
Hotel Grand Masa terletak di bagian barat Kota Pantol, merupakan daerah yang relatif makmur. Namun, orang asing tidak diperboleh masuk ke sini hari ini.
Sejak awal sudah ada barisan prajurit bersenjata lengkap yang bersembunyi. Semua gedung tinggi juga telah ditempati belasan penembak jitu.
Di dalam kamar 502, Bambang Perwira berdiri di belakang Adiwangsa Suprapto. Dia melihat ke luar jendela dengan pandangan putus asa.
Pengunduran diri Adiwangsa sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa dibalikkan sejak api serigala dinyalakan. Karena itu juga, prediksi Kota Pantol akan menjadi lautan darah juga akan terjadi.
Informasi yang dia miliki selalu diperbarui setiap saat. Dia tahu jelas Triple Fazura sudah mengumpulkan seluruh anggota Triple Gate dan menyerbu ke Hotel Grand Masa.
Sebenarnya, Triple Fazura tahu jika hanya untuk membunuh Adiwangsa, dia tidak perlu mengumpulkan orang yang sebanyak itu. Namun, dia sengaja melakukannya untuk memperingatkan semua orang dengan kejadian ini.
Dia, Triple Fazura, adalah langit di Kota Pantol! Siapa yang berani menyinggungnya, maka bersiaplah untuk mati tanpa mayat utuh!
Namun, bagi Bambang, ini malah terlihat sangat konyol.
Hari ini, Hotel Grand Masa adalah medan perang Perbatasan Selatan!
Siapa yang datang, siapa lah yang akan mati!
Gubernur Kota Pantol, Dustin Armando, menunjukkan pandangan yang susah dideskripsikan emosinya. Tidak tahu senang, sedih, atau menghina.
Latar belakang Triple Fazura sangat dalam! Bahkan dia seorang gubernur pun tidak bisa bertindak gegabah! Namun, kini musuh yang akan dia hadapi adalah Komandan Perbatasan Selatan! Komandan Perbatasan Selatan yang telah menyalakan api serigala!
Dustin mengangkat kepalanya dengan pelan dan tiba-tiba merasa lega.
Langit di Kota Pantol memang sudah harus berubah.
Pada saat yang sama, berbagai teriakan penuh emosi bergema di dalam kamp perbatasan selatan. Selain Rias Anggun, semua anggota dua belas jenderal Pasukan Kematian Perbatasan Selatan berkumpul di situ. Mereka melihat ponsel masing-masing dengan mata melebar dan kemarahan yang hendak menghancurkan dunia.
Api serigala, telah dinyalakan!
Komandan mereka telah menyalakan api serigala!
Mereka semua tahu jelas konsekuensi menyalakan api serigala!
Siapa? Siapa sebenarnya! Siapa yang membuat Komandan Adiwangsa menyalakan api serigala pada momen penting menaklukkan negara musuh? Jika berita ini tersebar sampai negara musuh, konsekuensinya akan lebih sulit diprediksi! Ini adalah cahaya terang hasil pengorbanan banyak prajurit di perbatasan selatan!
Tanpa Komandan Adiwangsa, Perbatasan Selatan tampak seperti telah kehilangan jiwanya! Kehilangan keyakinannya! Ini sama dengan melenyapkan nyawa para prajurit, menghancurkan keyakinan mereka yang tak tergoyahkan!
Perbatasan Selatan, akan terjadi kekacauan!
Para jenderal sangat marah. Rasanya sangat ingin membunuh orang!
Ting.
Pada saat yang sama, semua ponsel para jenderal bertambah satu video.
__ADS_1
Orang yang bisa melakukan itu hanyalah Rias Anggun yang mengendalikan sistem intelijen perbatasan selatan dan juga merupakan anggota Dua belas Jenderal Pasukan Kematian.
Mereka masing-masing membuka video itu dan menyaksikannya dengan mata yang merah. Ini adalah video yang Rias rekam secara diam-diam sejak Adiwangsa turun dari jet tempur, lalu ke rumah sakit, hingga terakhir memintanya untuk menyalakan api serigala.
Selain video, Rias juga mengirim sebuah dokumen.
Rahasia di balik kecelakaan Ibu... Harta keluarga Suprapto yang direbut secara sengaja... Penyiksaan menderita yang terjadi pada Niawangsa Suprapto...
Mata mereka semua memerah dan berkaca-kaca! Sekujur tubuh mereka gemetar. Hati mereka seperti hendak meledak karena marah, sakit, dan sedih!
Ini adalah Komandan Perbatasan Selatan mereka!
Dia mempertahankan negara dengan hidup dan matinya! Namun, yang mendatanginya malah sekelompok iblis yang berkeliaran di dunia manusia!
Tidak adil!
Ini sungguh tidak adil!
Bagaimana bisa Komandan Adiwangsa mereka diperlakukan seperti ini?
Seorang pria kekar seperti orangutan berdiri dan berteriak dengan ganas: “Aku, Ari Ghazi, bisa hidup berkat Komandan Adiwangsa yang telah memungutku kembali dari tumpukan mayat! Di mana dia, di sana juga aku akan berada! Kalian jaga perbatasan selatan, aku akan pergi ke Kota Pantol!”
“Tunggu!”
Jenderal satu lagi berteriak: “Dulu Komandan Adiwangsa-lah yang datang selamatkan Pasukan Ke-9 dan bawa aku di punggungnya sejauh lebih dari 300 mil. Dialah yang merebutku dari tangan penguasa akhirat. Kini dia ditindas di Kota Pantol, mana mungkin aku, Haikal Mad, hanya diam dan nonton saja?”
Jenderal lainnya berdiri serempak dan berteriak dengan penuh emosional. “Ikut!”
“Aku, Irwan Labis, tidak pernah mengakui siapa pun. Aku hanya tahu Komandan Adiwangsa itu orang yang menyelamatkan seluruh perbatasan selatan! Tanpa Komandan Adiwangsa, mana mungkin ada perbatasan selatan? Mana mungkin ada aku? Kini komandan Adiwangsa telah ditindas orang! Keluarga Komandan Adiwangsa telah ditindas sampai seperti ini! Kalau kau di posisi ini, kau gimana? Minggir!”
Wajah pria berkacamata tampak pucat dan panik. “Para jenderal...”
“Minggir! Kalau bicara lagi, akan kubunuh langsung! Komandan Adiwangsa sudah dipaksa sampai menyalakan api serigala! Rasa sakit di hatinya pasti jauh lebih dalam dari lautan darah dan gunung mayat! Di saat seperti ini, bagaimana kita bisa biarkan Komandan Adiwangsa bertarung sendirian? Kita harus bersamanya!”
“Keluarga Komandan Adiwangsa ditindas, sama dengan Komandan Adiwangsa ditindas! Jutaan prajurit Perbatasan Selatan kita, tidak setuju!”
“Apa? Komandan Adiwangsa dipaksa menyalakan api serigala?” Pria berkacamata itu hampir tidak bisa bernapas. Sekujur tubuhnya gemetar dengan kuat.
Dia adalah penasihat militer Perbatasan Selatan, sangat akrab dengan Dua belas jenderal dan Komandan Adiwangsa! Dia menghentikan mereka karena dia masih bisa berpikir dengan tenang dan tahu jelas dampak tindakan ini terlalu besar, baik terhadap perbatasan selatan maupun Negara Naga!
Tapi...
Begitu dia mendengar Komandan Adiwangsa dipaksa menyalakan api serigala, dia tidak bisa tenang lagi. Matanya pun memerah.
Jelas-jelas tubuhnya sangat kurus, tapi saat ini dia malah terlihat seperti seekor binatang buas yang akan bangun. Dia diam-diam melepaskan kacamatanya.
Kedua matanya penuh dengan niat membunuh!
__ADS_1
Suara yang mengejutkan semua jenderal bergema di dalam kamp. “Memaksa Komandan Perbatasan Selatan kita menyalakan api serigala, Perbatasan Selatan, tidak bisa kita biarkan begitu saja! Ayo ke Kota Pantol!”
Sebuah jet tempur membumbung ke angkasa.
Jet lembaga pengawasan naga emas segera menghentikannya. Pada saat yang sama, Bambang telah menerima laporan terkait. Meskipun hatinya sudah mati rasa karena kejadian Adiwangsa menyalakan api serigala, namun dia tetap tidak bisa menahan diri untuk gemetar lagi.
Penasihat terhebat Perbatasan Selatan menerobos keluar perbatasan selatan bersama 12 jenderal pasukan kematian!
Ini sungguh berita yang bisa mengguncangkan dunia!
Konsekuensinya tidak lebih ringan dari Adiwangsa yang menerobos keluar Perbatasan Selatan dan memasuki Kota Pantol secara paksa!
“Harus... hentikan!” Suara Bambang bergetar.
“Tidak akan bisa!”
Rias berkata dengan acuh tak acuh.
“Komandan Adiwangsa telah berjasa kepada Negara Naga, miliaran penduduk, perbatasan selatan, dan juga jutaan prajurit! Namun, dunia ini malah bersalah padanya! Komandan Adiwangsa ditindas, Perbatasan Selatan, tidak setuju!”
Bambang memejamkan matanya dengan sedih.
Ya...
Dunia ini terlalu tidak adil terhadap Komandan Adiwangsa!
40 menit kemudian, Bambang menerima telepon dari Dustin.
Penasihat terhebat perbatasan selatan menerobos Kota Pantol secara paksa bersama para Jenderal pasukan kematian!
“Biarkan.” Bambang berkata dengan suara tak berdaya.
Bambang sudah bisa melihat Kota Pantol menjadi lautan darah dan tiada yang bisa menghentikan ini! Pada saat yang sama, dia juga melihat sekelompok besar orang di kejauhan sedang mendekat dengan agresif.
Itu orang Triple Gate!
Setiap orang memegang sebuah pipa baja. Kelihatannya sangat ganas. Mobil yang memimpin di paling depan bergerak secara perlahan hingga berhenti di luar Hotel Grand Masa.
Pintu mobil terbuka.
Triple Fazura berjalan keluar.
Tatapannya tampak sangat haus darah. Lalu, dia berteriak: “Potong orang yang melukai anakku sampai berkeping-keping!”
“Potong berkeping-keping!”
Ratusan orang bersorak serempak seperti guntur!
__ADS_1
Adiwangsa yang di jendela kamar 502 tersenyum mengerikan.
“Nia, mulai hari ini, tiada seorang pun di dunia ini yang berani menyakitimu lagi!”