Menantu dengan Kemampuan Medis Super

Menantu dengan Kemampuan Medis Super
Bab 19 Perbatasan Selatan, Tiada Komandan Lagi!


__ADS_3

“Jika bukan karena tindakanmu yang seenaknya selama bertahun-tahun, Eka Fazura juga tidak akan bersikap sesombong ini dan begitu kejam terhadap adikku!”


Adiwangsa Suprapto berteriak: “Kau, Triple Fazura telah melakukan terlalu banyak kejahatan. Tidak tahu juga sudah berapa banyak orang yang menderita di Kota Pantol di bawah kekuasaanmu! Saat mereka memohon pengampunan, pernahkah kau berbelas kasih? Kau, pantas mati!”


“Tidak!”


Triple tiba-tiba berdiri dan menargetkan pistolnya ke Adiwangsa lagi.


“Triple Fazura!”


Dustin Armando berteriak.


Semua prajurit mengangkat senjatanya dan menargetkan semua moncong hitamnya kepada Triple. Asalkan Dustin memberi perintah, mereka bisa melubangi Triple Fazura menjadi saring berlubang! Hanya saja, Dustin tidak berani memberi perintah. Seluruh dahinya telah dibasahi keringat dingin yang mengalir ke pipinya. Jantungnya berdetak sangat kencang.


Triple ini sudah seperti binatang buas yang dipaksa sampai pojok dan harus melakukan perjuangan terakhir.


Asalkan dia berani memberi perintah, Triple pasti akan menarik pelatuknya dan menarik Adiwangsa untuk mati bersamanya!


Dustin tidak berani bertaruh!


Sebenarnya, Triple memang punya rencana seperti itu. Kemarin dirinya masih Triple Fazura yang agung, yang memiliki Triple Gate dan kekayaan besar, merupakan raja bawah tanah yang tak bermahkota dan penguasa tertinggi langit Kota Pantol!


Namun, kini dia sudah tidak memiliki apa pun! Dia juga tahu Adiwangsa tidak akan mengampuninya!


Hari ini, dia akan mati!


Karena sudah tidak ada cara lain, jadi kenapa harus peduli dengan identitas lawan lagi? Apa faedahnya?


Jangankan Komandan Perbatasan Selatan, bahkan presiden pun akan dia tarik untuk mati bersama!


“Lagi pula, aku sudah pasti akan mati, jadi kau mati bersamaku saja...”


Triple tertawa terbahak-bahak. Kedua matanya memerah. Dia tampak seperti seorang penjudi yang telah kehilangan segalanya. Akhirnya dia berteriak dengan keras. “Atas dasar apa Adiwangsa Suprapto? 6 tahun lalu, kau hanyalah seorang buronan! Dasar sampah! Atas dasar apa kau menjadi Komandan Perbatasan Selatan? Atas dasar apa?”


“Kau tidak membiarkanku hidup, maka masuklah ke neraka bersamaku! Mati ditemani Komandan Perbatasan Selata, hidupku, Triple Fazura, cukup memuaskan!”


“Triple Fazura, kau gila, ya? Dia adalah Komandan Perbatasan Selatan! Pilar pertahanan negara! Kau ini sama dengan memberontak!”


Dustin terkejut sampai sekujur tubuhnya melemas. Sedangkan Bambang Perwira, dia hanya menyaksikan semua ini tanpa ekspresi. Pandangannya tenang seperti air yang tergenang tanpa ombak.


Mati ditemani Komandan Adiwangsa?


Berapa banyak orang di dunia ini yang pantas memiliki kualifikasi ini?


Triple Fazura... bagi orang biasa, dia memang sangat luar biasa. Namun, di mata mereka, siapakah dia?


“Matilah bersamaku! Hahaha...”


Jari Triple yang menahan pelatuk mulai menguat! Namun, dalam seketika, melintas sebuah pemandangan berwarna merah!


Plak!


Sebuah pistol bersama tangan yang memegangnya, terjatuh ke tanah!


“AHHHHHH!!”

__ADS_1


Triple menatap telapak tangannya yang terputus dengan linglung. Melihat darahnya memuncrat, matanya melebar dan menjerit kesakitan sambil terhuyung mundur ke belakang.


Rias Anggun yang memotong tangannya.


Kalaupun Rias tidak bertindak, Triple juga tidak akan bisa membunuh Adiwangsa.


Orang yang bisa membasmi 9 dewa perang negara musuh sendirian, bisa takut dengan peluru?


Sesuai pemikiran Bambang, orang di dunia ini yang bisa menarik Adiwangsa mati bersamanya sangat sedikit. Di antaranya, pasti tidak ada Triple Fazura!


Adiwangsa berjalan mendekat dengan tenang. Ini pertama kalinya dia mengangkat tangannya dan meninju wajah Triple.


“Ini untuk adikku!”


Buk!


Satu tinju lagi.


“Ini untuk rakyat-rakyat yang sudah pernah kau tindas!”


Buk!


Saat tinjuan ketiga kali, wajah Triple sudah berlumuran darah. Kepalanya juga sudah cacat. Triple terjatuh ke tanah dengan keras dan sudah tak bernapas!


“Ini untuk anakmu! Kau tidak pantas jadi seorang ayah!”


Adiwangsa bahkan tidak melihat mayat Triple dan berkata dengan tenang. “Jangan sisakan siapa pun!”


“Mohon ampuni saya...”


Dustin menarik napas yang dalam, lalu mengangkat tangannya. “Dengarkan perintahku! Bunuh!”


Dor dor dor dor dor...


Orang-orang dari Triple Gate dibunuh satu per satu. Wajah mereka masih tampak ketakutan, matanya juga dipenuhi oleh penyesalan.


Setelah berlagak di bawah naungan singa bertahun-tahun, harusnya sudah bisa memprediksi kejadian ini sejak lama. Jika mau bermain, maka harus sanggung membayarnya.


Tidak lama kemudian, semua orang Triple Gate tergeletak di atas genangan darah.


Triple Gate, Langit di Kota Pantol, telah lenyap!


Dua belas jenderal yang penuh dengan aura keganasan berdiri di belakang Adiwangsa dengan patuh.


Adiwangsa berkata dengan tegas. “Semuanya kembali ke Perbatasan Selatan.”


“Komandan Adiwangsa!”


Semua orang berlutut dengan satu kaki. Mata mereka memerah. Mereka tahu setelah api serigala dinyalakan, pria yang berjasa besar kepada Negara Naga dan membuat negara musuh ketakutan, tidak akan pernah kembali ke perbatasan selatan lagi! Dua belas jenderal perbatasan selatan tidak bisa berdiri di belakangnya dan bertempur bersamanya lagi!


“Perbatasan selatan bisa tanpa kami, tapi tidak bisa tanpa Anda!”


Rias berkata sambil menangis. “Anda ini tulang punggung Perbatasan Selatan, keyakinan spiritual semua prajurit di Perbatasan Selatan! Di mana pedang Anda berada, di situ pula kemenangan kita! Tanpa Anda, Perbatasan Selatan akan kacau!”


“Benar, Komandan Adiwangsa! Kami bisa memohon kepada presiden, Anda jangan tinggalkan Perbatasan Selatan, ya! Orang itu, hanya Anda bisa menaklukkannya!”

__ADS_1


“Komandan Adiwangsa! Jika Anda tidak kembali ke Perbatasan Selatan, maka kami juga tidak punya alasan untuk kembali. Kami bersedia mengundurkan diri bersama Anda!”


“Komandan Adiwangsa...”


Adiwangsa melihat ke 12 jenderal yang dia angkat dan pimpin sendiri, tiba-tiba ada sentuhan hangat melintas di matanya.


Mereka adalah atasan dan bawahan, tapi juga teman seperjuangan yang hidup dan mati bersama!


Adiwangsa sangat mengenal karakter mereka, tentu saja mereka juga sangat mengenal Adiwangsa.


“Aku lelah.”


Hanya dua kata saja membuat semua orang terdiam dalam seketika.


“Tenang saja, kalaupun aku tidak di perbatasan selatan, negara musuh juga tidak akan berani menyerbu lagi. Aku lebih tenang jika kalian berjaga di perbatasan selatan.”


Nada suara Adiwangsa terdengar lembut. “Selama 6 tahun di Perbatasan Selatan, aku telah berjasa kepada langit dan bumi, negara dan rakyat, namun aku juga bersalah kepada keluargaku. Aku gagal melindungi adikku sendiri. Jadi, aku ingin menebusnya dengan sisa hidupku.”


Melihat pandangan semua orang yang linglung dan tak berdaya, Adiwangsa menghela napas dan berkata: “Aku bisa janji, jika negara musuh menyerbu perbatasan selatan lagi, aku akan kembali dengan identitas sebagai prajurit baru untuk mempertahankan perbatasan selatan dan Negara Naga.”


“Kembalilah. Aku mau ke rumah sakit untuk menjenguk adikku. Siapa pun jangan ganggu.”


Adiwangsa sudah pergi.


“Sampai jumpa, Komandan Adiwangsa!”


Malik Qais membungkuk dengan pandangan sangat disayangkan.


“Sampai jumpa, Komandan Adiwangsa!”


Senior Terry Mohammad berlutut dan membungkuk dengan ekspresi kecewa.


“Sampai jumpa, Komandan Adiwangsa!”


Dustin Armando merapikan pakaiannya dan membungkuk untuk memberi hormat.


“Sampai jumpa, Komandan Adiwangsa...”


Di mata Bambang Perwira, belakang Adiwangsa yang di bawah sinar matahari tampak sangat kesepian. Rasa sedih melintas di matanya. Akhirnya, dia mengangkat tangannya dan memberi hormat kepada belakang Adiwangsa.


Mulai hari ini, Perbatasan Selatan, tiada Komandan lagi!


Dustin berbisik. “Tuan Ketua Inspektur...”


Bambang berkata dengan kecewa. “Ayo bertindak.”


“Baik.”


Dustin telah pergi.


Segera setelah itu, banyak orang di berbagai daerah Kota Pantol ditangkap. Semua budak orang itu tertangkap habis! Di antara mereka, termasuk dua anak konglomerat yang menyaksikan penyiksaan Niawangsa bersama Eka Fazura!


Yang menantikan mereka hanyalah hukuman paling tragis!


Di Ibukota, di semua manor mewah, seseorang tertawa dengan bangga. “Hanya mengorbankan beberapa bidak catur yang tidak penting saja sudah bisa memaksa Komandan Perbatasan Selatan mengundurkan diri. Layak! Sungguh layak! Hahahaha...”

__ADS_1


__ADS_2