seluruh tubuh Mustofa bergetar, penghinaan ini membuatnya hampir berhenti bernapas. Dia tahu bahwa dirinya terlalu naif, tetapi bagaimanapun, selama ada 0.0001%, dia tetap akan mencobanya. Ini semua demi bisa membalas Permata Zaky, si wanita licik itu!"
Lalu, dia pun memejamkan mata dengan menderita.
Bawahan itu berbalik untuk melihat Waris. Waris juga tidak senang, kalau seperti ini, mana asyik?
"Kepala Keluarga Suprapto, kamu harus buka mata, dong. Lihat apa benar dia yang memukulmu dan rasakan kekuatannya. Jadi, kamu baru bisa tahu diakah yang memukulmu. Begitu selesai dipastikan, urusan ini pun selesai. Lalu, aku pun akan mengembalikan uangnya padamu."
__ADS_1
Mustofa mengepalkan tangannya dengan erat, karena terlalu kuat, seluruh tubuhnya pun gemetar. Namun, dia tetap membuka matanya dan memandang preman yang berambut pirang itu dengan pandangan sangat terhina.
Siapa bisa menyangka, Kepala Keluarga Suprapto yang dulunya begitu agung bisa menjadi menyedihkan begini? Siapa pun bisa menginjak dan menghinanya! Dirinya bahkan tidak sepantas seekor babi atau anjing!
Preman berambut pirang itu segera mengangkat tangannya dengan penuh semangat dan hendak menamparnya. Namun, tepat pada saat dia akan menamparnya, muncul sebuah batu bata yang menghantam ke tangannya.
Brak!
"Ah!"
Preman berambut pirang itu berteriak kesakitan. Lalu, Adiwangsa berjalan mendekat. "Aku akan menggantikan ayahku untuk menerima tamparan ini."
Mustofa tidak bisa menahan air matanya lagi dan menangis.
Ini kedua kalinya dia menunjukkan dirinya yang begitu terhina dan memalukan di depan putranya!
Penderitaan seperti ini, bahkan rohnya pun merasa malu!
Adiwangsa tidak pernah melihat ke arah Mustofa. Bukan mengabaikannya, tapi dia mengerti suasana hati ayahnya. Jadi, dia sengaja tidak melihatnya. Bagaimanapun, mereka ini sedarah daging, kecuali Mustofa telah melakukan sesuatu yang menyentuh dasar prinsip moral Adiwangsa.
Dulu Adiwangsa membenci Mustofa karena dia selain tidak memerankan karakter Ayah dengan baik, dia juga selalu memarahi dirinya. Ditambah lagi, dialah yang mengemudi dalam keadaan mabuk sehingga ibunya meninggal. Meskipun kini dirinya sudah tahu dalang sebenarnya kecelakaan ibunya adalah orang lain dan Mustofa hanyalah korban yang dimanfaatkan, tapi Adiwangsa tetap tidak bisa memaafkannya. Namun, dia juga tidak bisa membencinya seperti dulu lagi. Apalagi, kini dia sedang dihina seperti ini. Sebagai anak, bagaimana mungkin dia tinggal diam?
"Tuan Muda Keluarga Suprapto? Adiwangsa?"
Waris mengamati Adiwangsa dengan saksama. Selama 6 tahun ini, Adiwangsa telah berubah terlalu banyak. Dia menjadi lebih hitam, lebih kekar, dan lebih kuat.
"Ya, ini aku."
Adiwangsa berkata dengan santai: "Waris, kamu sudah keterlaluan."
__ADS_1
Mustofa ini datang meminta uang tanpa membawa bukti utang. Waris sebenarnya bisa saja main curang dan mengabaikannya, atau bahkan mengusirnya. Tidak seharusnya dia menghina Mustofa seperti ini.
Adiwangsa tahu Waris melakukan ini bukan karena dia mendendam Mustofa, tapi karena perasaannya yang mau menyombongkan statusnya. Dia ingin menunjukkan kekuasaan dan kedudukannya kepada Mustofa dengan menghinanya sehingga dapat menghapus kenyataan dia pernah memohon-mohon kepada Mustofa dulunya.