
Mengapa?
Mengapa!
Adiwangsa memandangi adiknya yang berbaring di ranjang dengan emosi. Adik yang penuh dengan keinginan untuk mati... Adiwangsa mengepal tangannya dengan erat. Kuku jarinya juga sudah masuk ke daging telapak tangan dan berdarah setetes demi setetes.
Sangat sakit!
Namun, sakit seperti itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya.
Dia terengah-engah seolah-olah ada gunung berapi yang akan meletus di dalam hatinya dan menghancurkan dunia ini!
Seorang Komandan Perbatasan Selatan yang memiliki jutaan pasukan, melawan jajahan negara musuh selama 6 tahun berturut-turut, membantai habis musuh seluas ribuan mil, dan berhasil melindungi negaranya lagi dan lagi...
Dia yang telah hidup dan mati berulang kali, melewati neraka berulang kali...
Jika dia melepaskan pakaian akan nampak bekas luka yang mengerikan di sekujur tubuhnya ...
Selapis demi selapis...
Ini adalah lencana yang terbentuk dari besi dan darah, kebanggaan yang ditato di badannya demi negara ini!
Namun, kini begitu berbalik, dia baru sadar ternyata dirinya sangatlah rapuh. Dirinya bisa melindungi ratusan juta rakyat, namun tidak bisa melindungi adiknya yang satu-satunya!
Adik yang sejak kecil begitu ceria dan bersemangat, yang tampak manja, tapi tidak pernah mau mengalah... mentalnya sudah runtuh total!
Adiknya ingin mati! Dunia ini sudah tiada sesuatu yang berarti baginya! Dia sudah tidak menemukan alasan untuk terus bertahan hidup! Keinginan bertahan hidupnya yang sebelumnya hanyalah keinginan terakhir untuk melihat kakak yang telah pergi dan dia rindukan selama 6 tahun sekali lagi!
Pandangan terakhir telah memuaskannya, membuatnya tiada penyesalan lagi, dan ingin meninggalkan dunia ini!
Sebenarnya apa yang telah terjadi?!!
Aura yang menakutkan menyebar di sekelilingnya. Cangkir yang di atas meja juga penuh dengan retakan. Tampaknya seperti akan pecah menjadi berkeping-keping dengan sekali sentuhan ringan.
“Rias, panggilkan Bambang.”
Tiba-tiba, suaranya yang dingin membuat Rias Anggun yang di luar pintu gemetar. Rasanya seperti ada sebuah es yang telah menusuk ke dalam sumsum tulang dan jiwanya.
Mata Rias melebar, namun hatinya segera pulih kembali karena mental dan hatinya yang telah terlatih di medan perang.
Akibat pertama kali Komandan Adiwangsa begitu marah adalah dia membasmi 9 dewa perang terhebat negara musuh dengan kemampuannya sendiri. Perang itu akhirnya dimenangkan oleh Negara Naga.
Sekarang, ini adalah yang kedua kalinya!
Jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik, Kota Pantol yang begitu besar akan menjadi lautan darah dan mengejutkan seluruh dunia!
Terdengar suara langkah kaki.
Bambang telah datang.
Suara Adiwangsa sangat keras, tanpa dipanggil Rias, Bambang pun bisa mendengarnya. Bambang juga sama dengan Rias. Dia juga tidak bisa menahan diri untuk merasa takut.
Ketua Inspektur Naga Emas yang setara dengan utusan Presiden yang memegang senjata dewa. Jabatan yang hanya perlu menunduk kepada satu orang dan dihormati semuanya! Dia sengaja diutus ke Perbatasan Selatan untuk mengawasi daerah ini dan menekan Komandan Perbatasan Selatan agar kekuasaan militernya tidak terlalu menguat, lalu mengkhianati negara.
__ADS_1
Kalau dilihat dari pangkat, dia bahkan lebih berkuasa dari pada Adiwangsa. Namun, dalam hatinya tetap sangat takut. Rasa takut ini sungguh kuat dan tak terkendali!
Sebenarnya dia bukan takut kepada Adiwangsa! Dia dan Adiwangsa itu teman! Mereka adalah rekan seperjuangan yang saling menghargai!
Perbatasan Selatan hampir berhasil diterobos, Bambang Perwira pun seharusnya sudah gugur di medan perang... Adiwangsa yang menyelamatkannya dan juga menyelamatkan Perbatasan Selatan. Karena itulah, Bambang sangat tahu sifat Adiwangsa.
Pria ini, kemarahannya sudah mencapai titik puncak sekarang! Langit Kota Pantol akan segera runtuh!
Rias menyampingkan badan dan membiarkan Bambang Perwira masuk ke ruangan.
Bambang melihat Adiwangsa yang berdiri tegak, juga melihat darah yang menetes dari telapak tangannya. Lalu, dia menarik napas yang dalam.
Dia turut berduka kepada beberapa orang!
“Dia.”
Adiwangsa tidak melihat ke belakang. Dia mengangkat tangannya secara perlahan dan menunjuk ke arah Niawangsa Suprapto yang berbaring di atas ranjang. Nada suaranya sangat datar, kedengarannya seperti sudah mati rasa.
“Adikku, Niawangsa Suprapto. Aku mau tahu apa yang telah terjadi padanya. Beri tahu aku.”
Komandan Perbatasan Selatan yang bertanggung atas satu daerah militer, sangat berkuasa, dan dapat disebut sebagai duta besar perbatasan. Namun, karena jabatan ini juga, dia harus bersikap tunduk agar tidak ditindaklanjuti sebagai pengkhianat negara.
Siapa pun tidak dikecualikan.
Lembaga Pengawasan Naga adalah departemen besar dengan jaringan intelijen di seluruh negeri, dan itu adalah senjata Negara Naga. Asalkan Lembaga Pengawasan Naga ingin menyelidikinya, maka tiada yang tidak dapat ditemukan.
Adiwangsa sangat yakin Bambang sudah menemukan sebab dan akibat kejadian ini. Dia ingin tahu!
Kemarahan Adiwangsa sudah tidak bisa dipadamkan dan orang-orang itu harus membayar nyawa dengan nyawa!
Hanya saja, mau beri tahu berapa banyak, bagaimana memberitahunya, Bambang masih perlu memikirkannya dengan matang.
Melihat lagi Niawangsa yang di ranjang. Selain masih bisa bernafas, dia sama persis seperti orang mati. Bahkan Bambang pun tidak bisa menahan amarah di matanya.
Tidak peduli apa pun alasannya, menyiksa seorang gadis hingga seperti ini benar-benar sangat keterlaluan!
“Sebelum hari ini, aku sama sekali tidak tahu keberadaan Niawangsa, juga tidak tahu dia ini adikmu.”
Bambang berkata setelah mempertimbangkannya. “Kamu ini warga asli Pantol. Harusnya kau tahu 4 keluarga besar di Kota Pantol.”
Adiwangsa berangguk.
Empat keluarga besar di Kota Pantol, terdiri dari: Zaky, Hasan, Deska, Alfa. Empat keluarga besar ini memiliki latar belakang dari perbatasan negara. Setelah menjadi jenderal terkenal, mereka pensiun dari militer dan mulai menjalankan bisnis. Dengan kota Pantol sebagai inti, mereka mulai menyusun jaring laba-laba yang besar dan mengendalikan segalanya dengan luar biasa.
Namun, jika Nia menjadi seperti ini gara-gara empat keluarga besar...
Tatapan Adiwangsa menjadi tampak kejam.
Empat keluarga besar, tua atau muda, tiada yang tersisa!
“Masalah adikmu bukan ulah empat keluarga besar, tapi juga berhubungan. Dalang sebenarnya itu 3 anak konglomerat. Salah satu yang paling penting namanya Eka Fazura...”
Bambang menjelaskannya dengan tergesa-gesa. Sedangkan Adiwangsa, dia hanya mendengarkannya dengan tenang.
__ADS_1
Setengah jam berlalu.
Sampai akhirnya, Bambang yang belum selesai berbicara, menutup mulutnya tanpa sadar. Dia telah menyembunyikan sangat banyak hal. Namun, mengenai penyiksaan yang dialami Niawangsa, dia sama sekali tidak berani menyembunyikannya dan menjelaskan semuanya secara detail. Dia memberitahunya dengan tegang.
Jelas-jelas hanyalah seorang gadis muda, namun hatinya malah begitu kejam, tindakannya juga sangat sadis, bahkan menceritakannya saja, Bambang juga merasa sangat mengerikan.
Namun, Adiwangsa tidak menunjukkan respons apapun!
Bambang sangat putus asa! Tidak ada respons adalah respons yang paling menakutkan!
“Aku sudah tahu.”
Adiwangsa mengangkat kepalanya dan hendak pergi. “Aturkan orang untuk menjaga adikku.”
“Komandan Adiwangsa!”
Bambang menghela nafas berat, tatapannya sangat rumit, dan bahkan ada sedikit maksud memohon: “Jangan mengambil tindakan yang salah...Karena Jabatanmu sekarang, setiap tindakanmu diawasi oleh mereka... be... begitu kamu...”
“Aku tahu.”
Adiwangsa berbalik dan melihat Bambang dengan tenang.
Bambang merasa matanya seperti pisau tajam yang sangat menusuk mata. Namun, pada saat yang sama, mata ini juga penuh dengan rasa sakit dan sedih.
“Kau telah menyembunyikan banyak hal, tapi aku bisa mendengarnya. Kejadian adikku ini bukan karena dia tidak sengaja mengetahui rahasia apa, tapi karena ada yang mau menantangku, adikku hanyalah kedok mereka.”
Bambang segera berkata: “Lalu kamu masih...”
Sebelum selesai berbicara, Adiwangsa melambaikan tangannya untuk memotong Bambang.
“Mereka sangat pintar, tapi juga sangat bodoh. Kalau begitui, aku akan mengikuti keinginan mereka.”
Sambil berkata, Adiwangsa mengangkat tangannya.
Bambang seperti telah melihat sesuatu, lalu berkata dengan ekspresinya yang sangat terkejut: “Jangan...”
Srettt!
Dia tidak sempat menghentikannya!
Adiwangsa telah merobek tanda pangkat pola naga emas yang di bahunya!
“Aku bukan Komandan Perbatasan Selatan lagi. Sedangkan semuanya, mereka harus membayar nyawa dengan nyawa!”
Brak...
Bambang terhuyung dan terjatuh ke lantai, lalu pingsan.
Ketua Lembaga Pengawasan Naga Emas yang berpangkat tinggi, kini bergemetar seolah-olah berada di gudang es yang dingin.
Kota Pantol pasti akan menjadi lautan darah.
Tiada yang bisa menghentikan ini!
__ADS_1